Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kita cerai saja!!


__ADS_3

Dokter memeriksa darah Azalea, apakah cocok jika di donorkan pada Erlangga atau tidak. Agar, nantinya tidak terjadi kesalahan yang fatal. Setelah hasil laboratorium keluar, dan menunjukkan hasil yang baik, dokter langsung melakukan penanganan.


Darah Azalea di ambil sebanyak dua kantong, membuat wanita itu lemas. Wajahnya pucat pasi, padahal kantong keduanya belum terisi setengah.


"Nona, sebaiknya anda berhenti melalukan pengambilan darah. Tubuh anda sudah tidak kuat lagi." Ujar seorang suster dengan tatapan khawatir.


"Enggak papa sus, cuma lemas dikit aja. Nanti juga sehat kembali, ambil saja sebanyak yang di butuhkan." Ujar Azalea sembari memaksa senyumnya.


Suster itu terlihat meringis menatap bibir pucat Azalea. Dia bahkan berpikir, apabila dia ada di posisi Azalea. Dia mungkin, tidak akan sanggup.


"Apa ibu kerabat dekat pasien?" Tanya suster tersebut.


"Bukan, saya hanya ingin membantu saja." Jawab Azalea.


Suster itu mengangguk, dia tak lagi bertanya dan fokus mengambil darah Azalea. Tak berselang lama, kantong pun terisi penuh. Azalea di beri vitamin khusus agar tubuhnya kembali fit.


"Jangan dulu pulang nona, istirahat saja dulu." Tegur sang suster kala melihat Azalea yang akan beranjak.


"Saya mau lihat keadaan pasien sus, dan apakah keluarganya sudah datang?" Tanya Azalea.


"Keluarga nya sedang berada di luar kota, dan sedang perjalanan kesini. Sehingga, akan membutuhkan waktu untuk sampai." Terangnya.


Azalea memilih untuk beristirahat sejenak, dia termasuk saksi atas kejadian itu. Dia juga masih ingat jelas, bagaimana bentuk truk itu dan nomor platnya.


Karena kelelahan, tak sadar Azalea tertidur. Hingga beberapa jam kemudian, dia kembali terbangun. Kepalanya terasa berdenyut sakit, matanya mengerjapkan pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih pusing?"


Degh!!


Azalea menoleh ke arah samping, matanya terbuka lebar kala melihat Reagan yang duduk di kursi yang ada di samping brankar sembari menatapnya dengan datar.


"Reagan." Pekik azalea berusaha untuk duduk.


Reagan tak menyahuti perkataan Azalea, dia justru mengambil botol air dan membuka. Lalu, dia menyodorkan botol itu untuk Azalea.


"Minumlah." Titah Reagan kala melihat tatapan bingung wanita itu.


Azalea tak menolaknya, dia mengambil botol itu dan meminumnya secara perlahan. Setelah selesai, Reagan kembali mengambil botol itu dan menaruhnya di atas nakas.


Tak ada obrolan di antara mereka, keduanya hanya diam dengan pemikiran masing-maisng. Azalea tak berani membuka suara. Sebab sampai saat ini, dia merasa bersalah pada Reagan dengan permasalahan yang kemarin.


"Terima kasih untuk darahnya." Ujar Reagan setelah beberapa menit memilih diam.


Azalea menganggukkan kepalanya dengan singkat. Dia bahkan tak berani menatap Reagan, kepalanya tertunduk sembari melihat ke arah tangannya yang saling menggenggam.

__ADS_1


Reagan mengamati wajah Azalea, tatapan matanya jatuh pada kalung yang wanita itu kenakan. Lalu, beralih menatap cincin di jari manis wanita itu. Reagan tertawa miris dalam hatinya, harapannya di lakukan oleh orang lain.


"Dulu, aku sangat berharap suatu saat dia memakai kalung dan cincin sebagai mahar dariku. Tapi kini, aku harus melihatnya memakai pemberian orang lain." Batin Reagan.


"Tampaknya kau sangat bahagia Lea, apakah kau menikmati pernikahanmu dengan ayah dari putramu?" Tanya Reagan, membuat Azalea menatapnya.


Azalea menghela nafas pelan, dia menatap cincin yang ia kenakan. Lalu, mengusapnya perlahan.


"Segala sesuatu yang kita lihat, tak seperti yang terjadi sebenarnya. Reagan, carilah wanita yang bisa membahagiakanmu dan mencintaimu tanpa syarat. Bahagiakan dia, pertahankan dia untuk tetap disisimu." Ujar Azalea sembari tersenyum hambar pada Reagan.


Reagan merasakan ada yang tidak beres dengan Azalea, dia pun menegakkan tubuhnya. Menatap dalam mata wanita itu yang menyorot kesedihan.


"Apa Alan menyakitimu?" Tanya Reagan.


"Tidak." Jawab Azalea. Dia tidak mau permasalahan rumah tangganya di ketahui oleh orang lain, apalagi Reagan. Pria yang mencintainya.


Azalea menatap jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tersadar, Azalea buru-buru turun dari brankar.


"Reagan, aku harus pulang. Anak-anak pasti mencari ku, semoga ayahmu cepat sembuh. Jika polisi membutuhkan keteranganku tentang kecelakaan itu, aku akan menceritakannya. Hubungi saja lain waktu, aku harus segera pulang."


Belum juga Reagan menanggapi perkataan Azalea, wanita itu sudah bergegas keluar dengan raut wajah panik. Reagan hanya bisa diam, menatap kepergian wanita itu dengan sorot mata teduhnya.


"Jika dia kembali menyakitimu, datanglah kembali padaku Lea. Aku masih setia menunggumu." Batin Reagan.


Reagan berniat ingin keluar dari ruangan itu, dia ingin melihat keadaan sang daddy. Namun, sebelum dia beranjak. Seorang dokter datang dengan kertas di tangannya.


Kening Reagan mengerut, "Saya anaknya dok, kenapa?" Bingung Reagan.


Dokter itu pun sama halnya, dia menatap Reagan dengan tatapan bingung. "Bukan, anaknya perempuan. Yang tadi donorin darah," ujar dokter itu.


Reagan semakin tak paham dengan apa yang di maksud oleh dokter tersebut. Seketika, dia teringat dengan Azalea.


"Oh, Azalea? dia teman saya, bukan anak daddy saya." Ujar Reagan dengan tersenyum tipis.


Dokter itu menatap kertas yang ada di tangannya, lalu tatapannya beralih menatap Reagan dan kembali pada kertas itu.


"Loh, tapi ini hasil darahnya ... menunjukkan kecocokan 99% dengan daddy mu."


"APA?!"


.


.


.

__ADS_1


Azalea kembali ke mansion Alan, tubuhnya masih lemas. Tapi dia memaksa untuk pulang. Saat sampai di pintu utama, bodyguard yang berjaga bergegas mengabarkan hal ini pada Alan. Mendengar istrinya pulang, Alan bergegas keluar.


"Bagus! Keluar tanpa izin, pulang larut malam. Habis dari mana kamu?!"


Azalea tersentak kaget, dia menatap Alan yang berdiri di ambang pintu sembari bersedekap dada. Mengingat kejadian siang tadi, raut wajah Azalea berubah datar.


"Bukan urusan kamu." Jawab Azalea dengan singkat. Dia kembali melangkah, melewati Alan dengan santainya.


Tentu saja Alan tak terima, dia menarik kasar tangan Azalea agar menghadapnya. Wajah pria itu merah padam, bahkan urat-urat lehernya terkait menonjol. Azalea bisa melihat, tatapan kilatan amarah itu dari mata sang suami.


"Kalau aku tanya itu jawab yang benar!! Apa kamu tahu? Anak-anak menangis sedari siang tadi saat kamu di nyatakan hilang!! Mereka tidur karena lelah menangis! Dimana pikiranmu Lea!!" Sentak Alan.


Azalea menatap mata Alan tanpa takut, raut wajahnya terlihat datar. Rasa sakitnya, mengalahkan rasa takutnya saat ini.


"Dimana pikiranku? Seharusnya pertanyaan itu balik ke diri kamu sendiri!!" Sentak Azalea.


"Maksudmu?" Bingung Alan.


"Berhenti menyetirku! AKu bukan bawahanmu yang seenaknya kamu setir! Aku ibu dari anakmu!"


"TAPI AKU SUAMIMU! AKU BERHAK MEMERINTAHMU!" Bentak Alan membuat Azalea meradang.


"KALAU BEGITU, KITA CERAI SAJA!!"


Mata Azalea berkaca-kaca, dia menahan tangisnya agar tidak pecah. Sedangkan Alan, dia terkejut dengan apa yang Azalea katakan.


"Cerai? Lea, kau ini kenapa?" Tanya Alan dengan suara rendah.


Azalea menghempaskan tangan Alan yang memegang lengannya, dia mengerjapkan matanya. Seketika, air matanya luruh karena tak sanggup menahannya lagi.


"Aku tidak mau lagi bertahan di pernikahan ini."


Deghh!!


Sedangkan di lantai dua, terlihat dua orang bocah menatap pertengkaran dua orang dewasa itu. Tangan mungilnya memegang pagar dengan erat, air matanya membasahi pipi bulatnya.


"Lekci, mama dan papa mau celai? El nda mau picah lagi hiks ...,"


Sedangkan Alex, dia tak sanggup berkata apapun. Lidahnya kelu untuk bicara, air matanya sudah membasahi pipinya. dia segera berlari ke dalam kamar, dan bersembunyi di balik selimutnya.


"Lexi nda mau di tinggal mama lagi hiks ... kenapa papa dan mama celalu belantem telus cih hiks ...."


____


Jangan lupa, dukungannya🥰🥰.

__ADS_1


Sempatkan like dan komen🥳🥳


__ADS_2