
Pagi ini, si kembar udah siap untuk berangkat ke sekolah. Keduanya tengah sarapan, bersama dengan kedua orang tuanya. Jangan lupakan, adik perempuan nya yang berada di kursi bayinya.
"Nyam ... Enak mama." Celoteh Caramel ketika Azalea menyuapkan nasi dengan ayam pada putrinya.
"Enak hm? Lagi?" Caramel mengangguk, Azalea kembali menyuapkannya. Tidak susah membujuk putrinya untuk makan. Asalkan ada rasa, putrinya itu pasti suka.
Alan melihat interaksi istri dan putrinya dengan senyum mengembang, dia merindukan suasana ini. Di sana, dirinya begitu bosan karena tak ada yang menghiburnya. Kini, rasa lelahnya sudah hilang ketika melihat keluarga tercintanya.
"Papa, kami ada acara di sekolah. Suruh panggil orang tua." Celetuk Elouise.
"Acara apa?" Tanya Alan.
"Nda tau, pokoknya Acara." Sahut Elouise.
"Kalian ... gak nunjukin kepintaran kalian lagi lan? Oh, ayolah. Papa capek memindahkan kalian. Apa papa harus buat sekolah lagi sama seperti waktu kalian TK?"
Elouise dan Alexix saling pandang, lalu keduanya menatap Alan sembari menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok, kita normal-normal aja di sekolah. Iya kan Lexi?" Seru Elouise meminta dukungan dari kembarannya.
"Iya, kok." Sambut Alexix.
Alan menghela nafas lega, dia cukup lelah memindahkan putranya. Ingin buat sekolah kembali, tapi khawatir putranya semena-mena karena merasa sekolah miliknya. Walau di sekolah hanya sebatas pelajaran yang sudah keduanya kuasai. Alan sudah menyiapkan guru khusus untuk keduanya setiap sore hari untuk mengasah kemampuan mereka.
Alan juga tak ingin menyia-nyiakan kepintaran kedua putranya. Untuk itu, Alan membagi waktu kegiatan putranya. Namun, dirinya juga tak memaksa putranya untuk bisa segala hal. Di saat keduanya lelah belajar, Alan akan membebaskan mereka untuk mengistirahatkan diri mereka.
"Mas, cabang kantormu bagaimana? Sudah beres?" Tanya Azalea.
"Ehm sudah, hanya saja ... aku belum menemukan orang yang tepat untuk memegang perusahaan itu. Aku khawatir, perusahaan itu akan hancur di tangan orang yang tak bertanggung jawab." Terang Alan.
"Bagaimana kalau om Kendrick yang pegang perusahaan papa?" Seru Alexix membuat Azalea dan Alan menoleh ke arahnya.
Alan merasa, itu ide yang buruk. Dia tidak bisa tanpa Kendrick, jadwalnya akan hancur.
"Tidak, nanti jadwalku akan berantakan. Selama ini, yang kerjanya bagus hanya dia saja." Terang Alan.
"Kalau gitu, cari orang yang papa percaya. Jujur dan pekerja keras. Papa bisa percayakan padanya, sesekali papa juga bisa mengeceknya. Karena, jujur itu mahal. Gak semua orang bisa jujur." Celetuk Elouise.
Alan terdiam, siapa orang yang bisa dirinya percaya? Dirinya mengingat-ingat karyawan di kantornya.
"Entahlah, nanti papa pikirkan lagi."
Alan kembali fokus dengan sarapannya, begitu pun dengan si kembar. Hingga, dering ponsel Alan terdengar. Lalu, Alan melihat siapa yang menelponnya itu.
"El, daddy mu menelpon." Seru Alan.
Senyum Elouise mengembang, dia turun dari kursinya untuk mengambil ponsel Alan. "Mana ... mana!!" Seru Elouise.
__ADS_1
Alan memberikannya, dia melihat putranya yang segera menjauh sembari menerima telpon itu. Selama ini, Elouise selalu berkomunikasi dengan Dokter Aryan serta istrinya. Terkadang, Dokter Aryan pun datang mengunjungi Elouise.
"Hallo daddy! I miss you!!"
Azalea mengamatinya dengan senyum di bibirnya, lalu tatapannya beralih pada Alexix yang masih fokus dengan makannya.
"Kamu tidak ikut menelpon daddy dan mommy?" Tanya Azalea.
Alexix menggeleng, "Mereka orang tuanya Elouise, bukan aku. Ginjal anak mereka ada pada Elouise, bukan aku. Kenapa aku harus menganggap mereka orang tuaku? Kalian orang tuaku, aku cukup dengan kalian."
Azalea dan Alan melongo, tak biasanya Alexix berbicara sedewasa ini.
"Kejedot apa dia semalam?" Bisik Alan pada istrinya.
"Entahlah." Balas Azalea.
.
.
.
Azalea dan Alan sudah berada di sekolah si kembar, tampak sekolah itu sangat ramai dengan wali murid. Si kembar sudah masuk ke dalam kelas mereka lebih dulu. Sedangkan Alan dan Azalea, akan pergi ke pengumpulan wali murid.
"Pa!! Mau papa!!" Celetuk Caramel yang berada di gendongan Azalea.
Alan dengan sigap meraih putrinya, dia menggendong putrinya di lengan kirinya. Sementara lengan kanannya, di gandeng oleh sang istri.
Azalea sudah terbiasa dengan tatapan orang yang memperhatikannya, jadi dia tak terlalu memperdulikan apa yang ada.
Hingga, sampailah Alan dam Azalea di ruang perkumpulan. Keduanya langsung mengambil tempat duduk yang berada di barisan tengah.
"Acaranya belum mulai mas." Bisik Azalea.
"Mungkin belum." Jawab Alan. Alan mengeluarkan ponselnya, dia mengecek email yang masuk.
Sementara Caramel, dia duduk di pangkuan sang papa. Matanya menatap ke sebelahnya, dimana seorang bocah laki-laki menatapnya dengan kening mengerut.
"Tantik." Celetuk anak laki-laki itu.
Caramel seakan mengerti jika anak itu tengah memujinya, sehingga dia melebarkan senyumannya.
"Mama! mama! Tantik!!" Pekik Bocah berusia tiga tahun itu.
Tampak, ibu dari anak itu menoleh pada Caramel. Dia turut tersenyum melihat bayi itu, apalagi gigi Caramel yang baru saja tumbuh delapan. Menambah kesan lucu pada bayi itu
"Siapa namanya cantik?" Tanya wanita itu sembari mengusap tangan Caramel.
__ADS_1
Mendengar suara seorang wanita, Azalea menolehkan kepalanya. Sehingga, tatapannya dan wanita tadi bertubrukan. Keduanya saling melempar senyumnya.
"Anaknya jeng?" Tanya wanita itu.
"Iya bu," ujar Azalea. Dia masih asing dengan panggilan jeng.
"Cantik yah, mirip mama nya tenyata." Ujar wanita itu.
Azalea tersenyum, dia sedikit malu saat di puji cantik olehnya.
"Aaa!!" Pekik Caramel ketika bocah itu mencubit pipinya.
Mendengar pekikan putrinya, Alan baru menoleh. Dia menatap tajam bocah laki-laki yang menatap datar padanya.
"Jangan sentuh putriku bocah!" Geram Alan.
"Mas!!" Tegur Azalea.
Azalea merasa tak enak dengan ibu dari bocah laki-laki itu, sehingga dia meminta Alan bertukar posisi dengannya. Beruntung, Alan mau menurut.
"Maaf yah bu, suami saya emang posesif ama putrinya. Maklum, anak cewek satu-satunya." Ujar Azalea dengan tertawa sumbang.
"Enggak papa, suami saya juga gitu kalau sama anak perempuannya. Salah anak saya juga, memang iseng anaknya." Seru wanita tersebut.
Tak menyerah, bocah laki-laki itu justru mendekat pada Alan. Dirinya menatap Caramel yang tersenyum melihat kedatangannya.
"Kakak!" Pekik Caramel.
Alan menoleh, matanya menajam saat lagi-lagi dirinya melihat bocah itu.
"Ngapain kamu disini huh? Balik ke mama mu lagi sana!" Usir Alan.
Namun, bocah itu tak menghiraukannya. dia justru menarik tangan Caramel dan menc1umnya.
"Hehh!!!" Alan sungguh geram, dia mengambil tangan putrinya dan mengusapnya.
Tak sampai disitu, bocah itu tak kehabisan akal. Di saat Alan lengah, dia menarik baju Caramel agar bayi itu mendekat padanya. Lalu, dia menc1um pipi Caramel hingga membuat bayi itu menangis.
"EKHEE! EKHEEE!!"
"Kaauuu!!!" Alan ingin balik membuat anak itu menangis, tetapi sayang sekali. Bocah itu sudah kabur duluan.
"Takit ... takit ...." Alan mengusap pipi putrinya yang merah. Pantas saja terasa sakit, Alan bahkan meringis melihat pipi putrinya yang sangat merah ini.
"Bocah nakal, awas saja kalau bertemu lagi!" Geram Alan dalam hatinya.
___
__ADS_1
Satu dulu yah, besok penyelesaian. Mungkin up sampe 3 bab, pokonya besok tamat🤗
Oh ya, terima kasih atas koreksiannya. Kemarin gak fokus authornya😅 Nama putrinya Caramel yah🥰