Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Aku tidak bisa mendapatkan wanita yang ku cintai


__ADS_3

Diandra Memasuki kamar Reagan, di lihatnya putranya itu tengah berbaring di ranjang sembari membelakangi pintu. Karena penasaran, Diandra akhirnya memutuskan untuk mendekati putranya.


"Reagan, apa kamu baik-baik saja nak?" Tanya sang mommy.


Reagan hanya diam, tatapannya menatap lurus ke depan. Matanya berkaca-kaca, membuat Diandra tak tega melihatnya. Sehingga, dia memutuskan untuk duduk di tepi ranjang. namun, di luar dugaan. Reagan duduk dan mengambil posisi menidurkan kepalanya di pangkuan sang mommy.


"Reagan." Gumam Diandra. Anaknya yang biasanya humoris dan ceria, kini hanya terdiam dengan tatapan sendu.


Perasaannya sebagai seorang ibu membimbingnya untuk mengelus kepala putranya dengan sayang. Sentuhan yang sang mommy berikan, membuat Reagan meneteskan air matanya.


"Mom, apa mommy pernah merasakan patah hati?" Tanya Reagan.


Kening Diandra mengerut, tak biasanya putranya itu menanyakan hal tersebut. Apalagi, yang dia tahu kalau Reagan tengah memperjuangkan seorang wanita.


"Reagan, kamu kenapa sayang?" Tanya Diandra.


"Azalea, dia kembali dengan suaminya." Lirih Reagan membuat Diandra mematung.


Diandra menatap putranya dengan tatapan yang sendu, dia bisa melihat putranya yang tengah bersedih. Air mata putranya mengalir dari sudut matanya, dia benar-benar kecewa.


"Belum ada satu bulan, kenapa dia memutuskan begitu saja?" Heran Diandra


"Aku kalah mom, aku kalah. Aku mendapatkan pekerjaan yang ku suka, tapi aku tidak bisa mendapatkan wanita yang ku cintai." Lirih Reagan.


Hati Diandra turut sedih atas aoa yang terjadi pada putranya. Namun, dia seorang ibu. Tentu, apa yang di rasakan oleh putranya, turut di rasakan olehnya. Reagan, kini menjadi anak satu-satunya yang ia miliki. Tentu saja, Diandra tak terima atas keputusan Azalea.


Selang beberapa menit menikmati elusan sang ibu, Reagan tertidur di pangkuan Diandra. Mungkin karena lelah, Reagan lebih mudah tertidur. Bahkan, Matanya masih basah karena menangis.


Menyadari putranya yang tidur, Diandra menghapus air mata putranya dengan tangannya. Lalu, dia memindahkan kepala Reagan ke bantal. Tak lupa, dia menyelimuti putranya itu.


Tatapan mata Diandra beralih pada ponsel Reagan yang berada di atas nakas. Dia pun memutuskan untuk mengambil ponsel Reagan, sembari matanya sesekali melirik ke arah putranya. Untuk, mengawasinya. Jaga-jaga, jika Reagan terbangun.


Diandra menyalakan ponsel Reagan, terlihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Azalea.


"Wanita ini ... kenapa dia tega sekali menyakiti putraku? Cinta putraku tulus, kenapa dia tidak bisa melihatnya?" Gumam Diandra dengan tatapan tajam.


.


.


.


Alan tengah berada di kafe bersama dengan Kendrick, keduanya tengah menikmati kopi yang terkenal enak di dekat rumah sakit.


"Tuan, saya sudah membatalkan pengajuan anda. Berkasnya, saya simpan di kantor." Ujar Kendrick.

__ADS_1


Alan mengangguk, dia menyeruput kopinya sembari menatap ke kaca transparan yang ada di sebelahnya. Menampilkan jalan besar yang selalu di lewati oleh kendaraan.


"Kendrick, menurutmu ... bagaimana caranya aku memberitahu Azalea jika kami belum bercerai?" Tanya Alan tanpa menatap Kendrick.


Kendrick menggaruk tengkuknya, dia sendiri pun belum menikah dan sangat awam tentang dunia pernikahan. Bukankah bos nya ini salah orang jika mempertanyakan tentang pernikahan dengan nya?


"Saya gak tahu tuan, mungkin lebih baik anda bicarakan hal ini secepatnya dengan nona Azalea," ujar Kendrick.


Alan menghela nafas sejenak, dia kembali menaruh cangkirnya. Lalu, menyandarkan tubuhnya pada kursi yang tengah dia duduki.


"Kendrick, kau tau kan jika aku memiliki trauma dengan perempuan. Aku belum sepenuhnya percaya pada Azalea. Bisa jadi, dia memanfaatkan keadaan saat dia tahu kalau aku belum menceraikannya." Lirih Alan sembari menatap cangkir kopinya.


Kendrick tersenyum, dia merasa jika Alan tengah ragu dengan perasaannya pada Azalea.


"Apa saat nona Azalea menjadi istrimu, dia ada memanfaatkan mu, tuan?" Tanya Kendrick.


"Ya, kami menikah untuk saling menguntungkan. Aku melepaskan dia dari pamannya yang ingin menjualnya pada seorang pria tua. Memberikannya fasilitas mewah, jelas saja saat itu dia tak ingin lepas dariku bukan? Kehidupannya lebih baik saat tinggal bersamaku."


Raut wajah Kendrick berubah datar, dia bingung dengan Alan. Bos nya itu selalu berpikiran negatif tentang wanita, padahal secara tak sadar jika Alan sudah kembali membuka hatinya.


"Tuan, sebenarnya anda mencintai nona Azalea atau tidak sih?" Bingung Kendrick.


"Mencintainya yah ... aku tidak tahu. Hatiku serasa mati untuk kembali mencintai nya, Kendrick."


"Anda sayang padanya?" Tanya Kendrick kembali.


Kendrick menegakkan duduknya, dia menatap Alan dengan tatapan serius. "Tuan, kau sudah menyukainya!" Seru Kendrick.


"Apa?!" Bingung Alan.


"Ya! anda menyukainya! anda cemburu di saat dia dekat dengan pria lain. anda suka dengan nona Azalea!!" Seru Kendrick.


"Yang benar saja! Aku tidak menyukainya." Jaim Alan dan kembali meraih cangkirnya dan meminum kopinya.


"Oohh begitu, kalau gitu ... ceraikan dia biar saja dia menikah dengan saya. Bagaimana?"


"UHUK!! UHUK!!"


Kendrick meringis saat Alan terbatuk karena tersedak saat meminum kopi miliknya, akibat terkejut dengan perkataannya tadi. Dia memundurkan kursi nya kala Alan menatap tajam dirinya sembari membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Berani sekali kamu! Bagaimana pun hubungan kami, Azalea tetap istriku! AKu tidak akan menceraikannya, kau mengerti?!" Seru Alan dengan kesal.


"Tadi kan cuman usul doang tuan, dari pada mubadzir kan. Dosa," ujar Kendrick dengan takut.


"Mubadzir hidungmu! Udahlah, ngomong sama kamu gak dapet solusi apa-apa!" Kesal Alan dan segera beranjak dari duduknya, meninggalkan Kendrick yang masih terdiam di tempat.

__ADS_1


Melihat kepergian Alan, tidak membuat Kendrick mengejarnya. Dia justru duduk dengan santai sembari menikmati kopinya.


"Gini nih, kerjaan Asisten. Urusan percintaan tuannya pun dia ikut sertakan dalam kerjaan. Seharusnya gaji di naikin dua kali lipat kan yah, udah ngurusin kerjaan. Ngurusin rumah tangganya juga lagi." Gumam Kendrick.


"Dari pada capek-capek nyadarin perasaan sendiri, mending buat saya. Walau tidak kaya, cintanya saya itu lu ...,"


Bugh!!


Kendrick tersentak kaget saat bahunya di pukul oleh seseorang dari belakang. Dia menoleh, seketika matanya membulat sempurna saat tahu siapa yang memukulnya tadi.


"Tu-tuan." Cicit Kendrick.


"Dompet saya ketinggalan." Sahut Alan sembari mengambil dompetnya yang tertinggal di meja.


Kendrick menghela nafas pelan, dia pikir ALan datang untuk kembali memarahinya. Setidaknya, untuk saat ini dia tak lagi menjadi pelampiasan kekesalan bosnya itu.


"Oh ya, satu lagi. Bulan depan bonus kamu gak turun yah." Ujar Alan sebelum beranjak pergi membuat Kendrick seketika membulatkan matanya.


"APA?! TUAN!! TUAN!N GAK BISA GITU DONG!!" Pekik Kendrick sembari mengejar Alan yang berjalan menjauh.


Sementara di ruang rawat Elouise, Azalea menjaga Elouise yang tertidur. Setelah makan, anak itu tertidur dengan pulasnya.


"Anak mama yang hebat, pintar yah sayang. .. gak rewel hm." Bisik Azalea sembari mengelus pipi Elouise.


Tatapan Azalea beralih mencari Alexix, tumben sekali putranya yang cerewet satu itu sama sekali tak ada suaranya.


"Eh, tidur juga?" Kaget Azalea saat melihat Alexix yang tertidur di sofa sembari memeluk ipad milik Elouise. Sepertinya putranya itu lelah bermain gadget adiknya.


Saat Azalea akan menghampiri Alexix, tiba-tiba ponselnya berdering. DIa mengambil ponselnya dari tas dan melihat siapa yang menelponnya.


"Nomor asing, siapa yah?" Gumam Szalea.


Tanpa berpikir macam-macam, Azalea pun lantas mengangkatnya.


"Halo, siapa yah?" Tanya Azalea.


"Azalea?"


Kening Azalea mengerut, suara orang yang tengah menelponnya seperti pernah ia dengar sebelumnya.


"Maaf, siapa yah?" Tanya Azalea kembali.


"Saya Diandra, ibu Reagan. Bisa kita bertemu?"


Deghh!!

__ADS_1


____


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA


__ADS_2