Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Nda butuh di cayang, butuhna uang


__ADS_3

Esok hari, Azalea meminta Alan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Melihat kondisi istrinya yang baru saja sembuh, tentu Alan menolak. Dia bahkan berniat mendatangkan Hervan untuk menambah infus istrinya itu. Tapi, Azalea menolak, dia tidak mau kembali di infus.


"Kalau kamu gak mau antar, aku bisa naik taksi." Kekeuh Azalea.


"Astaga, bisa gak si kamu gak keras kepala? Tubuh kamu masih lemah, cuaca lagi panas-panasnya. Setidaknya, besok saja kita ke sana." Tegur Alan.


"Aku mau liat keadaan orang tuaku mas, aku mau lihat keadaan tuan Erlangga. Apakah dia sudah membaik atau belum. Jujur saja, kecelakaan itu membuatku tidak bisa berpikir positif atas keadaannya. Aku khawatir, dia drop, atau bagaimana. Ayo kita ke sana, aku mohon." Kekeuh Azalea.


Alan menghela nafas pelan, dia berat mengiyakan keinginan istrinya itu. Namun, bukankah dia juga harus menemui mertuanya?


"Oke, kita ke sana! Tapi, aku mau kamu pakai kursi roda. Aku gak mau kamu lelah berjalan di sana," ujar Alan.


"Aku kan bisa jalan, ngapain pake kursi ro ...,"


"Mau pergi atau di rumah?" Ancam Alan.


Azalea menghembuskan nafas nya kasar, "Oke! kita pergi, aku mau mandi dulu." Putus Azalea.


Melihat istrinya yang akan turun dari ranjang, reflek Alan langsung mendekat. Dia berniat akan menggendong istrinya itu, perbuatannya justru membuat Azalea melotot.


"Kamu mau ngapaiiinn?!" Pekik Azalea.


"Mau bantuin kamu mandi," ujar Alan dengan polosnya.


"Enggak ya! Aku mau mandi sendiri!" Pekik Azalea.


"Maksudnya, aku mau bantu kamu ke kamar mandi. Emang kamu ngertinya aku mau mandiin kanu?" Ledek Alan, seketika membuat pipi Azalea memerah.


"Ayo." Alan pun menggendong istrinya itu, lalu dia membawanya ke kamar mandi.


Sementara di kamar, Elouise tengah sibuk membenahi bukunya. Sembari berceloteh seperti biasa. Lalu, dia mengambil uang yang kemarin Alan berikan padanya. Dengan keadaan hati yang senang, dia memasukkan uang itu ke dalam saku bajunya.


"Tidak butuh di cayang, butuhna uang." Celoteh Elouise sembari menepuk sakunya.


"Heleh, belapa kau dapat dali papa?" Sahut Alexix saat mendengar celotehan adiknya itu.


"Dua latus, kenapa?" Sahut Elouise membuat mata Alexix melotot.


"DUA LATUUUSSS?! BICANAAAA?! KEMALIN LEKCI CUMAN DI KACIH CELATUUS!!"


"Ya nda tahu, tanya papa cana. Mungkin Lekci anak tili, makana di kacih celatus." Sahut Elouise, membuat Alexix bertambah geram.


"Cembalangan! AKu anak tili, kau juga anak tili lah! Kau pikil, ini cinetlon hah?!" Pekik Alexix.


"Nda bica di bialin, Lekci mau ambil hak na Lekci. PAAAAAA!!!"


Elouise mengerjapkan matanya, melihat kembarannya yang berlari menemui papa merkea. Senyumnya merekah, dia kembali mengintip uangnya.


"Om Legan bawa kebeluntungan." Gumam Elouise.


.

__ADS_1


.


.


Mobil Alan terparkir di parkiran rumah sakit, rait wajahnya masih saja cemberut. Padahal, mereka baru saja mengantar si kembar sekolah.


"Masih kesal?" Tanya Azalea, melihat raut wajah kesal suaminya itu.


"Kesal aku! Masa, aku di samain sama Reagan. Jelas beda lah!" Seru Alan.


"Yasudah, seharusnya jangan di turuti. Uang seratus itu besar, anak-anak gak boleh megang uang segitu. Lagian, Reagan kan abangku. Sainganmu sudah tidak ada." Perkataan Azalea, membuat kerutan di dahi Alan memudar.


"Eh, bener juga! Kenapa aku nurutin mereka yah? Kan Reagan ... aishhh!! bisa-bisanya aku di bod0hin anak-anak." Geram Alan.


Azalea tertawa di buatnya, putranya memang cerdas. "Putraku cerdas bukan? Katanya, kecerdasan anak menurun dari ibunya."


Akan melirik sinis pada istrinya itu, "Iya lah, kau yang paling cerdas. Makanya kamu mau nikah sama aku." Senyum ALan mengembang, berbalik dengan Azalea yang cemberut di buatnya.


"Nikah sama kamu tuh musibah tau gak!" Pekik Azalea.


"Musibah terindah yah?" Ledek Alan.


Azalea menahan senyumnya, dia berusaha mendatarkan wajahnya. Walau saat ini dia ingin sekali tersenyum.


"Udah lah! Ayo turun! Nanti di sangkanya ngapa-ngapain kita di mobil, gak turun-turun!" Ajak Azalea.


"Emang kita ngapain di mobil? Hm?" Alan menaik turunkan alisnya, membuat Azalea meraup wajah suaminya itu dengan kesal.


Buru-buru, Alan mengeluarkan kursi roda yang ia bawa. Dia sengaja tidak memakai supir, agar lebih leluasa bersama dengan istrinya.


Alan mendorong kursi roda Azalea memasuki rumah sakit, keduanya memasuki lift hingga sampai di lantai kamar Erlangga. Sesampainya di sana, Alan bergegas mengetuknya.


Tok! Tok!


Cklek!


"Eh, kalian?!"


Diandra menyambut keduanya dengan senyum mengembang, tapi senyumannya surut ketika melihat putrinya yang duduk di kursi roda.


"Kenapa duduk di kursi roda? Kamu masih sakit nak?" Tanya Diandra sembari menangkup pipi putrinya.


"Enggak, mas Alan yang suruh. Katanya, biar Lea gak capek," ujar Azalea dengan canggung.


Diandra menatap Alan, pria itu tersenyum tipis menatapnya. Tak seperti saat itu, yang menatapnya penuh amarah


"Yasudah, ayo masuk." Ajak Diandra.


Apan kembali mendorong kursi roda istrinya masuk, baru masuk saja keduanya sudah di sambut oleh Reagan dan Erlangga.


"Wah, pagi sekaki kalian datang!" Seru Erlangga.

__ADS_1


"Iya, kebetulan tadi sekalian antar si kembar." Jawab Azalea.


"Kenapa gak sekalian kalian ajak ke sini? Libur sekolah sehari gak masalah kan? Daddy ingin lihat cucu-cucu daddy." Seru Erlangga.


Azalea hanya menanggapinya dengan tersenyum, keduanya baru masuk belum ada seminggu. Jika libur, Azalea merasa tidak enak pada guru si kembar.


Erlangga mengusap kepala putrinya, dia ingin sekali memeluk Azalea. Peka dengan sang daddy, Azalea beranjak dari duduknya. Dia memeluk Erlangga, hingga membuat mata pria itu berkaca-kaca.


"Kalau masih sakit, jangan di paksakan kesini," ujar Erlangga dengan suara bergetar.


"Lea udah gak sakit, cuman Mas Alan nya aja yang lebay." Ujar Azalea.


Pelukan keduanya terlepas, Azalea beralih memeluk sang mommy. Lalu, ketika dia akan memeluk Reagan. Sudut matanya melirik mata tajam suaminya yang menghunus ke arahnya.


"Gak papa kan? Kan abangku," ujar Azalea.


Dengan jail, Reagan memeluk erat Azalea. Bahkan, dia menc1um pipi Azalea, membuat Alan seketika terpekik kesal.


"Bisa gak, gak usah pake c1um-c1um? Disini masih ada suaminya loh!" Lekik Alan.


"Kenapa? Kan aku abangnya, gak masalah dong!" Seru Reagan, sengaja membuat Alan kesal.


"Kau!!"


"Alan, kemari. Saya ingin berbicara padamu."


Alan meneguk kasar ludahnya, apalagi melihat tatapan tajam Erlangga padanya. Sebelumnya, Alan tak pernah merasakan bagaimana menghadapi mertua. Dan kini, dia akan merasakannya.


"Lea, temani mommy sarapan yah, di kantin aja kok. Reagan! Bantu dorong kursi roda adikmu!" Ajak Diandra.


Azalea mengangguk, dia kembali duduk di kursi rodanya. Reagan lah yang membantunya mendorong keluar. Selepas kepergian ketiganya, tatapan Erlangga kembali menatap suami putrinya itu.


"Kemari!" Titah Erlanga.


Dengan memupuk keberanian, Alan berdiri di sisi Erlangga. Laku, tiba-tiba saja lehernya di pegang oleh pria setengah baya itu. Hingga membuatnya begitu terkejut.


"Anak-anakmu keduanya laki-laki?" Tanya Erlangga.


Alan mengangguk cepat, raut wajahnya sudah tidak dapat tertolong lagi.


"Jadi, kapan kamu kasih saya cucu perempuan?"


"Eh?" Alan menoleh, dia melihat Erlangga yang menatapnya dengan tajam.


"Secepatnya, udah otw kok!" Seru Alan.


Erlangga melepaskan cekalannya pada leher menantunya. Lalu, pria setengah baya itu menghembuskan nafasnya pelan.


"Dari kecil, saya tidak tahu bagaimana kehidupan putri saya. Saya tidak bisa memanjakannya, memberikannya kasih sayang, mencukupi kebutuhannya. Saat bertemu, dia sudah menjadi milikmu. Jujur saja, saya masih ingin menikmati masa-masa putri saya menjadi milik saya. Tapi, keadaan tak bisa di paksa."


"Maka dari itu, Alan ... saya minta, bahagiakan putri saya. Beri dia hal, yang dulunya tidak saya berikan. Berikan dia semua yang dia butuhkan, cintai dia sepenuh hatimu. Jangan pernah menyakitinya, jika sampai saya tahu kamu menyakiti putri saya ... saya akan merebutnya kembali darimu. Paham?!"

__ADS_1


__ADS_2