
Selanjutnya, Arley dan Sherly selalu bertemu di waktu-waktu tertentu. Entah itu saat di resto, di alun-alun kota. Saat ini di mall, keduanya sama-sama bertemu tepat di tengah pusat Mall. Mata keduanya saling berpandangan, senyum manis Sherly seolah menyambut dirinya. Bahkan, keduanya tak memperdulikan keberadaan orang yang berlalu lalang.
"Hei, pria p4yah. Apa kau mengikuti ku?" Tanya Sherly sembari menghampiri Arley yang tertegun atas kecantikan Sherly.
"Kau." Kali ini Arley sungguh takjub, karena Sherly memakai dress. Karena biasanya, wanita itu terlihat tomboy. Bari kali ini dirinya melihat Sherly memakai pakaian feminim.
Sherly melihat penampilannya, "Oh ini, aneh yah? Aku habis di ajak temanku bermain dengan mengenakan dress." Gumam Sherly.
"Cantik." Lirih Arley yang mampu di dengar oleh Sherly.
"Ha? Apa?" Tanya Sherly dengan kening mengerut.
Arley menjadi gugup, dia berdehem untuk menetralkan degup jantungnya. Melihat Arley yang gugup, Sherly pun terkekeh.
"Aku, cantik? Kau sedang memujiku ya?" Seru Sherly meledek Arley.
"Enggak, bajunya cantik." Ujar Arley yang mana membuat senyuman Sherly luntur.
"Ah, dasar pria p4yah!" Kesal Sherly. Sherly yang kesal akan segera beranjak. Tepat saat dia hampir melewati Arley, Arley mengeluarkan kata yang mana membuat langkah Sherly terhenti.
"Kamu cantik."
Sherly tertunduk, dia menahan senyum malu. Melihat bagaimana ekspresi Sherly, Arley juga tersenyum kikuk.
Hubungan mereka bertambah dekat, Sherly memberitahukan padanya dimana alamatnya. Arley sering datang untuk membawa Sherly pergi kemana pun yang wanita itu inginkan. Hingga, benih-benih cinta di antara keduanya pun muncul. Dimana, tepat di malam hari. Arley membawa Sherly ke sebuah resto yang dia hias semewah mungkin, dan menyatakan cintanya disana.
"Sherly, maukah kau menikah denganku?" Tanya Arley sembari menyodorkan kotak cincin di hadapan wanita itu.
Sherly terkejut dengan kejutan yang Arley berikan, dia tak menyangka jika Arley akan melamarnya. Perasaan Sherly tak menentu.
"Kalau aku menolak, apa kau akan sedih?" Tanya Sherly.
"Tentu." Jawab Arley.
"Hem baiklah, aku menerimamu."
Jawaban Sherly membuat Arley tersenyum lebar, dia segera memasangkan cincin itu dan ingin memeluk wanita itu. Namun, Sherly justru memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
"Temuilah kakakku, dia sedang tugas di perbatasan. Hanya dia keluargaku yang aku punya saat ini. Setelah dia kembali, barulah kita akan menikah. Untuk sekarang, jangan dulu temui aku lebih sering." Pinta Sherly.
Apapun yang Sherly minta, pasti Arley kabulkan. Pria tampan itu, benar-benar merasa bahagia bersama dengan Sherly. Sampai dia melupakan tentang keberadaan Jessica.
Sampai akhirnya, mereka menikah. Pasangan itu sangat berbahagia atas status mereka. Seperti saat ini, Arley dan Sherly tengah saling memeluk di ranjang. Memberi kehangatan satu sama lain.
"Sherly, aku akan mengurus data diriku menjadi warga tetap disini. Aku ingin membangun rumah disini, dan tinggal bersamamu selamanya." Ujar Arley menatap dalam pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Benarkah? Kalau begitu, kita tinggal saja di rumah ini. Kakakku juga kembali bertugas di perbatasan. Dia akan jarang sekali pulang. Ini rumah peninggalan orang tuaku, aku tidak mau pergi dari sini." Tetang Sherly.
Arley mengangguk, dia mengeratkan pelukannya. Sejenak, dia melabuhkan kecupan hangat pada kening istrinya itu.
"Arley aku ingin memiliki keluarga kecil. Itu adalah impianku." Ujar Sherly sembari mendongak, menatap suaminya yang lebih tinggi darinya.
"Tentu, kau ingin berapa anak hm? Aku juga menginginkan seorang anak sedari dulu." Ujar Arley tanpa sadar.
"Maksudmu? Dari dulu?" Bingung Sherly.
"Ya, maksudnya ... aku menginginkan seorang bayi. Bayi sangat mengemaskan bukan? Dan sebentar lagi, pasti akan tumbuh di rahimmu calon anak kita." Ujar Arley sembari menatap lekat ke arah mata sang istri.
Sherly tersenyum, dia memeluk erat Arley sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Oh, ini istri barumu Arley?" Jessica berdiri di ambang pintu, matanya menatap kedua pasangan di hadapannya yang berdiri menatapnya.
"Siapa dia sayang?" Tanya Sherly menatap pada Arley yang kini hanya terdiam.
Jessica mengulurkan tangannya, hal itu tentu membuat Sherly semakin bertanya-tanya.
"Kenalkan, saya istri pertama Arley."
"Apa?!" Sherly menatap ke arah Arley dengan tatapan tajam. Matanya kini berkaca-kaca menahan tangis. Melihat itu, Arley ingin menyentuh tangan Sherly. Namun, wanita itu justru menghindar.
"Istri pertama? Kau sudah menikah Arley?" Pekik Sherly karena kerasa di bohongi. Karena cintanya dengan Sherly, Arley memalsukan identitasnya yang sebenarnya.
"Sherly, aku akan jelaskan. Aku dan Jessica, sebentar lagi kita akan bercerai."
"Arley!" Sentak Jessica.
__ADS_1
Arley menarik tangan Jessica pergi dari rumah Sherly, dia membawa istrinya itu masuk ke dalam mobil. Sementara Sherly, dia termangu di depan pintu rumahnya. Sembari menatap kepergian Arley dan juga Jessica.
Di perjalanan, Jessica dan Arley sama-sama berdebat hebat. Jessica terus memojokkan Arley karena permasalahan perselingkuhan yang Arley lalukan. Namun, Arley justru mengungkit Jessica yang tak bisa memberinya keturunan.
"Sekarang, katakan padaku! Bagaimana caranya aku memiliki seorang penerus jika kamu tidak bisa memberikannya?! Semuanya adalah salahmu! Sudah aku katakan, aku butuh seorang penerus! Tapi kau tidak mau memberikannya! Jadi, jangan salahkan aku menikah lagi!" Sentak Arley.
"Kau sudah melanggar janji pernikahan kita Arley! Kau tidak boleh menikah lagi selama kita belum bercerai! Pernikahan mu dan istrimu itu tidak bisa terdaftar!!" Sentak Jessica dengan emosi yang berkobar.
"AKU AKAN MENCERAIKANMU!"
"Apa?" Jessica tertegun dengan kalimat yang Arley lontarkan untuknya.
"AKu sudah mengajukan berkas perceraian kita. Kita sedang tahap proses perceraian tanpa kamu ketahui. Aku sudah lelah Jessica, aku lelah dengan sikap egoismu."
Jessica memejamkan matanya, air matanya menetes membasahi pipi mulusnya. Bukan ini yang dia inginkan. Jessica pikir, Arley akan menerima keputusannya. Namun, dirinya salah. Arley justru mencari wanita yang bisa memberikan keturunan padanya.
"Apa secepat itu kamu melupakan cinta kita Arley?! Demi wanita itu?" Ujar Jessica sembari kembali membuka matanya, dan menatap pria di sampingnya dengan tatapan sendu.
"Aku mencintainya Jessica, bahkan sangat. Kini, dia tengah mengandung buah hati kami. Sebentar lagi, aku akan memiliki seorang penerus."
"Apa?!" Jessica terkejut mendengar kabar itu, air matanya semakin mengalir deras.
Tangan Jessica terkepal erat di pangkuannya, matanya menatap tajam ke depan. "Kalau begitu, bukankah lebih baik kita berdua tiada bersama!" Tanya Jessica yang mana membuat Arley mengerutkan keningnya.
"Apa maksud. ..." Belum sempat Arley berkata, Jessica malah menarik setir mobil yang mana hal itu membuat mobil menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang.
"ARGHH!!!"
Kecelakaan itu, membuat Arley kehilangan ingatannya. Jessica yang hanya mengalami luka ringan, dia mengurus pengobatan Arley dan memindahkannya ke Amerika tanpa memberitahukan hal ini pada Sherly.
Arley kembali mengingat semuanya, semua rentetan kejadian yang menimpanya dan Sherly. Baru saja dirinya tenang, tiba-tiba dia mendengar suara Lucian yang berteriak.
"CEPATLAH! KITA AKAN PULANG SAAT INI JUGA!" Teriak Lucian.
Arley menatap ke arah Lucian, matanya menangkap sosok wanita bertubuh sangat kurus dengan pakaian yang lusuh berada di gendongan Lucian. Jantung Arley seketika berdegup kencang, perlahan dia beranjak dari duduknya dan mendekati Lucian yang masih berdiri di dekat nya.
"Sherly." Lirih Arley.
__ADS_1
Tatapan Sherly mengarah pada Lucian, mata mereka saling pandang. Mereka merasakan sengatan aneh di hati mereka, dan menatap dengan tatapan penuh kerinduan. Bibir pucat Sherly terbuka, dan mengatakan satu nama yang Arley rindukan.
"Arley."