Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kepintaran si kembar


__ADS_3

"Baik, saya akan menjaga anak tuan dengan baik. Saya akan mencintai dia dengan setulus hati saya, dan saya akan membuatnya selalu bahagia." Seru Alan.


"Bagus! Dan, bisakah kau tidak memanggilku tuan? Aku merasa, kau menikah dengan maid di rumahku."


"Apa?!"


Rait wajah Alan membuat Erlangga terkekeh, suami putrinya ini tak seperti bayangannya. Dia pikir, Alan adalah pria yang kaku, seperti yang dia lihat di berita.


Cklek!


"Kau kembali?" Tegur Erlangga saat melihat kedatangan Reagan.


"Yah, aku ingin bersiap ke kantor polisi untuk menemui pelaku," ujar Reagan sembari berjalan menuju sofa. Dimana dia menyimpan jaketnya di sana.


"Lalu Lea?" Tanya Erlangga.


"Lea ada sama mommy, sebentar lagi mungkin mereka akan kembali." Jawab Reagan sambil memakai jaketnya.


Mendengar hal itu, Alan menegakkan tubuhnya. "Bagaimana jika aku ikut?" Saran Alan.


"Huh? Ngapain? Ini urusanku," ujar Reagan dengan bingung.


"Tapi daddy mu adalah mertuaku, sehingga ini menjadi urusanku. Kenapa kau keberatan?" Seru Alan tak terima.


"Kau ...,"


"Sudah, Reagan! Ajak adik iparmu, barangkali kamu membutuhkan bantuannya," ujar Erlangga menengahi.


Raut wajah Reagan terlihat kesal, walau begitu dia akhirnya menyetujui Alan ikut bersamanya. Sebelum pergi, Alan menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada istrinya.


Sementara di kantin rumah sakit, tampaknya Azalea dengan lahap menghabiskan makanannya. Diandra membelikannya ayam tepung, dia tidak tahu kalau Azalea ternyata sangat menyukainya.


"Kau suka?" Tanya Diandra.


Azalea mengangguk senang, "Ya, ini sangat enak. Aku sangat jarang memakan ayam seperti ini." Perkataan Azalea, sontak membuat Diandra bingung.


"Ayam ini tidak begitu mahal, kenapa kau jarang memakannya?" Tanya Diandra.


Reflek, Azalea menghentikan kunyahannya. Dia menatap Diandra yang menatap ke arahnya dengan serius. Lalu, tatapan Azalea beralih pada ayam yang ia makan.


"Orang tua ku sebelumnya meninggal ketika aku masih kecil. Lalu, aku tinggal di rumah pamanku. Paman tak begitu menyayangiku, walau begitu. AKu bersyukur karena paman mau menampungku, walaupun saat itu aku selalu makan sisaan mereka." Ujar Azalea dengan tersenyum getir. Mengingat, betapa sulitnya dia dulu. Tumbuh tanpa orang tuanya dan tingga dengan orang, membuat Azalea kesulitan.


"Kenapa dia begitu tega padamu? Apa mungkin, dia tahu tentangmu yang bukan keponakannya. Makanya dia perlakukan kamu seperti itu?" Tanya Diandra dengan suara bergetar


Hati ibu mana yang tidak sakit saat mendengar cerita derita putrinya. Dia menyayangi Azalea sepenuh hati saat masih bayi, bahkan memberikannya yang terbaik. Lalu, putrinya di perlakukan dengan tidak baik oleh orang asing.


"Paman tidak pernah cerita apapun padaku," ujar Azalea.

__ADS_1


"Mommy ingin bertemu pamanmu, apa kamu bisa mempertemukan kami?"


Degh!!


Azalea menatap Diandra dengan tatapan rumit, sudah beberapa tahun dia tidak mengetahui keberadaan pamannya. Bukan tidak tahu, tapi tidak mau tahu. Dia sangat sakit hati dengan apa yang pamannya perbuat dulu hingga menyebabkan dirinya sengsara.


"AKu tidak tahu dimana dia sekarang," ujar Azalea dengan gamang.


.


.


.


Elouise dan Alexix tengah menatap papan tulis, guru mereka sedang mengajarkan pertambahan dan pengurangan. Raut wajah mereka terlihat suntuk, keduanya mengantuk.


"Elouise! Coba jawab soal ini." Pinta seorang guru saat melihat Elouise yang hampir terlelap.


"Ha?" Elouise kembali fokus menatap papan tulis, dia di hadapkan dengan soal pengurangan bilangan puluhan.


"Delapan puluh empat, di kulang enam puluh empat. Ya dua puluh lah!" Seru Elouise.


"Kalau ini." Gurunya kembali menunjuk soal, kali ini bilangan ratusan. Dan Elouise, mampu menjawabnya.


Karena guru itu masih penasaran dengan tingkat kecerdasan Elouise, dia mengubah soal menjadi perkalian. Pembelajaran yang belum ia ajarkan sama sekali pada anak muridnya saat ini.


"Oke, bu guru kasih soal lagi!" Guru itu memberikan soal yang lebih sulit, dia menambahkan bilangan ratusan dan di kalikan dengan bilangan puluhan.


Elouise mengambil pensilnya, dia mencoret-coret bukunya. Tak ada sepuluh detik, dia menunjukkan hasilnya.


"Dua libu tiga latus enam puluh lima," ujar Elouise.


Semua teman-temannya melongo, Elouise menghiraukan taliban mereka. Dia malah menatap gurunya yang menganga karena jawabannya.


"Benalkan?" Tanya Elouise, beralih menatap Alexix yang tengah menyanggah kepalanya dengan satu tangannya karena bosan.


"Benal, tapi kulang cepat kamu jawabna." Sahut Alexix.


Guru itu membenarkan kaca matanya, dia mengusap dadanya. Lalu, menghembuskan nafasnya pelan.


"Kalian, besok panggil orang tua kalian kesini. Ibu mau ketemu!" Titah guru itu.


Elouise dan Alexix saling pandang, tapi akhirnya mereka mengangguk menyetujuinya.


Tibanya jam istirahat, Elouise dan Alexix sama-sama ke kantin. Mereka tak meminta bekal dengan Azalea, karena tahu jika sang mama sedang sakit.


"Lekci, kau beli apa?" Tanya Elouise, melihat kembarannya itu kembali dengan kresek di tangannya.

__ADS_1


"Cilol lah, apa lagi? Halta ku yang paling belhalga yah cilol," ujar Alexix dengan senyum mengembang.


"Emang ada Cilol di cekolah? Kan jajan gelobak nda boleh macuk." Bingung Elouise.


Mendengar itu, raut wajah Alexix yang tadinya senang berubah kesal.


"Kau nih, nda pintal-pintal. Cini, ta kacih tau calana." Seru Alexix.


Elouise pun akhirnya mengikuti Alexix, entah kembarannya ini akan membawa kemana. Yang jelas, Elouise hanya mengikutinya.


Mereka sampai di belakang sekolah, banyak bangku dan meja yang sudah tidak terpakai. Tampak, meja itu menempel pada tembok yang tak terlaku tunggi.


"Nah, panjat. Banak jajan di balik tembok."


Elouise menurut, dia menaiki meja itu. Sementara Aexix, dia asik memakan cilornya. Sesekali, mata anak itu, mengawasi keadaan sekitar.


"WAAAHH!! BANAK KALI JAJAN!!" Pekik Elouise.


"Janan belicik! Nanti ada yang dengal!" Seru Alexix.


Elouise mengangguk, matanya mulai mencari keberadaan jajan yang du sukainya. Tak lama, tatapannya jatuh pada pedagang telur gulu. Namun sayangnya, pedagang itu lumayan jauh.


"Jauh kali Lekci, nanti teliak ada yang dengal," ujar Elouise dengan lesu.


"Hais, tepuk tangan caja. Nanti cemua noleh, kau tinggal bilang telol gulung. Gitu!" Seru Alexix.


Elouise mencoba cara kembarannya, dia bertepuk tangan. Benar saja, semua pedagang menoleh. Dia langsung mengarahkan tangannya pada telur gulung.


"CEPULUH LEBUU!! NDA USAH PAKE CAMBELNA!!" seru Elouise.


"He! Jangan belicik!!" Pekik Alexix panik.


Elouise hanya menyengir, dia menunggu pesanannya sembari menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya.


Tak lama, pesanan Elouise jadi. Dia mengambilnya, dan tak lupa membayarnya. Setelah itu, keduanya kembali ke kelas.


"Telol gulung, makanan telenak," ujar Elouise.


"Enakan Cilol lah," ujar Alexix tak mau kalah.


saat keduanya asik memakan makanan mereka sembari berjalan, mereka tak menyadari jika sedari tadi keduanya di ikuti oleh pria berbaju hitam.


"Tuan kecil, Tuan Alan bisa marah kalau kalian memakan makanan yang tidak sehat itu."


Sontak, keduanya menghentikan langkahnya, raut wajah keduanya terlihat pucat pasi. Keduanya menoleh, mendapati seorang oria berseragam hitam dengan kaca mata hitam menatap ke arah mereka.


"Paman penjaga." Pekik Keduanya.

__ADS_1


__ADS_2