
Alan termenung di dalam ruang kerjanya, dia sedang memikirkan sosok pria yang tadi dirinya kejar. Ada ketakutan di hati Alan, dia khawatir jika memang benar masa lalu Calandra datang untuk menjemput anak itu.
Namun, ada hal yang juga membuat Alan gelisah. Dia ingat, jika Reagan tengah menangani kasus pembunuhan. Bisa saja, keluarga pihak pelaku tak terima dan justru malah mengincar putra dan keponakan Reagan.
Ckelk!
"Alan, kamu gimana sih?! Gak tau apa kalau aku lagi si ...."
Reagan datang karena panggilan Alan, ucapannya terhenti kala melihat tatapan tajam Alan padanya. Langkahnya berhenti tepat di depan meja Alan, matanya menangkap Alan yang berdiri dari kursinya dan berjalan menghampirinya.
"Reagan, pagi ini aku mengejar pria yang mengawasi sekolah anak-anak," ujar ALan dengan raut wajah datar.
"Apa? Terus gimana? Dapat enggak?" Seru Reagan dengan penasaran.
"Keburu orangnya ketabrak truk, aku gagal mendapatkannya. Tapi, aku memiliki fotonya,." Ucap Alan sembari berjalan menuju sofa.
Melihat Alan yang duduk di sofa, Reagan pun menghampirinya. Dia duduk di hadapan Alan sembari menatap serius adik iparnya itu.
"Mana?" Tanya Reagan dengan penasaran.
"Aku curiga dua hal, pertama ... aku curiga kalau masa lalu Calandra kembali. Entah itu keluarganya, ataupun musuh yang dulu membawanya. Yang kedua, aku curiga jika ini adalah ulah lawan klienmu. Kamu sedang menangani kasus pembunuhan kan?" Terang ALan, menjelaskan tentang kecurigaannya.
Reagan terdiam cukup lama, dia tengah berpikir keras. Hingga akhirnya, Reagan kembali menjelaskan tentang kecurigaan Alan.
"Kalau yang pertama, mungkin saja. Bisa jadi, mereka datang. Jelas, aku tidak akan menyerahkan kembali hak asuh Calandra padanya. Calandra adalah putraku yang sah secara negara. Tidak ada yang bisa menariknya kembali. Kecuali, perebutan hak asuh kembali di ajukan oleh orang tuanya. Tapi, di lihat dari kisah yang telah lalu. Calandra tak akan mungkin kembali pada orang tua yang telah membuatnya seperti waktu itu."
"Dan, untuk yang kedua. Sepertinya tidak mungkin," ujar Reagan yabg mana membuat Alan bingung.
"Tidak mungkin bagaimana? Kasus yang sedang kamu tangani bukanlah hal sepele. Pembunhan, bisa jadi selanjutnya kamulah korbannya." Kesal Alan dengan jawaban Reagan.
Reagan menghela nafas pelan, dia mencondongkan tubuhnya sembari meletakkan tangan di kedua p4ha nya. Matanya menatap Alan dengan tatapan serius.
"Tapi kasus pembunuhan yang sedang ku tangani bukan membunuh orang!" Seru Reagan.
"Ha?"
"Melainkan pembunuhan sapi di peternakan! Bukan orang!" Pekik Reagan yang mana membuat Alan mentauhkan rahangnya.
__ADS_1
"Pengacara gadungan dasar!!" Pekik ALan dengan tatapan kesal.
"Kan kamu nya juga gak nanya, terus salahku dimana?" Ujar Reagan membela diri.
.
.
.
Caramel sedang menunggu jemputan Alan, kelima bodyguard dengan setia berada di dekatnya. Karena tak ingin menunggu di luar, jadilah Caramel menunggu sang papa di luar.
"Lama kali ini olang, kayakna papa lagi ngelumpi. Hah, panas kali lacana. Pengen bulu-bulu pulang. Ih ... nda cuka! cuka! nda cuka pokoknaaaa!! Calamel nda cuka nunggunaaa!!" Pekik Caramel dengan kesal, dia meloncat-loncat untuk melampiaskan kekesalannya.
Saat asik meloncat-loncat, mata Caramel menangkap sosok Lucian yang sedang menatapnya dari dalam mobil. Senyum Caramel mengembang, dia melambaikan tangannya ke arah Lucian. Namun, bukannya membalas Lucian justru menutup jendelanya.
"Dih, combong kali! Awas nanti kalau ketemu lagi, Calamel buat dia bocan belnapas!" Kesal Caramel.
Tak lama, Caramel melihat mobil sang papa yang mendekat. Seketika, dia langsung berlari menghampiri mobil sang papa. Terlihat, Alan keluar bersamaan dengan Reagan.
"DALI TADI DI TUNGGUIN DU ...."
"Terserah om lah, bapakmu gak bisa apa-apa di hadapan om. Bisa-bisa, di pecat dia jadi suami mama mu." Ledek Reagan yang mengundang tatapan tajam Alan.
"Kau menikahi adikku b0d0h!" Kesal Alan.
"Eh iya, lupa hahahah!!"
Caramel merengut, tatapannya beralih pada mobil Lucian. Mobil itu masih di sana, seperti mengamati dirinya.
"Papa." Caramel menarik baju Alan, dia ingin menunjukkan mobil Lucian pada sang papa.
"Hem? Sudah kan? Ayo kita pulang, kasian mama menunggu di rumah." Ajak Alan, dia segera menarik tangan putrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Namun, Caramel justru menahan dirinya. Dia merengek agar Alan mendengarkan perkataannya. "Bental dulu!! Itu ada olang yang dali kemalin nyampelin Calamel cama Cala!! Itu dia bilang Cala itu Alion!! Itu olangna. ..." Caramel menunjuk ke arah dimana mobil Lucian tadi berada. Sayangnya, mobik Lucian hilang entah kemana.
Caramel mengigit jarinya, matanya bergerak gelisah. Tadi, dia melihat mobil Lucian masih di sana. Tapi, mengapa sekarang tidak ada.
__ADS_1
"Mana?!" Seru Alan dan Reagan secara bersamaan.
"Hilang papa, tapi tadi ada di cana! Calamel dad4da juga. Tapi di cuekin, combong kali memang olangna."
Alan dan Reagan saling menatap, keduanya mempercayai perkataan Caramel. Alan sedikit menunduk, dia menatap wajah cantik putri kecilnya.
"Dengar, Caramel lihat bagaimana ciri-ciri mobilnya?" Tanya Alan, sebab dia tahu jika putrinya memiliki ingatan yang kuat.
"Mobilna walna hitam, pelcis kayak punya na opa El. Tapi, depanna ada stikel gambal motolna. Cama ada golecan panjang di pintu kanan buat supil." Terang Caramel.
Alan menyimpan perkataan putrinya dalam ingatannya, begitu pun dengan Reagan. Keduanya sama-sama bisa memberi gambaran pada mobil yang di tumpangi oleh Lucian.
Singkatnya, Alan memutuskan untuk membawa Caramel pulang. Selama di perjalan, Reagan dan Alan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sementara Caramel yang duduk di belakang, dia merasa bosan. Dia memutuskan tuk menatap jendela luar.
"Ih, banakna jajan." Gumam Caramel saat Alan melewati sekolahan.
Caramel ingin membeli jajan, tapi sang papa tak kunjung menghentikan mobilnya. Dirinya masih berharap Alan bertanya, 'apakah dia ingin jajan?' Namun, setelah mobil melewati semua jajan kaki lima yang ada. Harapan Caramel pupus, dia pun mulai merengek.
"EKHEEE!!! PADA NDA CAYANG CALAMEL YAH!!" Pekik Caramel dengan menahan tangis.
Seketika, Alan dam Reagan langsung terfokus pada CAramel.
"Enggak sayang gimana? Papa sayang kamu lah," ujar Alan dengan heran. Dia masih berusaha fokus pada jalan dan menghiraukan tangisan putri nya.
"Papa nda catang Calamel! Buktina, dali tadi lewatin jajan. Ada cilol, telol gulung, cimol, batagol, tapi nda ada papa belenti buat belikan jajan Calamel. Telcikcana hati ini lacana tau nda hiks. ...,"
"Terus gimana? Mau berhenti?"
Bukannya menghentikan tangisnya, Caramel malah semakin menangis histeris. "HUAAAA!! BELENTI DIMANA?! INI DI T0LNA! CIAPA YANG JUAL JAJAN DI CINI! CETAN JUGA NDA MAU JUALAN DICINI, KALNA NDA LAKU DICINI! CALAH APA AKU LUPANA HIKS. .. TEGA KALI HIKS. ..,"
Reagan dan Alan saling tatap, keduanya sama-sama menaikan bahunya. Bingung juga, apalagi jika Caramel sudah tantrum karena jajan.
"Yasudah, nanti keluar t0l kita langsung beli yah. Gak usah nangis." Bujuk Alan.
seketika, Caramel menghentikan tangisnya. Dia segera membenarkan duduknya sebaik mungkin. Seakan tak pernah ada kejadian dirinya menangis seperti tadi.
"Nda ada nanis, tadi cuman kelilipan doang. Ayo Papa, nda cabalna aku jajan. Jajan, Em coming cwetyyy!!" Seru Caramel.
__ADS_1
"Terserahlah." Pasrah Alan.