Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Cuting cinetlon pendelitaan ictli kah?


__ADS_3

Azalea mengerjapkan matanya pelan, dia menatap samar ke arah seorang pria yang membelakanginya. Pria itu sepertinya tengah bertelponan, terlihat dari gestur tubuhnya. Saat pandangan Azalea jelas, dia baru mengerti jika itu adalah suaminya.


"Hm, kirimkan file nya padaku. Malam nanti, aku akan membacanya. Mungkin, aku akan cuit beberapa hari lagi. Kau bantu aku mengurus segalanya."


"Mas."


Alan menyudahi panggilan telponnya, dia segera berbalik setelah mengetahui istrinya telah sadar. Pria itu segera mendekat, raut wajahnya terlihat panik.


"Apa perutnya masih sakit?" Tanya Alan.


Azalea menggeleng, dia mengelus perutnya perlahan. "Kandungan aku gak papa kan?" Tanya Azalea.


Alan menghela nafas pelan, tiba-tiba dia menyentil kening istrinya yang mana membuat Azalea meringis sakit.


"Kalau di bolangin tuh jangan ngeyel! Daddy ajak kamu ke rumah sakit itu karena kebaikan kamu! Aku tahu kamu sayang Cala, iya aku ngerti. Tapi, kamu pikirin dulu kondisi kamu. Lihat, sekarang. Kamu bahkan hampir saja keguguran!"


Azalea terdiam, dia saling merempas tangannya. Matanya menatap Alan dengan tatapan berkaca-kaca, dia menyesal atas keputusannya.


"Maaf mas, di pikiran aku saat itu cuman Cala. Aku gak bisa mikirin yang lain, fokusku hanya pada Cala." Lirih Azalea.


"Iya, aku ngerti. Jika kamu keguguran, apa fokusmu masih pada Cala?" Pertanyaan Alan mampu membuat Azalea terdiam seribu bahasa. Apa yang suaminya katakan benar, dia tak bisa kehilangan janinnya.


"Lea, mas sudah katakan. Sejak kamu hamil, mas selalu khawatir tentang kondisi kamu. Berat badan kamu yang turun, nafsu makan kamu yang berkurang. Itu semua pemicunya karena kamu stress. Tolong, perhatikan kesehatan kamu." Lanjut Alan.


Air mata Azalea menetes, hatinya terasa sesak mendengar perkataan Alan. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Maaf mas, aku tidak akan mengulanginya." Lirih Azalea.


Alan meraih kepala istrinya, dia meng3cup lembut kening Azalea dengan sayang. Matanya menatap Azalea yang tengah meneteskan air matanya. Dengan lembut, Alan menghapus air mata sang istri yang sempat mengalir.


"Sudah, jangan menangis lagi. Dokter memintamu bed rest total selama beberapa hari ke depan. Kandungan mu benar-benar lemah, bahkan nyaris keguguran. Sekarang, kamu ingin makan apa?" Alan membiarkan istrinya memilih makanan yang dia mau, agar Azalea bisa makan dengan lahap.


"Aku ingin soto daging," ujar Azalea. Alan mengangguk, dia segera memesankan untuk istrinya.


Sementara itu, di rumah sakit yang sama. Tampak, Calandra tengah melepas rindu dengan sang bunda. Reagan sudah memandikan putranya di rumah sebelum dia membawanya ke rumah sakit. Dirinya bahkan masih menutup mulut tentang kejadian yang menimpa Calandra.


Seperti saat ini, Calandra duduk di sebelah Airin sambil memeluknya. Dia tak mau melepas pelukannya. Pokoknya, dia ingin terus berada di samping bundanya.

__ADS_1


"Cala, bunda mau ke kamar mandi sebentar yah nak." Bujuk Airin.


Calandra menggeleng, "Bunda pacang popok aja, nanti Cala yang bantu buang popokna." Perkataan Calandra, tentu membuat Airin tertawa.


"Mana bisa begitu, sebentar yah. Bunda ke kamar mandi dulu." Bujuk Airin kembali.


"Nda, Cala nda mau picah cama bunda. Cala mau ikut aja. Cala nda mau picah cama bunda." Rengek Calandra.


Airin merasa ada yang tidak beres, tidak biasanya putranya begini. Dia beralih menatap Reagan yang sedang memainkan ponselnya. Sejak tadi, Reagan berkutik dengan ponselnya karena harus mengurus para kliennya.


"Mas, tolong bantu aku sebentar." Seru Airin.


Reagan segera bangkit, dia meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu, dia mendekat untuk membantu sang istri. Karena, Diandra yang sudah kembali pulang. Membuat Reagan lah yang harus menjaga istrinya itu.


"Cala ikut. Cala nda cendili!" Pekik Calandra saat Reagan akan membawa istrinya ke kamar mandi.


"Sebentar aja, Cala duduk di sana dulu yah." Bujuk Reagan.


Calandra menggeleng ribut, "Nanti Cala di culik tante jahat lagi hiks ... Cala nda mau! Cala nda mau!" Pekik Calandra yang mana membuat Airin langsung menatap suaminya yang kini menatapnya dengan raut wajah yang pucat.


"Mas, bisa jamu jelaskan dari maksud ucapan putramu?" Tanya Airin sembari menatap tajam suaminya itu.


Setelah AIrin menuntaskan keinginannya, dia langsung menyergap Reagan dengan berbagai pertanyaan. Reagan hanya pasrah, dia duduk di kursi sebelah brankar sembari memangku Calandra.


"Sebelumnya, aku minta maaf. Aku sengaja gak cerita ini sama kamu, karena khawatir dengan kandungan kamu. Aku takut kamu dan bayi kita kenapa-napa. Bayi ini, adalah bayi yang kamu tunggu-tunggu. Kalau aku, mungkin aku akan sedih. Tapi, aku masih beranggapan jika aku masih bisa memilikinya lagi. Kalau kamu, mungkin kamu akan kembali pesimis dan merasa jika kamu akan membutuhkan waktu yang lama untuk hamil." Lirih Reagan.


Reagan menarik nafas sejenak, dna menghembuskannya kasar. Dia mulai menceritakan apa yang terjadi, dari awal hingga akhir. Airin hanya mendengarkan cerita Reagan dengan raut wajah tanpa eskpresi.


"Udah, sekarang Calandra sudah disini. Si Jessica itu sudah di tangkap polisi. Gak tau di bawa kemana, bukan urusanku." Ujar Reagan ketika cerita nya selesai.


"Cala, sini sayang." Airin meraih Calandra dari pangkuan Reagan. Yang mana, membuat pria itu menganga tak percaya.


"Gak ada responnya gitu?" Gumam Reagan.


Airin memangku putranya, walau terhalang perut besarnya. Tapi, tak membuat AIrin merasa kesulitan. Dia mengecek keadaan tangan dan pipi Calandra. Dia menarik lengan baju panjang Calandra dengan perlahan. Terlihat, ada bekas lebam kebiruan di sana.


"Ini tangannya biru, sakit enggak?" Tanya Airin sembari menatap memar.

__ADS_1


"AKu sudah cek tadi ke dokter sebelum kesini." Bukan Calandra yang menjawabnya melainkan Reagan.


Tatapan Airin mengarah pada Reagan dengan tajam "Diam! Aku tanya putraku, bukan kamu!" Ketus Airin.


Airin kembali menatap tangan putranya, dia mengelus lembut tangan anak itu dengan sayang.


"Ayah." Panggil Calandra pada Reagan.


"Hm?" Sahut Reagan.


"Cala ayah anak bunda cama ayah kan? Paman bule itu bohong ci?" Pertanyaan Calandra, tentu membuat hati Reagan berdesir.


Airin meraih tanga putranya, dia meng3cup kedua punggung tangan putranya dengan sayang.


"Kamu dengar bunda, kamu adalah anak bunda dan ayah. Tidak ada yang lain." Ujar Airin.


"Sayang, Cala berhak tau siapa orang tua kandungnya." Ujar Reagan.


Airin beralih menatap tajam Reagan, matanya menato suaminya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu apa? Kau akan memberikan Cala pada orang tua kandungnya? Terserah dengan penderitaan wanita itu! Aku tidak peduli! Cala, tetap putraku. Bukan putranya!" Sentak Airin dengan nafas memburu.


"Airin, kita gak boleh egois. Cala berhak menentukan dimana dia mau menetap. Jika memang dia memilih orang tua kandungnya. Itu hak Cala. Setiap anak memiliki hak, sayang." Ujar Reagan dengan raut wajah yang lelah.


Air mata Airin menetes, dia mengalihkan pandangannya dari Reagan. Sejenak, Airin mengontrol emosi dalam dirinya.


"Janan belantem, Cala dan picah cama bunda. Cala mau cama bunda." Calandra memeluk Airin, pria kecil itu menangis di pelukan sang bunda.


Airin hanya mendekat Calandra dengan erat, air matanya terjatuh bebas di pipinya.


"Jangan tinggalkan bunda, bunda tidak sanggup. Bunda tidak sanggup berpisah darimu." Lirih Airin.


BRAKK!!


Semua orang yang di selimuti suasana sedih tiba-tiba terkejut karena pintu terbuka keras oleh seseorang.


"CALAAA KATANA .... eh." Caramel terkejut saat menyadari bahwa dirinya masuk di waktu yang salah.

__ADS_1


"Kok pada nanis cemua? Lagi pada cut1ng cinetlon pendelitaan ictli kah?"


__ADS_2