Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
"Apa yang tidak aku ketahui selama ini"


__ADS_3

CKIITT!!


Alan mengerem mobilnya secara mendadak setelah Alexix memberitahukan kabar itu dengannya. Alan tak tahu menahu jika gelang yang putrinya pakai tersimpan GPS. Putranya bahkan yang lebih mengerti tentang keselamatan Caramel di bandingkan dengan dirinya.


"Pa, apa kau masih mendengarku?" Seru Alexix dari sana.


"Haaahh ... baiklah. Jaga adikmu. Bagaimana dengan mama?" Tanya Alan sembari memutar balik mobilnya.


"Mama ... mama kondisinya drop, dari tadi menangis terus. Kakek Er datang untuk menenangkan Mama." Ujar Alexix dengan suara lirih.


"Berikan mama vitaminnya, minta dia beristirahat." Pinta Alan.


Reagan baru menyadari jika mobil Alan berbelok, dia pun langsung menatap ke arah Alan meminta penjelasan. Setelah Alan meletakkan ponselnya kembali ke dalam jasnya, barulah Reagan angkat suara.


"Kenapa kita putar balik?!" Pekik Reagan.


"Kita kembali ke bandara, Calandra saat ini berada di Amerika. Tepatnya di kota Boston. Jangan tanya kenapa, hubungi yang lain agar secepatnya menyusul!" Titah Alan.


Reagan tertegun, "Boston? Secepat itu? Bagaimana bisa? Siapakah sebenarnya istri dari Arley ini. Kenapa dia begitu mudah dan cepat menjalankan rencananya. Dan apa, tujuannya membawa Calandra bersamanya?" Batin Reagan dengan tanda tanya yang memenuhi kepalanya.


.


.


.


KREEETT!!


Tubuh kecil Calandra di seret masuk oleh seorang wanita ke dalam ruang bawah tamah. Dia tak peduli, jika bocah malang itu merasa kesakitan atas perbuatan kasarnya.


"Diam! Jangan menangis! Atau, peluru dalam pistol ini akan ku tembakkan padamu!!" Pekik wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jessica.


Jessica membawa Calandra ke sebuah sel, dia membuka Sel itu dam mendorong tubuh rapih Calandra ke dalamnya. Calandra langsung terjatuh ke arah depan, tangannya sampai terkilir karena perbuatan kasar wanita itu.


"LEPACIN CALAAA!! LEPACIN CALAAA!!" teriak Calandra sembari berlari ke arah Sel. Anak itu berusaha membuka pintu sel, tapi sayangnya Jessica justru menguncinya.


Jessica tersenyum menyeramkan sembari menatap Calandra. Wanita itu merunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Calandra. Seringainya membuat Calandra sedikit memundurkan langkahnya.


"Diam disini! Kau harus sama seperti ibumu. Membusuk dalam penjara!" Bisik Jessica yang mana membuat tubuh Calandra bergetar hebat.

__ADS_1


"Bunda Cala lagi cakit, dia lagi ictilahat di lumah cakit." Lirih Calandra.


"Dia, bukan ibumu. Kamu hanya anak pungut! Kau mengerti apa itu anak pungut? Kau anak yang sudah di buang oleh orang tua kandungmu. Dan Kau di pungut oleh ayah dan bundamu." Ujar Jessica dengan nada menyeramkan.


Calandra menggeleng, air matanya jatuh di pipi gembulnya. Tangannya saling meremas kuat untuk menyalurkan perasaan takut yang menyerang hatinya.


"Cala mau cama ayah dan bunda." Ujar Cala dengan nada yang sedikit naik.


"Syuttt ... jangan berisik jika kau tidak mau hari ini, menjadi hari terakhir kamu bernafas." Bisik Jessica.


Calandra ketakutan, dia menatap Jessica yang tak lama pergi dari depan sel itu. Calandra memundurkan langkahnya, karena tak sadar. Kaki Calandra tersandung sesuatu hingga membuat dirinya terjatuh.


BRUGH!!


"ARGHH!!"


Calandra berusaha bangun, dia memegangi tangannya yang terasa sakit. Wajah anak itu memerah, dia meringis menahan sakit.


"Cakit kali, kenapa dolongna halus kelas-kelas. Kan bica bilang baik-baik cepelti bunda. Bunda aja kalau malah cuman melotot, ini malahna dolong. Lugi kali olang yang jadi anakna." Cicit Calandra.


"Hem ...."


"Ehm ... citu olang bukan?" Tanya Calandra dengan takut.


"Ehmmm ... hemmm." Orang itu terus bergumam, membuat Calandra bingung di buatnya.


Calandra mendekat, dia memberanikan diri untuk melihat orang itu lebih dekat. Dengan penasaran, dia memegang siku orang itu.


"EH?!" Pekik Calandra saat orang itu mundur menjauh seperti ketakutan.


"Ja-jangan ... jangan ... ja-jangan ... sakit."


Calandra mengerjapkan matanya, tatapannya beralih ke arah tangannya dan kembali pada orang itu.


"Cala nda pukul loh, cuman centuh cidikit doang." Ujar Calandra sembari kembali berjalan mendekat.


Terlihat, tubuh orang itu bergetar hebat. Cala yang melihatnya berinisiatif mengelus bahunya.


"Janan takut, Cala nda gigit. Nda cepelti ayah Cala, yang celing gigit bunda." Ujar Calandra sembari mengusap bahu bergetar orang itu.

__ADS_1


Perlahan, orang itu mulai tenang. Dia sedikit mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Calandra. Sontak, tatapan keduanya bertemu. Seperti ada aliran listrik yang mana membuat keduanya tak henti memutus tatapan itu. Sampai, Calandra memutuskan tatapannya dari orang yang yang tenyata dia adalah seorang wanita.


"Lapar." Ujar wanita itu pada Calandra.


"Lapal? Ehm. ... cebental." Calandra memeriksa kantong celananya, dia mengambil sesuatu dari kantong celananya dan menyodorkannya pada wanita itu.


"Cala cuman punya pelmen, ini juga punya Calamel. Nda papa, kamu makan dulu. Nanti Cala belikan Calamel yang balu, makanlah." Ujar Calandra, sembari memberikan permen itu.


Perlahan, tangan wanita itu terangkat dan mengambil permen yang ada di tangan Calandra. Dia buru-buru membuka bungkusnya dan memakannya. Calandra yang melihat itu tersenyum, dia menatap wanita yang terlihat mengenaskan itu.


"Nda ada kamal mandi, kacian kali badanna kotol. Kata bunda, kalau badanna kotol nanti kuman nempel. Jadi kita bica cakit, nanti kelual dali cini kita mandi yah." Ajak Calandra.


Wanita itu hanya diam, dia menghabiskan permen yang Calandra berikan. Lalu, wanita itu kembali menyodorkan tangannya pada Cala. Seakan kembali meminta permen. Calandra yang melihat itu pun segera memeriksa kantongnya.


"Yah, itu pelmen Cala telakhil. Cala udah nda ada lagi." Lirih Calandra.


Wanita itu kembali menarik tangannya, dia memeluk lututnya dan kembali membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Ini olang ciapa cih? Kacian kali." Lirih Calandra.


Sementara itu, di pesawat. Reagan dan Lucian sibuk berdebat, keduanya saling menyalahkan atas apa yang terjadi. Alan yang sebagai penengah pun bingung di buatnya.


"Pokoknya ini semua salahmu! Kenapa kamu gak bisa menangkap si pelaku hah?! Kamu seorang Jendral, ajaklah pasukan kamu untum basmi hama bumi itu!" Seru Reagan dengan tatapan kesal.


"Kau pikir bisa seenak jidatmu hah?! Aku perlu bukti uang kuat! AKu tahu wanita itu pasti pelakunya! Tapi dia bermain dengan bersih, hanya menyisakan CCTV rumah saat adikku di bawa bawahan wanita itu. Bukti itu tak bisa di gunakan! memangnya kamu pikir sebelumnya aku enggak ada usaha apa?! Kamu tidak tahu siapa wanita itu!" Kesal Lucian yang sedari tadi tertuduh.


"Seharusnya kamu datangi rumahnya dan matikan dia di tempat! Memang kamu ini b0doh! Aku jadi meragukan keaslian pangkatmu." Dengus Reagan.


"KAU!! JESSICA ADALAH KEPONAKAN YAKUZA! APA AKU TIDAK WARAS, SEHINGGA MENYERAHKAN NYAWAKU SENDIRI?!"


Reagan dan Alan sama-sama terdiam, mata mereka melebar sempurna. Keterkejutan mereka, membuat Lucian memutar bola matanya malas. Reagan menepuk bahu Arley yang duduk di kursi depan.


"Istri anda Yakuza?" Tanya Reagan.


Arley hanya diam, sampai akhirnya dia angkat suara. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu." Lirih Arley.


"Noh! Suaminya aja enggak tahu! Kalau ngarang jangan keterlaluan dong!" Pekik Reagan yang mana membuat Lucian ingin menembakkan pistol nya ke mulut pria itu.


Sementara Arley, dia tengah terdiam. Dia memikirkan semua masalah ini, terlebih istrinya yang jadi tersangka atas penculikan Calandra.

__ADS_1


"Aku tidak percaya ini, Jessica wanita yang baik. Mana mungkin, dia sejahat itu. Apalagi dia tahu, jika aku menginginkan seorang penerus yang berasal dari bagian diriku sendiri. Apa yang tidak aku ketahui selama ini." Lirih Arley.


__ADS_2