Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Tragedi 24 tahun silam


__ADS_3

"Apa maksudmu? Daddy gak pernah khianatin mommy kamu, sama sekali tidak pernah." Jawab Erlangga dengan tegas.


"Lalu, ini apa?" Reagan memberikan selembar kertas yang dia taruh di dalam jaketnya. Dia langsung memberikannya pada Erlangga.


"Kertas apa ini?" Lirih Erlangga, sembari membuka lipatan itu.


Erlangga membacanya dengan serius, hingga perhatiannya terhenti pada sebuah persentase yang membuat tubuhnya menegang kaku.


"Azalea, anak daddy! daddy telah mengkhianati mommy!!" Sentak Reagan dengan mata berkaca-kaca.


Erlangga menggeleng, matanya memerah menahan tangis. Dia menatap kembali hasil itu dengan jeli, benarkah apa yang dirinya lihat?


"Daddy punya anak lain, siapa wanita itu hah?!"


"APA?!"


Kedua Pria itu langsung menatap ke arah pintu, dimana Diandra berdiri dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Dengan langkah lemas, dia mendekati suaminya itu.


"Mas, apa bener uang Reagan katakan? Kamu memiliki anak dari wanita lain?" Tanya Diandra dengan suara bergetar.


Erlangga menggeleng, dia menyerahkan hasil kecocokannya dengan Azalea pada sang istri. Dengan keadaan hati yang kacau, Diandra menariknya dan membacanya dengan cermat.


"Reagan, berapa umur Azalea?" Tanya Erlangga dengan suara bergetar.


"Dua puluh empat tahun." Jawab Reagan dengan singkat.


Dengan tangan bergetar, Erlangga menarik tangan istrinya. Tatapan keduanya bertemu, air mata mereka luruh. "Sayang, aku tidak pernah selingkuh darimu. Umur Azalea, sama dengan umur Dafania. Putri kita."


Deghh!!


Diandra memeluk kertas itu, bayi mereka yang hilang telah di temukan. Wanita yang dia benci, tenggara adalah putrinya. Sungguh, Diandra sangat menyesal.


Raut wajah Reagan terlihat pias, dia menatap sang mommy meminta penjelasan. Dia melihat Diandra berjalan cepat ke arahnya, lalu memegang tangannya dengan menangis histeris.


"Bawa mommy pada Azalea hiks, dia adikmu. Putri kandung mommy dan daddy, dia Nia. Adikmu Reagan!"


Raut wajah Reagan pucat, dia melepaskan genggaman tanga sang ibu dari tangannya. Kakinya melangkah mundur, dia tak siap menghadapi kenyataan yang ada.


"Jadi, wanita yang ku cintai adalah adikku sendiri?" Tanya Reagan dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Reagan, bawa dia pulang. Bawa putri daddy kembali hiks ...." Isak Erlangga. Pria dingin itu, untuk pertama kalinya Reagan melihat nya menangis.


Reagan menggelengkan kepalanya, dia menolak kenyataan yang ada. Diandra Berusaha menggapai tangan putranya, tetapi Reagan malah menepisnya.


"Reagan gak punya adik mom, Reagan anak tunggal. Mungkin, hasil tes DNA nya salah. Azalea juga punya orang tua nya sendiri." Lirih Ragan.


"Enggak Reagan, kamu punya adik. Puluhan tahu lalu, di saat itu kami mengadakan acara pembukaan cabang baru. Kamu saat itu berada di rumah oma, sehingga kami tak mengajakmu. Di hari itu tragedi terjadi. DImana, saat kami perjalanan pulang. Mobil kami di hadang oleh sekelompok orang yang tak di kenal."


Diandra terdiam sejenak, dia akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang kejadian tragis itu. Diandra, dia kehilangan bayinya yang baru berumur enam bulan saat itu.


"Saat itu, kami sedang merayakan pembukaan cabang perusahaan daddy. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk pulang. Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba ada segerombolan motor menghadang kami. Mommy yang saat itu memeluk erat adikmu, memilih untuk berlari untuk menyelamatkan diri. Sampai pada akhirnya ...."


Flashback On.


"KEJAR WANITA ITU!"


Diandra berlari membawa bayinya, dia memasuki hutan agar para orang-orang itu tak mengejar dia. Namun, rupanya. Beberapa orang mengejarnya, sehingga Diandra semakin panik di buatnya.


Dia terus berlari, tak peduli jika kakinya sakit. Suara tembakan memekik di telinganya, membuat Diandra reflek menghentikan langkahnya.


DORR!!


DORR!!


Diandra menoleh ke belakang, beberapa orang sudah mendekat ke arahnya. Lalu, tatapan Diandra beralih pada bayi kecilnya yang berada di pelukannya. Diandra akhirnya memutuskan untuk kembali berlari, tampa arah.


Langkah Diandra terhenti kala dirinya hampir saja terperosok jatuh ke jurang. Nafasnya tersengal-sengal, matanya sedikit melihat ke arah bawah. Terlihat, sungai panjang dengan arus yang sangat deras.


"Mau kemana hah?!"


DIandra berbalik, dirinya mematung saat melihat segerombolan orang yang mengejarnya sudah sampai di hadapannya. Perlahan, Diandra memundurkan sedikit langkahnya ketika salah satu ketua mereka mendekat ke arahnya.


"To-tolong, biarkan aku dan putriku. Jangan bunuh kami." Lirih Diandra, tangannya semakin erat memeluk putranya yang tertidur dengan nyenyak.


"Tolong? Untuk apa? Kami di bayar untuk melenyapkan nyawamu, suamimu, beserta anakmu itu."


Diandra semakin ketakutan saat pria itu mengarahkan pistol ke arahnya. Lalu, Diandra memejamkan matanya. Dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi nanti.


"Maafkan mommy sayang, mommy sudah berusaha untuk menjaga kamu. Reagan, maafkan mommy nak." Batin Diandra.

__ADS_1


Saat pelatuk itu akan di tarik, tiba-tiba saja Diandra tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Lalu, dia pun terjatuh ke sungai berarus deras itu. Membuat, sekelompok orang iru bergegas melihatnya.


BYURRR!!


"Gimana bos? Gak bakalan selamat lah itu, deras banget arusnya," ujar anak buah pria yang memegang pistol tadi.


Pria itu mengamati tempat Diandra terjatuh, air sungai yang sangat deras membuat tubuh wanita itu beserta bayinya hanyut di bawa arus. Apalagi, keadaan malam itu yang hanya di terangi oleh rembulan. Membuat sekelompok orang itu tak terlalu melihatnya dengan jelas.


"ANGKAT TANGAN!!"


Sekelompok orang itu tersentak kaget, mereka berbalik sembari mengangkat tangan mereka. Tak sadar, jika saat ini mereka sudah di kepung oleh kepolisian yang tengah mengarahkan senjata pada mereka.


Terlihat, Erlangga berjalan terburu-buru ke arah mereka. Raut wajahnya merah padam, matanya menatap tajam sekelompok orang itu.


"DIMANA ISTRI DAN PUTRIKU!! KATAKAN!!" Bentak Erlangga pada mereka.


Bos kelompok itu menunjuk ke arah bawah, dimana tempat terakhir mereka melihat Diandra dan bayinya. Seketika, Erlangga langsung mendekati tepian jurang. Matanya terbelalak lebar saat melihat arus sungai yang deras.


"Di-diandra ... DIANDRAAAA!!!"


Flashback Off.


Diandra mengusap air matanya, dia menceritakan tragedi yang dirinya berusaha untuk lupa kan. Erlangga, hanya diam mengamati raut wajah kesedihan sang istri.


"Besoknya, mommy di temukan oleh seorang warga yang menemukan tubuh mommy tersangkut di sebuah batu. Sedangkan adikmu, dia tidak berhasil di temukan. Tim Sar sudah menyatakan, jika adikmu sudah tiada hiks ... sangat kecil kemungkinan dia akan bertahan." Isak Diandra.


Tubuh Reagan melemas, dia jatuh terduduk di sofa dengan tatapan berkaca-kaca. Tak lama, air matanya pun luruh. Dia tidak tahu, apakah saat ini dia harus merasakan bahagia ataukah sedih. Dia dan Azalea, tak akan pernah bisa bersatu. Alam, seakan menolak cintanya.


"Reagan, bawa Azalea kemari. Daddy ingin bertemu, bawa putri daddy." Pinta Erlangga dengan menatap sendu putranya.


Reagan mengangkat wajahnya, menatap lekat kedua orang tuanya yang tengah menangis. Dengan menghela nafas pelan, Reagan berkata. "Aku akan membawanya kesini, kita akan lakukan tes DNA ulang. Jatuh ke sungai yang sangat deras, sangat kecil kemungkinan adikku bisa selamat. Bisa jadi juga, ada kesalahan dari pihak rumah sakit," ujar Reagan.


Kemudian, pria itu berdiri. Dengan langkah lunglai, dia keluar dari ruang perawatan sang daddy. Setiap langkah yang ia bawa, seakan Reagan ingin berhenti. D4danya terasa sangat sesak setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Bersaing dengan ayah dari anaknya saja aku tidak bisa, apalagi harus bersaing dengan kenyataan ini." Lirih Reagan.


____


Triple up yah.

__ADS_1


Lagi di puncak konflik, jadi berat😅 Jadi bakalan campur aduk deh bacanya. Sabar yah, kalau di loncat ya gak nyambung jadinya, harus ada puncak konfliknya dulu😅 Hal tersulit para author ya disini.


Tapi tenang aja, gak akan lama. Kita kejar up nya yah, semoga pekan depan cerita ini bisa tamat🥳


__ADS_2