Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Tingkah si kembar


__ADS_3

Sedangkan di dalam kamar, Alan tengah mengolesi salep pada tangan istrinya itu. Melihat tanda biru di sana, membuat Alan kembali merasa bersalah. Sedari tadi, pria itu hanya diam. Tangannya fokus pada tangan istrinya, hingga Alan memutuskan untuk bertanya satu hal. Yang membuat Azalea terkejut.


"Apa kau menguping pembicaraan ku dengan Brandon sebelumnya?" Tanya Alan tanpa menatap wajah istrinya.


Tak kunjung mendapat jawaban istrinya, Alan pun sontak mendongak. Menatap wajah pucat istrinya yang terlihat terkejut atas ucapannya.


"Dari kemarahanmu tadi, mengingatkanku dengan pembicaraanku dengan Brandon. Apabila kau diam, berarti tebakanku benar?"


Azalea mengalihkan pandangannya, sedari dulu dia tidak kuat menatap mata yang terus menghipnotis dirinya itu. Membuat keadaan hatinya selalu berdebar tak karuan.


"Maaf." Lirih Azalea, sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Alan dengan menatap lekat istrinya itu.


"Aku menguping pembicaraan kalian,"


"Terus?" Sahut Alan dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Mendengar perkataan Alan, membuat raut wajah Azalea berubah kesal. Dia mendelik pada suaminya itu. "Terus apa? Salahku cuman disitu aja kok! Gak usah cari perkara baru yang buat kita berdebat!" Kesal Azalea.


Alan tersenyum tipis, dia kembali menaruh salep itu di atas nakas. Lalu, dia mengambil kedua tangan Azalea dengan hati-hati. Tatapan matanya, menatap penuh cinta istrinya itu.


"Kalau menguping itu sampai selesai, jangan setengah-setengah. Aku memang mengatakan jika Selia adalah cinta pertamaku, seorang pria hanya mencintai satu kali dalam hidupnya. Selanjutnya, dia hanya melanjutkan hidup saja. Tapi, aku percaya dengan ada namanya cinta terakhir. Kamu memang bukan cinta pertamaku, tapi yang terakhir untukku. Sampai maut memisahkan kita, kamu tetap cintanya aku."


Azalea terdiam, dia sungguh malu karema sudah marah pada Alan. Padahal, pria itu belum selesai berbicara. Dia merutuki dirinya sendiri yang sudah salah paham dengan suaminya.


"Sudah tahu kesalahan sayangku ini apa, hm? Bertindak gegabah, jangan di ulangi lagi. Paham sayang?"


Azalea menahan nafasnya, degupan jantungnya sudah tidak normal lagi. Rasanya, dia ingin pingsan detik itu juga. Namun, saat keduanya asik menatap dalam diam. Tiba-tiba saja, pintu di buka dengan keras. Hingga membuat keduanya tersentak kaget.


BRUAAAKK!!


"HUAAA!!!"


"Eh, El kenapa sayang?" Tanya Azalea.


Elouise mendekat. air matanya sudah membasahi pipinya.


"Lempeyek, bijina kecangkut di jendelaaaa huaaa!!"


Alan menatap Azalea, begitu pun sebaliknya. Lalu, tatapan Azalea kembali menatap putranya.


"Emang El beli Rempeyek dimana?"


Azalea tahunya Rempeyek yang Elouise maksud adalah makanan, dia tidak tahu yang di maksud putranya itu adalah kucing.


"Bukan makanaaann, tapi kucing na El hiks ... kucing na El bijina kecangkut di jendela."

__ADS_1


"Apa nya?" Tanya Alan dengan kening mengerut.


"Bijinaaaa!!" Rengek Elouise dengan kesal sembari meloncat-loncat kecil.


"Biji? emang kucing ada bijinya?" Tanya Alan pada istrinya.


Azalea menggeleng, setahunya tidak ada. Entahlah, apa yang bahasa anaknya itu pake. Di saat mereka sedang pusing memikirkan biji yang di maksud oleh Elouise. Alexix datang den berdiri di samling adiknya.


"Bijina itu, lato-latona."


"Apa lagi lato-lato?" Seru Alan bertambah bingung.


Seketika, Azalea membulatkan matanya. Dia baru mengerti maksud kedua putranya.


"OOOHH!! ITU NYA! Kok bisa?!"


Alan yang masih belum mengerti, menoleh pada istrinya. Raut wajahnya semakin terlihat bingung.


"Apa nya sih?" Tanya Alan.


"Itu loh, aduh kamu liat aja sana gih!" Usir Azalea.


"Apa sih?" Bingung Alan, dia masih kekeuh untuk tahu apa yang di maksud mereka.


"Telornya! Telornya nyangkut! Nanti keburu m4ti lah tu kucing!!" Sentak Azalea.


"Telor? Emangnya kucing bertelur?" Bingung Alan.


BUGH!!


"AWWW!! El!!"


"Ituna kucing yang nyangkut papa." Cicit Elouise dengan takut.


Azalea terkekeh melihat suaminya menatapnya dengan tatapan melongo.


"Dari tadi di jelasin gak ngerti, jadi kesel anaknya kan." Ledek Azalea.


Alan pun menghampiri tempat yang Elouise tunjukkan, dimana kucing itu tersangkut. Sesampainya di sana, Alan langsung menolongnya.


"Pelan-pelan Papa, awas itu ketindalan catu nanti bijina." Celoteh Elouise.


Setelah Alan berhasil mengeluarkan kucing itu, kucing tersebut langsung berlari kencang tak tentu arah. Hingga membuat Elouise mengejarnya.


"EL!! JANGAN LARI-LARI!!" Pekik ALan. Jujur saja, dia khawatir Elouise jatuh. Jika anaknya itu jatuh, bisa saja perutnya terhantam lantai yang keras hingga membuatnya kesakitan.


Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ceria putranya itu. Lalu, tatapannya beralih pada Alexix yang tengah menadahkan tangan padanya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Alan dengan bingung.


"Dah lama nda makan cilol, papa yang baik kacih duit lah bial anakna makan cilol." Ujar Alexix.


"Enggak ada! Di kulkas banyak jajan, makan aja apa yang ada di rumah." Tolak Alan.


"Ekheee!! Cilol doang nda boleh! Dacal pelit! Lekci mau minta mama aja." Seru Alexix.


"Yaudah, nih!" Alan memberikan uang pada putranya itu.


Alexix menatap uang yang Alan berikan dengan kening mengerut. Lalu, tatapannya beralih pada sang papa yang masih berdiri di hadapannya.


"Dua lebu? Ini mah cukup bayal palkil doang, cilokna nda kebeli ini!" Pekik Alexix.


"Cukup itu! Jangan banyak-banyak jajan!" Omel Alan.


Alexix mendelik sinis, "Papa dah bangklut yah? Kacian kali mama kalau gitu. Cehalusna mama nikah cama duda kaya laya, bial anakna banyak ja ...,"


"Mau berapa?"


Pertanyaan Alan membuat senyum Alexix merekah, apalagi papanya itu mengeluarkan dompetnya dari dalam celananya.


"Nah gitu dong! Minta selatus lebu!" Seru Alexix, membuat Alan seketika melototkan matanya.


"Banyak amat! Kamu mau beli cilok apa mau beli gerobaknya hah?!" Seru Alan dengan tatapan tak percaya.


"Kalau nda ikhlac ngacihna ya nda ucah, Lekci culuh mama cali papa ba ...,"


Srett!!


Alan memberikan uang berwarna merah itu pada putranya dengan tatapan kesal. Jika sudah di ancam seperti itu, Alan tak bisa apapun. Apalagi, putranya adalah segalanya bagi istrinya itu.


"Nah, gini kan enak. Kelja cama yang menguntungkan. Benal kan papa?" Seru Alexix dengan senyum memgembang.


"Ya." Sahut Alan dengan lemas.


"Telima kacih!" Seru Alexix dan berlalu lergi.


Alan hanya bisa menatap kepergian putranya itu dengan helaan nafas berat. Entah dari mana sifat putranya itu.


Saat Alan akan berniat kembali ke kamar istrinya, tiba-tiba saja dia di kejutkan dengan kehadiran Elouise. Entah sejak kapan putranya itu ada di belakangnya. Dan parahnya lagi, Elouise tengah menadahkan tangannya.


"Agal hubungan beltambah elat, bagi dulu celatus."


"Berdua aja sana sama Alexix, anak kecil enggak boleh jajan banyak-banyak." Seru Alan.


Elouise mengembungkan pipinya, "Minta cama mama aja lah, bilang Papa pelit. Om Legan kalau ngacih campe dua la ...,"

__ADS_1


"Mau minta berapa?" Dengus ALan.


"Hehe ... dua, yang walna melah. Papa baik cekali, cayang papa."


__ADS_2