Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Hamil kembar


__ADS_3

Azalea tengah di periksa oleh dokter. Tak tanggung-tanggung, Alan langsung membawanya ke dokter kandungan. Sebab, dirinya yakin. Jika istrinya tengah mengandung. Keadaan Azalea saat ini, persis seperti saat hamil Caramel dulu.


"Bagaimana dok?" Tanya Alan dengan tidak sabaran.


Dokter sedang melakukan USG pada perut Azalea. Istri Alan itu sudah sadar, hanya masih lemas. Mata Azalea menatap suaminya dengan gelisah.


"Wah sudah ada kantungnya ini. Sebentar,"


Kening dokter itu mengerut, tatkala melihat dua titik yang tak asing lagi baginya. Seketika, dokter itu tersenyum lebar.


"Selamat nyonya, tuan. Kalian akan mendapatkan bayi kembar." Seru dokter itu.


Arumi, sudah pasti dia bahagia. Azalea turut bahagia mendengarnya, tapi tidak dengan Alan. Pria itu bertambah lemas saja mendengarnya. Istrinya tengah hamil kembar. Itu artinya, istrinya akan berjuang dua kali nanti nya.


"Tekanan darah ibunya rendah ini. Jangan sering kelelahan, jangan banyak pikiran yah bu. Buahnya jangan lupa di makan, susu hamilnya juga. Semoga sehat sampe lahiran nanti." Terang dokter, sembari membersihkan sisa gel yang ada di perut Azalea.


Azalea beralih menatap Alan yang berdiri di sampingnya. Dia memberanikan diri untuk meraih tangan Alan dan menggenggamnya. Beruntung, Alan tak menepisnya. Pria itu hanya diam sembari menatap kosong ke arah perut istrinya.


"Mas, maafkan aku yah. Aku ingin punya anak lagi. Tapi kamu selalu larang. Umurku masih muda, aku ingin memberikan banyak keturunan untukmu," ujar Azalea dengan suara lirih.


Terdengar, helaan nafas dari Alan, sepertinya pria itu masih berat untuk menerima semua ini. Tatapan Alan beralih pada dokter kandungan.


"Dok, sebelumnya istri saya sempat mengalami pendarahan saat melahirkan anak kami yang terakhir. Apa tidak akan berpengaruh untuknya saat ini?" Tanya Aland dengan cemas.


Mendengar itu, dokter tersebut tersenyum. Dia memahami perasaan Alan. Apalagi, jarang ada seorang suami yang menanyakan hal tentang kondisi istrinya pada dokter yang menangani sang istri.


"Kandungannya sehat, tidak ada masalah. Tuan bisa berikan nyonya penguat kandungan. Jangan biarkan dia kelelahan apalagi stres dan di jaga pola makannya." Jawab dokter itu.


Alan mengangguk pasrah, dia merasakan elusan di bahunya. Matanya pun beralih menatap Arumi yang tersenyum padanya.


"Namanya juga sudah terjadi. Masa gak mau nerima? Itu kan juga hasil perbuatanmu juga. Lagian, sudah menikah ini. Caramel juga pernah minta adek kan? Dia pasti senang mendengear kabar ini," ujar Arumi.


"Haaahh ... Alan cuman khawatir ma. Mama gak tau aja, pas Azalea lahiran Caramel. Alan merasa Azalea akan pergi dari Alan. Dunia Alan seakan hampir runtuh ma. Alan gak sanggup," ujar Alan dengan tulus.


Arumi tersenyum, "Tidak papa, kita jaga Azalea bersama-sama yah. Biar rumah kalian rame," ujar Arumi.

__ADS_1


Alan mengangguk pasrah, nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin dia mengambil kembali janin yang sudah terbentuk dari dalam perut istrinya.


"Mas, maaf." Lirih Azalea.


Alan kembali menatap istrinya itu, tangannya terangkat dan mengelus kepala istrinya dengan sayang. "Kenapa kamu nakal sekali hm? Apa kamu berpikir, meminta maaf lebih baik dari pada meminta izin? Kamu tidak tahu, bagaimana rasanya jantungku seakan berpindah tempat saat dokter berkata jika kamu pendarahan dan kondisimu kritis?" Kesal Alan. Walau begitu, Azalea tahu. Alan tidak akan tega marah padanya.


"Biar kamu izinin. Aku udah berapa lama bilang sama kamu, kalau aku mau lepas KB. Tapi kamu nya gak izinin terus." Ujar Azalea dengan mengerucutkan bibirnya.


"Astaga, kamu gak kapok pernah ada di ambang kem4tian begitu?!" Pekik ALan dengan tatapan tak percaya. Bukankah seharusnya Azalea yang trauma? Kenapa justru dirinya yang trauma.


Mendengar itu, Azalea menatap kesal ke arah Alan. "Terus mau gimana? Udah terlanjur jadi. Ini juga kan cetakan kamu!" Seru Azalea yang mana membuat Alan melongo. Tak heran, Caramel adalah duplikat Azalea.


.


.


.


Pagi hari, Calandra akan berangkat sekolah. Dia tampak sedang mencari sesuatu di lemarinya, tapi tak kunjung dia temukan.


Airin pun datang dengan dasi putranya yang ada di tangannya. Lalu, dia menyerahkan dasi itu pada Calandra.


"Makanya, kalau simpan dasi itu yang benar." Omel Airin.


Airin memakaikan dasi putranya. Putranya sangat terlihat tampan, dia mengagumi keelokan wajah putranya itu.


"Sudah, anak bunda sudah tampan." Ujar Airin memuji putranya itu.


"Bunda, kata temen Cala. Kenapa Cala nda milip papa? Mukana Cala bule katana,"


Deghh!!


Jantung Airin berdebar tak karuan, raut wajahnya berubah pias. Matanya bergerak liar, menghindari tatapan sang putra.


"Ehm ... karena ... karena opanya Cala bule. Papa nya bunda bule, bilang begitu pada teman Cala. Cala memiliki turunan bule. Wajah Bunda. dan ayah memang lokal. Tapi, opa Cala bule." Seru Airin sembari menangkup dagu anaknya.

__ADS_1


"Opa El nda bule yah?" Tanya Calandra dengan kening mengerut.


"Nanti Cala tanya sama opa yah. Ayo berangkat, nanti papa ngoceh di depan." Ajak Airin.


Calandra mengangguk, dia pun mengikuti sang mama menuju mobil. Terlihat, Reagan sudah berdiri sembari menatap kesal ke arah Calandra.


"Lama banget Cal? Kayak anak per4wan aja. Ngapain aja kamu? Dandan?"


Mendengar itu, seketika Calandra pun menjadi ikut kesal. "Mulutna celewat kali kayak ibu-ibu komplek! Kenapa lah ayah ini bica nikah cama bunda yang kalem. Nda ada untungna, ganteng aja nda. Celewet iya. Benel kata Calamel, ayah tuh nda modal."


Nata Reagan membulat, "Sembarangan yah kalau ngomong! Mana ada ayah enggak modal! Ayah modal yah! Buktinya, ayah buat adikmu di ...,"


"Sudah lah mas, nanti Cala telat. Kasihan dia," ujar Airin.


Mulut Reagan menganga tak percaya, apakah istrinya tengah membela putra mereka di bandingkan dengan dirinya?


"Sayang, kamu bela dia? Dia ngomong kalau aku gak modal loh!" Pekik Reagan.


"Emang kamu gak modal! Aku minta martabak kamu bawakan aku Sushi. Mana Sushi nya dapet dari rumah Bang Alan. Udah tau aku ngidam." KEsal Airin


Mendengar itu, Reagan tertawa kecil. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kan buat dedeknya udah elit di villa mahal. Masa ngidamnya sate, gak elit banget sayang," ujar Reagan.


Calandra pusing melihat keduanya berdebat soal makanan yang sudah berjalan dua minggu lamanya. Dia memilih untuk berjalan ke arah mobil, berniat ingin menaikinya. Namun, ekor matanya justru menangkap hal janggal dari luar pagar.


"Mobil itu." Gumam Calandra.


Calandra beralih menatap kedua orang tuanya yang masih berdebat pasal martabak. Lalu, kembali menatap mobil itu dengan tatapan rumit.


Sedangkan di dalam mobil, seorang pria tengah menatap Calandra dari balik kaca mata hitamnya. Keningnya mengerut dalam, saat dirinya mendapati jika Calandra tengah mengamati mobilnya.


"Anak itu memiliki insting yang kuat, sama seperti ibunya." Gumam pria itu.


"Tuan Lucian, anak itu telah menyadari kehadiran kita. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya anak buah pria bernama Lucian itu.


Pria itu menyunggingkan seringainya, "Justru, itu tujuanku. AKu ingin lihat, sampai mana kecerdasannya. Apakah dia akan mengikuti bakat ibunya, ataukah ... justru mengikuti ayahnya?"

__ADS_1


____


__ADS_2