
"Aku gak beli kok!" Seru Azalea sembari membuang jauh baju tipis itu.
Satu alis Alan terangkat, dia pikir Azalea sengaja membelinya. Dia juga, tak membeli pakaian itu. Jadi, siapa yang membelinya.
"Ka-kalau bukan mas yang beli, berati bonus bajunya kali. Kan tadi kita beli banyak," ujar Azalea mencari alasan.
"Memangnya, saya beli untuk kamu? Pede sekali kamu," ujar Alan dengan sinis.
Azalea tak lagi menghiraukan perkataan Alan, dia kembali membereskan belanjaannya. Namun, saat asik dengan kegiatannya. Dia mendengar suara ponselnya yang berdering. Bergegas, Azalea bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya.
"Reagan." Batin Azalea. Sudut mata Azalea melirik Alan, pria itu ternyata tengah mengamatinya.
"Siapa?" Tanya Alan dengan menatap lekat ke arah Azalea.
Azalea ingin menjawabnya, tapi ada Alan di sana. Dia menjadi bimbang. Namun, Reagan terus menelponnya. Membuat Azalea merasa tak enak.
"Angkatlah! Kenapa wajahmu terlihat takut begitu?! Memangnya, siapa yang menelpon?" Seru Alan.
Azalea tak kunjung menjawab, membuat Alan gemas. Dia bergegas mendekati Azalea dan merebut paksa ponsel itu.
"Mas!!" Pekik Azalea.
Alan met jauh, matanya membulat kala melihat nama Reagan sedang memanggilnya. Mata Alan melirik ke arah Azalea sekilas, lalu mengangkat telpon itu.
"Mas!!" Pekik Azalea. Dia berusaha merebut ponselnya, tetapi Alan terus saja menghalanginya. Pria itu, malah memasang pengeras suara agar Azalea bisa mendengarnya juga.
"Halo?! Azalea, kamu gak papa kan? Aku mencoba menghubungi mu sejak tadi, kenapa kau tidak mengangkat telponku?!" Seketika, tatapan Alan beralih menatap Azalea dengan tajam.
"Apa kamu marah padaku? Bersabarlah, aku disini hanya seminggu saja. Setelah itu, aku akan sering mengajakmu jalan. Bersama dengan putramu juga, aku juga sudah membicarakan soal niatku untuk menikahimu pada mommy. Dan dia setuju! Jadi, aku hanya tinggal berjuang mendapatkan hatimu."
Deghh!!
Azalea memundurkan langkahnya saat merasakan aura yang mencekam dari Alan, tatapan pria itu seperti akan menelannya hidup-hidup.
"Halo? Azalea? Apa kau mendengarku?!" Seru Reagan.
Tuutt!!
Alan mematikan sambungan itu secara sepihak, lalu dia melempar ponsel itu ke atas ranjang. Matanya masih menatap tajam ke arah Azalea tang beringsut mundur.
__ADS_1
"Punya hubungan apa kamu sama Reagan?" Tanya Alan dengan suara beratnya.
"Memangnya, apa hubungannya denganmu mas? Kita sudah bercerai, aku juga berhak menerima pria yang mencintaiku. Aku juga ingin merubah hidupku agar lebih baik." Sentak Azalea.
Alan mendekat, dia meraih lengan Azalea dan menariknya. Hingga tubuh wanita itu menabrak tubuh Alan dengan cukup kencang.
"Apa kau mencintainya?" Tanya Alan. Matanya menatap lekat mata bening Azalea. Dia tengah mencari sesuatu pada mata itu, mata yang selalu menatap hangat padanya.
"Cinta akan datang seiring waktu, tinggal kitanya saja mau menerima cinta itu hadir. Atau, tidak. Aku lebih memilih bersama pria yang mencintaiku. karena lebih mudah mengatur perasaan sendiri di banding perasaan orang lain." Perkataan Azalea membuat Alan tak mampu menjawab. Dia hanya terdiam dengan tatapan tajamnya.
"Jika kamu menikah dengan pria itu, jangan harap kau bisa bertemu dengan kedua anak kita lagi. Lanjutkan lah kehidupanmu dengan pria itu, dan jangan berani membawa anakku satu pun!" Sentak Alan. Lalu, pria itu menghempaskan lengan Azalea. Hingga, membuat wanita itu sedikit oleng di buatnya.
Azalea menatap nanar kepergian Alan dari kamar putranya. Dia memilih untuk duduk di tepi ranjang, sembari menormalkan degup jantungnya.
"Sebenarnya, pria seperti apa kamu mas? Kamu tidak mencintaiku, tapi tidak juga mengizinkanku menemukan kebahagiaanku. Apa belum cukup, selama ini kamu buat hidup aku sengsara?" Lirih Azalea.
Malam hari, Alan tidak bisa tidur. Padahal , jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. TApi, matanya belum juga mengantuk. Tiba-tiba, dia teringat dengan Elouise. Bergegas, dia mengambil ponselnya. Dia melihat foto-foto Elouise yang di kirimkan oleh Dokter Aryan.
Tampak di sana, Elouise terlihat sangat bahagia. Banyak sekali teman-temanya, dari anak-anak yang juga sakit dan juga para suster yang ternyata banyak menyukai Elouise.
"Mungkin, setelah hasil tes ginjal baru itu dengan jaringan tubuh Elouise cocok. Aku akan menyusulnya kesana." Gumam Alan.
BUGH!!
Sesampainya di depan kamar, langkah Alan terhenti kala mendengar suara tangisan Alexix.
"Hiks ... hiks ... mama mana? Mana mama?"
Karena penasaran, Alan pun memasuki kamar putranya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan putranya itu.
Cklek!
Mendengar ada yang membuka pintu, seketika Alexix berlari menuju pintu. Dia bergegas memeluk kaki Alan dengan erat, Wajahnya kini sudah basah oleh air mata.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Alan sembari membawa putranya dalam gendongannya.
"Mama hiks ... mama nda ada di kamal. Mama pulang, nda ada di kamal hiks ...,"
Kening Alan mengerut, memang di kamar putranya tak mendapati keberadaan Azalea. Alan berpikir, mungkin saja wanita itu sedang berada di lantai bawah.
__ADS_1
"Kita cari yah, sudah! Jangan menangis." Ajak Alan.
Alan berjalan menuruni tangga sembari menggendong Alexix yang masih nangis sesenggukan. Saat sampai di tangga terakhir, telinganya mendengar sesuatu dari dapur. Alan pun melangkahkan kakinya menuju dapur, tempat yang membuatnya penasaran.
Prang!!
Terlihat, Azalea tengah memasak, seperti nya wanita itu sedang memasak nasi goreng. Tangannya masih sibuk menari di atas wajan, sampai tak menyadari kehadiran anak dan suaminya.
"Mama!"
Azalea tersentak kaget saat mendengar suara putranya, dia reflek langsung menoleh. Dirinya terkejut mendapati Alexix dan juga Alan yang berada di dapur.
"Lexi kok bangun?" Tanya Azalea sembari mencuci tangannya.
"Mama! Mau cama mama! Lepas papa! Mau cama mama!" Rengek Alexix sembari merentangkan tangannya.
Saat Azalea akan menarik Alexix ke dalam gendongannya, tiba-tiba Alan malah mencegah nya.
"Selesai kan dulu masaknya." Titah Alan.
"Oh." Azalea kembali melanjutkan acara masaknya. Setelah siap, dia menuangkannya ke piring. Lalu, membawanya mendekat pada Alan yang duduk di meja dapur.
"Maaf, aku lapar. Karena tidak ada makanan instan, dan hanya tersisa nasi saja. Jadi, aku masak nasi goreng ini. Maaf tidak izin dulu," ujar Azalea. Bagaimana pun, dia harus izin pada si pemilik mansion.
"Hem, tidak masalah. Aku memang melarang para maid menyetok makana instan di mansion. Kau bisa lakukan apapun di mansion ini, kecuali membawa pacarmu kesini." Sahut Alan.
Azalea mengangguk paham, dia akan memakan nasi goreng nya yang panasnya masih mengepul itu.
"Mau? Di wajan masih ada, kalau mau akan ku ambilkan." Tawar Azalea pada Alexix dan juga Alan.
Alan dan Alexix menggeleng, keduanya menunggu hingga Azalea selesai makan. Setelah wanita itu makan, dia segera mencuci kembali piring dan peralatan masak yang ia pakai
"Ayo Lexi, kita tidur." Ajak Azalea.
"Mama, bobona di kamal papa aja yuk. Bobo beltiga." Pekik Alexix membuat Azalea seketika melototkan matanya.
"Yang benar saja, aku harus seranjang dengan Alan. Gumam Azalea dengan kesal.
Sedangkan Alan, dia menatap putranya dengan sebelah bibirnya yang terangkat. Lalu, tatapannya beralih pada Azalea yang tampak keberatan.
__ADS_1
"Hanya tidur, aku tidak mungkin menerkammu di depan anak kita kan?" Alan tersenyum kala melihat Azalea melototinya.
.