
3 tahun kemudian
TING! TING! TING!!
Terdengar, suara dentingan mangkok. Terlihat, seorang bocah gembul perempuan tengah berlari menuju dapur, raut wajahnya terlihat sangat panik. Dia bahkan menggeser para maid yang sedang memasak.
"GESEL DULU! GESEL DULU!!!" Pekik anak itu.
Para maid pun menyingkir, mereka memperhatikan apa yang anak itu lakukan. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah. Anak itu membuka lemari piring yang berada di bawah dan mencari sesuatu di sana. Ternyata, dia mengambil mangkok miliknya dan segera berlari keluar. Larinya sangat kencang, membuat anak kembar yang sedang duduk di sofa terkejut melihatnya berlari.
"Kenapa dia?" Tanya salah satu dari mereka yang tak lain adalah Elouise.
"Entahlah, jajan lagi lah tuh. Tadi pagi gado-gado, sejam yang lalu kacang hijau, entah apa yang sekarang dia beli." Sahut Alexix yang duduk di hadapan Elouise sembari memainkan ipadnya.
Sedangkan bocah gembul menggemaskan tadi, dia berlari sembari memeluk mangkoknya. Walau lelah, dia berusaha untuk mencapai gerbang secepatnya.
"PAAAAKKK BUKA GELBANGNAAAA!!" Teriak anak itu.
"Aduh neng, jajan terus. Padahal bunyi es nya jauh loh, masih aja dengar." ujar Satpam itu sembari membukakan gerbangnya.
Bocah itu segera keluar gerbang, matanya langsung tertuju pada gerobak yang sedang di dorong oleh seorang pria. Dengan kaki gempalnya, dia berlari menuju ke arah pedagang itu.
"ABAAAANGG!! ES DOGELNAAAA!!"
Penjual es doger itu berhenti, dia berbalik dan menatap bocah yang sedang berlari ke arahnya dengan tersenyum tipis. Dirinya tak asing lagi dengan bocah itu, sebab bocah menggemaskan itu sudah menjadi pelanggannya.
"Eh neng Caramel, mau es Doger neng? Sebentar, abang buatkan yah," ujar tukang es itu pada bocah menggemaskan yang tak lain dan tak bukan adalah Caramel.
Caramel, dia tumbuh menjadi anak yang cantik. Kulitnya putih bersih, hidungnya mungil dan pipi gembul kemerahan. Tubuhnya sedikit berisi, tapi tidak gendut.
"Beli lima lebu yah bang," ujar Caramel sembari menyerahkan mangkoknya.
"Siap neng, bayar disini kan?" Tanya tukang itu sembari menyiapkan pesenan Caramel.
"Bayal lah, di kila Calamel nda ada duit. Nah duitna." Caramel memberikan uang sebesar lima ribu pada penjual tersebut.
Setelah pesenannya siap, penjual tersebut memberikan mangkok berisikan es doger pada Caramel. Dengan hati-hati, Caramel menerimanya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia, dia akan memakan es itu di siang hari seperti ini.
__ADS_1
"Hati-hati yah neng, awas jatuh." Titah penjual itu.
"Heum, telima kacih abang. Nanti kapan-kapan, kacihlah bonucan bial hubungan kita beltambah elat," ujar Caramel yang mana mengundang tawa penjual tersebut.
Caramel membawa mangkok es doger itu dengan jati-hati. Dia memasuki celah gerbang yang memang di sisakan sedikit untuknya. Lalu, anak itu berjalan menuju teras pos satpam. Dengan santainya, dia duduk di sana dan menikmati es nya.
"Kok gak masuk ke dalam neng?" Tanya Pak Satpam yang sedang ada di dalam pos.
"Pak Catpam nda liat? Itu Lumahna jauuuhh kali. Yang ada, campe cana Calamel pingcan. Yang ngabicin es na capa? Udah capek lali-lali, masa lali-lali lagi kecana." Gerutu Caramel.
Pak satpam hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia heran dengan anak majikannya yang satu itu. Tingkah Caramel, selalu membuatnya geleng-geleng kepala.
"TIIINN!!
Pak satpam segera memencet tombol pagar saat mendengar suara bunyi klakson. Berbeda dengan Caramel yang panik saat mendengar klakson itu. Bocah itu buru-buru mengangkat mangkoknya, dan membawanya masuk ke dalam pos satpam.
"Tuan." Sapa pos satpam itu pada seseorang yang menduduki kursi penumpang mobil sedan itu.
"Hem." Sahutnya yang tak lain adalah Alan. Pria itu tengah memakai kaca matanya, tatapannya tertuju pada sendal mungil yang tak asing di matanya.
"Nakal lagi rupanya. Lihat saja nanti." Batin Alan.
Alan beralih menatap pak Satpam, lalu dia membuka kaca matanya. "Pak, tolong buka pagarnya lebih lebar lagi. Nanti sore saya akan memanggil bar0ngsai buat acara nanti malam,"
Mendengar ada kata bar0ngsai, seketika Caramel menjadi panik. Dia buru-buru mengangkat mangkoknya, dan berlalu keluar menemui sang papa. Matanya langsung tertuju pada Alan yang tengah menatapnya dengan tersenyum tipis.
"Ekheee!! janan! janan panggil! Nanti dia makan Calamel kayak waktu itu. Ekheee!" Rengek Caramel.
"Anak nak4l, harus di hukum bukan?" Tanya Alan dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
Caramel menatap mangkoknya, seketika dia teringat ucapan Alan yang melarangnya jajan. Lalu, dia pun memberikan mangkok itu pada Pak Satpam.
"Tadi pak catpam yang minta." Pekik Caramel.
Pak Satpam yang tak tahu apapun melongo bingung. Dia menatap Caramel dan beralih menatap mangkok yang ada di tangannya. Sejak kapan dia meminta es doger?
"Apa papa pernah mengajarimu berbohong hm?" Tanya Alan, tatapan pria itu masihlah lembut.
__ADS_1
Mendengar itu, Caramel menunduk. Dia menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Melihat putrinya seperti itu, Alan memilih keluar dari mobil. Dia membawa Caramel ke dalam gendongan nya.
"Papa hiks ... sooollyyy!!" Pekik Caramel, mukanya sudah memerah menahan tangis. Tak lama, air matanya luruh di pipi gembul nya.
Alan hanya diam, dia masuk kembali ke dalam mobilnya dengan membawa putrinya. Di dalam, Alan memangku Caramel. Dia menghapus air mata putrinya yang terus mengalir turun.
"Papa melarang Caramel jajan, karena takut Caramel sakit. Boleh sesekali Caramel jajan, tapi tidak sehari lima kali. Apa kamu mengerti hm?" Tanya Alan sembari menatap putrinya dengan lembut.
"Ndaaa hiks ... ngeltina jajan enak. Pelut Calamel kenyang. Pelut kenyang, hati Calamel jadi ikut cenang."
Jawaban Caramel, membuat raut wajah Alan berubah datar. Ada saja yang putrinya itu jawab.
.
.
.
Sore hari, Caramel tengah memandangi ikan di kolam. Ikan itu adalah koleksi milik Elouise, abang nya itu senang sekali mengoleksi ikan. Azalea pun turut memantau putrinya sembari merajut jaket untuk putrinya itu.
"Mama, kenapa ikan belenang? Kenapa nda telbang aja?" Tanya Caramel sembari menatap Azalea.
"Kalau terbang namanya burung, kalau berenang namanya ikan." Jawab Azalea dengan simple.
"Heum ... begitu ...." Tatapan Caramel jatuh pada ikan yang terlihat gendut. Matanya melirik ke arah Azalea yang masih fokus dengan rajutannya. Lalu, Caramel pun kembali menatap ikan itu.
"Ikanna lagi hamil, bial Calamel bantu melahilkan. Baik kali Calamel ini." Batin Caramel dengan tersenyum senang.
Caramel meraih ikan itu, dengan kedua tangan gempalnya dia menekan perut ikan hingga keluar isi perutnya.
"ASTAGAA!! CARAMEL!!" Pekik Azalea saat melihat apa yang putrinya itu lakukan.
Caramel terkejut, dia menatap isi perut ikan itu yang keluar. Matanya menatap Azalea dengan tatapan berkaca-kaca. Azalea sudah panik, karena ikan yang Caramel pegang adalah ikan yang baru saja Elouise masukkan ke kolam tadi pagi.
"Caramel, astaga naakk!! Itu ikan abang, kenapa di geprek." Azalea ingin menangis rasanya, apalagi melihat ikan yang sudah di pastikan tak dapat selamat itu.
"Mama, ikan na mencelet. Apa calahku lupana." Lirih Caramel.
__ADS_1