
Wanita itu mengangkat anaknya ke gendongannya, lalu tatapannya beralih menatap Azalea ayang terlihat masih terkejut.
"Maaf ya mba jika anak saya menganggu mbak nya." Ujar wanita itu dengan perasaan yang tak enak.
"Ti-tidak, dia tidak mengganggu saya sama sekali. Dia anak yang manis," ujar Azalea dengan tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, sontak mata wanita itu berkaca-kaca. Sembari mengelus punggung putrinya, dia berkata, "Biasanya orang akan mengejek putri saya, kenapa mbak tidak mengejeknya juga?" Tanya wanita itu.
Azalea tersenyum, dia meraih tangan batita itu dan menggenggamnya dengan lembut.
"Bukan mau mereka di melahirkan seperti ini, dan bukan mau orang tuanya juga kan? Mereka yang lahir seperti ini, sangat istimewa. Hanya orang-orang terpilih lah yang di berikan anak seistimewa dia." Ujar Azalea, membuat wanita itu terharu.
"Mbak, aku gak tahu harus apa. Aku sebenarnya juga malu, takut dengan tatapan orang-orang kepada putriku yang berbeda." Lirih wanita itu.
Azalea tersenyum, "Aku tidak tahu bagaimana di posisi, aku hanya bisa mengatakan oadaku jika ... anak ini suatu saat akan membuatmu bangga. Walau dia mengalami DS, aku yakin dia yang nantinya membuatmu selalu merasakan kebahagiaan," ujar Azalea.
"Bagaimana ku bisa bahagia mba? AKu merasa. anakku seperti ini karena balasanku karena sudah menghina seseorang." Lirih wanita itu.
Belum sempat Azalea bertanya, Alan sudah kembali dan memanggil dirinya.
"Sayang, sudah belinya? Si kembar bangun, jadi aku sedikit lama." Seru Alan.
"Gak papa mas, aku sedang berbicara pada mbak ini juga." Sahut Azalea.
Alan menatap wanita itu, sontak senyumannya luntur. Raut wajahnya terlihat datar, bahkan auranya sangat mencekam. Begitu pun dengan wanita itu, dia menatap Alan dengan mata membulat sempurna.
"Sayang, kita pulang!" Ajak Alan.
"Tapi, susu si kembar gimana? Nanti mereka bangun dan na ...,"
"Ayo pulang!" Sentak Alan.
Azalea menutup rapat bibirnya, dia tengah kebingungan. Tatapannya beralih pada wanita yang tengah menatap suaminya itu.
"Alan! Tunggu!" Seru wanita itu.
Alan menghentikan langkahnya, cengkeramannya pada tangan sang istri semakin kuat. Dadanya terlihat kembang kempis menahan amarah yang menyesakkan dadanya.
"Aku minta maaf, sungguh aku menyesal. Aku tak berharap kembali padamu, tapi aku ingin sekali kamu memaafkanku." Ujar Wanita itu dengan nada sedih.
"Mas." Panggil Azelea.
Alan berbalik, dia merangkul pinggang Azalea hingga membuat istrinya itu terkejut. Mata tajamnya menatap Wanita itu dengan tatapan datar.
"Aku sudah mendapatkan bayaran atas perkataan jahatku dulu. Kau lihat Alan, bayiku ... dia berbeda."
Tatapan Alan jatuh pada anak yang berada di gendongan wanita itu, ada rasa kasihan di dalam hatinya.
"Tolong, maafkan aku. Selama ini, aku merasa tidak tenang. Aku terus di hantui rasa bersalah pada mu. Tapi, aku takut menemuimu." Lirih wanita itu.
__ADS_1
Alan menghela nafas pelan, "Selia, aku memaafkanmu."
Deghh!!
Azalea menatap tak lercaya pada wnaita cantik di hadapannya yang ternyata adalah mantan sang suami. Jujur saja, ada perasaan khawatir di hati Azalea.
"Terima kasih Alan, terima kasih!" Serunya dengan senyum mengembang.
"Berkatmu juga, aku menemukan wanita yang seribu kali lebih baik darimu. Dia, Azalea. Istriku, dan juga ibu dari anak kembarku," ujar Alan memperkenalkan Azalea pada sang mantan.
Azalea dan Selia saling menatap, keduanya saling melemparkan senyum. Tak ada drama tentang perebutan kembali seorang suami dari istrinya. Yang ada, hanya rasa penyesalan dan saling memaafkan.
"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu. Suamiku sudah menunggu di luar." Pamit Selia.
Selepas kepergian Selia, Azalea melepas rangkulan Alan pada pinggangnya. Lalu, tatapannya beralih menatap sinis pada pria itu.
"Seneng gak mas, ketemu mantan?" Seru Azalea dengan sinis.
"Eh,"
Azalea berlalu pergi sembari mendorong trolinya, sementara Alan hanya diam di tempat sembari menatap bingung kepergian sang istri.
"Perempuan selalu cari masalah yah." Gumam Alan.
.
.
.
Terlihat, Dokter Aryan sedang mengamati kota dari kamar sebuah hotel. Dia sedang berada di hotel bersama dengan sang istri. Saat asik melihat pemandangan kota, tiba-tiba pelukan hangat dia rasakan di perutnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya istrinya itu.
"Aku merindukan putra kita." Lirih Dokter Aryan.
"Kau merindukan putra kita? Kalau begitu, besok kita ke indonesia saja. Kita datang melihat Elouise, bukankah salah satu anggota tubuh putra kita ada di dia?" Seru istrinya itu.
Terdengar helaan nafas dari dokter Aryan, dia berbalik menatap istrinya.Tangannya terangkan. Kaku, menyingkap poni panjang sang istri ke belakang telinga.
"Apa kau sudah merindukan Elouise?" Tanya Dokter Aryan.
Istrinya tampak mengangguk, "Iya, aku merindukannya. Sudah lama kita tidak bertemu dengannya, aku ingin tahu kabarnya," ujarnya.
Dokter Aryan tersenyum, dia melepas pelukan sang istri. Lalu, berjalan masuk ke dalam kamar mereka. Istrinya pun mengikuti kemana langkah sang suami pergi.
"Kita telfon saja," ujar Dokter Aryan.
Istrinya tersenyum dan mengangguk, "Iya! Telfon saja!" Serunya.
__ADS_1
Dokter Aryan akan mencari nama Alan, akan tetapi. Sebelum dirinya masuk ke kontak panggilan, sebuah telpon dari orang yang tak dia kenal pun muncul di layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya sang istri.
"Enggak tahu." Jawab dokter Aryan.
Tanpa pikir panjang, Dokter Aryan langsung mengangkatnya.
"Halo, siapa yah?" Tanya Dokter Aryan
"Apa kau tidak mengingatku Dokter Aryan?"
Deghh!!
Mata Dokter Aryan melotot, tubuhnya menegang. Melihat keadaan suaminya seperti itu, tentu saja istri dokter Aryan pun turut panik.
"Kau ...,"
"Ya ini aku, seorang ayah yang kau janjikan atas kesembuhan putranya. Dimana ginjal putramu! Karena kau, putraku meninggal!!"
Deghh!!
Mata DOkter Aryan berkaca-kaca, "Pak Karel, maaf kan aku. Aku tidak tahu kalau putramu ...,"
"Masih ingat kah kamu dengan janjimu dokter? Apa tidak ada penyesalan darimu?"
Dokter Aryan kembali mengingat saat dimana dirinya dan pria itu bertelfonan beberapa saat lalu.
"Dokter, aku mendengar jika kamu tengah mencari yang membutuhkan donor ginjal. Putraku sedang membutuhkannya, aku mohon dok. Berikan untuk putraku."
"Berapa usianya? " Tanya Dokter Aryan.
"Lima tahun dok." Seru pria itu.
"Bisa tuan, tapi saya akan mengedepankan yang lebih membutuhkan nya. Yang ginjalnya benar-benar sudah rusak parah, dan saya harus melihat hasil kondisi ginjal putra anda," ujar Dokter Aryan.
"Baik dok, saya akan memberikannya.
Tak lama, pria itu memberikan hasilnya. Dokter Aryan membacanya dengan teliti. Ginjal putra Karel yang sudah stadium dua. Saat fokus melihat hasil ginjal putra Karel, sebuah notif masuk di ponselnya. Sehingga, Dokter Aryan menunda kegiatannya untuk melihat notif yang masuk.
Terlihat, ada email masuk dari Dokter Hervan. Dia membuka email itu, yang ternyata hasil pengecekan ginjal Elouise.
Lalu, dokter Aryan membandingkan hasil ginjal Elouise dan putra Karel. Hasilnya, ginjal Elouise lebih parah. Bahkan, sudah mengalami kerusakan stadium akhir. Sehingga, Dokter Aryan memutuskan untuk memberikan ginjal itu pada Elouise.
"Tuan Karel, saya benar-benar minta maaf. Tapi, keadaan putra tuan Alan saat itu lebih parah dari putra an ...,"
"OOOHH ... JADI, YANG MENERIMA GINJAL ITU ANAK TUAN ALAN ANNOVRA?!"
Deghh!!
__ADS_1