
Reagan menatap Arumi yang tengah pingsan itu, dia terlihat sangat panik. Airin, Priska dan Liam berusaha membangunkan mama mereka.
"Kok bisa sampe pingsan sih?!" Marah Liam.
Tatapan Airin dan Priska mengarah pada Reagan. Melihat tatapan kedua adiknya mengarah pada pria itu, Liam pun langsung meraih kerah kemeja yang Reagan kenakan.
"Kamu apakan mama saya hah?! Kenapa dia bisa pingsan!" Sentak Liam.
Raut wajah Reagan sudah pucat, keringat bercucuran di pelipisnya. Wajah Liam memang sangat galak, membuat Reagan pun merasa takut.
"Enggak saya apa-apain kok bang, cuman bilang kalau saya sudah lamar adik abang." Jawab Reagan dengan polosnya. Bahkan, Airin sampai menepuk keras keningnya.
"APAAAA?!" Wajah Liam sudah merah padam, dia semakin mencengkram kuat kerah baju Reagan.
"Kan udah janda bang, bukan istri orang. Kok abang ngamuk." Cicit Reagan.
"Reagan!" Pekik Airin, wanita itu menatap Reagan dengan menggelengkan kepalanya pelan. Mengisyaratkan agar Reagan tak kembali berkata.
"Apa? Kan bener." Jawab Reagan dengan polosnya.
Liam melepaskan cengkeramannya, matanya beralih menatap Airin yang masih menatap Reagan. Menyadari tatapan abangnya, Airin pun menoleh pada Liam. Melihat raut wajah merah padam Liam, membuat Airin meneguk kasar lud4hnya.
"Kamu terima lamaran dia?" Tanya Liam dengan datar.
Airin melirik sekilas ke arah Reagan, dan kembali menatap abangnya. "Iya bang." Jawab Airin sembari menundukkan kepalanya.
"Kalian ...,"
"Bang!! Mama sadar!!" Sentak Priska.
Airin dan Liam pun lantas bergegas mendekati Arumi yang sudah sadar. Liam membantu Arumi untuk duduk, sedangkan Priska mengatur bantal Arumi agar wanita itu nyaman. Setelah merasa nyaman dengan duduknya, Arumi menatap ke arah Reagan yang masih berdiri di pojok ruangan.
"Kemarilah." Panggil Arumi sembari memijat keningnya.
"Saya?" Tanya Reagan sembari menunjuk dirinya.
Airin gemas dengan Reagan, ingin rasanya dia mencakar wajah sok polos itu. Dia terpaksa memendamnya karena takut suasana semakin runyam.
"Mau ku lempar wajahmu dengan setrika huh?" Ancam Liam.
"Enggak bang." Reagan pun akhirnya mendekat, dia menatap Arumi yang tengah menatapnya dengan datar.
"Kamu belum pernah menikah?" Tanya Arumi.
Reagan hanya mengangguk saja, dia memang belum pernah menikah.
"Masih perjaka ting-ting saya tan. Suer deh," ujar Reagan sembari mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
Mendengar itu, Airin menutup wajahnya menahan malu. Reagan memang humoris, tapi dia tidak tahu jika humoris Reagan sangat membuat kepalanya sakit.
"Putri saya janda, bagaimana dengan keluargamu? Apa keluargamu akan menerimanya?" Tanya Arumi dengan tatapan rumit.
"Terima kok, yang gak boleh itu kan merebut istri orang tan." Seru Reagan.
"Punya apa kamu sampe berani mendekati adik saya?" Tanya Liam dengan tatapan tajam.
"Sebentar." Ujar Reagan. Pria itu mengeluarkan dompet dan kunci mobilnya. Lalu, dia menunjukkannya pada Liam.
"Lihat, kartu hitam dan kunci mobil mahal. Pekerjaan saya seorang pengacara, bapak saya CEO. Jadi, abang gak perlu khawatir adik abang akan susah jika hidup dengan saya." Terang Reagan dengan tersenyum bangga.
Liam hanya diam, pria itu menatap Reagan dengan tatapan rumit. Seketika, ruangan menjadi hening. Reagan yang di tatap seperti itu pun salah tingkah.
"Ehm ...abang tahu mall terbesar di kota ini punya siapa?" Tanya Reagan pada Liam yang menatapnya dengan kening mengerut.
"Punya ... kamu?" Tebak Liam dengan alis terangkat satu.
"Bukan, itu punya adik ipar saya." Ujar Reagan dengan menggelengkan kepalanya.
Liam mengepalkan tangannya, dia hampir saja melayangkan tinju jika Airin tidak mencegahnya. Berbeda dengan Arumi yang tersenyum tipis melihat kelakuan Reagan.
"Kamuu!! Mau bikin saya emosi hah?!" Sentak Liam.
"Enggak bang, cuman mau adu kekayaan aja." JAwab Reagan dengan santai.
"Adik ipar saya ya adiknya abang, masa gak tahu,"
"APA?!"
.
.
.
Azalea tengah memperhatikan Caramel yang sedang bermain dengan Calandra. Keduanya tengah memainkan boneka yang baru saja Asisten Kendrick bawakan. Keduanya tampak tersenyum senang, terlebih Caramel. Dia seakan mendapat teman baru, setelah sebelumnya selalu sendiri.
"Tuan, anda dan nona harus melakukan beberapa persidangan nantinya. Bagaimana?" Tanya Kendrick mengenai hak asuh Calandra.
"Apa tidak bisa langsung saja? Berapapun biayanya, bayar saja. Aku malas jika harus mengikuti persidangan." Jawab Alan yang tengah mengisi berkas pengajuan adopsi.
"Tidak bisa tuan, sesuai persyaratan seperti itu. Anda dan nona harus hadir, persidangan juga tidak akan sulit. Melihat latar belakang anda yang kuat,"
Alan mengangguk, dia kembali menutup map setelah selesai menulis datanya. Setelah itu, dia memberikan map tersebut pada Kendrick.
"Prosesnya akan memakan waktu kurang lebih tiga bulan, bisa jadi akan lebih cepat." Terang Kendrick.
__ADS_1
"Ya, tak masalah." Jawab Alan dengan santai.
"EHEEE!!"
Alan dan Kendrick menoleh setelah mendengar tawa Caramel, keduanya langsung tertuju pada Calandra yang tengah memegang kaki Caramel seperti memijatnya. Senyum Azalea pun merekah, sesekali wanita itu ikut tertawa.
Tak sadar, Alan mengembangkan senyumnya. Hatinya menghangat saat mendengar tawa putri kecilnya dan senyum bahagia sang istri. Bahagia keluarganya sangat sederhana, dan Alan bahagia dengan hidupnya sekarang.
"Apa kau sudah memeriksa CCTV di jalan saat aku menemukannya, Kendrick?" Tanya Alan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudah tuan, rekaman itu sudah ada pada saya. Setelah saya salin, saya menghapus rekaman CCTV pada hari itu." Jawab Kendrick.
"Mana rekamannya?" Tanya Alan.
Kendrick langsung memainkan ipadnya, dia mencari file rekaman itu. Setelah dapat, dia menunjukkannya pada Alan.
Alan memperhatikan dengan seksama. Terlihat, dua buah mobil saling menabrak satu sama lain. Keluarlah seorang wanita dengan menggendong bayi daru salah satu mobil. Orang-orang yang berada di mobil lain memaksanya untuk ikut, tapi wanita itu terlihat enggan.
Hingga, wanita itu berhasil di tarik masuk ke dalam mobil. Namun, setelah beberapa meter. Terlihat ada sesuatu yang di lempar dari jendela. Seketika, Alan meringis melihatnya. Sesuatu yang di lempar keluar itu tak lain dan tak bukan adalah Calandra.
Mengetahui Calandra di lempar, mobil itu sempat berhenti untuk mengambil Calandra. Tapi sayangnya, sorot lampu mobil Alan membuat mereka langsung kabur tanpa membawa Calandra.
Alan menzoom lebih dekat untuk melihat plat nomor mobil tersebut. Bukan nomor plat seperti pada umumnya, Alan tahu jika itu adalah nomor plat palsu.
"Saya sudah mencari nomor plat itu di negara ini, tapi tidak menemukan datanya. Sepertinya, itu adalah nomor plat palsu," ujar Kendrick.
Dertt!!
Dertt!!
Ponsel Alan berdering, dia mengambil ponselnya yang terdapat di atas meja. Melihat nama Reagan di panggilan, membuat Alan berdecak kesal.
"Apa lagi ini." Gumam Alan. Tanpa berlama-lama, Alan pun mengangkat panggilan itu.
"Halo, ada apa?" Tanya Alan sembari memberikan kembali ipad milik Kendrick.
"Lan, punya lima M gak?" Tanya Reagan dengan suara yang terdengar panik.
"Lima M? Buat apa? Bayar pinjol?" Tanya Alan dengan polosnya.
"Bukan Lan, ini ... aduh ... aku di paksa nikah sekarang. Tolonglah ... masa nikahnya di kantor KUA hiks ... belum punya modal nikah aku."
"APA?! KOK BISA?!"
____
Gimana nih? cocok nya Calandra di asuh Reagan atau Azalea🤭🤭🤭
__ADS_1