Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Berontak


__ADS_3

"Hahaha ibu mah bercanda nya bisa aja." Ujar Alan, mencairkan suasana.


Melihat tanggapan putranya, seketika Arumi menghentikan tangisnya. Dia menatap lekat Alan yang masih mempertahankan senyumnya.


"Nama ayah kamu, Yudha Annovra kan?"


Senyum Alan surut, dia menatap Arumi dengan kening mengerut.


"Kok ibu bisa tahu?" Tanya Alan. Pasalnya, dia tidak pernah mengatakan nama sang ayah pada siapapun.


"Karena saya, adalah mantan istri ayahmu. Sekaligus, ibu kandung kamu." Terang Arumi dengan serius.


Alan menggeleng, dia seakan tak percaya dengan apa yang Arumi katakan.


"Enggak, ibu saya cuman Rena." Lirih Alan.


"Jika dia ibu kandung kamu, kenapa dia menaruh mu di panti asuhan?" Tanya Arumi, membuat Alan seketika terdiam.


Tubuh Alam bergetar, d4danya terasa kembang kempis. Matanya menatap pintu, berharap Azalea datang untuk membantunya.


"Alan." Arumi berusaha menyentuh lengan Alan. Namun, Alan dengan cepat menepisnya.


"Jangan sentuh saya!!" Sentak Alan, raut wajah pria itu terlihat marah.


"Ini mama nak." Lirih Arumi, dengan suara bergetar.


"Jika anda ibu kandung saya, kenapa anda meninggalkan saya hah?! Kenapa anda meninggalkan saya!!" Sentak Alan. Pria Itu meremas kepalanya dengan kuat.


Arumi terkejut dengan respon Alan, dia tak menyangka Alan akan seperti ini.


"KALIAN ... KALIAAN SAMA-SAMA GAK PUNYA HATI!! DIMANA ANDA SAAT SAYA KESUSAHAN?! DIMANA ANDA SAAT SAYA KELAPARAN?! DIMANA ANDA SAAT SAYA DI HINA?! MEMANGNYA KALIAN PIKIR SAYA BENDA M4TI HAH?! KALAU ANDA TIDAK MENGINGINKAN SAYA SEJAK AWAL, KENAPA ANDA TIDAK M3MBU*NUH SAYA SAJA SEBELUM LAHIR!! KENAPA SAYA HARUS DI LAHIRKAANN!!" Teriam Alan dengan emosinya yang meluap.


"Mas, ini bukan salah mama. Ini semua sudah. ..,"


"Kau!! Kau tidak merasakan apa yang saya rasakan!" Unjuk Alan pada putri dari Arumi.


Mendengar ada suara keributan, Azalea pun kembali masuk. Matanya terbelalak kaget saat melihat kondisi suaminya yang sangat berantakan.


"PERGIII!! PERGI KALIAN SEMUAA!!" Sentak Alan.


Azalea mendekat, dia menaruh Caramel yang sudah kembali tertidur di sofa. Kemudian, dia bergegas mendekati Alan untuk menenangkannya.


"Mas, mas ... tenangkan dirimu." Ujar Azalea dengan panik.


Mendengar nada lembut sang istri, Alan langsing memeluk erat tubuh Azalea. Azalea bisa merasakan, tubuh sang suami yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Usir mereka, usir mereka! Mas gak mau mereka ada disini!!" Sentak Alan.


Sejenak, Azalea menatap Arumi. Wanita paruh baya itu menangis, saat mendapat penolakan putranya. Azalea pikir, suaminya akan menerima Arumi. Namun, di luar dugaannya. Alan justru seperti sekarang ini.


"MA, maaf." Ujar Azalea pada Arumi. Dia sudah meyakinkan Arumi, malah justru yang di takut kan Arumi menjadi kenyataan.


"Enggak, bukan salah kamu. Ini salah mama, mama mengerti kekecewaan Alan. Dia sudah mengalami kesulitan selama ini, tapi mama gak pernah datang menemuinya. Maafkan mama Alan, mama akan menunggumu sampai kamu memaafkan mama. Kalau begitu, lebih baik mama pulang dulu yah."


"Ma ...." Azalea benar-benar merasa bersalah pada Arumi.


"Gak papa, jaga suamimu baik-baik yah. Mama pulang dulu." Pamit Arumi.


"Ayo Priska." Ajak Arumi pada putrinya.


Wanita bernama Priska itu mengangguk. Sebelum pergi, dia sempat menatap Azalea. Tak ada kata apapun yang gercuap dari mulutnya, dia hanya memandang Azalea dan melanjutkan kepergiannya.


Setelah keduanya pergi, Azalea mencoba membujuk Alan. Dia melepas pelukan suaminya itu, laku menangkup wajahnya pria itu.


"Kenapa marah seperti tadi, hm?" Tanya Azalea.


Alan tak jawab apapun, dia hanya memandang istrinya dengan mata yang basah.


"Kepalaku sakit, apa kamu membawa obatku?" Bukannya menjawab, Alan justru bertanya mengenai obatnya.


"Hentikan meminum obat itu, kau akan merusak tubuhmu sendiri mas. Obat itu membuatmu kecanduan, kau tidak boleh lagi meminumnya." Larang Azalea.


"Syutt, di mananya yang sakit hm?" Dengan lembut, Azalea memijat kepala Alan. Melihat apa yang di perbuat sang istri, Alan justru menangis.


"Kenapa menangis lagi hm?" Azalea mengusap air mata Alan dengan jari lentiknya.


Alan tak menjawab, dia terus saja menangis tiada henti. Azalea pun menaiki brankar Alan, dia merebahkan diri di sebelah Alan. Benar saja, pria itu langsung memeluknya dengan erat. Posisi seperti ini, selalu membuat Alan tenang.


"Syutt, tenanglah." Azalea mengusap rambut tebal suaminya dengan perasaan.


"Aku benci dia, aku benci mereka!" Kekeuh Alan.


"Tenangkan diri mas dulu, kalau sudah tenang. Baru pikirkan dengan kepala uang dingin. Oke?"


Seperti anak kecil, Alan menganggukkan kepalanya dengan patuh. Melihat itu, Azalea merasa jika tadi suaminya hanya syok.


"Sekarang, tidurlah. Besok kita akan bicarakan tentang hal ini," ujar Azalea.


Tak butuh waktu lama, Azalea mendengar deru nafas yang teratur dari suaminya. Dia melihat ke arah Alan, dan benar saja. Alan sudah tertidur dengan lelap di pelukannya.


Melihat Alan yang sudah tidur, sejenak Azalea menatap Putrinya. Sofa itu cukup lebar, sehingga Azalea tak khawatir putrinya akan terjatuh. Jika pun terjatuh, di bawah sofa sudah terdapat karpet yang tebal.

__ADS_1


Tatapan Azalea pun kembali pada suaminya, melihat wajah pucat itu. Sontak Azalea mengusapnya perlahan.


"Aku yakin, kamu pasti bisa menerima semuanya mas." Lirih Azalea.


.


.


.


Sementara Reagan, kini pria itu tengah berada di pengadilan. Di ruang persidangan, tampak Reagan duduk menunggu kliennya datang.


"Tuan Reagan?"


Reagan mendongakkan kepalanya, dia menatap pria yang tak asing menurutnya.


"Tuan Farel!" Seru Reagan, dia berdiri dan berjabat tangan dengan kliennya itu.


lalu, tatapan Ragan beralih pada wanita yang menggandeng lengan Farel. Tatapan Reagan turun pada perut wanita itu yang tengah membesar.


"Siapanya sih? Kok hamil." Mendadak, Reagan menjadi kepo.


"Ehm silahkan duduk, sebentar lagi persidangannya akan di mulai." Seru Reagan.


Pasangan itu mendudukkan diri mereka di sebelah Reagan. Mereka membahas tengang persidangan nanti. Kliennya juga memberikan beberapa berkas, yang akan di gunakan saat persidangan berlangsung.


"Saya yakin, jika kasus ini akan anda menangkan tuan. Saya sangat berharap. Karena saya, ingin secepatnya berpisah Sebab, pernikahan kedua saya Harus segera di sahkan, karena istri saya ini sedang hamil." Ujar Klien Reagan.


Reagan mengangguk paham, dia hanya bekerja sebagai pengacara. Tak peduli bagaimana lawan Kliennya nanti.


Reagan sempat melirik ke arah wanita yang terus menggandeng lengan kliennya itu. Bahkan dengan manjanya, wanita itu ingin agar perutnya selalu di elus.


"Manja sekali." Batin Reagan.


Reagan menggelengkan kepalanya, tatapan nya kembali lurus ke depan. Namun, dirinya tertegun saat melihat seorang wanita baru saja datang dan duduk di sebrang mejanya.


"Cantik banget." Puji Reagan. Reagan tidak bohong, wanita itu benar-benar cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sangat indah. Apalagi, tatapan wanita itu yang terkesan tajam.


"Tuan, dia istri pertama saya. Yang akan saya ceraikan sebentar lagi." Bisik Klien Reagan di telinganya.


mendengar hal itu, seketika mata Reagan terbelalak lebar. Dia menatap wanita yang afa di samping Kliennya, dan beralih menatap wanita cantik yang akan dia lawan itu. Sangat berbeda jauh dengan istri kedua kliennya saat ini.


"Tuan Farel, bisa-bisanya kau mengganti berlian dengan abu gosok."


"Apa maksud anda?!"

__ADS_1


"Eh?!"


__ADS_2