
Tiga bulan kemudian.
Alan dan Azalea tengah bersiap, keduanya akan menghadiri acara di sekolah si kembar. Caramel pun sudah di dandani cantik oleh Azalea, bayi gembul itu seakan mengerti jika orang tuanya ingin mengajaknya pergi.
"Pegang Caramel dulu mas, aku dandan sebentar," ujar Azalea.
Alan menerima putrinya, keningnya mengerut saat melihat sang istri mengoleskan lipstik merah di bibirnya. Seketika, raut wajah Alan berubah datar. Dia memindahkan Caramel di lengan kirinya.
"Sayang." Panggil Alan yang mana membuat Azalea menoleh.
"Hm?"
Alan menghapus lipstik itu dengan jari jempolnya. Hal itu, tentu membuat Azalea memekik kesal.
"Kok di hapus sih mas!!"
Alan tetap diam, dia meraih tisu basah dan menghapus lipstik yang tertinggal di bibir istrinya. Azalea hanya pasrah, dia tak bisa melawan apa yang suaminya lakukan saat ini
"Merah sekali, kamu mau dangdutan apa gimana? AKu gak suka kamu dandan keluar." Ujar Alan dengan penuh penekanan.
"Apa si mas, ini dandanan aku gak tebel kok. Biar fresh aja mukanya."
"Muka kamu udah cantik, gak usah dandan lagi. Aku gak suka, kamu ngerti gak sih?" Sentak Alan.
Azalea memajukan bibirnya, dia kesal dengan teguran sang suami. Terpaksa, dia harus menghapus dandanannya dan hanya memakai bedak tipis saja agar pria itu tidak mengamuk.
"Ayo, jangan lama-lama. Nanti acaranya keburu mulai, kasihan si kembar." Ajak Alan.
Karena sudah terlanjur sebal, Azalea asal mengambil tasnya. Dia berjalan lebih dulu, meninggalkan Alan yang menghela nafas pelan.
"Lihat mama mu, ngambek aja kerjanya. Dulu, mana pernah ngambek." Ujar Alan pada putrinya.
"Mama ambek?" Tanya Caramel.
"Iya, Caramel gak boleh ngambek sama papa." Ujar Alan menatap gemas putrinya.
"Nta duit, nda nambek nambek nti." Ujar Caramel sembari menadahkan tangannya.
Alan meringis, masih bayi saja putrinya sudah pintar memanfaatkan keadaaan.
"Ngapain kamu minta duit huh? Masih bayi," ujar Alan.
Bugh!!
"Arghh!!" Alan tak percaya jika putrinya memukul pelipisnya. Matanya menatap kesal putrinya yang menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Cakit?" Tanya Caramel dengan polosnya.
"Sakitlah! Masa enggak! Ada-ada aja kamu ini, masa papanya di pu ...,"
BUGH!!
__ADS_1
"Astaga ...." Alan benar-benar kaget dengan kelakuan bar-bar putrinya.
"Ambah cakit." Ujar Caramel dengan senyuman manis di bibirnya.
"Iya lah Mel, terserah kamu. Pusing papa sama tingkahmu." Rengek Alan.
.
.
.
Sesampainya di sekolah si kembar, mobil Alan sudah di kepung oleh awak media. PAra bodyguard yang Alan bawa langsung mengamankan mereka. Alan tidak tahu apa yang membuat mereka mengetahui jika Alan akan ke sekolah si kembar.
Saat Alan membuka pintu, seorang bodyguard pun melindunginya. Caramel yang berada di gendongan Alan pun terlihat panik dengan banyaknya manusia.
"EKHEE!!"
"Syutt, gak papa." Bisik Alan.
Alan menengok, dia meraih tangan Azalea untuk ia genggam.
"Tuan Alan, bisa minta waktunya sebentar?"
"Maaf, kami buru-buru." Ujar Alan.
Alan tak memperhatikan, jika ada seorang yang tak di kenal meraih pipi Caramel. Hingga, membuat bayi itu berteriak kesakitan.
Alan langsung menatap tajam orang itu, dia mengusap pipi putrinya yang memerah. Bahkan, terlihat ada bekas goresan kuku di sana.
Bantuan satpam sekolah pun datang, Alan dan Azalea bisa keluar dari kerumunan itu. Tangisan Caramel belum kunjung berhenti, bayi itu merasa kesakitan.
"Kemari kan mas. biar aku susui saja." Pinta Azalea.
Alan menyerahkan Caramel pada Azalea, dia mencari kursi duduk untuk istrinya itu. Setelah dapat, Azalea langsung duduk untuk menyusui Caramel. Tak lupa, dia menutupi nutrisinya dengan kain yang selalu ia bawa.
"Tuan." Seorang bodyguard datang mendatangi Alan.
"Bagaimana?" Tanya Alan langsung ke intinya.
"Orangnya sudah kami tahan, dia penggemar anda. Mungkin, dia merasa gemas dengan nona kecil," ujar Bodyguard itu.
Alan mengangguk, kejadian seperti ini seringkali terjadi. Maka dari itu, Alan harus membawa bodyguard untuk keamanan mereka. Acara besar seperti ini, tentu membuat para wartawan berdatangan.
"Papa!"
Si kembar datang, keduanya mengenakan kostum gurita. Hal itu, tentu membuat Alan tertawa. Begitu pun dengan Azalea. Caramel yang tadinya masih menangis, seketika terdiam saat mendengar tawa orang tuanya. Tangan mungilnya menyingkap sedikit kain yang menutupinya untuk melihat keadaan luar.
"Papa kira kalian jadi pangeran, ternyata malah jadi guritanya. Hahahaa!!"
Raut wajah si kembar cemberut, mereka sangat kesal mendengar ledekan itu. Apa salahnya jadi gurita? Mereka hanya perlu berdiam karena tidak ada dialog.
__ADS_1
"Biar lah, biar nda ngomong. Jadi pangeran, banyak ngomongnya." Ujar Elouise.
"Sudah mas, ayo. Caramel sudah anteng, kita segera masuk aula." Ajak Azalea.
Mereka pun memasuki Aula, Alan dan Azalea duduk di tempat yang sudah di siapkan sekolah. Sementara si kembar, sudah kembali ke belakang panggung untuk melihat arahan guru.
"Kakak." Panggil Caramel.
"Iya, kakak mau tampil." Sahut Azalea menatap putrinya yang berada di pangkuannya.
"Kakak." Panggil Caramel sekali lagi.
Acara pun di mulai, pertunjukan anak-anak membuat mereka sedikit terhibur. Apalagi melihat si kembar yang hanya berjalan-jalan dengan raut wajah datar mereka. Jujur saja, kostum yang mereka kenakan membuat keduanya terlihat sangat menggemaskan.
"Beri tepuk tangan untuk murid yang baru saja tampil."
Prok!! Prok!! Prok!!
Azalea dan Alan bertepuk tangan. Melihat kedua orangnya yang bertepuk tangan, Caramel pun turut bertepuk tangan dengan kencang.
"Selanjutnya, akan ada pembawaan surat untuk orang tua dari perwakilan masing-masing kelas."
Lampu menyorot pada seorang bocah yang tak lain adalah Elouise. Senyum Azalea mengembang, dia menghargai keberanian putranya itu. Suasana mendadak menjadi hening, hanya ada suara mic yang terdengar lirih.
"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah datang ke acara sekolah kami. Terutama, papa dan mama. Terima kasih sudah menyempatkan datang." Ujar Elouise.
"El mau cerita, kalau El punya mama yang hebat. Mama yang urusin saat El sakit ginjal yang mengharuskan El cuci darah. Mama yang bekerja siang malam untuk El. Sampai akhirnya, El sembuh sekarang. Semuanya berkat perjuangan mama."
Air mata Azalea menetes, dadanya terasa bergemuruh. Dia tidak tahu, jika pesan itu adalah untuk dirinya.
"Mama, El sayang mama. Terima kasih, karena mama mau menuruti kemauan El. Kembalinya mama sama papa, adalah kado terindah yang kalian berikan untuk kesembuhan El."
"Mama, El sayang mama. Selamat ulang tahun mama."
Tes!
Azalea memeluk Alan, dia menangis terisak di pelukan sang suami. Tak hanya Azalea yang menangis, Alan pun turut menangis.
"Selamat ulang tahun sayang." Bisik Alan.
Lampu kembali terang, Azalea menarik dirinya dan melihat kembali ke arah panggung. Di sana, terlihat Elouise dan Alexix yang tengah memegang kue. Raut wajah keduanya terlihat berkaca-kaca.
"Kami mencintaimu mom, terima kasih sudah menjadi ibu yang hebat."
Azalea segera menghampiri kedua putranya, dia berjongkok dan menyambut pelukan hangat keduanya. Isakan tangis Azalea terdengar, Alan yang bergantian menggendong Caramel pun turut menjatuhkan air matanya.
"Mama sayang kalian, pangeran-pangeran hebat mama."
____
Beberapa part lagi nanti ada Caramel c4del kali yah😆
__ADS_1