
Alan membawa putranya ke rumah sakit, sebab Reagan dan yang lainnya masih sibuk berbincang mengenai pernikahan Reagan dan Airin. Karena khawatir meninggalkan istrinya terlalu lama, jadilah Alan kembali tanpa ikut nimbrung dengan urusan mereka.
"Om Reagan cepat juga yah, baru lamar kemarin sekarang nikah." Celetuk Elouise saat mereka berjalan menuju kamar rawat Calandra.
"Tapi nda modal, cuman berani lamar doang. Pas di siru nikahin malah panik, dasar om Reagan." Sahut Alexix sembari menggelengkan kepalanya.
Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia juga bingung dengan Reagan. Tak menyangka, jika pria itu sudah menikah. Di dalam hati Alan, dia merasa ikut senang. Dengan begitu, sudah dapat di pastikan Reagan telah menemukan cintanya.
Cklek!
Alan membuka pintu ruangan, terlihat Caramel yang sedang duduk di lantai sembari memakan biskuit bayi miliknya. Mendengar ada suara pintu, Caramel mendongak. Melihat siapa yang berdiri di hadapannya, senyumannya mengembang.
"Pa!! papapa!!" Seru Caramel. Bocah itu segera berdiri dan berjalan cepat menuju Alan
Hap!
Alan mengangkat putrinya ke dalam gendongannya, dengan gemas dia meng3cup pipi tembam Caramel. Bayi cantik itu sangat menggemaskan, sayangnya Alan hanya memiliki satu.
"Caramel nyusu terus yah, pipinya bau syusyu ini." Gemas Alan.
Sementara Si kembar, keduanya menghampiri Azalea yang Sepertinya tengah mengganti popok Calandra. Kening mereka mengerut dalam saat melihat bayi asing yang di urus dengan mama nya.
"Siapa bayi itu?" Tanya Elouise.
Azalea menoleh, "Hei sayang, bagaimana tadi? Mama tidak bisa menyaksikan pernikahan om Reagan secara langsung, apa acaranya berlangsung baik?" Tanya Azalea, tanpa menjawab pertanyaan Elouise.
"No, mama. El bukan tanya itu, tapi El tanya siapa dia." Unjuk El pada Calandra yang menatapnya dengan tatapan polos.
"Ehm dia adik kalian, Calandra." jawab Azalea dengan tersenyum tipis.
Mendengar itu, Elouise dan Alexix saling menatap. Hingga keduanya menatap Calandra sejenak, dan beralih menatap Alan.
"Pa, kapan papa taruh adiknya di perut mama?" Tanya Elouise dengan polosnya. Seingat dia, saat Azalea hamil Caramel. Alan berkata, jika dialah yang menaruh Caramel di perut sang mama.
"Apa?!" Pekik Alam dengan wajah terkejut karena pertanyaan putranya.
"Dan kapan mama melahirkannya? Kok udah besar?" Bingung Elouise.
Sementara Alexix, dia mengamati wajah Calandra. Wajah bayi itu tak mirip dengan keluarganya. Apalagi, Calandra memilik netra berwana coklat terang. Sementara dia dan keluarganya, memiliki netra coklat kehitaman.
"Bukan, dia bukan anak mama dan papa. Anak siapa dia?" Tanya Alexix dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Ehm, dia bayi yang semalam kita bawa kesini. Kalian ingat tidak?" Alexix dan Elouise berpikir, mungkin karema semalam mereka tak memperhatikan. apa yang Azalea bawa. Jadilah keduanya tak tahu keberadaan Calandra.
"El, LExi ... mama harap, kalian bisa menerima Calandra seperti adik kalian sendiri. Mama tahu, kalau anak-anak mama sudah besar. Sudah mengerti apa yang mama maksud," ujar Azalea sembari mengusap pipi kedua putranya.
Elouise menghela nafas pelan, "Kalau mama senang, El juga ikut senang." Ujar Elouise.
"Lexi?" Tanya Azalea, menatap putranya yang dingin itu.
Alexix menghela nafas pelan, "Ya, apapun untuk mama." Pasrah Alexix.
"Terima kasih sayang, terima kasih." Seru Azalea dnegan senyum mengembang.
"Siapa namanya?" Tanya Elouise, sembari memegang tangan Calandra. Dia bisa merasakan, tangan Calandra yang kurus. Sejenak, Elouise prihatin dengan keadaan bayi itu.
"Cala, Calandra Abrisham." JAwab Azalea.
"Calandra? Kenapa namanya seperti kalender. Pasti papa yang menamainya. Aku benar kan?" Celetuk Alexix, yang mana membuat Alan mendelik sebal.
.
.
.
"Jadi sepakat yah, malam ini Airin bisa bermalam disini dulu sama Reagan. Bari besok, kami jemput untuk ke rumah utama," ujar Diandra dengan senyum mengembang.
"Baik tante," ujar Airin yang duduk di sebelah Diandra.
"Kok tante? Mommy dong, kan udah jadi menantu," ujar Diandra dengan full senyum.
Airin menunduk malu-malu, dia belum terbiasa dengan keluarga Reagan. Menurutnya, keluarga Reagan sangatlah baik menerimanya. Apalagi Diandra, Airin bersyukur karena dia tidak dapat mertua seperti mantan mertuanya.
"Untuk resepsinya akan di adakan kapan?" Tanya Erlangga.
"Ehm, sepertinya gak usah. Ini bukan pernikahan pertama Airin, jadi rasanya tidak perlu." Sahut Airin.
mendengar itu, Reagan menegakkan duduknya. Dia menatap lekat wanita yang saati ini telah berstatus sebagai istri.
"Gak bisa! Masa gak ada resepsi. Aku niatnya mau ngundang mantan kamu. Biar dia lihat, kamu bisa dapetin yang lebih dari dia." Seru Reagan membanggakan dirinya.
"Sombong sekali. Mas kawin cuman lima ribu," Sinis Liam.
__ADS_1
"Bukan sombong abang ipar, tapi realistis. Mas kawin sebenarnya adalah cintaku untuk adikmu." Sahut Reagan dengan lembut.
"Realistis matamu."
"Hais, sudah-sudah. Kalian ini. Airin! Benar kata Reagan, kamu harus melakukan resepsi. Setelah itu, terserah kalian mau bulan madu kemana." Seru Arumi menengahi perdebatan kedua pria itu.
Mendengar kata bulan madu, tiba-tiba Reagan seperti tersiram air yang sejuk. Dia merangkul Airin sembari menatap semua anggota secara bergantian.
"Bulan madunya gak perlu selama itu, besok Reagan ajak dia bulan madu." Seru Reagan dengan semangat.
Mendengar itu, Diandra langsung meraup wajah putranya dengan tangannya. Raut wajahnya terlihat sangat kesal atas penuturan putranya yang seringan itu.
"Bulan madu aja cepet, tadi aja di suruh nikah ngang ngong ngang ngong!"
Reagan merengut sebal, padahal dirinya sudah merencanakan ingin berbulan madu dimana. Wajar saja jika dia kaget, karena target nikahnya beberapa bulan ke depan. Bukan saat ini.
"Yasudah, mommy sama daddy pulang dulu. Kami mau menyiapkan keperluan penyambutan menantu kami besok. Dan kamu Reagan! Awas saja kalau macam-macam!"
"Iya-iya!" Rengut Reagan.
Diandra beranjak berdiri, di ikuti oleh Airin. Setelah itu, keduanya saling memeluk sebelum Diandra pulang. Lalu, Diandra berjalan menuju Arumi dan melalukan hal sama seperti saat bersama Airin tadi.
"Maaf kalau anak saya merepotkan jeng Arumi, nanti kalau dia nakal. Jewer saja, saya ikhlas." Ujar Diandra dengan tersenyum lembut.
"Jeng bisa saja. Saya masih gak nyangka, kalau kita besanan dua kali." Seru Arumi dengan senang.
"Benar, putriku sering cerita tentangmu. Tapi sayangnya, kita jarang punya waktu untuk bertemu. Namun, sekarang malah akan sering bertemu setelah anak-anak kita nikah," ujat Diandra.
Diandra dan Erlangga akhirnya pulang, meninggalkan Reagan yang akan bermalam di kediaman Airin. Reagan mendekat pada istrinya itu, dia merangkul pinggang Airin dengan posesif.
"Abang ke kamar dulu, ayo sayang." Pamit Liam pada yang lain, dan mengajak istrinya serta anaknya pergi dari sana.
"Ehm nak Reagan kalau mau istirahat, di kamar Airin aja yah. Mama tinggal dulu." Pamit Arumi.
"Hem, terima kasih ma!" Seru Reagan.
Setelah Priska dan Arumi pergi, Reagan menatap Airin. Terlihat jelas, jika istrinya itu tengah malu-malu menatapnya. Begitu pun dengan Reagan, dia juga terlihat canggung. Ini pertama kalinya Reagan menikah, tentu saja masih hal baru untuknya.
"Jadi sekarang gimana? Mau langsung otw buat anak?" Tanya Reagan dengan polosnya.
Mendengar itu, seketika Airin mendelik kesal. "Adonannya belum beli! Beli dulu kalau mau buat!" Pekik Airin dan menepis tangan Reagan dari pinggangnya. Lalu, dia berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Reagan yang melongo di buatnya.
__ADS_1
"Emangnya ada adonannya yah? Apa mungkin, dulu Farel gak beli adonannya. Makanya gak jadi-jadi." Batin Reagan. Otaknya berusaha berpikir keras.
"Nanti tanya Alan saja deh. Apa saja adonan buat anak, dia kan udah jadi tiga. Pasti udah hafal sama bahan-bahannya." Gumam Reagan dengan pikiran anehnya.