
"OMAAAAA!!" Teriak Elouise dengan gembira saat dia memasuki rumah opa dan oma nya.
Mendengar ada suara Elouise, Diandra yang sedang bersiap akan pergi ke pesta pernikahan pun mengurungkan niatnya. Dia buru-buru menghampiri cucu kesayangannya itu.
"Eehhh!! Cucu omaa!!" Diandra melebarkan tangannya, Elouise pun memeluk sang oma.
Sementara Alexix, dia memilih pergi ke taman belakang tanpa menghampiri oma nya. Seperti biasanya, dia akan bermain dengan para kucing milik Reagan yang bertempat di taman belakang.
"Loh, Alexix ...,"
"Biasalah dia, nemuin istri na di belakang." Celetuk Elouise.
Tatapan Diandra beralih pada Reagan yang tengah menggendong Caramel sembari berjalan menuju ke arahnya.
"Caramel?!" Pekik Diandra, dia bergegas mendekati Caramel yang ada di gendongan putranya itu.
"Kok bisa kamu bawa dari anaknya!! Emang Azalea ngizinin?" Heran Diandra.
Reagan tersenyum, "Di suruh bawa pergi sama bapaknya " Celetuk Reagan.
Diandra pun mengambil paksa Caramel dari gendongan Reagan. Wanita paruh baya itu sangat senang dengan kedatangan cucu perempuannya. Melihat Caramel, dia merasa mendapatkan momen saat Azalea kecil.
"Udah sini, mommy kan mau ke kondangan." Seru Reagan, meminta balik keponakan cantiknya itu.
Bukannya memberikan Caramel, Diandra justru memundurkan tubuhnya. Dengan tersenyum senang, dia berkata. "Caramel di bawa sama mommy aja, kapan lagi mommy kenalkan cucu mommy sama temen-temen. Biar mereka gak nanya kapan kamu nikah terus, jadi tanya nya kapan Caramel punya adek. Iya kan?"
"Eehhh!! Jangan mom!!" Panik Reagan. Dia yakin, jika di bawa sang mommy. Caramel tidak akan betah.
"Syuutt udah! Nanti perlengkapannya mommy beli di jalan. Gak lama kok kondangannya, cuman setengah jam." KEkeuh Diandra.
"Mom ...,"
"DAAADDD!! AYO BERANGKAT!!" Teriak Diandra.
Tak lama, Erlangga datang sembari menggulung lengan kemejanya. Walau sudah setengah abad, Erlangga tetap terlihat gagah. Apalagi, dia sangat menjaga otot tubuhnya.
"Dad, lihat siapa ini." Unjuk Diandra pada suaminya.
Melihat cucu perempuannya ada di gendingan sang istri, membuat Erlangga sontak mendekat pada mereka.
"Loh, Azalea disini?" Tanya Erlangga.
"Enggak, anak-anaknya doang. Tuh, si kembar lagi di taman belakang." TErang Diandra.
Melihat Erlangga, sontak Caramel mengulurkan tangannya. Entah mengapa, bayi cantik menggemaskan itu. Sangat menyukai pria yang tampan.
__ADS_1
Erlangga pun dengan sigap mengambil cucu kesayangannya itu dari gendongan sang istri. Lalu, dia mengecup pipi gembul bayi itu.
"Yaudah, kita berangkat yah." Pamit Diandra.
Erlangga yang tak mengerti apapun bertanya pada sang istri. "Loh, Caramelnya gimana?!" Pekik Erlangga.
"Di bawa." Jawab Diandra dengan singkat.
melihat kedua orang tuanya yang pergi, Reagan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia akan menghampiri dua keponakannya. Namun, keinginannya terhenti saat dia baru sadar akan satu hal.
"Ih iya, motor tuh cewek! Lupa lagi!!" Pekik Reagan. Dia pun bergegas memanggil salah satu bodyguard nya untuk mengambil motor Airin dari parkiran pengadilan.
.
.
.
Airin menuruni sebuah taksi, di tangan kanannya sudah terdapat koper besar miliknya. Matanya menatap rumah besar di hadapannya.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku akan kembali tinggal di rumah ini." Batin Airin.
Airin pun memasuki gerbang, dirinya lalu di sambut oleh satpam yang berjaga.
"Mba Airin?" Seru satpam itu dengan sumringah.
"Baik mbak, mbak mau jenguk ibu yah?" Tanya Satpam itu.
Airin mengangguk, "Iya pak, katanya ibu baru kecelakaan," ujar Airin.
"Iya mba, abis nolong orang. Pas pulang, pakai kursi roda, wajahnya sembab mba. Mungkin kesakitan kali yah?"
Kening Airin mengerut dalam, perasaan pun mendadak semakin khawatir. Dia kembali menatap satpam rumahnya itu untuk pamit masuk ke dalam.
"Yaudah pak, kalau gitu saya masuk dulu yah." Pamit Airin.
"Silahkan non." Sahut Satpam itu.
Airin pun menarik kopernya masuk ke dalam rumahnya. Perlahan, kakinya melangkah memasuki pintu utama. Dirinya sempat menghentikan langkahnya, sembari mengingat saat terakhir kali dia melangkah keluar.
"Aku kembali, aku kembali bukan untuk membawa kebahagiaan. Tapi, aku kembali membawa luka." Batin Airin. Jujur saja, Airin masih sangat mencintai suaminya. Namun, apa boleh buat. Suaminya sudah mencintai yang lain.
"Kakak!"
Airin mengalihkan pandangannya, tubuhnya sedikit tersentak kala seorang wanita memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Kangen tau, udah berapa lama kakak gak kesini." Seru wanita itu yang tak lain adalah Priska.
Priska dan Airin adalah kakak adik, tetapi keduanya berbeda ibu. Walau begitu, Airin sudah menganggap Arumi sebagai ibu kandungnya. Bahkan, dia sangat menyayangi Arumi.
"Kakak juga." Ucap Airin.
Priska melepaskan pelukannya, dia menatap wajah sang kakak yang lesu. Lalu, tatapannya menatap ke sekeliling, mencari keberadaan seseorang.
"Kak Farel mana? Kok dia gak nganter kakak?" Tanya Priska dengan kening mengerut.
Mendengar itu, Airin menundukkan kepalanya. Dia merasa tak sanggup untuk mengatakan tentang perihal rumah tangganya dengan yang hancur.
"Kak." Panggil Priska, dia menatap kakaknya dengan raut wajah yang tak biasa.
"Kakak berantem yah sama Kak Farel? Bawa koper segala, Kak Farel apain kakak?" Tanya Priska dengan lembut.
Umur mereka hanya terpaut dua tahun saja, membuat keduanya sudah seperti saudara kembar. Sifat mereka pun tak jauh neda, hanya saja. Airin lebih galak di bandingkan Priska yang memiliki sisi kelembutan.
"Kakak .... kakak dam Kak Farel sudah cerai dek."
"Apa?! kok bisa?!" Pekik Priska dengan mata membulat sempurna.
Airin mengangkat kepalanya, dia menatap sang adik dengan matanya yang berkaca-kaca. Melihat ekspresi sang kakak, Priska pun meraih tubuh Airin dan memeluknya.
"Dia ingin seorang anak, tapi kakak ... kakak belum bisa memberikan nya. Sehingga, dia memilih menikah dengan sahabat kakak. Kakak gak siap di madu. Jadi, kakak memutuskan untuk bercerai."
Priska terdiam, dia tentu tahu siapa sahabat yang Airin maksud. Kakaknya hanya memiliki satu sahabat, dan Priska sangat mengenalnya.
"Kak Sindi?! Kak Sindi yang jadi pelakornya?!" Pekik Priska.
Airin mengangguk, "Mereka sudah menikah tanpa sepengetahuanku. Dengan alasan, Mas Farel ingin keturunan, dan aku belum bisa memberikannya." Isak Airin.
Priska melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata sang kakak dengan tangannya. Ruat wajahnya terlihat marah, tentu saja. Sebagai seorang adik, priska merasakan apa yang kakak nya itu rasakan.
"Jangan menangis untuk pria sepertinya kak, masih banyak pria lain yang lebih dari dia. Jodoh itu cerminan diri, pelakor sama pecund4ng memang di takdirkan bersama." Ujar Priska dengan sorot mata yang tajam.
"Ada aku sama mama, kita kembali tinggal bersama juga gak papa. Disini, rumah kakak yang sebenarnya." Lanjut priska dengan tersenyum lembut.
Airin merasa beruntung, memiliki keluarga yang mendukungnya. Tapi, Airin tidak tahu. Bagaimana respon keluarganya yang lain.
"Biarkan Kak Farel bersama selingkuhannya, kan dia ...,"
"Apa?! Farel selingkuh?!"
Tubuh keduanya tersentak kaget, tatapan mereka beralih pada seorang pria yang berjalan menuruni tangga. Sejenak, keduanya meneguk kasar lud4hnya.
__ADS_1
"Abang." Lirih Airin.