
"Maaf, aku hanya memberimu satu kali kesempatan untuk kali ini saja mas. Jika setelah itu kamu tak menepati ucapanmu untuk berubah, aku memilih mundur."
Jawaban Azalea membuat Alan terdiam, dia sontak menjauhkan tubuhnya sembari melepaskan pelukannya. "Benarkah?!" Seru Alan.
Azalea berbalik, matanya menatap datar pada Alan. "Ingat mas, hanya sekali. Aku akan membantumu untuk keluar dari traumamu. Tidak semua wanita sama seperti ibumu dan cinta pertamamu. Jika kesempatan ini gagal, aku memilih mundur."
Alan mengangguk cepat, "Aku akan berusaha." Semangat Alan membuat Azalea tersenyum tipis.
BRAK!!
"BUKAK NDAAA!!!"
Keduanya sontak tersadar, buru-buru Azalea membuka pintu yang sempat tertunda. Agar, putranya tak semakin mengamuk nantinya.
Cklek!
Mata Alexix langsung menangkap Azalea yang keluar dari ruangan tersebut. Melihat sang mama yang tidak terluka sedikit pun, membuat Alexix sedikit tenang.
"Mama nda papa?" Tanya Alexix.
Azalea tersenyum lalu menggeleng perlahan, dia bisa melihat tatapan khawatir dari putranya itu.
"Mama engga pa ...,"
"PAPA APAIN MAMA HAH?! PAPA MALAHIN MAMA LAGI!! GECEL MAMA, BIAL LEKCI HAJAL PAPA!!"
"E-eh, jangan sayang." Pekik Azalea ketika Alexix mendorong kakinya agar sampai pada Alan yang berdiri tepat di belakangnya.
Azalea menahan tubuh Alexix agar tak memukuli Alan, putranya tak terima jika Azalea di sakiti oleh pria itu. Alexix sudah bertekad pada dirinya sendiri, jika dia akan membela sang mama jika sang papa berani menyakitinya.
"Papa pukul mama dimana na? Di kaki? Tangan na luka nda? Matana bengkak, papa tabok mama yah!!" Sentak Alexix dengan wajah memerah menahan kesal.
Alan hanya diam, dia mengamati ekspresi sang putra yang begitu emosi melihatnya menyakiti Azalea. Dia tak pernah melihat ekspresi pembelaan Alexix seperti sekarang kecuali karena Azalea.
"Siapa bilang? Mama sama papa lagi planning merencanakan adik untukmu dan Elouise."
Mendengar perkataan Alan, seketika Azalea melototkan matanya padanya. Dirinya tak terima dengan apa yang Alan katakan tadi.
Senyum Alexix mengembang, "Benelan? Mama cama papa mau buat adek? Buatna yang pelempuan yah, Lekci mau nambah catu adek lagi. Tapi pelempuan yah." Seru Alexix dengan senang.
"Hais, jangan dengarkan kata papa." Sahut Azalea.
"HUAAAA!!"
Saat Alexix ingin bicara lagi, tiba-tiba terdengar tangisan Elouise membuat ketiganya terkejut. Alan lebih dulu berlari ke kamar Alexix, khawatir Elouise terjatuh hingga menyebabkan dia menangis. Apalagi, mengingat bekas jahitannya yang belum sembuh.
"El." Panggil Alan saat melihat Elouise yang terduduk sembari menangis.
__ADS_1
"Papa! PApa!!" Jerit Elouise saat melihat Alan datang menghampirinya.
Bergegas, Alan mendekati putranya. Baru saja dia mendaratkan bokongnya di tepi ranjang, Elouise sudah menubruk tubuhnya membuat Alan seketika panik.
"El, hati-hati! jahitan mu belum kering!" Pekik Alan.
"Papa janan cakit hiks ... El nda mau di tinggal papa!!"
Elouise tetap menangis, dia menjerit ketakutan membuat Alan bingung harus melakukan apa. Bukan hanya Alan, bahkan Azalea tak pernah melihat putranya seperti saat ini.
"El kenapa nak?" Tanya Azalea datang mendekat.
Elouise menghentikan tangisnya, dia menarik turun ketah baju belakang Alan dengan paksaan.
"Hiks cucah!! cucahna di talik!!"
"Kenapa hm?" Tanya Alan. Elouise tak menjawab, dia hanya menangis sembari berusaha melihat punggung sang papa.
"Dalah hiks ... tadi El mimpi papa beldalah punggungna hiks ... Papa dalah na banak. Mana luka na, El mau liat hiks ... kita ke doktel ayok."
Alan terdiam, tatapannya beralih menatap Azalea yang berdiri di sebelahnya. Keduanya saling melempar tatapan, seakan bertanya mengenai perkataan Elouise.
"Papaaa!! hiks ... mana lukanaaa ... ke doktel ayok."
Alan melepaskan lilitan tangan Elouise dari lehernya, dia bergegas melepas kancing kemejanya. Setelah terlepas, lalu dia membelakangi Elouise sembari sedikit menurunkan kemejanya. Menampilkan punggung lebarnya yang sedikit terlihat berotot.
"Enggak ada kan darahnya?" Tanya Alan.
"Nda ada." cicit Elouise.
Alan kembali memakai kemejanya dan tak lupa mengancingkannya kembali. Walau, yang di pasang hanya dua kancing bawah saja.
"Ek mimpi buruk hm?" Tanya Alan.
Elouise mengangguk, dia bermimpi buruk. Sehingga, dia ketakutan. Mungkin karena lelahnya perjalanan dan tubuh yang belum sehat, membuat Elouise bermimpi buruk.
Melihat keterdiaman putranya, Alan langsung menyingkap baju yang Elouise kenakan. Dia melihat perban di perut Elouise, beruntung perban itu tak terdapat darah.
"Lukanya gimana?" Tanya Azalea.
"Gak papa, tadi aku sempet tahan perutnya agar tak terbentur." Terang Alan.
Alan meraih tubuh Elouise dan mendudukkan dalam pangkuannya perlahan, dia meraih air putih yang berada di atas nakas dan menyodorkan pada sang putra.
"Minum dulu, biar tenang." Titah Alan
Elouise menurut, dia meminum sedikit air itu, lalu dia mendorong gelas tersebut. "Cudah, El mau cama papa. Papa dicini aja," ujar Elouise.
__ADS_1
Alan mengangguk, dia menyerahkan gelas itu pada Azalea. Sedangkan Alexix, dia sudah berada di atas tempat tidur. Matanya menatap sang adik dengan kebingungan.
Elouise menyandarkan kepalanya pada dada sang papa, matanya menatap kosong ke arah depan. Melihat tatapan putranya, Azalea berusaha untuk menenangkannya.
"Gak papa, itu hanya mimpi. Mimpi adalah bunga tidur, jadi jangan takut oke." Terang Azalea.
Elouise mengangguk, berusaha menenangkan keadaan hatinya sendiri. Namun, selang beberapa menit Elouise tenang. Bocah itu baru menyadari sesuatu.
"Mama, mana pudingna? Udah jadi?" Tanya Elouise membuat tatapan Azalea seketika menatap Alan.
"Kenapa tatap aku? Kan kamu yang janji sama mereka," Bingung Alan dengan sebelah alisnya yang terangkat.
.
.
.
"Kamu habis dari mana?"
Langkah Diandra terhenti, dia baru saja sampai di rumahnya. Mata sang suami menatap dirinya dengan tatapan datar. Menandakan jika pria itu tengah marah padanya. Seketika, tubuh Diandra mematung. Dia lupa jika dirinya belum izin sebelum pergi pada suaminya.
"Mas, aku ..."
Terlihat, Erlangga mendekati sang istri dengan tangannya yang masuk ke dalam saku celananya. Matanya tak lepas dari mata sang istri.
"Pergi gak izin, di telpon gak di angkat. Di chat gak di balas, pergi tanpa bodyguard bahkan supir. Apa kamu lupa perintahku Diandra?"
Diandra meneguk kasar ludahnya, jika suaminya sudah menyebut namanya. Maka habis lah sudah, suaminya sudah marah terhadapnya.
"Katakan, habis dari mana kamu?" Tanya Erlangga ketika sampai di hadapan sang istri.
"Tadi aku ke supermarket sebentar," ujar Diandra mencari aman.
"Gak mau jujur hm? Jangan kamu kira aku tidak bisa mencari tahu kemana kamu pergi, Diandra? Kalau kamu ke supermarket, mana belanjaanmu? Tidak mungkin kamu pulang hanya dengan tangan kosong."
Degh!!
Diandra tak lagi bisa mengelak, tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Menahan rasa takut yang menyerang di hati.
"JAWAB!!"
"Aku pergi menemui Azalea." Seru Diandra sembari memejamkan matanya lantaran kaget.
"Apa?! Ngapain mommy menemui Azalea?!"
Deghh!!
__ADS_1
Diandra sontak menoleh ke belakang, dimana putranya berdiri dengan menatap tajam dirinya.
"Reagan."