
Malam ini, adalah malam terakhir Elouise di rawat. Sudah dari jam delapan tadi anak itu sudah tidur, bersama dengan Alexix yang tidur di sebelahnya. Sementara Azalea, dia tertidur di sofa.
Cklek!
Alan baru saja dari ruangan Dokter Aryan membahas tentang kondisi Elouise. Besok, Elouise sudah di izinkan pulang. Namun, setiap tiga hari sekali dia harus rutin kontrol ke rumah sakit untuk kontrol bekas jahitannya.
Saat Alan menutup pintu, matanya tak sengaja menangkap Azalea yang tertidur di sofa. Dia beralih menatap brankar kosong yang berada di sebelah brankar Elouise. Padahal, Alan sengaja meminta kamar dengan dua brankar agar Azalea bisa tidur nyaman di sana.
"Tidur di sofa lagi?" Gumam Alan sembari menghela nafas kasar.
Selama tiga malam ini, Azalea selalu memilih tidur di sofa. Alan yang tak tega pun memindahkannya ke brankar di samping Elouise.
Alan beranjak mendekati Azalea, dia berjongkok di hadapan wanita itu. Matanya menatap lekat wajah cantik Azalea yang tetap cantik ketika tertidur.
Perlahan, tangan Alan terangkat. Dia mengelus pipi Azalea. Secara tak sadar, kedua sudut bibirnya terangkat membuat senyuman. Namun, hanya beberapa detik saja sebelum senyuman itu luntur dan berubah datar.
Alan akan beranjak berdiri, tetapi tangannya malah di pegang oleh Azalea. Membuat Alan pun seketika menoleh menatapnya.
"Lexi, jangan jauh-jauh dari mama. Bobo sini." Kening Alan mengerut bingung saat melihat Azalea memundurkan tubuhnya hingga menyentuh sanderan sofa.
"Cepatlah ... mama mengantuk sekali" ujar Azalea tanpa membuka matanya.
"Eh, melantur dia." Batin Alan.
"Lexii .. sudah malam. Nanti papa kembali dan kamu belum tidur, ngomel lagi tuh singa."
Mendengar itu, seketika Alan melototkan matanya. Bisa-bisanya dirinya di sebut singa oleh wanita itu. Alan tak akan membiarkan hal ini, dia akan mengerjai balik Azalea.
"Oh, kamu mau tidur denganku kan? Baik, tidurlah bersama singa ini." Alan melepas ketiga kancing kemeja atasnya agar tidur lebih nyaman. Setelah itu, Alan memposisikan dirinya di samping Azalea.
Baru saja tubuh Alan mendarat di sofa, Azalea sudah memeluknya. Dia memasukkan tangannya ke dalam kemeja Alan, dan merabanya. Membuat pria itu semakin melototkan matanya.
"Anget." Gumam Azalea dan kembali tertidur pulas.
Alan memutar bola matanya malas, ingin sekali dia menyentil kening Azalea saat ini karena telah memanfaatkan keadaan. Namun, entah mengapa Alan tak ingin mendorong wanita yang masih berstatus istrinya ini menjauh darinya.
"Kalau lagi tidur maunya deket-deket, nempel terus. Kalau lagi bangun, berasa dekat sama virus." Batin Alan.
.
.
__ADS_1
.
"Eungh. ..." Azalea merenggangkan ototnya yang kaku. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Pegel banget, kayak gak gerak semalaman." Gumam Azalea yang masih terlentang.
Saat Azalea menoleh, betapa terkejutnya ia saat melihat Alan yang ada di sebelahnya. Tangan pria bahkan itu memeluk perutnya, bahkan hidungnya hampir menyentuh hidung Azalea saat ini. Karena terkejut, spontan Azalea langsung mendorong Alan hingga terjatuh.
Brugh!!
"AWWW!!"
Azalea meraba tubuhnya, pakaiannya nasih melekat di tubuhnya. Azalea khawatir Alan menyentuh dirinya, karena yang ia tahu jika dirinya dan Alan bukan lagi suami istri.
"Kamu ngapain tidur disini hah?! Sembarangan banget!! Kamu lupa kalau kita udah cerai!! Itu brankar kosong, kenapa harus tidur sama aku hah?!"
Alan masih mengusap bokongnya yang terasa ngilu ketika menghantam lantai. Namun, ketika Azalea membentaknya. Alan segera beranjak berdiri.
"Enak aja! Kamu yang suruh aku tidur disitu!" Seru Alan tak terima.
"Mana ada!! Ngarang kamu mas! Mau manfaatin kesempatan kan? Jangan harap!" Seru Azalea sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
"Lagian, siapa yang tertarik sama tubuh kamu? Kurus, tepos begitu. Gak selera aku." Ketus Alan membuat mata Azalea seketika melotot kesal.
"Ekheee!!! GECEEEELL!!! CEMPIT KALI LOH LACANAAA!!"
Azalea buru-buru beranjak dari sofa, dia bergegas mendekati brankar Elouise. Pantas saja Elouise mengamuk, sebab kaki Alexix menimpa kakinya. Semalam, karena ketiduran Azalea tak tahu jika Alexix tidur di brankar Elouise.
"Syutt El ... El, jangan di bangunin abangnya sayang." Tegur Azalea.
Elouise tampaknya masih ngantuk, rambutnya sangat berantakan. Matanya terlihat merah akibat terbangun sebelum waktunya.
"El ngantuk hiks ... ngantuk kali ... dia tidulna kayak kebo dacal!!" Kesal Elouise.
"Sini, pindah kesini." Azalea meraih tubuh putranya dan memindahkannya pada brankar sebelah. Seketika tangisan Elouise berhenti, dia kembali tidur ketika Azalea menepuk pelan pahanya.
Alan memilih untuk masuk ke kamar mandi, sedangkan Azalea dia sibuk membersihkan kamar rawat Elouise yang terlihat berantakan.
Sejam kemudian, Alan keluar dengan pakaian baru dan rambut yang basah. Dia berjalan keluar sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Melihat Alan yang sudah selesai mandi, membuat Azalea mendekat. "Kita pulang pagi ini kan?" Tanya Azalea.
__ADS_1
Gerakan tangan Alan terhenti, matanya menatap Azalea dengan tatapan datar. "Kenapa? kamu gak sabar mau ketemu Reagan?" Tanya Alan dengan ketus.
"Ha?" Azalea mengerjapkan matanya, dia tidak ada pembahasan tentang Reagan lagi. Tapi, mengapa pembahasan Alan selalu ke arah sana.
"Iya, kamu mau ketemu Reagan kan pas pulang nanti?"
"Kata siapa?!" Seru Azalea tak terima.
"Ck, kalau sampe kamu ketemu dia ... Aku gak bakal izinin kamu bertemu sama si kembar lagi." Ketus Alan dan beranjak pergi.
Saat Alan melewati Azalea, wanita itu meledeknya hingga membuat Alan reflek menghentikan langkahnya.
"Kalau cemburu mah bilang." Seru Azalea dengan ujung matanya yang melirik ke arah Alan.
Seketika, Alan berbalik. "Cemburu? AKu bisa dapet seribu wanita yang lebih dari kamu, kalau aku mau."
Azalea memanyunkan bibirnya, "Seribu wanita, satu wanita pun tak dapat." Ledek Azalea.
"Apa kamu bilang?" Seru Alan, telinganya tak sengaja mendengar sindiran Azalea.
"Mau mandi." Sahut Azalea khawatir jika Alan keburu mengamuk.
Azalea memasuki kamar mandi, tak lupa dia menutup pintu. Azalea menyandarkan tubuhnya di pintu, degupan jantungnya terasa sangat cepat. Dia memegangi dadanya, tangannya merasakan dadanya berdebar tak karuan.
"Apa aku masih mencintainya?" Batin Azalea.
"Saat dia cemburu, kenapa aku justru malah merasa senang? Hais ... Sepertinya aku sudah gak waras jika kembali mencintai pria sepertinya." Lirihnya.
Sembari menunggu Azalea mandi, Alan berniat ingin membangunkan Alexix. Agar dia mandi setelah Azalea, karena setelah ini mereka akan siap-siap pulang. Sementara Elouise, Azalea akan mengusap tubuh bocah itu dengan kain basah karena belum di izinkan mandi. Khawatir, lukanya akan terkena air.
Namun, saat Alan akan memegang bahu Alaxix. Dia mendengar suara pesan masuk di sebuah ponsel yang terletak di atas nakas.
"Ponselnya Azalea." Gumam Alan.
Alan melirik ke arah kamar mandi, pintu itu masih tertutup. Dengan gerakan pelan, Alan mengambil ponsel itu dan membukanya. Terlihat, sebuah notifikasi masuk menanyakan tentang kapan Azalea kembali.
"Pokoknya saya mau kita bertemu sore ini, saya ingin dengar penjelasan langsung darimu."
"Nyonya Diandra?" Gumam Alan saat melihat nama pengirimnya.
____
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA 😘😘😘