
Arley tengah melalukan sarapan di ruang makan, dia fokus menikmati rotinya. Sampai akhirnya, seorang anak perempuan berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang.
"Selamat pagi daddy." Serunya dan meng3cup pipi Arley.
Arley menyambut sosok anak kecil yang tak lain adalah putri angkatnya. Arley begitu menyayangi putrinya, walau dia tahu jika anak itu bukanlah putrinya. Natasya Queenby, sosok anak perempuan yang sangat cantik. Rambutnya hitam bergelombang, hidung mancung dan pipi yang chubby. Anak itu, sangat baik. Dia bisa memilah sikap yang baik dan salah.
"Selamat pagi sayang, sudah siap berangkat sekolah hm?" Tanya Arley.
Natasya menangguk, dia mendudukkan dirinya di kursi. Tepat di samping kiri Arley. Matanya menangkap sesuatu yang Arley makan.
"Tidak pakai selai Daddy?" Tanya Natasya.
Arley melihat rotinya yang memang tak memakai apapun, "Tidak sayang, daddy lagi ingin memakan roti hambar seperti ini," ujar Arley.
Natasya mengangguk pelan, dia meraih rotinya dan mengoleskan selai padanya. Arley sengaja tak membantu putrinya, karema putrinya itu terbiasa mengambil makanannya sendiri.
"Mana mommy?" Tanya Arley ketika tak mendapati istrinya berada di ruang makan.
"Entah, mungkin masih tidur." Cuek Natasya.
"Apa kamu tengah merajuk dengannya?" Tanya Arley dengan kening mengerut.
"Aku sedang kesal dengan mommy, dia selalu mengaturku. Aku ingin itu tidak boleh, aku ingin bermain tidak boleh. Aku ingin jajan tidak boleh. Katanya, itu semua demi kebaikanku." Kesal Natasya.
Arley tersenyum tipis, dia mengusap rambut putrinya yang terkepang. Istrinya memang cerewet, tapi Arley tahu jika Jessica sangat menyayangi Natasya.
"Itu tandanya, mommy mencintaimu sayang. Dengar, jika mommy tak menyayangimu. Dia Tidak akan peduli padamu. Dia akan membiarkanmu memakan makana yang tak sehat, bermain dengan teman yang nakal, dan membiarkanmu melakukan hal yang membahayakan. Jadi, dia melakukan itu semua untuk kebaikanmu," ujar Arley memberi pengertian.
Natasya menunduk, dia merasa bersalah. Penjelasan Arley memang benar, Jessica melakukan itu demi kebaikannya.
"Maaf Daddy, Nata akan kinta maaf pada mommy." Lirih Natasya.
"Anak lintar! Cepat habiskan sarapanmu, setelah ini baru temui mommymu." Seru Arley sembari mengacak gemas rambut putrinya.
Tak mereka ketahui, sejak tadi Jessica mendengar semua percakapan mereka. Senyumannya merekah, hatinya terenyuh saat Arley membelanya.
"Bagaimana aku tidak semakin jatuh hati padamu Arley. Terlepas dari semua kesalahan yang kamu lakukan, aku memaafkan mu. Termasuk, sikap dingin mu selama ini." Lirih Jessica.
Saat asik mengunyah rotinya, Natasya menyadari kehadiran Jessica. Dia menoleh pada sang daddy yang ternyata sedang memainkan ponselnya. Lalu, dia kembali menatap Jessica yang masih menatap Arley.
"Mommy, kemarilah! Sarapan bersama kami." Seru Natasya.
Jessica terkesiap, apalagi saat Arley menoleh padanya. Dia sedikit malu karena kepergok putrinya tengah menatap mereka dari jauh.
__ADS_1
"Kemarilah! Sarapan bersama kami." Seru Arley pada istrinya itu.
Jessica mengangguk kaku, dia berjalan mendekati mereka. Dia duduk di samping Arley yang kosong, tepat di hadapan Natasya.
"Mommy, maaf kalau Natasya sering bantah ucapan Mommy." Ujar Natasya dengan menunduk.
Jessica tersenyum, "Gak papa sayang, lain kali dengarkan ucapan mommy. Mommy hanya ingin yang terbaik untuk Natasya." Natasya menganggukkan kepalanya, dia sudah kembali tersenyum saat ini.
melihat keduanya akur, Arley turut senang. Tak sadar, senyumnya terukir.
TIN!
TIN!!
Natasya yang mendengar suara klakson itu seketika bangkit dari duduknya, "MOMMY! DADDY! BUS SEKOLAHKU SUDAH DATANG! AKU BERANGKAT DULU!" Seru Natasya. Dia menyempatkan diri untuk meng3cup pipi daddy san mommynya.
Arley dam Jessica memandang kepergian putrinya dengan tatapan sayang. Hati mereka menghangat melihat keceriaan anak itu.
Tang!
Jessica menoleh pada Arley, terlihat pria itu tengah membersihkan bibirnya. "Habis ini kau akan ke kantor?" Tanya Jessica.
Arley menggeleng, "Aku akan kembali ke indonesia." Ujar Arley.
Arley memandang istrinya dengan kening mengerut, "Ada apa denganmu? Kenapa setiap aku pergi ke sana, kamu selalu tak suka. Aku kesana karena mengurus pekerjaanku, tak lebih. Kau tahu aku sedang melakukan kerja sama dengan perusahaan Annovra bukan?" Terang Arley.
"Apa tidak bisa dia yang kesini? Kamu baru saja pulang lusa kemarin. Hari ini, kamu malah ingin kembali ke sana." Kesal Jessica.
"Jessica, aku ada urusan penting. Hari ini masih pagi, jangan mengajakku bertengkar. Semua keinginanmu sudah aku penuhi, apalagi yang kamu mau huh?"
Jessica menghela nafas pelan, matanya menatap Arley dengan tatapan berkaca-kaca.
"Tak bisakah kamu memberi waktumu untukku? Aku hanya ingin waktu dan cintamu, sama seperti dulu." Lirih Jessica.
Raut wajah Arley berubah datar, "Aku sudah memintamu untuk pergi dari kehidupanku. Kamu berhak bahagia Jessica. Umurmu baru tiga puluh tiga tahun. Kamu masih berkesempatan untuk memiliki keturunan. Jangan bersamaku, kau akan menyesal nantinya." Ujar Arley dengan dingin.
mendengar itu, hati Jessica sakit. "Apa kamu tidak menghargai perjuanganku selama sepuluh tahun pernikahan kita? Aku tetap berada di sampingmu, tak peduli apa kekuranganmu. Aku hanya ingin, cintamu yang dulu." Pirih Jessica.
Arley tak menjawab, dia justru beranjak dari duduknya dan membalikkan tubuhnya. Sejenak, Arley menghela nafas berat.
"Pergilah Jessica, kau akan semakin tersiksa jika bersama pria yang tidak sempurna seperti ku." Ujar Arley dan berlalu pergi. Meninggalkan Jessica yang menangis karena kepergian pria itu.
"Kita sana Arley, kondisi kita sama. AKu mohon, tetaplah di sisiku. Hanya kamu yang aku punya saat ini." Lirih Jessica.
__ADS_1
.
.
.
Caramel baru saja dari luar, di tangannya sudah ada plastik jajan. Dengan senang hati, dia memasuki mansion sembari bersenandung senang.
"Jajan ... jajan aku cuka jajan. Cinta apa jajan, Calamel pilih jajan lah! Jajan hidupna Calamel." Celoteh Caramel.
Caramel melewati Alexix dan Elouise yang sedang duduk di anakan tangga. Keduanya tampak sedang mengajak main kucing milik Caramel.
"Widiiihh!! Beli jajan tuh, bagi boleh?" Seru Elouise.
Caramel menghentikan langkahnya, dia menoleh pada kedua abangnya yang menatap bungkusan di tangannya.
"Mau? Abang cukana telol gulung apa Cilol?" Tanya Caramel yang mana membuat Alexix dan Elouise tersenyum lebar.
"CILOR!!"
"TELOR GULUUUNGG!!" pekik keduanya.
"Ooo ...." Caramel mengangguk, dia mengeluarkan jajanannya dari dalam plastik.
"TALAA! CEMPOL!!"
Seketika, senyum Alexix dan Elouise luntur, raut wajah mereka berubah bingung saat melihat yang Caramel keluarkan justru bukan Telor gulung maupun Cilor. Tapi Sempol.
"Calamel cukana Cempol. Ujar Caramel sembari memakan sempolnya.
"Lah, terus telor gulungnya mana?" Tanya Elouise yang masih berharap telor gulung miliknya.
Caramel yang akan beranjak seketika terhenti, dia beralih menatap Elouise dengan tatapan lugunya. "Calamel cuman beli cempol, olang cukana cempol." Ujar Caramel dengan enteng, lalu dia berjalan pergi.
"TERUS NGAPAIN NANYAAAA!!! DASAR GENDUUUTT!!" Seru Elouise yang kesal dengan sikap adiknya. Mendengar dirinya di katakan gendut, seketika Caramel menoleh pada Elouise. Matanya menatap tajam abangnya itu.
"CIAPA YANG GENDUT HAH?! INI PELUT BECAL CUMAN KEBANAKAN LEMAKNA! CEMBALANGAN KALAU NGOMONG! MAU DI CAMBELIN MULUTNA HAH?!" Seru Caramel dengan emosi yang menggebu.
"Calah apa aku lupana." Lirih Caramel.
_____
Double up yah, satunya menyusul🥰🥰
__ADS_1