Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Bertemu dengan mantannya istri


__ADS_3

Pulang dari kantor, Alan menjemput putrinya. Sampai di sekolah, ternyata dia justru bertemu dengan Reagan yang sepertinya ingin menjemput Calandra. Alan pun turun dari mobilnya, dan menghampiri Reagan yang sedang bersandar di mobilnya sembari memainkan ponselnya.


"Lagi apa?" Tanya Alan yang mana mengejutkan Reagan.


"Ngagetin aja sih!" Pekik Reagan dengan kesal.


"Ck, serius banget. Lagi chatan sama selingkuhan?" Celetuk Alan sembari turut bersandar pada mobil Reagan.


Tuduhan Alan, sontak membuat Reagan melotot padanya. "Aku mulai paham dari mana sifat Caramel, ternyata dari bapaknya. Jul1d banget sama orang!" Ketus Reagan.


"Kan cuma nanya. Kok marah? Kalau marah, berarti iya." Ujar Alan dengan santainya.


Reagan berkacak pinggang, dia menatap Alan sembari menghela dengan nafas memburu.


"Mau adu jotos disini apa dimana? Udah siap ini." Seru Reagan dengan kesal.


"Di kamar, gimana?" Alan memiliki sisi jail, walau sangat jarang dia tunjukkan


"IIIIHHH!! GAK WARAS! GAK WARAS! SUAMI ADEKKU BENER-BENER GAK WARAAASSS!!" Pekik Reagan, dia merinding saat Alan berucap demikian.


Mendengar pekikan Reagan, sontak membuat Alan menatap ke sekitar. Semua orang menatap mereka dengan tatapan aneh. Terlebih, wajah Alan yang sepertinya familiar untuk mereka.


"Reagan, bener-bener yah kamu." Geram Alan, ingin sekali dia menimpuk abang iparnya dengan sepatu miliknya.


"PAPAAAAA!!!"


"Gula! hati-hati!" Pekik Calandra.


Reagan dan Alan menoleh, keduanya melihat Caramel yang berlari dengan raut wajah paniknya. Sementara Calandra, bocah itu memegangi tas Caramel. Sepertinya, Calandra khawatir Caramel akan terjatuh.


"Kenapa berlari?! Kau akan terjatuh nanti!!" Pekik Alan saat Caramel sampai di hadapannya.


"Papa, Calamel mau kucing. Kayak punya ci doel." Ujar Caramel dengan antusias.


"Doel?" Tanya Alan sembari mengerjapkan matanya pelan.


"Issshh doeeell loohh. Lupa Calamel namana, tapi bibilna doel. Dia puna kucing di lumahna, ayo kita beli." Rengek Caramel.


"Doer? HAHAHAH!!" Reagan tertawa keras, sedangkan Alan hanya terkekeh kecil.


Seakan tahu di ledek, Caramel menatap Reagan dengan tatapan mendelik. "Olang nda modal nda boleh ketawa, c3let nanti modal na." Ketus Caramel.


Tawa Reagan terhenti, raut wajahnya menjadi cemberut kesal. "Heh! Anak kadal! Lo mau gue pites apa gimana?!" Pekik Reagan


Tak sadar akan ucapannya, Reagan berhasil membuat Alan menatap datar pada dirinya. Adik iparnya itu, terlihat mengepalkan tangannya. Tentu, Reagan yang menyadari perubahan Alan segera menutup mulutnya. Reagan baru menyadari dengan apa yang dia bicarakan tadi.

__ADS_1


"Sorry Lan, beda tipis kan." Cicit Reagan.


.


.


.


Bukan Alan namanya kalau tidak mengikuti kemauan putrinya. Pulang-pulang, Caramel menggendong sebuah kucing gemuk. Bukunya berwarna putih, sangat cantik. Caramel menyukainya, dia tertawa riang sembari memeluk kucing itu sambil berjalan masuk ke dalam mansion.


"Kucing lagi? Kan si gembul ada!" Langkah Alan dam Caramel terhenti, kedua nya menatap Elouise yang tengah berjalan menghampiri mereka.


"Beda, ci gembul kucing olen. Ini kucingna putih." Jawab Caramel dengan santai.


"Mau kemana kamu?" Tanya Alan, ketika melihat Elouise memakai tas.


"Mau latihan." Jawab Elouise dengan santai. Dia masih aktif latihan bela diri dan memanah. Hanya saja, keahliannya bertambah. kini, dia menguasai tembak menebak dari Liam.


"Bye Pa, aku berangkat." Seru Elouise dan bergegas pergi.


Alan hanya mengangguk mengiyakan, dia kembali memperhatikan putrinya yang kini berjalan ke arah karpet. Putrinya duduk dengan kucing gemuk itu di pangkuannya. Sejenak, Alan berpikir. Walau putrinya tidak gendut, tapi bisa di katakan putrinya berisi. Lalu, kucing itu. Entahlah, Alan ingin menertawakan kesamaan berat mereka.


"Mau kamu nama kan siapa hm?" Tanya ALan sembari memperhatikan putrinya yang tengah mengelus bulu kucing putih itu.


"Calamel mau namain ci ... gemblot."


.


.


.


Malam hari, terlihat Reagan memakai jaketnya. Raut wajahnya terlihat kesal, sesekali matanya melirik ke arah Airin yang tengah memakaikan jaket pada Calandra.


"Harus banget malam ini ke rumah mommy?" Tanya Reagan dengan nada tak bersahabat. Jujur saja, dirinya ingin tidur karena lelah. Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, tiba-tuba Airin ingin meminum wedang jahe buatan Diandra.


"Aku sama Calandra aja gak papa, kamu di rumah aja." Ujar Airin dengan santai.


Raut wajah Reagan bertambah kesal, ingin dia mencak-mencak saat ini juga. Dengan perasaan kesal, dia meraih kunci mobil dan berjalan keluar.


"Hais, aneh ayahmu itu Cal," ujar Diandra pada putranya.


"Heum." Jawab Calandra dengan singkat.


Di perjalanan, tak ada kata apapun yang keluar. Mobil Reagan terdengar hening, mereka hanya fokus menatap jalananan. Sampai tiba-tiba, Airin meminta sesuatu pada suaminya.

__ADS_1


"Mas, tolong parkir sebentar di minimarket Aku mau buang air," ujar Airin dengan memegangi perutnya.


Reagan langsung menghentikan mobilnya dia minimarket terdekat. Jika pom bensin, akan lebih jauh. Jadilah Airin numpang ke kamar mandi minimarket itu.


"Ayo Cal." Ajak Reagan untuk mengantar Airin ke dalam.


Calandra yang menang sudah mengantuk, dengan lesu pun turun. Dia ingin di mobil, tapi Reagan pastilah khawatir. Dengan sempoyongan, dia berjalan ke arah Reagan yang tengah menunggunya.


"Gendong aja mas, udah ngantuk dia." Pinta Airin.


Reagan pun meraih Calandra dan menggendongnya. Tak butuh waktu lama, Calandra mencari posisi tidur yang nyaman dalam gendongan sang ayah dan lelap kemudian.


Selama menunggu Airin di dalam toilet, Reagan berjalan menuju rak jajan. Di saja, dia mengambil beberapa biskuit yang kiranya cukup untuk putranya. Calandra suka sekali dengan biskuit coklat yabg ia pilihkan. Wajar saja, karena rasanya enak dan lumayan banyak di cari peminatnya.


"Om."


Reagan menunduk, dia mendapati sosok bocah yang tengah memegang celananya. "Heh. Anak siapa ini?" Pekik Reagan, sembari menatap ke sekeliling mencari orang tua anak tersebut.


"Mau tokat." Ujar Anak itu.


"Mau coklat? Kinta bapakmu sana. Mana bapakmu? Jangan enak buatnya aja abis itu di telantarin." Omel Reagan.


Anak kecil itu tak mengerti, dia hanya menatap coklat yang berada di rak tengah. Sementara Reagan, dia masih mencari keberadaan bapak sang anak. Hingga secara mengejutkan, sebuah suara dari belakangnya mengejutkan diri.


"RYAN!"


Reagan langsung menoleh, matanya membulat sempurna saat melihat seorang pria yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak dia jumpai.


"Farel?!" Pekik Reagan.


"Kau. .. pengacara itu kan?"


Tak di sangka, Reagan kembali bertemu dengan Farel. Kedua pria itu sama-sama membawa anak laki-laki dengan umur yang tak jauh beda. Hanya saja, seperti nya Calandra lebih besar dari anak yang saat ini berada di dekat Farel.


Farel menatap Calandra yang tertidur di gendongan Reagan. Dia menaksir umur Calandra saat ini. Seketika, senyum mengejek tercetak di bibirnya.


"Sudah ku bilang, kalau mantan istriku itu tidak bisa memberikanmu keturunan. Kamu tidak percaya padaku, dan akhirnya kalian memutuskan untuk mengadopsi? Ck ... ck ck ...." Ledek Farel.


Mendengar itu, Reagan tidak marah. Satu sudut bibirnya terangkat, menatap Farel dengan remeh. Lalu, tatapan matanya sedikit bergeser ke samping kanan Farel.


"Kau yakin? Mari kita buktikan. Lihat ke belakang. Ada lihat seorang wanita hamil?"


Seketika, Farel memutar kepalanya. Matanya membulat sempurna saat mendapati Airin yang berjalan ke arah mereka dengan perutnya yang besar.


"Airin, bagaimana bisa ...." Gumam Farel saat melihat perut besar Airin.

__ADS_1


"Aku yang berhasil menghamilinya." Ujar Reagan, membisik tepat di telinga Farel.


Degh!!


__ADS_2