
Pagi ini, Alan sedang sarapan di suapi oleh Azalea. Keduanya tengah menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi Alan. Karena sejak semalam, Alan sudah ingin pulang. Hal itu, tentu membuat Azalea pusing di buatnya.
"Sekali lagi," ujar Azalea sembari menyodorkan sendok pada Alan.
"Enggak lah, hambar." Ujar Alan sembari menutup mulutnya.
"Sekali lagi, abis itu udah." Pinta Azalea.
"Sekali lagi aja terus perasaan dari tadi." Kesal Alan.
Memang begitu lah cara Azalea membujuk suaminya agar Alan mau malam. Beruntung, rumah sakit tak memberikan Alan bubur. Pria itu bisa makan nasi dan lauk yang lumayan enak. Namun, mungkin karena sedang sakit. Lidah Alan terasa sangat pahit.
"Maa!! Mam!! mamam!!" Teriak Caramel yang duduk di pangkuan Alan.
"Eh tadi kan Caramel udah makan sayang, ini makanannya papa." Ujar Azalea saat Caramel berusaha menggapai piring yang di tangannya.
Caramel memasukkan tangan ke mulutnya, hal itu tentu membuat Alan menarik kembali tangan putrinya.
"No no .... kotor." Seru Alan.
"Totor, papa totor." Celoteh Caramel.
"Kok jadi papa si, tanganmu itu loh." Pekik Alan.
sedangkan si kembar, dari jam enam pagi keduanya sudah di jemput oleh bodyguard. Karena si kembar harus berangkat sekolah, sedangkan perlengkapannya masih ada di mansion.
"Maaa!! *****." Ujar Caramel sembari merangkak menuju sang mama.
Mendengar itu, Alan menarik kembali putrinya. DIa mendudukkan nya di pangkuannya. Tentu saja, Caramel berontak. Dia ingin pindah pada sang mama, tapi sang papa justru menahannya.
"EKHEEEE!! MAAAA!!!" Rengek Caramel.
"Dari tadi ***** terus, udah! Itu buat papa, gantian!" Omel Alan.
"Elheee!! no no no ... maaaa!!"
Azalea hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya yang sangat membuatnya mengelus d4da.
Tok!
Tok!
Tatapan Alan dan Azalea beralih pada pintu, lalu keduanya kembali saling menatap dengan tatapan seakan bertanya.
"Suster kali, coba tolong lihat." Pinta Alan.
__ADS_1
Azalea mengangguk, dia berjalan menuju pintu untuk membukanya. Sedangkan Alan, dia menahan Caramel yang hendak turun dari brankarnya.
Cklek!
Mata Azalea terbuka lebar, dirinya melihat Arumi dan Airin yang datang. Bukan hanya mereka berdua saja, priska dan Liam pun ikut. Mereka semua menatap Azalea dengan senyuman ramah, kecuali Liam. Raut wajah laki-laki itu sangatlah datar.
"Mama, ayo masuk ma." Ajak Azalea.
Mendengar panggilan Azalea padanya, membuat Arumi tersenyum. Tandanya, Azalea mulai menerimanya sebagai mertua.
Dengan semangat, Arumi masuk. Azalea memperhatikan langkah Arumi. Wanita itu menggunakan tongkat, dengan di bantu oleh Airin.
Setelah Airin dan Arumi masuk, Azalea pun mempersilahkan priska dan Liam untuk masuk. Priska segera masuk, tapi tidak dengan Liam. Pria itu terdiam sembari menatap Azalea dengan kening mengerut.
"Kamu istri Alan?" Tanya Liam.
"Iya." Jawab Azalea dengan polosnya.
"Muda sekali." Batin Liam.
"SAYAAANGG!!!"
"Eh." Azalea buru-buru masuk ke dalam setelah mendengar panggilan suaminya. Sepertinya pria itu tau jika sang istri tengah berbicara dengan seorang pria yang mana membuatnya cemburu.
Semuanya pun berkumpul, Azalea berdiri tak jauh dari mereka sembari menggendong Caramel. Bayi itu tampak bingung dengan banyaknya orang. Satu persatu wajah mereka dia perhatikan sedetail mungkin.
"Eh?" Azalea menoleh, dia mendapati Airin yang berdiri di sebelahnya sembari tersenyum lebar.
"Dia berat, apa kau tidak masalah?" Tanya Azalea dengan heran.
"Tidak masalah, berikan dia padamu." Ujar Airin.
Azalea pun memberikan Caramel pada Airin, sepertinya bayi itu juga sudah mengenal Airin. Tampak Caramel begitu tenang ketika Airin menggendongnya.
Tatapan Azalea kembali fokus pada Alan dan Arumi, wanita paruh baya itu memegang tangan Alan sembari mengatakan sesuatu.
"Maafkan mama, mama menyesal telah meninggalkanmu bersama dengan ayahmu. Seharusnya mama membawamu pergi, bukan meninggalkanmu bersamanya. Kau sudah melewati waktu yang sulit, dan mama tidak bisa membantumu. Maafkan mama Alan, maafkan mama."
Alan menatap Arumi dengan tatapan lekat, sentuhan wanita paruh baya itu membuat hati Alan teriris perih. Masa lalunya, sangat menyakitkan. Dia begitu susah memaafkan masa lalunya. Tapi, semua semua keadaan agar menjadi lebih baik. Alan mau mengorbankan hatinya, dan menerima Arumi kembali.
"Apa alasan anda meninggalkan saya dengan ayah saya?" Tanya Alan dengan tatapan lekat.
Arumi pun menceritakan dengan detail, mengapa ia bisa meninggalkan Alan bersama sang ayah. Terhalang restu adalah salah satunya, hingga membuat Arumi pun terpaksa meninggalkan keluarga kecilnya.
"Setelah mama dan ayahmu cerai, mama memutuskan untuk melanjutkan studi ke Malaysia. Setelah itu, mama bertemu dengan mendiang papa tirimu. Lalu kami memutuskan untuk menikah. Lima belas tahun kemudian, mama kembali untuk menemuimu. Tapi sayangnya, mama tidak tahu keberadaan kamu setelah ayahmu meninggal. Maaf nak, maafkan mama." Arumi menjelaskan panjang kebar, berharap Alan akan menerima permintaan maaf darinya.
__ADS_1
Tak ada jawaban apapun dari Alan, pria itu hanya diam sembari mengamati Arumi yang berderai air mata. Semuanya pun harap-harap cemas, termasuk Azalea.
"Alan memaafkan mama."
Deghh!!
Arumi mengangkat kepalanya, air matanya semakin turun tak terkendali. Isakan tangisnya semakin kuat. Hatinya terasa bahagia saat sang anak menerima permintaan maaf darinya.
"Terima kasih nak, terima kasih." Arumi memeluk Alan, semua orang yang melihat nya pun tersenyum bahagia.
Tatapan Alan beralih pada istrinya, Azalea tersenyum haru. Dia mengusap air katanya yang sempat luruh. Azalea bangga dengan suaminya. Akhirnya, pria itu bisa berdamai dengan masa lalunya yang begitu menyakitkan.
"Ku harap, setelah ini kamu tidak lagi merasakan kesakitan mas." Lirih Azalea.
Azalea pun memutuskan untuk keluar ruangan, dia menghampiri Airin yang tengah menggendong Caramel di luar ruangan.
"Tidur?" Tanya Azalea saat melihat putrinya tertidur lelap di gendongan Airin.
"Iya mbak, tidur. Kayaknya ngantuk, tadi di timang sebentar aja udah tidur," ujar Airin dengan tersenyum kebar.
"Aduh, maaf yah. Jadi merepotkan, kemarikan saja." Azalea mengambil Caramel dengan perlahan agar tidak membangunkan putrinya itu.
Airin menatap Caramel, senyumnya tak kunjung luntur juga. Dia sangat menyukai Caramel, bayi itu sangat menggemaskan. Rasanya, Airin ingin memilikinya.
"Kau sudah menikah?" Tanya Azalea.
Airin mengangguk, "Sudah, tapi sudah bercerai juga." Ujar Airin dengan sendu.
Kening Azalea mengerut dalam, "Kenapa?"
"Kami menikah selama tujuh tahun, tapi aku belum memberinya keturunan." Lirih Airin.
Azalea menatap mata Airin yang berkaca-kaca, dia merasa jika Airin masih mencintai mantan suaminya.
"Mungkin kamu akan memiliki keturunan dengan oria lain, bersabarlah," ujar Azalea.
Airin mengangguk sembari tersenyum, "Mungkin kitu alasannya. Aku berharap, aku akan mendapatkan pria yang tepat. Yang menerima segala kekuranganku, dan mencintaiku tanpa batas."
"Ada, aku orangnya."
Kedua wanita itu menatap kaget ke arah pria yang baru daja datang yang tak lain adalah Reagan. Dengan senyum tampannya, pria itu memberikan setangkai mawar merah yang ia keluarkan dari balik jaketnya pada Airin.
"Mau menikah denganku?"
"Abang!!"
__ADS_1
____
Maaf, seharusnya ini di up tengah malam. tapi author lupa revisiš„². Jadi, hari ini triple up yah.