
"Takut? Takut dengan siapa? Tante sama om baik kok," ujar Azalea berusaha membujuk anak itu keluar.
Karena kesal, Alan pun menarik paksa selimut itu. Hal itu, tentu membuat Azalea memekik keras. Bayi tersebut terlihat kaget, dia memundurkan tubuhnya sembari menatap takut ke arah Azalea dan Alan.
"Mas!! Sabar! Kalau gak bisa sabar, kamu pulang aja!" Kesal Azalea.
"Abisnya, gregetan aku." Cicit Alan.
Azalea menghela nafas pelan, dia duduk di tepi brankar. Menatap lekat bayi yang seumuran dengan ujarnya tengah menatapnya dengan penuh ketakutan.
"Hai, boleh tante pegang tangannya sayang?" Tanya Azalea dengan lembut.
Bayi itu tak berkata apapun, dia hanya menatap was-was ke sekitar. Karena tak kunjung di respon, Azalea memberanikan diri untuk memegang tangan bayi itu.
"Ekhee!! ekhee!!" Bayi itu pin mulai menangis, dengan cekatan Azalea menggendongnya. Dia memberikan pelukan hangatnya agar membuat bayi itu merasa aman.
"Husstt it's oke, tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Tidak usah menangis sayang,"
Azalea mengelus bahu sempit itu, dia bisa merasakan betapa kurusnya anak itu. Air mata Azalea menetes, dia menatap Alan yang juga tengah menatapnya. Hatinya sangat sakit melihat kondisi memilukan bayi yang ia gendong.
"Mas belikan susu dia, sebentar." Alan pun pamit keluar, entah mengapa hatinya bergerak untuk membeli susu untuk anak itu.
Tak lama, Alan kembali. Dia melihat Azalea tengah duduk di ranjang sembari memangku bayi itu. Terlihat sekali, jika bayi tersebut sudah tenang dalam pelukan Azalea. Dia tak setakut waktu pertama kali melihat mereka.
"Sudah kembali mas?" Sambut Azalea.
Alan mengangguk, dia bergegas menaruh belanjaannya pada meja sofa. Dia mengeluarkan barang-barang yang ia beli. Seperti botol susu, dan juga susu formula. Tak lupa, air hangat yang ia sempatkan beli. Lalu, dia menyeduh susu itu ke dalam botol.
"Sayang, berapa sendok?" Tanya Alan, sebab dia tidak tahu takaran susu.
"Empat mas." Sahut Azalea.
Alan pun memasukkan empat sendok susu bubuk ke dalam botol. Lalu, dia menuangkan air hangat dan mengaduk susu tersebut. Setelah siap, dia memberikannya pada Azalea.
"Tadi aku juga sudah bilang pada dokter jika bayi itu sudah sadar, mungkin sebentar lagi kesini," ujar Alan.
"Hem, terima kasih mas." Ujar Azalea dengan senyum mengembang.
Azalea mendekatkan ujung dot itu pada bibir si bayi, terlihat sekali bayi itu kelihatan kebingungan.
"Susu, kau tidak mau susu hm? Ayo, buka mulutnya," ujar Azalea.
Azalea sedikit memasukkan ujung dot pada bibir bayi itu, sehingga bayi itu pun perlahan menghisapnya. Melihat bayi tersebut menyedot susunya dengan semangat, membuat senyum Azalea kembali merekah.
Dertt!!
__ADS_1
Dertt!!
Ponsel Alan berbunyi, dia segera mengangkatnya ketika tahu Reagan lah yang menelponnya.
"Halo, kenapa?" Tanya Alan langsung ke intinya.
"Anak-anak gak ada yang mau di mansion, pada mau ke rumah oma opa nya semua. Ini gimana " Pekik Reagan.
"Kok bisa?" Heran Alan.
"Ya gak tahu! Merengek semua, apalagi Caramel. Dia minta gendong terus. Lan, aku gak bisa menghandle ketiganya. Aku bawa pulang aja yah." Bujuk Reagan.
Alan melirik sekilas ke arah istrinya, Azalea masih sibuk memperhatikan bayi yang tengah menyedot susu itu. Dengan helaan nafas pelan, Alan pun berkata, "Yasudah, besok pagi sekali bawa Caramel ke rumah sakit. Dia harus minum asi," ujar Alan.
"Iya deh, nanti besok pagi di antar. Sekalian aku mau jemput ayang beb," ujar Reagan dengan cekikikan.
"Ayang beb? Bebek?" Tanya Alan dengan polosnya.
"Bebek mantanmu! Udah lah! Bye!"
Tuutt!!
"Loh, kok ngamuk." Gumam Alan.
.
.
.
"Nanti sampe ruangan, jewer papa mu yah. Marahin dia, kita lagi tidur enak-enak malah di bangunin. Semprul emang bapakmu," ujar Reagan pada keponakannya yang berada di gendongannya.
"Cempul?" Tanya Caramel dengan menatap omnya itu.
"Iya, semprul. Siapa? Ya bapakmu hahaha!!" Caramel tersenyum dengan memamerkan giginya setelah Reagan berkata hal menurutnya lucu.
Cklek!
Reagan memasuki ruangan yang Alan maksud tanpa mengetuk pintunya lebih dulu. Baru saja ia membuka pintu, dirinya sudah di hadapkan dengan pemandangan Azalea yang tertidur di brankar sembari memeluk seorang bayi. Tatapan Reagan pun beralih pada Alan yang tertidur di sofa dengan pulasnya.
"Yahh, dari tadi di telponin suruh kesini. Eh orangnya malah molor." Reagan menghampiri Alan, dia memberikan Caramel di atas perut Alan dengan sedikit kuat.
"Argh!" Kaget Alan.
"Nih, anaknya pak. Minta susu, susuin gih." Suruh Reagan.
__ADS_1
"Ngarang! Mana ada aku punya susu." Ujar Alan sembari mendudukkan dirinya.
"Punya! Cuman gak ada fungsinya hahahah!!"
Brugh!!
Alan memukul keras paha Reagan hingga membuat Reagan bergegas menjauh. Khawatir, Alan kembali memukulnya lagi. Lalu, Reagan mendekati adiknya. Dia menatap bayi yang berada di pelukan Azalea dengan kening mengerut.
"Anak siapa?" Tanya Reagan sembari menunjuk bayi itu.
"Gak tahu, ngambil di jalan," ujar Alan yang kini sibuk dengan putrinya.
Azalea yang mendengar suara berisik pun terbangun, begitu pun dengan bayi yang ada di pelukannya. Keduanya sama-sama membuka matanya, senyum Azalea merekah saat melihat bayi yang ada di pelukannya menatap dirinya.
"Lea."
"Eh? Bang Reagan?" Pekik Azalea, dia baru menyadari kehadiran Reagan.
"Bayi siapa?" Reagan sangat penasaran dengan bayi itu.
"Gak tau, ceritanya panjang. Sebentar, Lea mau buatkan susu untuknya dulu." Azalea buru-buri beranjak, dia mencepol rambutnya dan membenarkan bajunya yang sedikit berantakan.
Dengan cekatan, Azalea membuat susu untuk bayi itu. Sesekali matanya menatap putrinya yang tengah menunggu dirinya.
"Caramel mau nyusu yah? Sebentar yah, mama buatkan susu untuk kakak dulu," ujar Azalea memberi pengertian.
Kenapa kakak? Karena Azalea tidak tahu persis berapa umur bayi yang ia temukan. Jadi, Azalea menganggap jika umur bayi itu di atas Caramel.
Sementara Reagan, dia menatap bayi yang sedang duduk itu. Bayi tersebut yang di tatap Reagan dengan demikian pun merasa takut.
"Siapa namamu?" Tanya Reagan dengan datar, seakan dia tengah berbicara pada orang dewasa.
"Abang! Udah ih sana! Cuci muka gih, il3rnya masih nempel!" Tegur Azalea.
"Iya kah?!" Reagan buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Dia bahkan lupa jika dirinya belum cuci muka sehabis bangun tidur tadi.
Azalea memberikan botol susu pada bayi itu, beruntung kali ini bayi itu mengerti. Dia mengambil botol itu dan merebahkan dirinya untuk mencari posisi yang nyaman.
"Nih, gak sabaran minta nyusu." Alan menyerahkan Caramel pada istrinya.
"Nen ... maa!! nen!!' Ujar Caramel dengan tidak sabaran.
"Iya, sebentar." Azalea mengeluarkan nutrisinya, sehingga Caramel pun langsung melahapnya.
Azalea yang tengah menyusui Caramel di perhatikan oleh bayi lain. Mata bayi itu mengerjap, dia menatap botol susu miliknya dan nutrisi yang Caramel nikmati secara bergantian.
__ADS_1
Tersadar akan tatapan bayi itu, Azalea pun terdiam. Melihat keterdiaman istrinya, Alan seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Azalea. Benar saja, Azalea menatap Alan dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, apa aku boleh menyusuinya?"