Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Keributan di kantor


__ADS_3

Alan tengah berada di kantornya, dia sedang mengerjakan berkas di ruangannya. Pria itu tampak sibuk, kaca mata baca bertengger manis di hidungnya. Pria itu sedari tadi fokus, padahal jam sudah menunjukan pukul satu siang. Dimana putrinya sudah seharusnya pulang, dan Alan melupakannya.


"Tuan, ini data perusahaan lawan. Mereka mengambil beberapa rekan bisnis kita. Maka dari itu, belakangan ini banyak perusahaan yang memutus kontrak kerja sama secara sepihak." Terang Kendrick sembari memberikan ipadnya.


Alan memperhatikan setiap detail informasi, beberapa perusahaan memang mengajukan pembatalan kontrak. Dan Alan, tidak masalah dengan hal itu. Baginya, perusahaan yang membatalkan kontrak dengannya. Seperti semut-semut kecil, dan jika di injak. Maka, tak ada harapan perusahaan itu kembali bangkit.


"Blacklist para perusahaan yang memutus kontrak kerja sama. Jika nantinya mereka mengalami gagal proyek, aku tidak mau mereka kembali bekerja sama dengan Kita. Tanpa pengecualian." Tekan Alan dengan tegas.


"Baik tuan." Seru Kendrick.


Kendrick kembali mengambil ipadnya, dia berjalan keluar untuk mengurus semuanya. Sementara Alan, dia kembali fokus pada laptopnya. Sampai, sebuah ketukan pintu terdengar di telinganya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" Seru Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Cklek!


Seorang wanita cantik dengan make up yang tebal tampak berjalan mendekati Alan. Bajunya terlihat sangat minim, tak pantas di sebut dengan pakaian kantor.


"Tuan, ini berkas yang harus di tanda tangani." Ujar wanita itu sembari menyodorkan berkasnya.


Alan menutup hidungnya, saat dia menghirup aroma parfum yang sangat menyengat. Menc1umnya, Alan menjadi mual. Dia menutup hidungnya, dan menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Kamu pake parfum sebotol yah?!" Pekik Alan.


"Kenapa tuan? Wangi yah? Saya memang suka sekali memakai parfum." Ujar wanita itu dengan tersenyum.


"Wangi dengkulmu! Bau begini di bilang wangi. Kayak wangi mayat tau gak!" Omel Alan.


Bukannya tersindir, wanita itu jutsru malah berjalan ke belakang kursi kebesaran Alan. Tangannya mengelus bahu Alan yang mana membuat Alan bertambah mual di buatnya.


"Tuan, bukankah wanita sudah memiliki anak. Tak lagi enak di pandang? Pasti tubuhnya sudah tidak bagus lagi. Bagaimana kalau ... tuan bersama saya." Bisik wanita itu tepat di telinga Alan.


mendengarnya, Alan justru merinding. Dia akan beranjak berdiri, tetapi wanita itu menahan tubuhnya.


"JANGAN KURANG 4JAR YAH!! INGAT! KAMU KARYAWAN BARU DISINI!" Pekik Alan dengan kesal.

__ADS_1


"Tuan, bagaimana kalau ...,"


"SUDAH SAYA BILANG, JANGAN KURANG 4JAR!!"


Alan mendorong wanita itu dengan keras, matanya menatap tajam pada wanita yang tengah meringis karena dorongannya yang kuat. Alan masih duduk di kursinya, matanya menatap tajam karyawannya itu.


"Kamu saya pecat! Keluar kamu dari ruangan saya!" Sentak Alan.


"Tuan, jangan tuan! Maafkan saya." Pekik wanita itu dengan wajah memelas.


"Saya enggak ...,"


Cklek!


Saat mendengar ada suara pintu terbuka, wanita itu langsung duduk di pangkuan Alan. Betapa terkejutnya Alan saat itu, apalagi saat melihat siapa yang masuk ke ruangan nya.


"WOAAAHH!! LAGI ADA ACARA APA NIH? HAJATAN YAH!"


Alan tersadar, dia segera mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur. Segera Alan berdiri dan menatap ke arah pintu. Dimana, Reagan berdiri sembari menggandeng tangan Caramel.


"Keluar kamu dari sini sebelum saya tarik kamu keluar!" Sentak Alan pada mantan karyawannya itu.


Caramel menatap sang papa dan wanita itu secara bergantian, mukanya terlihat memerah. D4danya naik turun lantaran menahan amarah.


"Kamu ...,"


"PAPAAAA!!!" Caramel menarik tangannya dari Reagan, dia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil kemoceng. Lalu, Caramel berlari ke arah wanita yang tengah terduduk di lantai itu. Tentu saja, Reagan dan Alan terkejut dengan sikap Caramel.


"DACAAALLL!! MULAH KALI KAU HALGANA HAH?! MAU JADI PELAKOL KAYAK DI IKAN TELBANG HA?!" Seru Caramel sembari memukulkan kemoceng itu pada mantan karyawan Alan.


Alan dan Reagan mematung, keduanya tak menyangka dengan sikap Caramel yang sangat bar-bar. Keduanya tak memperdulikan jeritan kesakitan wanita itu.


"Aw! Aw Sakit! Tuan? Tolong! dia menyakitiku!" Serunya.


Tak tinggal diam, Caramel keluar dari ruangan Alan. Tak lama, dia kembali dengan ember pel-an yang dirinya ambil dari office boy yang sedang membersihkan lantai di luar ruangan.


BYURRR!!


"AAAA!!"


"LACAKAN! UDAH PALPUM BAU COMBELAN! CELAKALIAN CALAMEL CILAM AIL PEL-AN." Omel Caramel, bahunya terlihat naik turun lantaran sedang emosi.

__ADS_1


"Dacal malkonah, nda calah aku lupana." Ujar Caramel melirihkan suaranya.


Alan tersadar dari keterkejutannya, dia segera menelpon satpam agar segera datang. Lalu, dia menghampiri putrinya yang masih berdiri memegang ember.


"Caramel, sayang. Sabar yah, jangan emosi gitu. Nanti sesak d4danya." Bujuk Alan.


Caramel beralih menatap Alan, matanya menatap tajam sang papa. Lalu, dengan entengnya dia melempar ember itu.


"Cabal telus, di layu cabal. Ada pelakol cabalna dali mana?!" Seru Caramel.


Alan menarik nafas panjang, dia heran dengan bahasa putrinya yang mengerti apa itu pelakor. Mungkin, putrinya ikut menonton saat Azalea atau orang lainnya yang menonton drama tersebut.


"Gula, ikut Cala yuk." Ajak Calandra.


Saat Calandra akan menggapai tangan Caramel, justru bocah itu melengos. Dia berjalan kenuju sofa dan duduk di sana, menatap wanita yang saat ini masih meratapi nasibnya. Tak lama, satpam datang dan membawa wanita itu pergi.


"Lan, aku pulang yah. Gak usah bilang terima kasih, ikhlas kok antar Caramel ke kantormu." Ujar Reagan sembari menarik putranya pergi dari sana.


Beruntung, Alan tak bisa mengajar. Jika bisa, Alan ingin memukul abang iparnya itu. Mengapa pria tersebut malah membawa putrinya di saat waktu yang tak tepat.


"Caramel, maafin papa yah." Alan duduk di sebelah putrinya, dia berusaha untuk menggapai lengan bocah menggemaskan itu.


Caramel justru melengos, dia enggan di sentuh Alan. Nafasnya masih terdengar memburu, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dirinya kesal ketika sang papa di dekati wanita lain selain mamanya. Caramel tak akan tega jika mamanya sedih, kalau tahu situasi tadi.


"Caramel, maafin Papa yah. Tadi wanita itu yang duduk di pangkuan Papa, bukan Papa yang memintanya." Lirih Alan.


"Telcelah. Papa juga nda gecel, kecemoatan telus. Benel kata mama, laki-laki cemua cama aja." Ketus Caramel.


"Hei, liat papa." Alan duduk di hadapan Caramel. Caramel yang tak sanggup lagi akhirnya menangis.


Alan tentu tahu, walau putrinya galak. Tapi, hati lembut istrinya tertanam di hati anak itu. Jika sudah sangat kesal, Caramel akan menangis setelah meluapkan emosinya. Dengan inisiatifnya, Alan meraih putrinya. Dia menggendong Caramel dan mengayunkannya pelan. Caramel pun tak menolak, dia justru merebahkan kepalanya di bahu Alan.


"Kacian mama hiks ...." Isak Caramel


"Iya, maafin Papa yah. Udah Papa pecat orangnya," ujar Alan.


"Tulun kali cetandal Papa. Kacian mama halus belcaing cama malkonah hiks ...,"


Alan mengerutkan keningnya, dia bingung bagaimana mengekspresikan dirinya. Antara ikut menangis dan justru tertawa.


"Apa lah calahku lupana hiks ... nda ada untungna punyaya Papa good lekening. Jajan nda bica, banyak malkonah yang nempel hiks ...." Omel Caramel.

__ADS_1


__ADS_2