Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Alan yang luluh


__ADS_3

Reagan segera mengamankan keponakannya, tentu saja si kembar terlihat syok. Mereka sudah cukup lama pernah melihat Alan yang seperti tadi. Tak hanya kembar, Reagan juga membawa Azalea serta Airin untuk keluar.


"Abang, titip Caramel." Ujar Azalea sembari memberikan Caramel pada Reagan.


"Lea, jangan ngaco! Alan lagi gak mau di ganggu! Nanti kamu kenapa-napa gimana?!" Pekik Reagan.


"Enggak papa, tolong jaga anak-anak yah. Mas Alan gak boleh di biarkan sendiri." Ujar Azalea sebelum dirinya kembali masuk ke dalam ruang rawat Alan.


Melihat keputusan adiknya, Reagan menghela nafas berat. Tatapannya pun beralih pada Airin yang tengah menunduk sembari menahan tangis.


"Coba saja kau tidak keras kepala, tidak akan Alan mengamuk seperti tadi." Omel Reagan.


"Maaf, aku hanya kasihan dengan Mama Arumi. Bagaimana pun juga, dia ibu dari Alan. Perjuangan Mama Arumi mencari Alan selama ini tidak main-main. Bahkan, tidak ada waktu libur untuk mencari informasi tentang Alan." Lirih Airin.


Reagan menghela nafas pelan, dia tak tahu harus membela siapa. Tatapannya pun beralih pada Caramel yang sepertinya tengah mengamati Airin.


"Nanis." Celetuk Caramel.


Airin menoleh, dia menatap bayi cantik menggemaskan itu. Raut wajah kesedihannya berubah menjadi ekspresi yang lembut.


Sementara di ruang rawat Alan, tampak Azalea tengah berjalan dengan hati-hati ke arah suaminya yang duduk membelakangi pintu. Azalea yakin, jika Alan tengah berusaha mengontrol emosinya.


"Mas." Panggil Azalea.


Mendengar suara yang tak asing baginya, Alan pun menoleh. Matanya terbelalak lebar saat melihat Azalea yang kembali datang padanya.


"Bukankah mas sudah bilang jangan kesini?! Kenapa kau tidak menuruti nya!" Bentak Alan.


Azalea bisa melihat urat-urat leher Alan yang menonjol. Pria itu, masih dalam emosinya. Azalea menghiraukannya, dia mengambil air putih dan menyodorkannya pada Alan.


"Minumlah, tenangkan dirimu." Ujar Azalea.


Dengan raut wajah yang terlihat masih marah, Alan mengambil air pemberian Azalea. Lalu, dia pun meminumnya hingga habis. Setelah selesai, Azalea kembali mengambil gelas itu dan menyimpannya di nakas.


"Caramel dengan siapa? Apa dia sudah menyusu? Nanti kalau dia lapar bagaimana? Kembalilah, mas bisa menenangkan diri sendiri," ujar Alan dengan nada yang sedikit lembut.


Bukannya menurut, Azalea justru duduk di belakang Alan. Tentu saja, hal yang membuat Azalea lakukan membuat Alan berdecak keras.


"Sayang, tolonglah. Mas gak mau kamu yang jadi sasarannya." Bujuk Alan. Kali ini, Alan memutar tubuhnya. Dia duduk bersila sembari menatap istrinya yang duduk menyamping menghadap ke arahnya.


"Ya sudah, gak papa. Emangnya mas mau ngapain hm? Pecahin gelas udah, mau apalagi?" Tanya Azalea, menimpali perkataan suaminya itu.


Alan menghela nafas pelan, "Keras kepala banget sih kamu " Greget Alan.

__ADS_1


Azalea meraih pipi Alan, dia pun mengelusnya pelan. Matanya berkaca-kaca, seperti akan menangis.


"Katanya mau sembuh. Kalau kamu gak ada usaha, gimana mau sembuh hm? Berdamailah dengan masa lalu mas." Bujuk Azalea.


"Aku tidak bisa." Lirih Alan.


Azalea pun merebahkan dirinya, lalu dia menarik Alan untuk merebahkan diri di sebelahnya. Azalea butuh suasana, agar Alan dapat menangkan emosinya. Biasanya, pria itu akan seperti anak kecil ketika sudah memeluk Azalea dengan posisi rebahan.


"Cobalah, mau sampai kapan kamu seperti ini? Apa kamu tidak lelah?" Tanya Azalea sembari mengelus rambut Alan.


Alan diam, dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Kepalanya tepat berada di bawah dagu Azalea, membuatnya bisa merasakan detak jantung istrinya itu.


"Apa kamu masih ingat, bagaimana proses saat aku melahirkan Caramel?" Tanya Azalea.


"Masih, dan jangan di ingatkan lagi. Aku gak mau hal itu terulang lagi. Melihatmu seperti itu, rasanya jantungku ingin terlepas dari tempatnya." Ujar Alan dengan suara merendah.


"Begitu kah?" Sahut Azalea.


"Ya, tiga anak saja cukup. Sudah lengkap, tidak perlu nambah. Mas gak mau kamu kenapa-napa." Lirih Alan.


"Aku dan Mama Arumi pun sama mas, kami juga pernah melahirkan. Bertaruh nyawa demi sang buah hati. Tidak peduli dengan nyawa kami sendiri. Pikiran kami saat itu hanya satu, bagaimana jika bayi kami tidak selamat? Dulu, aku bahkan tega memberikan Alexix padamu dengan rela dan membawa Elouise. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku merindukan putraku."


Alan hanya dian, dia merespon kata demi kata yang istrinya itu katakan. Tak ada bantahan apapun, pria itu benar-benar fokus mendengarkan perkataan istrinya.


"Tapi, rasa penyesalan itu pasti akan datang. Mama Arumi menyesal dan kembali mencarimu. Tapi sayangnya, ayahmu sudah meninggal. Keberadaan hilang tanpa jejak. Mama Arumi kesulitan mencarimu, dan baru ketemu saat kau terkenal."


"Kenapa mereka harus bercerai?" Tanya Alan.


"Kakek nenekmu, mereka tidak merestui hubungan orang tuamu karena perbedaan kasta." Terang Azalea.


Alan mengangkat wajahnya, dia menatap Azalea dengan tatapan yang rumit.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Alan dengan penasaran.


"Mama kamu yang cerita." Ujar Azalea dengan tersenyum kecil.


Alan kembali meluruskan kepalanya. Emosinya sedikit demi sedikit mereda, dia bisa merasakan ketenangan tanpa obat.


"Jadi, maukah mas menerima kembali Mama Arumi?" Tanya Azalea.


"Baiklah." Luluh Alan. Hal itu, tentu membuat Azalea tersenyum lebar.


.

__ADS_1


.


Sementara itu, di taman rumah sakit. Terlihat Airin tengah memangku Caramel. Dia sedikit terhibur dengan adanya Caramel, apalagi bayi itu sangat menggemaskan.


"Kamu suka anak kecil?" Tanya Reagan yang duduk di sebelahnya.


"Ya, tapi sayangnya. Aku sekaan tak di berikan kesempatan untuk memilikinya." Ujar Airin dengan tatapan sendu nya.


Mendengar itu, Reagan seketika teringat. Pernikahan Airin dan Farel sudah berjalan tujuh tahun. Namun, keduanya belum memiliki keturunan.


"Apa ada masalah dengan rahimmu?" Tanya Reagan dengan penasaran.


"Tidak, semuanya sehat. Mantan suamiku juga di nyatakan sehat. Mungkin, belum rezeki kami saja." Ujar Airin dengan senyuman tipis.


"Begitu, mungkin rezekimu ada bersamaku." ujar Reagan tanpa sadar.


"Apa?" Tanya Airin, yang mana membuat Reagan kelabakan.


"Eh?! Eng-enggak, maksudnya mungkin nanti rezekinya sama seperti adikku. Ya! Begitu!" Seru Reagan dengan salah tingkah.


Sementara Airin, dia kembali menatap Caramel. Namun, senyuman di bibirnya merekah. Dia dengar perkataan Reagan tadi. Tingkah pria itu sangat lucu dan membuatnya serasa ingin tertawa.


Tatapan Reagan beralih pada si kembar yang sepertinya baru kembali. Keduanya, sama-sama memegang plastik jajan.


"Enak kali Cilornya. Kenapa jajan di rumah sakit enak-enak, jadi mau buat rumah disini." Celetuk Alexix.


"Betul! Nanti besar, El mau buat rumah di halaman rumah sakit. Biar bisa jajan telor gulung tiap hari." Sahut Elouise.


Melihat keduanya membawa jajan, sontak Reagan berdiri sembari berkaca pinggang.


"JAJAN TERROOSSS!! Omel Reagan


Keduanya pun menatap Reagan dengan datar. " Kita jajan nda pake uang negara kok, iya kan Lexi?" Seru Elouise menatap Alexix yang menatap Reagan.


"Enggak pake uang negara, pake uangnya om Reagan tadi di kantong. Nih kembaliannya." Ujar Alexix sembari memberikan uang pecahan sepuluh ribu pada Reagan.


Sontak, pria itu menerimanya dengan tatapan melotot. Dia bergegas memeriksa kantong celananya dan juga jaketnya. Benar saja, uang nya tidak ada di sana.


"Eh bocah! Itu duit buat beli bensin pulang nanti!! Om gak ada recehan lagi!!" Rengek Reagan dengan kesal.


"Hahaha." Airin tertawa. Sontak Reagan dan si lembar menatap wanita itu.


"Heee ... onty na cantik loh. Om, boleh nda El ...,"

__ADS_1


"ENGGAK BOLEH!!"


__ADS_2