Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kecanggungan


__ADS_3

Alan dan Azalea tengah berada di situasi canggung, dimana keduanya tidur di kamar Alan. Sedangkan si kecil Alexix, sedang berada di tengah orang tuanya. Sesekali, keduanya curi pandang karena rasa gugup yang mereka rasa.


"Ayo, peluk Lekci. Dali tadi anakna di anggulin telus. Mama biacana peluk Lekci, kok cekalang nda peluk?!" Seru Alexix saat dia belum merasa sebuah pelukan.


"Ehm ...." Azalea menempatkan tangannya di perut Alexix, dia sangat takut sekali. Jika, sewaktu tidur nanti dia tak sengaja menyenggol Alan.


"Papa! Ayo! Buluan! Nanti Lekci na nda tidul-tidul loh!" Seru Alexix dengan kesal.


Alan pun meletakkan tangannya di atas tangan Azalea, matanya menatap lekat mata wanita itu. Saat Azalea merasakan tangan Alan, dia ingin menariknya. Namun, Alan malah menahan tangannya.


"Ayo, mali kita tiduuull." Seru Alexix sembari memejamkan matanya dengan senyum mengembang.


Azalea turut memejamkan matanya, dia akan bertahan sampai putranya itu tidur. Namun, entah mengapa Azalea turut mengantuk dan akhirnya tertidur. Tangannya masih berada di bawah tangan kekar Alan. Sedari tadi, pria itu menatap Azalea dengan tatapan lekat.


"Kenapa, aku tidak pernah bosan untuk menatap wajahnya. Banyak wanita yang lebih cantik darinya, tapi ... kenapa hanya wajahnya yang selalu ada di ingatanku?" Gumam Alan.


Setelah beberapa menit memandangi wajah Azalea, akhirnya Alan tertidur juga. Dia bahkan, tertidur dengan tenang tanpa gelisah seperti biasanya.


Di pagi hari, Azalea terbangun. Dia terkejut karena posisinya sudah berada di pelukan Alan. Azalea ingin melepaskan diri, tapi dia tertegun dengan wajah lelah pria itu. Kerutan di dahi Alan tampak, pria itu seperti tengah bermimpi aneh.


Entah mengapa, tangan Azalea terangkat. Dia mengelus kerutan itu hingga Alan kembali tenang dalam tidurnya. Seketika, Azalea berpikir. Apa yang sedang Alan mimpikan dalam tidurnya hingga membuat dirinya gelisah?


"Apa yang kamu pikirkan? Harta dan kedudukan, sudah kamu miliki. Kamu di pandang sebagai pria idaman para wanita. Sementara, kamu membenci wanita. Tak heran, jika banyak rumor yang mengatakan kalau kamu ...,"


"Menyukai pria maksudmu?"


Degh!!


Azalea tersentak kaget, dia pikir Alan belum terbangun. Padahal, dia melirih kan suaranya agar tak mengganggu tidur pria itu. Namun, pria itu bisa mendengar jelas apa yang dia katakan.


"A-aku ...,"


Alan menarik tangan Azalea dan menaruhnya di atas kepala wanita itu. Seketika, Alan mengangkat tubuhnya dan menindih tubuh Azalea. Tentu saja, hal yang Alan lakukan membuat Azalea kaget.


"Ma-mas!" Pekik Azalea.


"Kamu percaya dengan berita itu? Jika aku menyukai pria, mana mungkin kita bisa memiliki anak? Atau, mau ku buktikan ulang jika aku pria normal?"


Azalea menahan nafasnya saat wajah Alan semakin dekat dengannya. Sungguh, tubuh Azalea terasa sulit di gerakkan, perbuatan Alan membuat hatinya meronta-ronta.


BRAK!!


"CELAMAAT PAGIII MA ...." Alexix mematung di ambang pintu setelah melihat kedua orang tuanya berposisi yang aneh menurutnya.


Sama halnya dengan Alexix, keduanya pun sampai tak menyadari posisi mereka yang tak layak di lihat oleh anak mereka.

__ADS_1


"Kenapa papa tindih mama?"


Pertanyaan Alexix membuat Alan tersadar, dia bergegas menarik dirinya. Keduanya di hinggapi rasa gugup, menatap Alexix yang menatap aneh mereka berdua.


"Ehm tadi papa, cari nyamuk. Nyamuknya ngumpet di rambut mama." Seru Alan memberi alasan agar putranya tak berpikiran aneh.


"Telus, ketemu nyamukna?" Tanya Alexix dengan tatapan polosnya.


"Tadi mau ketemu, kamu keburu masuk. Kalau enggak kan, papa bisa dapet nyamuknya." Jawab Alan sembari menatap Azalea dengan tatapan lekat.


Azalea menguncir rambutnya, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alexix, dia duduk di tepi ranjang sembari menunggu Azalea keluar dari dalam kamar mandi.


"Alexix tadi di bantuin mandi sama Bi Sari?" Tanya Alan melihat putranya yang sudah rapih.


Alexix mengangguk, "Iya, Lekci bangun kalna Papa dolong Lekci. Papa kayakna pengen banget peluk mama, jadi Lekci pindah kamal."


Wajah Alan memucat, apakah yang di katakan putranya benar? Dia benar-benar tak sadar, sama sekali. Bahkan, dia juga terbangun karena elusan jari Azalea di keningnya.


"Emangnya papa dorong gimana?" Tanha Alan penasaran.


"Di dolong, campe ke bawah. Telus, papa peluk mama. Kecal kali, tapi Lekci cenang." Seru Alexix.


"Senang yah ...." Gumam Alan sembari menunjukkan seringai di bibirnya. Sepertinya, dia tengah merencanakan sesuatu dengan mengajak putranya itu.


.


.


.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Alan saat dia sampai di undakan terakhir.


"Hasilnya, ginjalnya cocok dengan jaringan tubuh Elouise."


Senyum Alan mengembang, matanya menjadi berkaca-kaca. Dia sangat bahagia, sebentar lagi putranya akan sembuh dan bisa menjalani aktifitas selayaknya anak normal pada umumnya.


"Benarkah?!" Seru Alan.


"Ya tuan, bahkan putra anda tidak sabar untuk melalukan operasi itu."


Alan sudah sampai di ruang makan, dia duduk dengan ponselnya yang masih tertempel di telinganya.


Melihat Alan yang sedang serius menelpon, Azalea hanya menghiraukannya karena dia sibuk menyuapi Alexix makan.


"Ya, aku akan ke sana hari ini. Jangan katakan padanya, aku akan memberi sebuah kejutan untuknya," ujar Alan.

__ADS_1


Setelah itu, Alan mematikan sambungan telponnya. Dia benar-benar merasa bahagia hari ini. Hatinya terasa sangat gembira, harinya terasa sangat cerah.


"Papa napa ceneng kali? Menang lotle?" Tanya Alexix dengan ekspresi bingungnya.


"Lebih dari itu, adikmu akan di operasi malam ini." Seru Alan.


Azalea menghentikan kegiatannya, dia menatap Alan dengan ekspresi terkejut sekaligus haru.


"Benarkah?!" Seru Azalea yang mendapat anggukan dari Alan.


"Ya, ginjalnya cocok dengan jaringan tubuh Elouise. Maka dari itu, dokter akan melalukan operasi malam ini juga."


Azalea tersenyum haru, dia bersyukur karena putranya akan kembali normal. Dia tidak sabar, menantikan kepulangan Elouise.


"Lea, apa kamu tidak ingin menemani anak kita operasi?" Tanya Alan dengan tatapan tak datar seperti biasanya.


azalea tertegun, dia menatap Alan dengan tatapan lekat. Apakah Alan mengizinkannya? Di pikir, pria itu melarangnya untuk menemui Elouise?


"Apa boleh?" Tanya Azalea dengan suara bergetar menahan haru.


"Tentu saja. Sebenarnya, aku memiliki janji dengan Elouise." Tetang Alan sembari menatap ke arah lain.


"Janji apa?" Tanya Azalea dengan kening mengerut.


Alan menghembuskan nafas pelan, "Aku tidak bisa bilang sekarang, nanti kamu akan tahu apa maksudku membiarkan kamu mengurus mereka." Tatapan Alan beralih pada Alexix, membuat Azalea pun turut menatap Alexix.


"Kenapa, kehidupan mas Alan selalu dengan teka-teki." Batin Azalea dengan kesal.


Saat Azalea akan kembali menyuapi putranya, tiba-tiba ponselnya berdering. Membuat dia reflek melirik Alan. Benar saja, wajah pria itu berubah menjadi menatap datar padanya.


"Mas aku mau jawab telpon dari Reagan, boleh?" Izin Azalea.


"Silahkan, tapi kau harus menelponnya di depanku." Titah Alan.


"Tapi aku ...,"


"Gak ada tapi-tapian! Lakukan saja!" Sery Alan dengan kesal.


Mendengar nama Reagan, wajah Alexix berubah kesal. Dia berdiri di bangkunya dan menatap sang mama dengan tajam.


"Om Legal lagi?! Papa! Om Legal c1um mama pas malem pulang dali acala!" Adu Alexix membuat mata Alan seketika melotot menatap Azalea.


"APA?!"


___

__ADS_1


Terima kasih banyak atas respon positif kalian, pembaca ku memang paling pengertian parah 😭 terharu banget. Untuk itu, author akan lebih berusaha lagi memberikan karya terbaik untuk kalian😍


__ADS_2