
Jam sebelas malam, Alan baru keluar dari kantornya. Dia harus mengerjakan beberapa berkas, belum lagi dirinya harus rapat dengan karyawannya.
Alan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, entah mengapa malam ini matanya terasa sangat mengantuk. Tak sadar, Alan memejamkan matanya.
BRUGH!!
"ARGHH!!"
Mobil Alan menabrak pembatas jembatan, kepalanya terbentur stir dengan cukup kencang. Air bagnya tak berfungsi dengan baik hingga menyebabkan keningnya berdarah.
"Arghh." Akan memegangi keningnya, dia merasa keningnya yang terasa basah.
TOK!
TOK!
"Apa anda baik-baik saja?!" Seseorang datang untuk melihat keadaan Alan. Terlihat sekali, orang tersebut sangat panik.
Alan membuka pintu mobilnya, orang tersebut pun membantu Alan untuk keluar. Tubuh Alan sudah sangat lemas, apalagi dari di keningnya yang terus keluar.
"Saya akan bawa anda ke rumah sakit," ujar pria itu dengan memapah Alan.
"Tidak usah, antarkan saya pulang saja." Tolak Alan.
"Tapi, luka anda ...,"
"Saya belum mengabari istri saya, dia pasti kepikiran. Lebih baik, antarkan saya pulang saja. Saya bisa ke rumah sakit bersama istri saya." Tetang Alan.
Akhirnya, pria itu membawa Alan pulang ke mansion. Selama di mobil, Alan menahan darah di keningnya dengan sapu tangan miliknya.
"Tuan, kau yakin? Darahmu terus keluar, aku bisa menghubungi istrimu nanti," ujar pria itu memberi saran.
"Aku ingin lulang dulu," ujar Alan sembari memejamkan matanya. Kepalanya terasa sangat pusing.
Mobil terhenti di depan gerbang mansion, bergegas Alan membuka jendela pintunya. Sebab, para bodyguard tak akan mengizinkan mobil asing masuk ke kawasan mansion.
"Tuan!" Seorang bodyguard datang dengan berlari cepat.
"Tolong bukakan pagarnya," ujar Alan dengan lemas.
Bodyguard itu mengangguk, dia buru-buru kembali untuk membukakan pagar bersama beberapa bodyguard yang lain. Sehingga, mobil pria itu pun bisa masuk kawasan mansion.
Pria itu melirik Alan sejenak, dia tak menyangka jika orang yang dia tolong adalah pria yang sangat kaya.
"Butuh bekerja berapa lama untuk mendapat mansion semewah ini." Batin pria itu.
Mobil terhenti saat sampai di pintu utama, para bodyguard langsung mendekat pada mobil pria itu untuk membantu mengeluarkan Alan.
__ADS_1
"Mas Alan!!" Azalea berteriak histeris saat bodyguard memapah tubuh lemah itu keluar.
Air mata Azalea tak terbendung lagi, apalagi melihat darah yang berada di pakaian pria itu.
"Mas, mas kenapa?!" Tanya Azalea, menyentuh tangan suaminya.
"Telpon om Hervan. Mas mau istirahat sebentar." Lirih Alan. Dirinya tak sanggup untuk berkata banyak, tubuhnya sudah benar-benar lemas.
Azalea buru-buru menelpon Dokter Hervan, kebetulan dirinya memegang ponsel karena sejak tadi berusaha menghubungi Alan yang tak kunjung pulang.
"Om, bisakah om kesini? Mas Alan kecelakaan, aku belum tahu pasti bagaimana kronologinya. Tolong cepat kesini, kening Mas Alan berdarah." Seru Azalea dengan suara bergetar.
"Tenanglah, om akan segera ke sana."
Tuutt!
Azalea meremas ponselnya, dia sangat khawatir saat ini. Dirinya akan beranjak masuk, tetapi dia baru sadar jika ada pria lain di sana.
"Tuan yang membantu suami saya yah? Terima kasih banyak, terima kasih atas pertolongannya." Ujar Azalea dengan tulus.
"Sama-sama mbak, kebetulan saya juga lagi jalan pulang. Mobilnya masih di tinggal di sana, bagian depan rusak parah karena menabrak pembatas. Saya gak yakin jika mobilnya akan bisa kembali nyala, maka dari itu saya mengajak suami mbak untuk saya antar." Terang pria tersebut.
Azalea menganggukkan kepalanya, dia tak bisa membayangkan betapa rusaknya mobil itu. Beruntung, suaminya masih bisa di selamatkan.
"Ehm bisa saya simpan nomor mas nya? Biar kalau ada perlu, saya bisa hubungi mas." Ujar Azalea sembari menyodorkan ponselnya.
"Mas nya ... mau nunggu apa lagi yah?" Tanya Azalea sembari mengerjapkan matanya bingung.
"Oh, maaf. Saya ... saya ... kalau gitu saya pulang dulu." Pamitnya, buru-buru dia memasuki mobil.
Azalea menatap bingung kepergian pria itu, dia masih menetap hingga mobil itu pergi.
.
.
.
"Awssshh!! Pelan-pelan om! Udah gak di bius, di jahit hidup-hidup lagi!" Pekik Alan saat Hervan tengah menjahit keningnya.
Alan berhasil mendapatkan beberapa jahitan karena keningnya yang robek akibat benturan yang cukup keras. Parah nya lagi, Hervan lupa membawa obat bius. Jadi lah, saat ini Hervan menjahitnya tanpa bius.
"Sabar mas." Azalea setia di samping suaminya, sedari tadi tangannya di genggam oleh Alan dengan erat.
"Pelan om!!" Pekik Alan saat Dokter Hervan kembali menusuk kulitnya dengan harum.
"Bawel banget sih kamu! Ini udah jahitan terkahir!" Omel Dokter Hervan.
__ADS_1
"Nah! Dah selesai!" Seru Dokter Hervan setelah memasangkan pembalut luka pada bekas jahitan Alan.
Alan menyembunyikan wajahnya di leher sang istri yang duduk di sebelahnya. Dengan peka, Azalea memeluk kepala suaminya sembari jari lentiknya mengelus kepala sang suami dengan pelan.
"Dasar manja." Sindir Dokter Hervan.
Mendengar itu, sontak Alan menarik kembali wajahnya. Matanya menatap datar dokter Hervan yang menatapnya dengan tatapan penuh ledekan.
"Sakit tau gak om?! Udah luka, di tusuk jarum." Kesal Alan.
"Pasien om gak ada yang semanja kamu, udah lah! Om mau pulang. Lain kali, kalau ngantuk itu tidur di jalan. Jangan pulang, ganggu orang tidur." Bukannya dapat perhatian Dokter Hervan malah mengomeli Alan. Hingga membuat pria itu melebarkan matanya.
"OM ...."
"Sudahlah, lebih baik mas tidur. Aku mau antar om Hervan ke depan." Titah Azalea sembari menyingkirkan kepala sang suami dari bahunya.
Alan melongo tak percaya, tak ada kah yang mendramatisir tentang lukanya? Lukanya di jahit, tapi hanya itu respon mereka?
"Kalau si kembar kegores dikit aja, pasti pada heboh. Lah aku, di jahit pun pada diam aja." Gumam Alan, sembari menatap kepergian istrinya bersama Dokter Hervan.
"Tau lah! Pokoknya mau ngambek aku seharian!" Ketus Alan, dia meraih selimut dan menyelimuti dirinya.
.
.
.
Apa yang Alan katakan semalam, tak sesuai dengan rencananya. Dia yang tadinya ingin merajuk, justru kini malah bermanja ria dengan istrinya.
"Mas, Caramel ngeliatin kamu tuh. Dia aneh kenapa papanya ngelendot ke mamanya gini." Ujar Azalea sembari menatap putrinya yang duduk di hadapan mereka dengan mulut sedikit terbuka.
Alan beralih menatap putrinya, raut wajah putrinya membuat Alan gemas.
"Ini mama punya papa, kamu cari mama baru aja saja." Usir Alan. Dia sedikit menyenggol lengan Caramel, ingin menjaili bayi itu.
Tak menangis, Caramel justru menatap papanya dengan bingung.
"Ini punya papa, kamu gak usah di bagi." Unjuk Alan pada tempat nutrisi yang selama ini Caramel dapatkan dari sang mama."
Mendengar itu, sontak bibir Caramel melengkung ke bawah. Tak lama, rengekan di susul dengan tangisan memenuhi ruangan itu.
"EKHEEE EKHEEE HUAAA!!!"
"MAASSS!!"
"Hehe, bercanda sayang."
__ADS_1