
Alan tengah berdiam diri di sofa ruangan Calandra, matanya sedari tadi terfokus menatap istrinya yang tertidur di brankar bersama dengan Calandra dan Caramel. Sedangkan si kembar, keduanya tidur di brankar sebelahnya.
Pria itu kembali teringat dengan keinginan Reagan sebelumnya, yang memintanya untuk memberikan hak asuh Calandra. Jujur saja, Alan belum menjawab keinginan Reagan, dia masih dilema. Sudah tiga jam dia berpikir, apakah keputusannya baik ataukah tidak.
"Bisa kau memberikan hak asuh Calandra padaku?" Tanya Reagan.
"Apa maksudmu?" Alan balik bertanya, raut wajahnya terlihat sangat terkejut.
Reagan menegakkan tubuhnya, dia berjalan mendekati Alan. Pria itu berdiri di hadapan adik iparnya tersebut dengan pandangan serius.
"Apa kamu tidak melihat bagaimana Airin saat bersama dengan Calandra?" Tanya Reagan sembari beralih menatap ke dalam ruangan. Dimana Airin tengah menimang Calandra agar bayi itu segera tertidur.
Alan turut menatap ke dalam, melihat bagaimana Airin mengasuh Calandra. Sedangkan Azalea, dia tengah menyusui putri mereka. Istri ALan itu sudah tampak sibuk dengan Caramel yang memang kelewat aktif.
"Airin dan mantan suaminya sudah menikah selama tujuh tahun. Tapi, dia belum juga memiliki keturunan. Melihat dia yang begitu mendalami perannya mengasuh Calandra, membuatku berpikir. Bagaimana jika Calandra di asuh olehku dan istriku? Mungkin, dengan itu kesedihan istriku akan sedikit terobati. Aku tak berkata jika doa tidak bisa memiliki anak, tapi ... ada kemungkinan dia sulit."
"Untuk mengobati rasa sakitnya, aku ingin Calandra. Biarkan dia di asuh olehku dan juga istriku. Mungkin, dengan adanya Calandra ... istriku akan mudah hamil." Ujar Reagan dengan nada memohon.
"Apa maksudmu, kamu ingin menjadikan Calandra sebagai pancingan agar kalian punya anak?" Tanya Alan sembari menatap Reagan dengan tajam.
Mendengar itu, Reagan menggeleng. Dia tak ada maksud untuk menganggap seperti itu.
"Bukan itu maksudku! Biarpun nantinya Airin hamil, aku akan tetap menyayangi Calandra. Tak ada yang beda, aku pastikan itu." Seru Reagan.
Apan menghela nafas kasar, dia mengusap kasar wajahnya dan menunduk menatap lantai sembari tangannya berkacak pinggang. Lalu, tatapannya kembali menatap Reagan yang tengah menunggu jawabannya.
"Reagan, aku tidak bisa mengambil keputusan. Azalea yang ingin mengadopsinya, bukan aku. Aku akan pikirkan nanti," ujar Alan.
"Alan, tolong pikirkan lagi. Azalea akan kerepotan mengurus dua bayi sekaligus. Apalagi Caramel yang sangat kelewat aktif. Kamu tahu kan bagaimana saat mengasuh si kembar secara bersamaan? Biarpun kalian menyayangi mereka, keduanya akan merasakan perbedaan kasih sayang kalian. Apalagi Calandra." Perkataan Reagan mampu membuat Alan terdiam.
Alan kembali mengingat isi hati Alexix yang membuatnya kerasa bersalah. Alexix dan Elouise, keduanya di berikan kasih sayang yang berbeda. Jika saat kecil Elouise masih mendapatkan kasih sayang Azalea. Tapi tidak Alexix, Alan terlalu sibuk dengan kerjaannya hingga mengabaikan putranya itu. Saat Alexix mulai mengerti, anak itu bertanya tentang perbedaan tersebut.
"Tolong pikirkan lagi, kalau perlu ... aku akan membeli rumah di depan mansionmu. Agar Azalea bisa melihat Calandra, bagaimana?" Usul Reagan.
__ADS_1
"Kita lihat nanti." Jawab Alan sebelum dirinya memasuki ruang rawat Calandra.
Alan mengambil ponselnya dari atas meja, lalu dia beranjak berdiri dan berjalan menuju balkon. Dia menempelkan ponselnya ke telinganya, sembari tangan lainnya dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Halo, Kendrick. Maaf aku mengganggumu malam-malam. Aku hanya ingin bertanya, apakah berkas hak asuh Calandra sudah di serahkan pada pengadilan?" Tanya Alan dengan tatapan lurus ke depan.
"Belum tuan, besok rencana akan saya masukkan. Semua datanya baru lengkap hari ini," ujar Kendrick.
"Batalkan, dan ganti nama wali menjadi Reagan Xaver."
"Apa? BA-bagaimana maksudnya tuan?" Tanya Kendrick yang terkejut atas penuturan Alan.
"Reagan, dia orang yang tepat mengasuh Calandra." Ujar Alan sembari memejamkan matanya.
"Apa maksudnya Mas?!"
Deghh!!
"Sayang," ujar Alan. Saat Alan akan menggapai tangan istrinya, justru Azalea malah menepisnya.
"Kenapa kamu buat keputusan tanpa persetujuanku!" Sentak Azalea.
"Aku mau bicarakan soal ini besok. Ini demi kebaikan kita." Seru Alan.
"Kebaikan apa?! Kamu gak tahu bagaimana perasaanku mas! Aku sudah sangat menyayangi Calandra. Lalu, kamu memberikannya pada orang lain begitu saja!" Sentak Azalea.
"Iya! Aku tahu, kami baru bertemu beberapa hari. Tapi, aku sudah sayang dengan dia. Kenapa kamu kasih dia ke abang." Seru Azalea.
Melihat istrinya menangis, Alan meraih tubuh istrinya. Dia memeluk Azalea tanpa peduli wanita itu berusaha untuk melepas pelukan mereka.
"Aku sayang sama Cala, kenapa di kasihkan ke abang." Isak Azalea.
"Kita hanya menitipkannya pada Reagan, bukan orang asing. Dia abangmu kan? Kamu percaya dia kan? Kamu tahu bagaimana Airin, dia menantikan memiliki anak. Apa kamu tidak menyadari? Betapa bahagianya dia saat menggendong Calandra?"
__ADS_1
Azalea terdiam, dia mulai tenang. Hati dan pikirannya tengah bekerja, apakah dia akan menerima jika Calandra di asuh oleh Airin. Jujur saja, Azalea sudah sangat menyayangi Calandra seperti anaknya sendiri.
"Aku tahu kalau kamu sayang Cala, tapi kita tidak bisa merawatnya. Kamu akan kerepotan, tak menutup kemungkinan Cala akan merasa di bedakan. Jika dengan Reagan, Cala akan mendapat kasih sayang yang lengkap. Dia bisa merasakan full kasih sayang dari Reagan dan Airin. Dan seperti yang kamu tahu, selama tujuh tahun Airin menunggu seorang anak. Mungkin, Calandra bisa mengobati kesedihan Airin."
Azalea tetao diam, dia tak membalas perkataan suaminya. Wanita itu tengah mencerna apa yang Alan ucapkan padanya. Pikirannya mengiyakan apa yang Alan katakan, tapi hatinya menolak.
"Siapa tahu, dengan adanya Calandra. Airin bisa hamil, mereka pasti akan lebih menyayangi Calandra." Lanjut Alan.
"Pikirkanlah baik-baik. Calandra akan lebih bahagia jika tinggal dengan orang tua yang masih belum memiliki anak. Sedangkan kita, sudah ada tiga anak yang perlu kita perhatikan." Terang Alan, dan lagi-lagi tak dapat balasan apapun dari Azalea.
.
.
.
Pagi ini, Airin dan Reagan kembali datang. Tampak, Airin bersemangat sekali bertemu Calandra. Bayi menggemaskan itu pun tampak senang dengan kedatangan Airin. Airin langsung menggendong Calandra dan menyerangnya dengan sebuah k3cupan.
"Hem ... wangi banget sih kamu, wangi banget sih!" Pekik Airin.
perbuatan Airin, tak luput dari pandangan Azalea. Dia mengamati bagaimana Airin menatap Calandra dengan tatapan penuh kasih sayang. Seketika, Azalea membenarkan apa yang Alan katakan. Dia tak bisa merawat dua bayi sekaligus, apalagi Caramel yang sedang aktif-aktifnya. Kedua putranya juga membutuhkan kasih sayang dirinya.
"Ai." Panggil Azalea.
Airin menoleh, senyum di bibirnya belum luntur. Matanya menatap Azalea yang berjalan menghampirinya. Terlihat, Azalea mengusap kepala Calandra sembari menatap Airin dengan matanya yang sendu.
"Rawatlah dia seperti anakmu sendiri." Ujar Azalea yang mana mengundang tatapan ketiga orang dewasa.
"A-apa maksudnya?" Tanya Airin dengan terkejut.
"Jadi kan Calandra anakmu, aku menyerahkan hak asuhnya atasmu dan Bang Reagan."
Deghh!!
__ADS_1