
Di malam itu juga, Reagan terpaksa memberitahukan segalanya pada Airin karena paksaan wanita itu. Dia sudah menduga, jika hati Airin akan hancur. Istrinya itu, tak berhenti memohon padanya agar Reagan bisa membuat Calandra tetap bersama mereka.
"Pokoknya aku gak mau tahu, Calandra harus tetap disini. Dia putraku, dia putraku. Walau aku bukan yang melahirkannya, tapi dia tetap putraku. Aku yang mengasuhnya sejak bayi sampai saat ini. Aku gak rela dia di ambil begitu saja oleh keluarga nya." Isak Airin.
Reagan memeluk istrinya itu, dia juga tak tahu harus apa. Tubuh keduanya bergetar hebat, bahkan sampai menumpahkan tangis terisak. Hati mereka sangat sakit, tak mungkin mereka akan rela melepas Calandra pada keluarga kandungnya.
"Tenanglah, jangan seperti ini. Kasihan bayi kita. Dia pasti akan ikut tertekan kalau kamu stres seperti ini."
Cklek!
Keduanya tersentak kaget, mereka langsung melepas pelukan dan berbalik menatap ke arah pintu. Terlihat, Calandra tengah menatap mereka sembari memeluk boneka hiu nya. Boneka itu, adalah pemerian pertama Reagan padanya. Bahkan, sampai sekarang Calandra tak mau mengganti boneka bayinya itu dengan boneka lainnya.
"Sayang, kenapa bangun?" Airin bergegas menghapus air matanya, dia melangkah mendekati Calandra yang berdiri di ambang pintu dengan nata menatap sendu ke arah sang bunda. Bibir anak itu melengkung ke bawah, bahunya bergetar hebat.
"Hei, kenapa diam hm? Ayo masuk." Ajak Airin.
Airin menarik tangan putranya masuk, tak lupa ia menutup pintunya kembali. Dia mengajak Calandra untuk naik ke ranjang. Baru, setelah itu dia mencoba bertanya kembali apa yang terjadi dengan putranya.
"Calandra kenapa hm?" Tanya Airin sembari mengelus kepala Calandra yang duduk di sebelahnya.
"Cala ... Cala tadi. ..." Suara Calandra bergetar hebat, dia bahkan tak sanggup membuka suaranya.
Reagan tak curiga jika Calandra akan mendengar percakapan mereka. Sebab, kamar pasangan suami istri itu kedap suara. Yang pastinya, Calandra tak akan mendengar apapun pembicaraan mereka.
"Nih, minum dulu." Reagan memberikan segelas air untuk anak itu.
Calandra meminum dengan perlahan, hanya dua teguk dia sudah mendorong gelas yang Reagan sodorkan.
"Sudah tenang hm? mau cerita sekarang?" Tanya Airin dengan lembut, sembari mengusap dada sang anak yang bergerak naik turun.
"Tadi Cala mimpi bunda pelgi ninggalin Cala hiks ... bunda kacih Cala ke olang lain hiks. .. Cala udah teliak panggil bunda, tapi bunda nda dengel Cala huaaa!!"
Deghh!!
Airin dan Reagan saling tatap menatap, mimpi Calandra apakah sebuah tanda bagi keluarga mereka? Apakah Calandra akan pergi meninggalkannya? Apakah Calandra akan kembali pada keluarganya. Airin tak sanggup membayangkannya.
"Mas." Lirih Airin dengan suara bergetar.
"Syuutt, tenang. .. tenang. Kalau kamu panik, Cala akan semain panik." Bisik Reagan sembari mengusap pinggang belakang sang istri.
__ADS_1
Reagan beralih menatap Calandra yang masih menangis. Dia mencoba mengatur ekspresinya di hadapan putranya itu.
"Jadi Cala sedih yah jagoan hm? Sudah-sudah, Bunda kan gak pergi kemana-mana. Ayo sini, Ayah gendong." Reagan meraih tubuh Calandra. Tubuh yang dulunya kurus, kini semakin berisi. Anak itu benar-benar tumbuh dengan sehat.
Reagan menimang Calandra, dengan sayang dia mengusap bahu putranya yang bergetar. Matanya menangkap Airin yang tengah menghapus air matanya. Mereka sama-sama bersedih, tapi Reagan yakin. Akan ada jalan untuk semua masalah yang mereka hadapi.
"Mau cama bunda, mau cama bunda." Rengek Calandra.
buru-buru, Airin menghapus air matanya. Reagan segera menidurkan Calandra di tanjang. Sementara Airin, dia turut merebahkan dirinya di samping putranya itu.
"Bunda janan pelgi yah, janan tinggalin Cala." Bisik Calandra, sembari menatap tepat di mata sang bunda.
Airin mengangguk, dia memeluk Calandra. Calandra bisa mendengar detak jantung Airin, perlahan anak itu mulai tenang. Tangannya mencengkram baju tidur yang Airin kenakan, seakan ia takut jika sang bunda akan pergi.
"Kamu tetap anak bunda, selamanya akan menjadi anak bunda." Bisik Airin. Lalu, meng3cup kening Calandra cukup lama.
Air mata Reagan menetes, dia membalikkan tubuhnya. Pria itu tak sanggup melihat kesedihan yang terjadi pada istri dan putranya.
"Ayah akan tetap menahanmu disini bersama kami, Calandra. Bahkan, jika nyawa taruhannya. Ayah rela, karena kalian ... adalah hidup Ayah." Batin Reagan. Lalu, pria itu mengusap air matanya. Sebelum beranjak pergi meninggalkan kedua cinta nya.
.
.
.
"Masih sering mual yah?" Tanya Alan.
Azalea mengangguk singkat, "Masih, kalau bangun tidur pagi pasti selalu mual. Makan pun harus sesuai mood, kalau enggak pasti mual. Tapi mas tenang aja, aku menikmati kehamilan ini kok." Ujar Azalea memberi pengertian pada suaminya.
Alan mengamati wajah cantik istrinya. Kehamilan kali ini, membuat Azalea lebih kurusan. Selain wanita itu tak bisa makan dengan baik, tidurnya pun kurang. Setiap malam, Azalea selalu merasa gelisah dalam tidurnya. Harus ada yang mengusap perutnya, dan pastinya Alan harus melalukan itu sampai istrinya tertidur.
"Kamu kurusan sayang." Ujar Alan sembari mengusap pipi Azalea dengan ibu jarinya.
"Iya kah?" Azalea tak merasa dirinya kurus.
"Hem, nanti siang kita ke dokter. Aku khawatir sama kesehatan kamu," ujar Alan penuh perhatian.
"Enggak usah, namanya juga lagi hamil muda. Wajar kalau enggak nafsu makan. Nanti kalau udah masuk ke tujuh bulan, aku gemuk lagi kok." Ujar Azalea dengan santai.
__ADS_1
Alan menghela nafas pelan, bukan istrinya kalau tidak membantah apa yang dia inginkan. Setiap kali Alan menyarankan sesuatu, Azalea selalu menolak. Makanya, selama ini Alan menjadi suami pemaksa.
"Jam sebelas aku jemput." Ujar Alan sembari mengambil jam tangannya dan memakainya.
Azalea yang akan beranjak pergi, seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap suaminya yang dengan santai memasang jam tangannya.
"Kan aku bilang gak papa." Protes Azalea.
Alan hanya diam, dia meraih jasnya dan memakainya. Lalu, dia mendekati istrinya. Tangannya merangkul pinggang sang istri, dan meng3cup singkat bibir wanita itu.
"Aku berangkat dulu." Pamit Alan.
"Loh mas!! Aku gak mau ke rumah sakit!!" Pekik Azalea.
Alan menghiraukannya, dia bergegas keluar dari kamar. Meninggalkan Azalea yang mendengus sebal karena perbuatannya.
"Dasar! Gak pernah mau dengerin pendapat orang!" Kesal Azalea.
BRAK!!
Azalea tersentak kaget saat pintunya yang di buka sangat kencang. Matanya menangkap putrinya yang berlari ke arahnya dengan wajah ketakutan.
"MAMA! MAMA TOLONGIN CALAMEEELL!!" Seru Caramel sembari memegang kerah belakang seragamnya.
"Kenapa?" TAnya Azalea dengan bingung.
"Hiks ... bajuna kemacukan kecoaaaa!! hiks ... huaaa!!"
"Iya kah? Coba sini mama liat." Azalea mendekat, dia mengintip dari celah seragam Caramel.
"Geli kali lacana!! Awas dia belak di cana!!! Hiks ... takut di malahi mamakna campe ngumpet di baju Calamel hiks ... cehalusna ngumpetna di lemali aja. Janan di baju Calamel. Buat olang telcikca caja lah kau ini! Calamel adukan ke mamakmu nanti! Isak Caramel.
Azalea bingung ingin mengambil kecoa itu bagaimana. Dia tak suka dengan hewan berjenis serangga itu.
"E-ehm sebentar, Caramel tunggu sini. Jangan bergerak, bisa-bisa masuk kecoanya ke celana." Ujar Azalea dan buru-buru keluar mencari bantuan.
"Mama hiks ... mama ... panggilkan mamakna caja. Culuh jemput anakna ini pulang hiks ... cudah cukup belmainna." Lirih Caramel, dia benar-benar takut menggerakkan tubuhnya.
"Calah apa aku lupana." Cicit Caramel.
__ADS_1