Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Benar, tapi kurang tepat


__ADS_3

Mata Arumi membulat sempurna, raut wajahnya terlihat tegang. Melihat itu, Azalea tersenyum tipis.


"Benar tebakanku ternyata." Ujar Azalea dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Sayang,"


Azalea serta Arumi menoleh pada Alan, melihat suaminya membuat Azalea tersenyum lebar.


"Mas, ibu ini mama kandung kamu kan?!" Pekik Azalea.


Kening Alan mengerut, tatapannya pun beralih menatap Arumi. Sejenak, Alan terdiam, begitu pun dengan Arumi. Melihat hal itu, Azalea berpikir jika dugaannya adalah benar.


"Sudah aku duga, jika ibu ini adalah mama ka ...,"


"Ibu siapa yah?"


Mata Azalea terbelalak lebar, dia menatap tak percaya pada Alan dan juga Arumi. Mengapa suaminya malah bertanya tentang Arumi?


"Mas, mungkin kamu lupa wajah ibu kamu. Ibu ini, dia ...,"


"Ibuku memiliki t4i lalat di atas bibirnya, sedangkan wanita ini enggak sayang. Dia bukan ibuku, sangat jauh perbedaannya," ujar Alan.


Azalea bingung dengan situasi yang ada, dia beralih menatap putrinya yang ternyata sudah tertidur.


"Maafkan istri saya bu." Ujar Alan dengan sopan.


"Tidak apa-apa, kamu menganggap saya adalah ibu kamu juga tidak apa-apa." Ujar Arumi dengan mata memerah.


Alan hanya menanggapinya dengan tersenyum, dia tidak tahu harus berkata apa. Lalu, Alan beralih menatap istrinya yang tengah merapihkan pakaiannya.


"Maaf bu, kami harus pulang. Semoga kita berjumpa lagi." Pamit Alan.


"Hati-hati nak." Arumi memberanikan diri untuk menyentuh bahu Alan. Hanya dengan itu, senyum Arumi merekah.


Alan sedikit merunduk, untuk mengambil Caramel dari gendongan sang istri. Lalu, dia membawa putrinya berjalan lebih dulu. Di ikuti oleh kedua anak kembar nya. Sementara Azalea, dia masih di sana menatap dalam Arumi.


Menyadari Azalea menatapnya, Arumi pun menatap Azalea dengan tersenyum lembut. Azalea tersenyum canggung, dia buru- uru pergi dari sana dengan sedikit malu.


Melihat kepergian Azalea, Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Tebakanmu benar, tapi sayangnya kurang tepat. Menantuku," ujarnya.


Di mobil, Azalea masih memikirkan soal Arumi. Dirinya merekam ekspresi Arumi di ingatannya. Dia merasa, jika tebakannya tentang Arumi tidaklah salah.


"Masih memikirkan soal ibu tadi?" Tanya Alan, menatap istrinya yang tengah melamun itu.


"Iya mas, aku rasa ... dia ibu kamu." Ujar Azalea menanggapi perkataan Alan.


Alan menggelengkan kepalanya, dia melihat sejenak putrinya yang bergerak di pangkuannya lantaran tidurnya yang terusik karena percakapan mereka. Alan sengaja menggunakan supir, karena khawatir dirinya akan mengantuk. Sementara si kembar, mereka sudah tidur di kursi belakang.


"Gak usah aneh-aneh deh sayang, nanti aku tunjukkan foto mama padamu," ujar Alan.

__ADS_1


"Emang mas punya?" Tanya Azalea sembari mengerjapkan katanya.


"Enggak si." Ujar Alan sembari tertawa kecil. Hal itu membuat Azalea merengut sebal.


.


.


.


Ting Tong!


Ting Tong!!


"IYAAA!! SEBENTAR!!" Diandra buru-buru berjalan ke arah pintu, dia sedikit jengkel dengan orang yang sedari tadi memencet bel rumahnya.


Cklek!


"Gak bisa sabar apa ya!! Eh ... REAGAN!!"


Diandra memekik, lantaran melihat putranya berdiri di hadapannya. Sudah dua tahun Reagan tak pulang, kini pria itu kembali pulang menemuinya.


"Putra mommy!!" Seru Diandra. Tanpa berlama-lama, wanita paruh baya itu memeluk Reagan dengan erat.


"Astaga, sayang. Mommy merindukanmu."


Reagan, pria itu tak banyak mengalami perubahan. Hanya, kulitnya terlihat lebih putih dari dua tahun yang lalu.


"Dari kapan di indonesia?" Tanya Diandra sembari mengajak putranya berjalan masuk.


"Dua hari yang lalu mom."


"APA?!" Mata Diandra terbelalak lebar, seakan bola matanya hampir keluar.


Plak!


Diandra memukul lengan putranya dengan kesal, tatapannya menatap Reagan dengan tajam.


"Sudah pulang dua hari, tapi kau malah keluyuran dulu!!" Omel Diandra.


"Lagi cari keberadaan mantu mommy yang belum muncul sampai saat ini." Ujar Reagan dengan tersenyum canda.


"Dapet gak?" Tanya Diandra dengan antusias.


"Enggak." Ujar Reagan dengan wajah datarnya.


"Ck, kurang pro kamu nyarinya." Celetuk Diandra.


Melihat putranya yang jauh lebih baik dan menerima keadaan, membuat Diandra sedikit tenang. Saat Azalea melahirkan Caramel, putranya hanya melakukan panggilan Video pada adiknya dan juga keponakannya yang baru lahir. Diandra memahami, jika putranya butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan.


"Reagan, kau pulang?"

__ADS_1


Reagan dan Diandra mengalihkan pandangan mereka pada Erlangga yang berjalan menuruni tangga.


"Daddy." Reagan menghampiri daddynya, kedua pria itu saling memeluk menumpahkan rasa rindu.


"Bagaimana? Sudah ketemu mantu buat daddy?" Tanya Erlangga ketika pelukan itu terlepas.


"Masih nyangkut dad, belum ketemu juga. Mungkin, dia lagi proses sidang sama suaminya. Kan bisa jadi."


Bugh!!


"Awss sakit mom!" Pekik Reagan kala Diandra lagi-lagi memukul lengannya. Kali ini, lebih keras hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Sembarangan!! Emang kamu gak suka sama yang masih ting-ting yah! Kenapa dari dulu yang di incar jandaa terus!" Pekik Diandra dengan kesal.


"Loh, apa salahnya? Janda gak seburuk yang mommy bayangkan. Dia wanita yang jauh lebih dewasa pemikirannya karena sudah mengerti tentang pernikahan. Justru bagus, lebih berpengalaman mom."


"Kamu!!" Diandra tak bisa menjawab ucapan putranya, ada benarnya juga. Hanya saja, dia ingin yang terbaik untuk putranya.


"Sudahlah, apa salahnya kalau putra kita mencintainya? Toh, bagus juga. Dari pada putra kita jadi perj4ka tua," ujar Erlangga dengan canda.


Reagan menggelengkan kepalanya, calonnya saja belum ketemu. Tapi, kedua orang taunya sudah merespon seperti dirinya sudah memiliki calon.


"Eh Regan! Kamu belum jawab pertanyaan mommy. Selama dua hari kamu kemana huh?" Seru Diandra meminta penjelasan.


Reagan yang lelah berdiri akhirnya beralih duduk di sofa. Dia merentangkan kedua tangannya pada sandaran Sofa.


"Aku ada urusan di bandung mom, biasa ... bertemu klien. Dia ingin berpisah dengan istrinya, ingin cepat beres katanya," ujar Reagan.


Diandra yang penasaran pun duduk di sebelah putranya. "Istrinya selingkuh yah?" Jiwa-jiwa gosip ibu-ibu dalam diri Diandra pun bangkit, hingga membuat wanita itu kepo dengan cerita selanjutnya.


"Bukan." Ujar Reagan sembari menegakkan tubuhnya. DIa meraih cangkir kopi dari meja dan meminumnya hingga kandas.


"Heh! Kopi daddy!!" Pekik Erlangga tak terima.


"Hus!! Udah si dad, nanti di buatkan lagi " Seru Diandra. Lalu, Diandra kembali menatap putranya dengan senyum mengembang.


"Terus-terus." Seru Diandra dengan penasaran.


"Mereka menikah sudah kurang lebih tujuh tahun lah, istrinya belum kunjung hamil. Jadi, klien aku niat mau nikah lagi. Tapi istrinya gak mau. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bercerai. Karena gak ada lagi yang bisa di pertahankan," ujar Reagan.


"Suaminya kok jahat banget yah," ujar Diandra.


"Aku gak tau mom, yang jelas aku hanya bekerja. Dia memintaku agar sidangnya cepat selesai," ujar Reagan dengan lelah.


Diandra terdiam, dia merasa kasihan dengan istri Klien putranya. Sebagai seoang wanita, dia juga turut merasakan sakitnya ketika suami meminta di izinkan untuk menikah lagi.


"Bukannya itu artinya ... suaminya kurang pro kali buatnya. Makanya gak jadi-jadi!!" Seru Diandra membuat Erlangga dan Regan sontak membulatkan matanya.


"Kenapa? Jangan salahin wanita doang dong! Salahin yang tranfernya! Enak aja nyalahin cuman cewek doang." Pekik Diandra dengan mata melotot kesal.


____

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya🥰🥰🥰


__ADS_2