
Alan terkejut saat Arley menjatuhkan cangkirnya begitu saja, pria itu menatap Arley yang seakan tengah terbengong dengan wajah pucatnya. Nafas pria itu tampak memburu, membuat Alan khawatir di buatnya.
"Arley, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alan dengan penasaran.
Arley tak kunjung menjawab, sekelebat ingatan memasuki memorinya. Pria itu memegangi kepalanya sembari meringis kesakitan. Sekelebat bayangan tentang dirinya dan seorang wanita pemilik senyum yang manis, membuat Arley memaksa ingatannya.
"Siapa namamu nona manis?"
"Sherly, namaku Sherly pria p4yah!"
"Aku mencintaimu Sherly."
"Kau segalanya bagiku, Arley."
D4da Arley bergerak naik turun, dia memaksa untuk mengingat siapa wanita pemilik suara itu. Siapa wanita yang berbicara padanya. Hanya saja, gambar wanita itu tak terlihat jelas. Semakin Arley berusaha keras mengingatnya, semakin bayangan wanita itu menghilang dari ingatannya.
"Tuan Arley, apa yang terjadi?" Kendrick yang mengetahui ada yabg tidak beres pun segera keluar untuk memanggil bodyguard Arley.
Alan bingung, dia tidak tahu harus apa. Tak lama, bodyguard Arley dayang. Salah satu dari mereka mengambil obat dari jas Arley dan memberikan obat itu pada tuannya.
"Tuan, minumlah!" Seru bodyguard yang menyodorkan obat.
Arley mengambilnya, dengan reflek Alan memberikan segelas air putih untuknya. PErlahan, Arley meminum obat itu. Sejenak, dia memejamkan matanya untuk menetralkan deru nafasnya.
"Telpon dokter Kendrick!" Titah Alan.
Arley menggapai tangan Alan, matanya kembali terbuka dan menatap Alan dengan sendu. "Tidak usah, jangan telpon dokter. Aku baik-baik saja." Lirih Arley.
"Kau yakin?" Tanya Alan dengan khawatir.
"Hem, aku akan pulang ke hotel dan beristirahat. Maaf, pertemuan kita tidak lama." Pamit Arley.
"Tak masalah, pikirkan dulu kondisimu." Ujar Alan.
Arley pun pulang setelah dia yakin bisa berjalan, Alan hanya mengantarnya sampai pria itu sampai ke dalam mobil.
"Jaga dia baik-baik." Ujar Alan pada bodyguard milik Arley.
Arley menganggukkan kepalanya pada Alan, dia melambaikan tangannya sebentar sebelum dirinya menutup jendelanya. Pria itu, menyenderkan dirinya sembari menghela nafas pelan.
"Sherly, aku seperti pernah punya hubungan dengannya." Gumam Arley.
Yang Arley dapat ingat dengan jelas, wanita yang tadi masuk dalam ingatannya adalah wanita yang memiliki senyum yang manis. Hanya di lihat dari senyumnya, Arley dapat mengetahui jika wanita itu adalah wanita yang sangat cantik.
"Sherly, aku harus bertanya pada siapa tentangnya?" Lirih Arley.
__ADS_1
Arley tak mengetahui, jika sejak tadi bodyguard yang sedang menyetir menatapnya dari spion tengah. Seakan memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan yang sulit di artikan.
.
.
.
Kini, Caramel tengah menatap Calandra yang sedang menangis di pangkuan Azalea. Anak gembul itu ingin marah pada Calandra, tapi melihat Calandra yang menangis terisak seperti itu dia pun tak tega.
"Cala mau cama bunda." Ujar Calandra dengan suara bergetar.
"Besok kita jenguk bunda yah. kalau di rumah sakit terus, Cala bisa ikut sakit. Nanti bunda jadi tambah sedih, Cala enggak mau bunda sedih kan?" Bujuk Azalea.
"Tapi Cala mau ...,"
"Hais, cengeng kali loh! Cudah! Talik ail matamu, kita main caja. Ayo! Tante tantik cuman pelu ictilahat, nda ucah lebay. Kan nda ikut opa mu di kubul!" Sela Caramel yang kesal dengan kerewelan Calandra.
"Hiks ... maaaa!!" Bukannya terhibur, Calandra malah tambah menangis. Dia memeluk Azalea sembari menumpahkan tangisannya.
Azalea langsung menatap tajam putrinya yang cemberut karena di tatap seperti itu.
"Iyalah, calah telus aku lupana." Cicit Caramel.
"Sudah yah, Cala main gih sama Caramel. Besok kita jenguk bunda yah." Bujuk Azalea.
"Caramel, ajak Cala main yah." Pinta Azalea.
"Yacudah, ayo Cala. Nda ucah cengeng, mau jadi abang duga." Dengan tanpa perasaan, Caramel menarik Cala hingga membuat tubuh Cala hampir oleng di buatnya.
"Eh! Hati-hati Caramel! Yang kamu bawa anak orang! Bukan ayam!" Pekik Azalea.
Beruntunglah, kesabaran Azalea luas. Entahlah, putrinya menurun dari siapa. Yang jelas, perpaduan Alexix dan Elouise ada pada Caramel.
"Ngidam apa aku pas hamil dia." Gumam Azalea.
Caramel membawa Calandra ke belakang mansion, di mana tempat kandang hewan peliharaan. Caramel menunjukan ayam yang dirinya beli saat itu pada Calandra.
"Cudah becal kan ayam ku!" Seru Caramel dengan bangga.
"Macih kecil kok." Jawab Calandra dengan jujur.
Caramel yang tadinya ingin sombong, seketika melototkan matanya. "jadi olang nda ucah jujul amat napa!" Kesal Caramel.
"Kata bunda nda boleh bohong, nanti hidungna panjang." Ujar Calandra.
__ADS_1
"Maca? Kalau bohong idungna panjang, gajah celing bohong dong! Hidungna panjang! Calana dia belbohong gimana?"
Calandra memasang raut wajah yang tak enak, dia kesal pada Caramel yang bertanya tentang hal yang tak masuk akal.
"Calamel, Cala tau Calamel nda pintel. Tapi jangan telalu kelihatan bod0hna." Ujar Calandra dengan polosnya.
"APA?! CEMBALANGAN!! CALAMEL PINTAL TAU!! KATA MALVEL CALAMEL TUH PIN ...."
Raut wajah Calandra berubah datar saat Caramel meyebut nama anak laki-laki lain.
"Kamu mainna cama Malvel si cadel delek itu lagi?" Tanya Calandra dengan ekspresi yang tak enak di pandang.
"Iya lah, kan Cala nda macuk cekolah. Jadi, Calamel cali yang balu." CIcit Caramel.
"Calamel nda bica di pelcaya! Cala deket cama Aulel di lalang, gililan Calamel cama Malcel. Cala nda cuka!" Pekik Calandra dengan kesal.
Caramel memajukan bibirnya, "Ish, iya! Acal Cala nda tinggalin Calamel. Calamel telus ada cama Cala. Nanti becal, nikahna cama Calamel yah!" Seru Caramel sembari menggandeng lengan Calandra.
mendengar kata nikah, Calandra seketika menepis tangan Caramel dari tangannya. "Nda lah, nanti kacian anak Cala punya ibu nda jelas kayak Calamel." Cicit Calandra sembari menjauhkan dirinya dari Caramel yang sudah mendelik menatapnya.
"APA!! CALA NDA MAU NIKAH CAMA CALAMEL?! AWAC AJA KALAU CALA AJAK CALAMEL NIKAH! CALAMEL NDA BAKALAN MAU!" Caramel yang kesal, segera berlari memasuki rumah. meninggalkan Calandra yang mematung sembari menatap kepergian Caramel dengan raut wajah yang bingung.
"Kata bunda macih kecil nda boleh mikil nikah-nikah, pacti ayah yang lacunin otakna Calamel. Udah Cala bilangin jangan deket cama ayah Cala, nanti gecel otakna." Lirih Calandra.
Caramel berjalan kesal kearah kamarnya. Karena tak memperhatikan jalan, Caramel tak sengaja menginjak sebuah kertas. Dia segera menunduk untuk melihat apa yang dirinya injak.
"Eeehhh. .. uang capa nih." Gumam Caramel saat dia menginjak uang berwarna merah.
Caramel menoleh ke sama dan kemari, tak ada orang yang melihatnya. Dengan senyum mengembang, Caramel melompati uang itu sebanyak sepuluh kali secara bolak balik.
"Uaaahh jadina uang Calamel ini." Pekik Caramel sembari mengambil uang itu dan memandangnya dengan tatapan berbinar.
SRETT!!
"E-EEEHHH!!" Baru saja bahagia sebentar, uangnya sudah di ambil kembali oleh si pemilik.
"Abang, itu uang ...,"
"Uang abang! Kamu mana punya uang seratus!" Pekik Alexix yang tengah kembali mengantongi uangnya itu.
"Ish, minta lah celembal. Pelit kali." Cicit Caramel.
Alexix memberikan uang pada adiknya itu. Bukannya senang, Caramel justru mendelik kesal terhadap sang abang.
"Apa ini! Dua lebu? Cukup apa?! Macuk wece aja bayal lime lebu! Pelit kali loh abang ini!! Udah lah, nda mau telima. Mau minta cama mama aja, kele kali jadi olang!" Seru Caramel, dan akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Alexix yang bingung di buatnya.
__ADS_1
"Yeee, si gula ecer! di kasih dua ribu gak mau. Padahal kan cukup buat beli gorengan, walau dapet satu. Lumayanlah, buat bayar parkir nanti." Gumam Alexix kembali memasukkan uangnya ke dalam saku celananya.