
Airin baru saja keluar dari kamar mandi, dia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Langkahnya terhenti saat tak mendapati Reagan yang berada di kamarnya. Lalu, sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol di balkon kamarnya. Dia pun memutuskan untuk menghampiri asal suara.
Terlihat, Reagan sedang berdiri membelakangi pintu. Dia tengah bertelponan dengan Alan, membahas pertanyaan tentang bahan yang akan dia gunakan untuk membuat bayi.
"Jadi gak ada bahannya? Kenapa gak bilang dari tadi! B0doh banget aku." Pekik Reagan.
"Ck!"
Tuutt!
Reagan mematikan ponselnya, dia mengomel sembari menatap ponselnya itu. Raut wajahnya terlihat kesal. Lalu, dia pun berbalik. Bertapa terkejutnya dia saat melihat Airin yang berdiri menatapnya.
"Ai! Ngagetin aja sih!" Pekik Reagan sembari memegangi d4danya.
"Kamu habis telpon siapa?" Tanya Airin dengan alisnya yang terangkat sebelah
Mendengar itu, satu sudut bibir Reagan terangkat, dia mendekati Airin sembari mencolek dagu wanita itu. Serasa di goda, Airin pun menepis lengan Reagan dengan kesal.
"Ai cemburu yah? Tenang aja kok, babang Reagan setia. Mau bukti? Belah d4da abang, cuman nama neng Airin disana." Gombal Reagan.
Bugh!!
Airin memukul keras d4da Reagan, matanya menatap tajam Reagan yang justru terkekeh di buatnya.
"Gak lucu! Udah tua! Gak usah gombal!" Omel Airin. Setelah itu, wanita tersebut berbalik dan berjalan menuju ranjang.
Mendengar itu, Reagan tersenyum. Dia menutup pintu balkon, dan berjalan menghampiri Airin. Saat Airin akan merebahkan dirinya, tiba-tiba Reagan menariknya dan mendorongnya ke ranjang. Pria itu menindih wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya.
"REAGAN!!" Pekik Airin.
"Kamu mencoba untuk membohongiku rupanya hm?" Suara berat Reagan, mampu membuat Airin terdiam. Wajah mereka terlihat sangat dekat, bahkan Airin bisa merasakan deru nafas Reagan.
"Membuat anak tidak membutuhkan bahan, kecuali ... kita ...,"
"Menyingkirlah!!" Pekik Airin.
Bukannya menyingkir, Reagan justru menahan wanita itu. Airin panik saat Reagan membuka kancing kemeja atasnya. Dia membuang wajahnya saat otot d4da pria itu terlihat jelas di depan matanya. Pipi Airin bersemu merah, jantungnya berdegup tak karuan.
"Bolehkah, malam ini kita ...,"
Airin beralih menatap Reagan, dia seakan tersihir dengan tatapan pria itu. Perlahan, Reagan mendekatkan wajahnya pada Airin. Airin memejamkan matanya, dia pasrah dengan apa yang Ruangan lakukan. Malam ini, menjadi saksi atas bersatunya cinta mereka.
.
.
__ADS_1
.
Pagi hari, Airin terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Baru saja dia membuka mata, dirinya sudah di suguhkan oleh pemandangan pria tampan yang kini menatapnya dengan penuh cinta.
"Selamat pagi sayangku," ujar Reagan dengan senyum tampannya.
"Reagan." Gumam Airin. Mengingat apa yang mereka lakukan semalam, membuat pipi Airin kembali memerah. Dia mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya itu.
Melihat tingkah Airin, Reagan pun tertawa. Pria itu bahkan sudah memakai bathrobe, berniat untuk mandi. Namun, Reagan malah menunggu istrinya itu bangun dari tidur lelapnya.
"Reagan, kita ..."
"Ya, semoga cepat kita mendapat momongan. Aku ingin memiliki anak darimu," ujar Reagan sembari menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
Mendengar itu, Airin termenung. Hatinya mencelos, dia mengingat pernikahannya dengan Farel yang kandas karena dirinya yang tak bisa memberikan keturunan untuk mantan suaminya itu.
"Kalau aku belum kunjung hamil juga, apa kamu akan menikah lagi dan menceraikan?" Tanya Airin dengan mata berkaca-kaca.
Reagan terkesiap, dia sadar atas ucapannya. Pria itu langsung memeluk tubuh Airin, dan memeluknya dengan erat.
"Dengar, aku berkata ingin anak darimu. Bukan dari wanita lain. Kita akan berusaha sampai kamu hamil hm. AKu yakin, kita pasti akan berkesempatan untuk memiliki anak," ujar Reagan.
"Jika tidak?" Tanya Airin sembari mendongak, menatap wajah Reagan yang berada di atasnya.
"Jika tidak, berdua denganmu saja sudah cukup. Kita bisa mengadopsi anak, bahkan adikku pun mengadopsi seorang bayi. Padahal dia sudah memiliki anak." Ujar Reagan dengan senyum mengembang.
"Itu lah, nanti sore kita ke rumah sakit jika kamu penasaran dengan anak yang dia adopsi. Keadaannya sangat memperihatinkan saat adikku menemukannya. Kau akan sedih jika mendengar kisahnya langsung dari Azalea." Terang Reagan.
"Aku mau kesana." Lirih Airin.
"Tentu." Ujar Reagan sembari mengusap lembut kepala istrinya.
Sementara itu, di rumah sakit. Azalea tengah menyuapkan makan Calandra. Dokter sudah mengizinkan Calandra untuk makan, walau hanya di perbolehkan bubur saja. Sedangkan Caramel, makan pagi nya kali ini adalah roti. Bayi itu akan mudah bosan jika memakan bubur ataupun nasi lembek.
"Agiii!! Paaa!!" Pekik Caramel saat rotinya sudah habis.
"Lagi? Tadi udah tiga lembar loh, nanti Caramel kekenyangan. Nanti lagi yah." Sahut Alan yang khawatir.
"Ekheee!! Agii!! Agiii!!" Rengek Caramel.
Alan pun mengambil satu lembar roti tawar dan mengoleskan coklat padanya. Lalu, dia menyerahkannya pada Caramel. Bayi itu sangat antusias, dia mengambil roti itu dan langsung memakannya dengan lahap.
"Banyak amat makannya." Gumam Alan.
Mendengar perkataan suaminya, Azalea tertawa kecil. "Memang banyak dia makannya Mas, laperan terus. Kamu gak liat tubuhnya gemuk begitu." Ledek Azalea.
__ADS_1
Seakan tahu jika dia sedang di ledek, Caramel pun menatap kesal ke arah sang mama. Dia melempar roti yang tersisa di tangannya ke lantai. Lalu, dia menidurkan dirinya sembari menendang kakinya.
"EKHEEE!! EKHEE!! HUAAAA!!"
"Eh ... eh ... enggak kok, mama salah mama. Caramel gak gemuk, caramel langsing kok." Alak panik, dia segera mengangkat putrinya ke gendongannya.
Azalea menatap putranya yang tengah merengek manja, meminta sang papa untuk mengakui jika dirinya kurus. Tak gemuk seperti apa yang mama nya bilang.
Sementara Calandra, mulutnya sudah kosong. Dia menatap Azalea yang masih memperhatikan Caramel. Lalu, tatapannya beralih pada mangkok bubur di hadapannya. Karena masih kapar, dengan mandiri Calandra mengambil sendok dan menyendokkan bubur itu ke mulut nya.
"Eh, astaga. Maaf sayang." Pekik Azalea saat menyadari tingkah Calandra.
Dengan polosnya, Calandra memakan buburnya. Dia melepaskan sendok di genggamannya ketika Azalea menariknya.
"Cala laper banget yah hm? Nanti habis ini minum susu yah, biar tambah kenyang," ujar Azalea dan kembali menyendokkan bubur itu pada mulut Calandra.
Tok!
tok!
"Masuk!" Seru Alan.
Cklek!
Terlihat, Asisten Kendrick memasuki ruang rawat. Dia datang untuk menjemput si kembar dan mengantarnya sekolah. Sesuai apa yang Alan suruh.
"Alexix, Elouise. Bersiaplah, Paman Kendrick sudah datang!" Seru Alan pada kedua putranya yang tengah berada di balkon.
Alexix dan Elouise pun berlari, karna terburu-buru Elouise tak sengaja tersandung kakinya sendiri. Dagunya terhantuk lantai dengan cukup keras, hingga membuat Elouise memekik kesakitan.
Brughh!!
"AWWW!!"
"EL!!" Pekik Alexix.
Alan dan Alexix buru-buru menghampiri Elouise. Alan langsung mengangkat Elouise dan memeriksa keadaannya.
"Mana yang sakit?" Tanya Alan. Sementara Elouise, dia memegangi mulutnya. Karena dagunya yang terbentur cukup kuat, membuat area di sekitar mulutnya ikut sakit.
Sementara Alexix, dia berjongkok saat mendapati suatu benda berwarna putih. Kemudian, dia mengambilnya. Benda itu tak asing baginya, dia bergegas berdiri dan menunjukkannya pada Elouise.
"El, ini gigimu bukan?" Tanya Alexix dengan wajah polosnya.
melihat itu, Elouise membuka mulutnya. Seketika, tawa Alan dan Alexix pecah saat melihat bahwa ternyata gigi atas Elouise copot.
__ADS_1
"HAHAHAHA!! GANTI GELAR KAU! ELOUISE, SI PANGERAN OMPONG HAHA!!"
"Huaaa!!!"