
Elouise sudah berada di meja operasi, dokter sudah menyuntikkan obat bius. Tinggal menunggu obat bius itu bereaksi. Sementara Alan, dia turut masuk ke dalam ruang operasi. Karena dia ingin mengatakan sesuatu pada putranya itu.
"El ingat, papa sudah menempati keinginanmu. Kau juga harus menepati janjimu. Terimalah dengan baik ginjal barumu, agar kau bisa seperti Alexix. Kau akan bersekolah, bertemu dengan teman baru. Memakan apapun yang kamu inginkan, meminum sepuas yang kamu mau. Dan ...,"
"Papa, kenapa celewet kali? Iya, El nanti bangun lagi. Papa ni, kayak El mau nda bangun aja." Kesal Elouise.
Alan tersenyum, putranya sangat pemberani. Dia tahu itu, tangannya pun menggenggam tangan putranya untuk memberi kekuatan.
"Papa." Panggil Elouise membuat Alan kembali fokus melihatnya.
"Janan buat mama nanis, kacian mama," ujar Elouise dengan tatapan sendu nya.
Alan terdiam, dia tak bisa mengiyakan perkataan Elouise. Justru, dirinya sering membaut Azalea menangis. Dia takut, dirinya akan mengecewakan putranya nantinya.
"Papa cayang mama nda?" Tanya Elouise. Tatapannya mulai menyendu, sepertinya obatnya akan segera bereaksi.
Alan tak menjawab, dia sendiri bingung dengan perasaannya. Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan Elouise.
"Papa nda mau jawab? Belalti papa nda cayang mama?" Tanya Elouise.
"Ehm, papa sayang mama. Jangan bertanya lagi, tidurlah." Pinta Alan sembari mengusap kening putranya agar cepat tertidur.
Elouise memejamkan matanya, Alan pikir obat bius itu sudah bekerja. Akan tetapi dugaannya salah. Elouise kembali membuka matanya, dan menatap Alan dengan tatapan berbeda dari biasanya.
"Papa, mama macih cayang papa. Mama cinta cama papa, mama pelnah bilang gitu cama El." Setelah mengatakan hal itu, Elouise sudah tak merespon lagi. Obat bius itu bekerja, membuatnya kehilangan kesadarannya.
Alan terdiam, dia mematung sejenak. Perkataan Elouise, membuat hatinya berdebar tak karuan. Alan bingung dengan perasaannya sendiri, mengapa dia sebahagia ini mengetahui Azalea yang masih mencintainya.
"Tuan, kami akan segera melalukan tindakan operasi." Tegur Dokter Aryan sembari mendekati Alan.
Alan mengangguk, dia menatap Dokter Aryan dengan tatapan lekat.
"Tolong, lalukan yang terbaik untuknya. Berapa pun biayanya, pasti akan saya bayar. Saya hanya ingin, melihat putra saya kembali pulih seperti sebelum dia sakit. Saya ingin merajut momen dengan dia, sebagai Elouise bukan Alexix. Saya ingin membuktikan padanya, jika papa nya sangat mencintainya" Lirih Alan sembari menangkup kan kedua tangannya.
Dokter Aryan mengangguk, "Elouise juga sudah seperti putraku sendiri, apalagi sebentar lagi ginjal putraku berada di dalam tubuhnya. Kita sama-sama berjuang, Elouise adalah anak yang hebat." Sahut Dokter Aryan.
__ADS_1
Alan mengangguk, dia yakin putranya adalah anak yang hebat. Putranya bisa bertahan sampai saat ini. Setelah mengatakan tentang isi hatinya, Alan bergegas keluar. Membiarkan petugas medis menangani putranya.
Cklek!
Melihat Alan yang keluar dari ruang operasi, Azalea datang mendekat. Dia ingin bertanya mengenai Elouise.
"Bagaimana? Elouise masih takut?" Tanya Azalea dengan khawatir.
"Obat biusnya sudah bekerja, Dokter mulai melalukan tindakan oeprasi." Jawab Alan.
Azalea merasa itu bukan jawaban atas pertanyaannya, dia ingin kembali bertanya. Namun, bibirnya terasa berat untuk kembali berucap.
"Mama, Lekci lapel. Dali tadi belum makan loh!" Seru Alexix, perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.
Alan menatap putranya sejenak, lalu beralih menatap Kendrick yang sedang memainkan ponselnya.
"Kendrick!" Panggil Alan.
"Ya tuan!" Seru Kendrick sembari menatap Alan.
Alexix mendelik tak terima, di ingin makan bersama sang mama. Malah sang papa menyuruhnya pergi bersama Kendrick, bagaimana dia tidak kesal?
"Uangnya ...."
"Nanti saya Transfer." Sahut Alan memotong perkataan Kendrick dengan cepat.
Kendrick mengangguk, dia beralih menatap Alexix. Bocah itu menatap sang papa dengan tidak bersahabat.
"Tuan, ayo" Ajak Kendrick.
"Untungna lagi lapel, kalau nda ... nda mau Lekci pelgi tanpa mama." Gerutu Alexix sembari mendekati Kendrick yang tengah menunggunya.
Setelah Alexix dan Kendrick pergi, Alan duduk di sebelah Azalea di kursi tunggu. Keduanya sama-sama terdiam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Azalea merasa cemas, tangannya saling meremas. Dalam hatinya, dia berharap agar operasi yang Elouise jalani lancar. Sehingga, setelah ini Elouise akan bisa kembali normal.
__ADS_1
"Azalea ... aku ingin bertanya tentang masa kecil Elouise." Tanya Alan tanpa menatap ke arah Azalea.
Azalea melirik Alan sekilas, dia kembali menatap ke arah pintu ruang operasi. Memorinya, kembali mengingat kisah Elouise saat kecil.
"Elouise, dia anak yang ceria dan aktif. Sejak bayi, dia sudah peka dengan perasaanku. Dia tak bisa melihat ku menangis, dan selalu tidak ingin di tinggal. Kata pertama kali yang dia ucap, adalah papa bukan mama. Aku sempat memvideokannya. Namun, sayangnya video itu sudah tidak ada."
"Saat dia usia tiga tahun, dia mulai menanyakan tentang papa nya. Dia bertanya ... apalah El memiliki papa? Apa papa sayang El? El mau lihat foto papa, papa lagi apa?"
Azale menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya perlahan. Sungguh, dadanya terasa sesak saat kembali mengingat masa kecil Elouise.
"Elouise senang sekali dengan mobil, aku selalu membelikannya. Namun, setelah dia di nyatakan sakit. Kehidupan kami berubah, jangankan membeli mainan. Untuk pengobatan Elouise saja aku harus menjual rumahku, usaha yang aku bangun juga bangkrut. Hingga, keuangan kami menipis dan memutuskan untuk kembali ke kota besar."
"Aku pikir, Elouise akan sulit beradaptasi dengan kehidupan baru kami. Namun, nyatanya Elouise cepat beradaptasi. Dia tidak pernah meminta hal yang tidak bisa aku lakukan untuknya. Dia menahan keinginannya agar tak membuatku bersedih."
Azalea menahan air matanya yang hendak turun, bibirnya tersenyum tipis saat kembali menceritakan tentang kehidupan nya dengan putranya. Sementara Alan, hatinya tersentuh setelah mendengar kehidupan putranya.
"Apa kau tahu? Elouise pernah bilang padaku, jika dia ingin memiliki teman. Dia ingin bersekolah selayaknya anak lainnya. Namun, lagi-lagi karena keterbatasan uang yang aku hasilkan. Elouise terpaksa harus belajar di rumah bersamaku."
"Apa Elouise pernah tantrum saat keinginannya tidak terpenuhi?" Tanya Alan. Mengingat, jika Alexix selalu tantrum saat keinginannya tidak dia dapati.
Azalea menggeleng, dia menyentuh sudut matanya yang berair. "Enggak, Elouise selalu memendam perasaannya. Aku harus lebih peka untuk mengetahui tentang keinginannya." jawab Azalea.
Alan membandingkan Elouise dan Alexix. Elouise, mendapat kasih sayang yang utuh walau hanya dari seorang ibu. Sementara Alexix, dia selalu mengabaikan putranya itu karena alasan sibuk bekerja. sehingga Alexix tumbuh tanpa didikan darinya membuat putranya memiliki kepribadian yang keras.
"Selama Alexix ada bersamaku, aku memperhatikan semua sikapnya. Dia menunjukkan sikap jika tidak ada yang sayang padanya. Aku tidak ingin menyalahkanmu mas, aku tahu kamu sibuk. Tapi, bisakah kamu meluangkan waktumu satu jam saja untuk mendengar kan isi hatinya? Anak-anak, akan lebih cepat tumbuh, jangan sampai kamu kehilangan momen tumbuh kembang mereka."
Deghh!!
Alan terdiam, perkataan Azalea membuatnya tersadar dan merasa bersalah pada Alexix.
"Kamu tahu, mengapa aku memberikan kesempatan untuk Reagan?" Alan beralih menatap Azalea dengan tatapan rumit. Begitu pun dengan Azalea yang menatap Alan dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Karena aku berpikir, putraku butuh sosok ayah seperti nya. Bukan seperti mu,"
Deghh!!
__ADS_1
____