
Seorang pria menuruni tangga, tangannya dia masuk kan ke dalam saku celananya. Raut wajah pria itu terlihat sangat datar. Menatap, raut kedua adiknya yang tengah bersitengang.
"Farel selingkuh?" Tanyanya ketika dia sampai di hadapan Airin.
"Bang Liam, nanti Airin jelasin yah."
"Se-ka-rang! Abang gak suka di tunda!" Seru pria bernama Liam itu, yang merupakan kakak dari Airin. Liam menjabat sebagai kepala polisi. Sehingga, tak heran. Jika saat ini, Lia menunjukkan sisi pemaksaannya.
Airin meneguk kasar lud4hnya, raut wajah abangnya sudah terlihat sangat marah. Netranya, melirik ke arah tangga. Dimana seorang wanita yang tak lain istri dari Liam yang sedang berdiri mengamatinya.
"Farel ... Farel menikah dengan sahabatku. Bang," ujar Airin dengan lirih.
"Apa?! Dia gak ada izin dengan abang untuk madu kamu. Kurang ajar sekali dia!!" Liam menggulung lengan kemejanya, dia bersiap akan pergi. Namun, Airin menahan lengan abangnya itu.
"Semuanya salah Airin, Airin yang gak bisa jadi istri sempurna. Abang tahu, jika pernikahan kami sudah tujuh tahun lamanya. Tapi, Airin belum bisa membuat pernikahan kami lengkap. Sedangkan Sindi, dia bisa memberikan keturunan pada Mas FArel."
Liam menarik lengannya, lalu menatap tajam adiknya. Dia berkacak pinggang, sembari menatap adiknya yang tengah tertunduk itu.
"Kamu sudah melalukan berbagai pemeriksaan, dan hasilnya kamu sehat. Kalian hanya perlu bersabar, kenapa jadi seperti ini huh?"
Airin dan Farel sudah melakukan pemeriksaan, keduanya pun di nyatakan sehat. Namun entah mengapa, keduanya belum kunjung di beri momongan.
"Mungkin, jodoh Airin sama Mas Farel hanya sampai disini."
"Jadi maksudmu ... kalian sudah bercerai?" Tanya Liam dengan kening mengerut.
Airin mengangguk, hal itu justru membuat Liam menghela nafas panjang. Dia meraih tubuh adiknya dan memeluknya dengan erat.
"Gak papa, ini rumah kamu. Kamu masih memiliki rumah, dan keluarga yang siap kembali menerima kamu." Ujar Liam, membuat Airin menangis seketika.
.
.
.
Diandra dan Erlangga memasuki gedung pernikahan, keduanya langsung mengisi data penerimaan tamu. Sementara Caramel, dia sudah cantik dengan gaun birunya. Di tangannya, sudah ada biskuit bayi kesukaannya. Jika tidak ada cemilan apapun, anak itu akan rewel.
"Pa!! Paa!! Bis. .. bis!!" Unjuk Caramel pada sang opa mengenai tangannya yang sudah kosong.
"Oh iya, habis. Nih lagi." Erlangga memberikan kue kembali pada Caramel, membuat bayi itu kembali memakannya.
"Sudah, ayo mas." Ajak Diandra.
Keduanya memasuki ruangan, tampak sudah banyak orang yang datang di sana. Senyum Diandra merekah saat melihat seorang wanita seumuran dengannya datang menyambutnya.
__ADS_1
"Ehh jeng! Apa kabar?!" Seru wanita itu.
Keduanya saling memeluk ala wanita, setelah itu keduanya saling memuji sayu sama lain. Sementara Erlangga, dia masih berdiri di samping istrinya.
"Sama suami?" Tanya wanita itu pada Diandra.
"Iya nih, sama suami." Ujar Diandra sembari memegang lengan suaminya.
Tatapan wanita itu jatuh pada bayi cantik yang ada di gendongan Erlangga. Membuat wanita itu menutup mulutnya.
"Reagan sudah nikah?!" Seru wanita itu.
"Oh, belum. Dia cucu dari anak perempuan," ujar Diandra.
Wanita itu membulatkan mulutnya, dia tersenyum saat Caramel menatapnya. Tak di sangka, justru Caramel membalas senyumannya. Terlihatlah giginya yang baru tumbuh lima.
"Astaga! Manis sekali!!!" Pekiknya.
"Cucu jeng Ruby juga gak kalah, ganteng." Puji Diandra.
Ruby adalah sahabat Diandra, keduanya memiliki hubungan yang baik. pernikahan ini yang Diandra datangi, adalah pernikahan anak Ruby yang terkahir. Tentu saja, Diandra akan datang ke pesta pernikahan anak dari sahabatnya.
"Cucu ku cuman satu udah anak-anak, kamu tahu sendiri aku cuma punya anak dua. Anak pertama gak mau nambah momongan lagi, anak kedua. Tuh, baru nikah." Unjuk Ruby pada pelaminan, dimana ada sepasang pengantin tengah menerima tamu.
"Haii!! Jeng!!"
"Jeng Rina, apa kabar jeng." Dengan hangat, Ruby menyambut wanita bernama Rina itu.
"Baik aku, selamat yah atas pernikahan putrimu." Ujar Rina Dengan antusias.
Ruby hanya menanggapinya dengan tersenyum, dia tak terlalu dekat dengan Rina. Hanya saja, suami Rina adalah rekan kerja suaminya.
"Oh ya, kenalkan. Ini menantuku." Seru Rina.
Mereka langsung menatap ke arah wanita hamil itu, kening mereka pun menurut dalam.
"Loh, bukannya menantumu itu Airin yah? Ini ... menantumu yang mana? Kan kamu cuman punya satu anak." Celetuk Ruby.
"Eh?" Jeng Rina langsung tersenyum tipis.
"Sudah cerai, baru aja. Sekarang, ini menantuku. Lihat, dia hamil. Sebentar lagi, aku akan memiliki cucu. Gak kayak si Airin, dia gak bisa kasih anakku keturunan." Seru Rina.
Ruby dan Diandra saling tatap, keduanya seakan berpikir hal yang sama. Lalu, tatapan Diandra beralih pada wanita bernama itu.
"Jeng Diandra! Mana cucunya? Suruh dong anakmu itu nikah, masa bujangan terus. Nanti jadi bujang tua, gak laku. Baru tau rasa." Sindir Rina.
__ADS_1
Ruby menahan tawa, dia menatap ekspresi datar Diandra. Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana sikap Rina yang selalu membanggakan dirinya.
"Oohh cucu saya, cucu saya udah tiga. Kan saya punya anak perempuan, gak cuman laki aja." Seru Diandra, membuat Rina terlihat bingung.
Diandra pun mengambil Caramel dari gendongan Erlangga. Dia menunjukkan Caramel agar Rina bisa menutup mulutnya.
"Nih liat! Kurang gede?! Nanti saya suruh cucu saya yang lain kesini!" Sentak Diandra.
"Kapan hamilnya." Cicit Rina, dia baru ingat dengan putri Diandra.
"Oh iya lupa, pas dia lahir kamu gak saya undang." Perkataan Diandra, tentu membuat Vina melototkan matanya.
Tatapan Diandra beralih pada wanita bernama Sindi itu, dia menatapnya dengan tatapan sinis.
"Lagian, yang saya tahu ... menantu kamu itu cantik loh. Berkelas lagi, kok sekarang ... jadi turun kelas yah." Ujar Diandra dengan nada menyindir.
"Maksud kamu apa hah?!" Sentak Rina tak terima.
"Kurang jelas? Ck ck ck ... wanita berkelas. Tidak akan mau menjadi pelakor." Ujar Diandra sembari menatap Sindi dengan sinis.
Mata Sindi terbelalak lebar, Diandra berhasil membuat dirinya merasa terpojok saat ini. Sementara Rina, dia yang mendengar itu tentu saja marah.
"Kamuu!! Kurang 4jar ya kamu!!" Unjuk Rina pada Diandra.
Jadi telunjuk Rina, di amati oleh Caramel. Tangan bayi itu bergerak cepat, dia menarik tangan Rina dan menggigitnya dengan keras.
"Aaarghh!! Anak kurang aaa ...." Rina ingin memukul Caramel. Namun, sebelum itu terjadi. Erlangga lebih dulu melindungi cucunya. Dia mengambil Caramel dari gendongan Istrinya, sehingga membuat bayi itu terkejut.
"EKHEE!! EKHEEE!!"
Erlangga segera menjauh, tampaknya membawa sang cucu ke luar bukan hal yang baik. Apalagi, ketika istrinya bertemu dengan wanita seperti Rina.
"Gimana? Enak di gigit? Itu baru satu cucuku yang gigit, gimana kalau dua nya ikut juga?" Tanya Diandra dengan tersenyum sinis.
"Kauuu!!" Rina akan menunjuk Diandra, tetapi sepertinya dia trauma.
Diandra melipat tangannya di depan d4da, dia menatap Sindi dengan tatapan menilai. Tak ada yang bisa dia nilai baik dari sindi, dia justru lebih suka dengan menantu Rina yang sebelumnya.
"Sudah-sudah jeng, lebih baik nikmatin hidangannya. Dari pada marah-marah, ayo." Ajak Ruby, walau sebenarnya dia ingin tertawa. Tapi, ini adalah hari bahagia putrinya.
"Gak! Makasih! Aku mau pulang aja! Ketus Rina, menarik menantunya itu pergi.
"Ayo Sindi!"
Diandra dan Ruby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Keduanya pun saling tatap dengan menahan tawa.
__ADS_1
"Untungnya waktu itu aku tolak permintaan dia yang ingin menikahkan putranya dengan putriku." Ujar Ruby dengan tersenyum tipis.
"Jangan mau jeng, apalagi mertuanya modelan dia. Ngeri deh." Ringis Diandra.