
Sebuah mobil hitam terparkir di depan mansion. Terlihat, Arumi turun. Lalu, dia meminta bodyguard untuk menurunkan belanjaan mereka. Sementara Caramel, dia turun dengan sebuah kardus di tangannya.
"Bahagia kali ... nanti ci gemblot ada temen mainna." Senang Caramel.
Terlihat, si kembar juga baru saja pulang. Keduanya pulang dengan menggunakan sepeda karena baru saja dari lapangan. Kening mereka mengerut saat melihat adik mereka yang sedang membawa kardus.
"Beli apa kamu?" Tanya Elouise dengan penasaran.
Caramel menoleh, "Kepo yah ... ada lah. Temen buat ci gemblot. Bial nda galau galau janda cebelah lebih milih ci gembul." Celoteh Caramel.
"Mana coba lihat." Mendengar itu, Caramel membuka kotaknya. Seketika, mata Alexix dan Elouise membulat sempurna.
"AYAM?! KAMU NGAPAIN BELI AYAAAAMM?!" Pekik Alexix.
Ternyata, di kardus itu terdapat tiga ayam warna. Ada warna merah, kuning dan hijau. Sepertinya, Caramel membelinya di jalan.
Jujur saja, selain bebek. Alexix tidak suka dengan ayam. Apalagi kini, adiknya tengah membawa ayam ke mansion. Sementara Elouise, justru dia tersenyum. Dirinya jadi mengingat, saat kecil dia sama seperti Caramel. Dia suka memelihara ayam, tapi sayangnya. Sang mama justru menjualnya.
"Buang gak!" Jerit Alexix.
"Apaan cih! Calah apa aku lupana!" Kesal Caramel, dia memeluk kardus itu dengan sayang.
"Awas yah, abang aduin papa!" Ancam Alexix.
"PAAAA!!"
Alexix berbalik masuk, dia berteriak memanggil sang papa. Sedangkan Caramel, dia tak peduli. Dia langsung masik ke dalam sembari membawa ayam itu. Elouise hanya bisa mengikuti kedua saudaranya sembari menggelengkan kepalanya.
"JAWAB! KAMU LEPAS KB TANPA PERSETUJUAN AKU KAN?!"
Langkah ketiga anak itu terhenti, ketika mendengar suara teriakan Alan dari dalam kamar. Jantung mereka berdegup kencang, kecemasan melanda hati mereka.
"Kenapa dengan papa kalian?" Arumi datang dengan raut wajah khawatir.
"Mama." Lirih Caramel dengan suara bergetar.
Elouise langsung menggendong adiknya dan membawanya pergi. Dia takut Caramel akan melihat kemarahan sang papa. Cukup Elouise dan Alexix yang melihat sisi buruk sang papa. Sementara Alexix, tanpa menjawab Arumi dia langsung berlari masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
BRAK!!
"PAPA APAIN MAMA!!" Teriak Alexix ketika masuk ke dalam kamar orang tuanya.
tatapan Alexix terjatuh pada sang mama yang sedang menangis sembari duduk di tepi ranjang. Berkali-kali Azalea ingin meraih tangan Alan, tetapi suaminya itu malah menepis tangannya.
"PAA!!" Alexxi segera mendekati sang mama, dia langsung memeluk Azalea sembari menatap tajam sang papa.
"Jangan bentak Mama!" Marah Alexix.
"Kamu anak kecil, gak usah ikut campur. Ini urusan Papa dan Mama!" Sentak Alan yang memang sudah tersulut emosi.
Arumi pun turut masuk, melihat menantunya yang menangis dia jadi bingung. "Ada apa ini Alan? Kenapa kamu memarahi Lea? Salah apa dia?" Tanya Arumi dengan heran.
Alan berdecak, dia berkacak pinggang sembari mengatur nafasnya. Emosinya tersulut, Alan sadar akan hal itu.
"Ma, bisa minta tolong? Belikan istriku testpack." Pinta Alan.
"Ha? Bukannya istrimu KB Lan? Kamu sendiri kan yang gak mau nambah lagi?" Bingung Arumi. Seingatnya, saat Caramel berumur dua tahun, Arumi pernah bertanya tentang anak pada putranya. Alan dengan mantap, dia tak ingin anak lagi. Putranya itu trauma melihat Azalea yang kritis saat melahirkan Caramel.
"Mama tanya sendiri padanya, kenapa dia melepas KB nya tanpa persetujuan Alan." Sahut Alan. Lalu, setelah itu Alan pergi keluar kamar dengan emosi yang menggebu.
"Lea, katakan pada mama. Kenapa kamu melepasnya nak?" Tanya Arumi dengan hati-hati.
Arumi duduk di samping Azalea, seketika menantunya itu langsung memeluk dirinya. Arumi mengelus punggung Azalea dengan sabar.
"Aku mau hamil lagi ma, tapi Mas Alan tetap tidak mau izinkan. Aku sudah mencoba membujuknya, tapi dia tetap tidak mau. Aku ingin memiliki bayi lagi, umurku masih muda. Apa salahnya jika memiliki satu anak lagi? Lagian, kelahiran Caramel sudah lama. Dia bahkan sudah berumur empat tahun." Terang Azalea.
Arumi mengerti, Azalea ingin kembali memiliki anak. Memiliki bayi menggemaskan lagi, adalah keinginan Azalea.
"Sudah-sudah, mama akan minta Priska belikan. Tadi dia berniat ingin kesini, mungkin dia sedang di jalan." Ujar Arumi.
Sedangkan Alan, dia langsung ke taman belakang. Dia mengacak kasar rambutnya, pikirannya tengah berkecamuk. Berkali-kali dia berusaha meredakan emosinya. Tapi tetap saja, emosinya justru malah semakin naik.
"Kenapa dia tidak bicara dulu padaku. Apa tidak cukup tiga anak saja? Kenapa harus hamil lagi? Ck, bukan soal biaya anak itu. Tapi ini tetang kondisinya. Bagaimana jika saat melahirkan nanti, dia mengalami pendarahan. Aku tidak mau istriku kenapa-napa." Lirih Alan.
.
__ADS_1
.
.
Priska datang ke kediaman Alan, ibunya langsung menyambutnya dan meminta apa yang Arumi titipkan pada putrinya itu.
"Kak Azalea hamil lagi ma?" Tanya Priska sembari memberikan testpack pada Arumi.
"Gak tau, ini mau di cek. Kalau hamil, seharusnya garis dua. Telatnya udah lama katanya," ujar Arumi.
Arumi kembali memasuki kamar Azalea, dia melihat menantunya itu yang sedang tidur. Arumi pikir, Azalea kelelahan menangis. Tadi, dia sudah membujuknya untuk makan. Namun, Azalea enggan dan memilih untuk istirahat.
"Lea, bangun nak. Coba dulu testpack nya. Nanti kalau garis dua, kita langsung ke dokter buat periksa." Bujuk Arumi.
Karena tak ada sahutan dari Azalea, Arumi pun menggoyangkan lengan menantunya itu. Namun, tak ada tanda-tanda Azalea akan bangun. Justru, wanita itu tampak seperti orang yang sedang tidak sadarkan diri.
"Lea! Lea!" Panggil Arumi sembari menggoyangkan tubuh Azalea lebih kuat lagi
"Priska, panggil abangmu. Kita bawa Lea ke rumah sakit!" Titah Arumi.
Priska mengangguk, dia langsung berlari keluar kamar untuk mencari Alan. Dia menemukan Alan yang masih berada di taman belakang. Tapi, kali ini Caramel ada bersamanya.
"Abang!" Sentak Priska.
Alan terkejut, sontak dia langsung menoleh pada Priska. Melihat raut wajah adiknya yang panik, Alan turut merasakan panik
"Ada apa?" Tanya Alan.
"Kak Azalea pingsan!"
"Apa?!" Alan langsung menyerahkan Caramel pada Priska, dia segera berlari ke kamar. Benar saja, istrinya itu sudah tidak sadarkan diri.
Tanpa bertanya, Alan langsung menggendong istrinya menuju mobil. Arumi pun ikut, suasana rumah menjadi tegang karena mereka.
"Alan, Mama ikut." Pinta Arumi.
Alan mengiyakan, dia langsung meraih kunci yang supirnya berikan dan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Apa yang aku takutkan, akhirnya terjadi. Kenapa kamu gegabah sekali sayang. Mas hanya mengkhawatirkanmu. Batin Alan.