
Azalea mengikuti langkah Alan, sedari tadi hatinya merasa tak tenang. Apalagi saat Alan akan melewati ruang jenazah, membuat hati Azalea semakin tak karuan.
"Mas." Lirih Azalea membuat Alan sontak menghentikan langkah nya.
"Ada apa?" Tanya Alan.
"A-pa kita akan ke sana?" Unjuk Azalea pada sebuah ruang jenazah.
Alan mengerut kan keningnya, dia menatap apa yang Azalea tunjuk. Seketika, senyumnya terukir di bibir tipisnya.
"Ya, kita akan ke sana." Ujar Alan membuat Azalea melemas seketika. Untung Alan langsung merangkul pinggang wanita itu.
"Eh ... eh ..., maksudnya di depan ruangan itu ada lift. Kita naik lift, bukan ke ruang jenazah." Pekik Alan dengan panik, khawatir Azalea kembali pingsan.
Raut wajah Azalea berubah datar, dia mendorong Alan dengan kesal.
"GAK LUCU! BERCANDAAN KAMU GAK LUCU!!" KEsal Azalea.
"Siapa yang bercanda? Kamu yang salah paham, kok aku yang di salahkan?!" Seru Alan tak terima.
"Kamu!!" Azalea menahan emosinya, dia sedang lemas dan karena Alan dia jadi bertambah lemas.
"Kalau kamu tidak kuat berjalan, ayo aku gendong!" Ajak Alan.
Azale memincingkan matanya, "Ogah!" Seru Azalea dan berlalu pergi. Membuat Alan memandang wanita itu dengan tertawa kecil.
"Aku baru sadar jika dia sangat lucu ketika marah." Gumam Alan.
.
.
.
"Buka mulutna yang becal,"
Alexix tengah menyuapkan bubur pada Elouise, dengan telaten dia menyuapkan bubur itu pada adiknya.
"Cudah becal, nda liat becal begini mulutku! macam kudanil! Kulang lebal hah?!" Balas Elouise dengan kesal.
"Kulang becal! Kecil kali buka mulutna." Pekik Alexix.
Elouise menghela nafas pelan, ingin rasanya dia memukul wajah Alexix. Namun, dia sedang tidak berdaya saat ini. Biarkan saja, kali ini dia akan menuruti perkataan sang kakak.
"Untung kali kau bangun lagi, kalau nda ... mama jadi catu-catuna buatku hahaha!!"
Seketika, Elouise mendelik. Dia tak suka dengan perkataan Alexix. Mamanya adalah miliknya, tak boleh ada seorang pun yang mengambil mamanya.
"El tuh anak mama, Lekci yang anak papa!" Seru Elouise.
"Heh! Jangan nda copan! Lekci ini abang kamu tau nda!" Omel Alexix.
"Cebenalna El yang abang, cuman pas di pelut mama ... El belbaik hati menendang lekci kelual. Kalau nda, gimana calana Lekci bica kelual dali pelut mama?"
"Kau ...,"
"Ekhem!"
__ADS_1
Elouise dan Alexix menatap ke arah pintu, di sana Azalea berdiri bersama Alan. Keduanya menatap si kembar dengan senyuman lembutnya.
"Mama!! Cudah bangun?! Tadi kata papa, mama tidul. Capek nungguin El yah?"
Azalea tak menjawab, dia justru ingin menghampiri putranya itu. Namun, karena tubuhnya yang masih lemas. Membuat Alan pun turut membantunya dengan cara menuntunnya.
"Mama cakit?" Tanya Elouise.
"Mama balu bangun, jadi macih ngelindul," ujar Alexix.
Elouise ingin merubah posisinya, tetapi baru saja bergeser sedikit perut nya sudah merasakan ngilu.
"Awss ...."
"Kenapa? Sakit yah?" Tanya Azalea dnegan suara bergetar.
Elouise menatap lembut sang mama, bibirnya tersenyum tipis. Dia menepuk tepi brankarnya, dengan tujuan agar sang mama mau duduk di sebelahnya.
"Mama cini, duduk camping El." Pinta Elouise.
"Heh! El nda liat ada Lekci di cini hah?!" Pekik Alexix tak terima.
Senyum Elouise luntur, dia menatap sinis pada Alexix yang menatap kesal padanya.
"Cana gecel! Tempatna mau di pake mama El!" Pinta Elouise dengan nada tak bersahabat.
"Kau!! Awas saja yah!" Omel Alexix. Walau begitu, Alexix tetap turun dari brankar.
Senyum Elouise kembali mengembang setelah sang mama duduk di sampingnya. Apalagi, ketika Azalea mendaratkan k3cupan di kepalanya. Hal itu adalah hal paling di sukai oleh Elouise.
"Papa! El cudah tepatin janji na, mama cama papa tinggalna baleng ci cekalang?" Tanya Elouise.
Azalea langsung beralih menatap Alan dengan ekspresi terkejut, keningnya mengerut dalam. Dia menatap lekat pria itu, di benaknya ada berbagai macam pertanyaan.
"Janji? Mereka berjanji tentang apa? Apa operasi Elouise ada kaitannya dengan Alan yang mengizinkan ku untuk kembali." Batin Azalea.
Alan melirik kearah Azalea, melihat keterdiaman Azalea membuat Alan penasaran dengan apa yang wanita itu pikirkan tentang perkataan Elouise tadi.
"Mama, cuapi El. El lapel." Pinta Elouise membuat Azalea melepas pandangannya pada Alan.
Sementara Alan, dia beranjak dari duduknya. Lalu, dirinya melangkah mendekati Elouise.
"El, papa keluar sebentar." Pamit Alan, dan dia menyempatkan diri untuk meng3cuo kening Elouise dan juga Alexix.
"Papa nda c1um mama juga?" Tanya Elouise dengan polosnya.
Alan dan Azalea saling tatap, keduanya menjadi canggung karena pertanyaan putranya.
"Papa ..."
"Paoa nda cayang mama? Tadi katana papa cayang mama!" Seru Elouise tak terima.
"El, jangan begitu." Tegur Azalea.
"Tinggal lakuin aja napa, kalau nda bial Lekci yang wakilin papa." Sahut Alexix membuat Alan seketika menatap kesal ke arahnya.
"Ish, diamlah Lekci. Cakit pelut El kalau Lekci udah ngomong." Sewot Elouise.
__ADS_1
"Heh!!" Pekik Alexix.
Karena tak ingin ada perdebatan lagi, Alan segera meraih kepala Azalea dan meng3cup nya singkat.
Cup!
Degh!!
Tubuh Azalea menegang, hatinya berdebar tak karuan. Spontan, dia reflek menjauhi dirinya dari Alan dengan perasaan yang tak nyaman.
"Aku pergi dulu." Pamit Alan dan Azalea membalasnya dengan anggukan karema tak sanggup membuka suara.
Selepas Itu, Alan pun pergi. Azalea menatap kepergian Alan dengan tatapan rumit.
.
.
.
Ting ting!
Ting ting!
Cklek!
"Reagan?!" Pekik Diandra
Reagan menatap sang ibu dengan tatapan sendu, dia memeluk tubuh Diandra dengan erat. Membuat Diandra bingung di buatnya. Namun, dia tetap membalas pelukan putranya itu.
"Mom, aku kalah." Lirih Reagan.
"Maksudnya?"
Reagan semakin mengeratkan pelukannya pada Diandra, dia tak sanggup berkata apapun. Beruntung, Diandra peka. Dia langsung menyuruh Reagan untuk masuk dulu ke dalam rumah.
"Mom, Reagan istirahat yah. Capek." Ujar Reagan sebelum melepas pelukannya.
Belum juga Diandra membalas ucapannya, Reagan sudah lebih dulu naik ke kamarnya. Membuat Diandra kebingungan di buatnya. Saat dia menatap punggung Reagan yang menaiki tangga, seseorang menepuk bahunya.
"Sayang, sedang apa?"
Diandra Berbalik, dia menatap suaminya yang sepertinya baru saja pulang dari kantor. Diandra menunjuk ke arah tangga, dimana Reagan sudah sampai di undakan terakhir dan bergegas memasuki kamarnya.
Erlangga menatap punggung putranya dengan kening mengerut. "Dia kenapa?" Tanya Erlangga.
"Enggak tau mas, pulang-pulang langsung ngomong. 'Mom, aku kalah', aneh kan? ujar Diandra.
"Oh, mungkin dia kalah dalam sidang. Bukankah dia pengacara terbaik? Sudah pasti kekalahannya membuat dia Down. Tapi kamu tenang saja, Reagan orang yang tidak mudah menyerah," ujar Erlangga.
"Bukan mas, tatapannya seperti orang putus cinta. Kaya gak ada kehidupan, seperti kamu dulu pas aku tolak," ujar Diandra membuat wajah Erlangga tertekuk sebal.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi dengan putranya, Diandra Memutuskan untuk naik ke atas. Meninggalkan Erlangga yang cemberut di buatnya.
"Udah ganteng, kaya, di tolak pula. Tapi ya ... gimana yah, maunya cuman sama dia doang." Gumam Erlangga.
____
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH YANG SUKA MENDUKUNG AUTHOR🥳🥳
Oh ya, author ikut lomba anak genius loh. Mohon dukungannya🥰🥰