
Setelah acara perkumpulan wali murid, Alan mengajak Azalea untuk makan siang di restoran. Sementara si kembar, masih mengikuti kegiatan sekolah yang akan selesai dua jam ke depan. Mungkin, Alan akan meminta supir untuk menjemput keduanya.
"Sayangku mau makan apa?" Tanya Alan pada istrinya yang tengah mendudukkan diri di hadapannya.
"Terserah mas saja." Jawab Azalea. Matanya menatap putrinya yang tengah menatap ke arah tempat permainan anak-anak. Restoran itu memiliki playground, dimana anak-anak akan bermain tanpa mengganggu orang tua mereka yang sedang makan.
"Ma ... ma ..." Caramel menunjuk tempat bermain itu, membuat Azalea menatap suaminya yang tengah melihat menu makanan.
"Mas, aku ke sana dulu yah." Izin Azalea.
"Kemana?" Tanya Alan dengan kening mengerut.
"Playground, Caramel mau main di sana." Jelas Azalea.
Tatapan Alan beralih pada anak-anak yang sedang bermain, matanya kembali menatap istrinya dengan tajam.
"Jangan, disini aja! Mainan itu untuk anak seusia kembar, tidak cocok untuk bayi."
Azaela menghela nafas pelan, suaminya terlalu posesif terhadap putri mereka. Apalagi, Caramel yang terhitung anak kesayangan papa nya.
"Maaa!! Ekheee!!" Caramel mulai rewel, dia merengek ingin turun.
Mendengar rengekan putrinya, Alan akhirnya menghela nafas pelan. "Yasudah, sebentar saja. Jangan biarkan anak lain mendekat padanya, atau suruh bodyguard saja yang menemani Caramel. Kamu di sini temani mas." Titah Alan.
"AKu saja yang temani Caramel." Seru Azalea dengan senyum mengembang.
Alan melihat kemana istri dan putrinya pergi, beberapa saat dia mengamati keduanya. Setelahnya, dia kembali melanjutkan pesanannya yang sempat tertunda.
Selang beberapa saat Azalea menemani putrinya bermain, dia menerima telpon dari seseorang. Lalu, dia pun mengangkatnya. Tak sadar, Caramel terlepas dari jangkauannya.
"Baik, besok mungkin akan saya adakan meeting. Untuk stok barang, coba hubungi mba Rena. Iya, nanti saya ...,"
BUGHH!!
"EKHEE! EKHEE!!"
"Caramel!!" Mata Azalea membulat sempurna saat melihat putrinya terjatuh. Caramel yang berdiri di depan perosotan, tentunya sangat fatal. Apalagi tadi ada anak yang menaiki perosotan itu, hingga menabrak tubuh mungil Caramel.
Azalea bergegas menghampiri putrinya, tetapi belum sampai pada putrinya. Seorang wanita paruh baya sudah mendudukkan putrinya sembari mengusap rambutnya pada kepala sang putri.
"Cup ... cup ... nenek sembuhkan yah sayang, sudah ... ini sudah sembuh."
"Maaf nyonya, dia putri saya." Ujar Azalea sembari memegang lengan Caramel. Waspada akan orang asing, Azalea lebih dulu bertindak.
"Oh ya, ini." Wanita paruh baya itu memberikan Caramel pada Azalea. Bergegas Azalea menggendong nya sembari mengusap kepala belakang putrinya.
"Lain kali hati-hati, jangan meleng jaga anak. Nanti nyesel," ujar wanita itu. Memberikan nasehat pada Azalea yang sudah lalai pada putrinya.
Azalea mengangguk, dia juga merasa bersalah dan menyadari kesalahannya.
"Terima kasih Nyonya atas pertolongannya, kalau begitu saya permisi dulu." Azalea buru-buru pamit, meninggalkan wanita paruh baya itu yang menatapnya dengan tatapan rumit.
Alan menatap istrinya yang baru saja kembali, matanya melebar kala melihat putrinya yang menangis.
"Kenapa?" Tanya Alan sembari beranjak dari duduknya.
"Maaf mas, tadi aku lengah. Jadi Caramel gak sengaja terdorong." Ringis Azalea.
Alan menggulung lengan kemejanya, lalu dia meraih putrinya yang tengah merentangkan tangan padanya.
__ADS_1
"Maaf mas." Cicit Azalea, dia khawatir suaminya marah.
Alan hanya diam, ada rasa kesal dalam hatinya karena Azalea tak menuruti perintahnya. Dia hanya mengecek keadaan putrinya, terutama bagian kepalanya. Tanpa menghiraukan kata maaf sang istri.
"Ekheee ... takit pala Mel." Adu Caramel, menunjuk belakang kepalanya.
Alan mengusap kepala putrinya, memang terasa seperti ada benjolan.
"Nanti kita periksa yah." Tetang Alan.
Alan kembali duduk saat pesanannya sampai, dia mengambil makanan putrinya. Sepertinya, ia akan menyuapi putrinya itu.
"Mas, biar aku saja." Linta Azalea.
"Makanlah." Titah Alan.
Azalea terdiam, suaminya benar-benar marah padanya. Nafsu makan Azalea menurun, dia hanya menatap suaminya yang tengah menyuapkan putri mereka makan.
Menyadari istrinya yang tak kunjung makan, Alan pun menghela nafas panjang.
"Kenapa? Mau ganti menu?" Tanya Alan sembari menatap istrinya dengan lekat.
"Tidak. Enggak nafsu, aku mau pulang saja." Ujar Azalea dengan wajah kesal.
Alan menarik nafas panjang, istrinya merajuk karena dia diamkan. Alan menatap putrinya yang lahap dengan makanannya. Bahkan, pipi gembulnya terus bergerak seiring bayi itu mengunyah makanannya.
"Makanlah sayangku, mas tidak marah. Biar Caramel sama mas, jarang-jarang kamu makan dengan tenang kan?"
Senyum Azalea mengembang, dia bergegas mengambil makanan yang lain dan segera melahapnya. Alan yang melihat itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semudah itu mood wanita berubah.
Selesai makan, Azalea dan Alan berniat langsung pulang. Saat keduanya akan memasuki mobil, mata Azalea tak sengaja menangkap seorang wanita yang tadi membantunya.
"Mas, tadi orang itu yang membantu Caramel ketika terjatuh." Seru Azalea sembari menarik kemeja belakang suaminya.
"Itu loh! Wanita paruh baya yang pakai dress hitam, masa kamu gak lihat!" Pekik Azalea.
"Oh, yang ada di sebelah mobil itu yah?" Tanya Alan.
Alan menatap wanita yang tengah membelakanginya, terlihat jika wanita itu akan memasuki mobilnya.
"Mungkin dia buru-buru sayang, udah yuk kita pulang. Kasihan Caramel, kecapean dia," ujar Alan sembari melirik putrinya yang tengah menguap di gendongan nya.
Alan pun masuk terlebih dahulu, meninggalkan Azalea yang penasaran dengan wanita paruh baya yang memasuki mobilnya. Azalea sangat yakin, jika tadi wanita itu sempat menatap ke arahnya dan tersenyum padanya.
"Sayang! Ayo!" Seru Alan.
"Iya mas." Sahut Azalea dan bergegas masuk.
Sementara wanita paruh baya yang sedang ada di mobil itu, dia menyadari kehadiran Alan dan Azalea. Karena itu, dia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Wanita itu menghela nafas pelan, matanya kini berkaca-kaca. Tak mampu lagi menahan air matanya, wanita itu pun akhirnya menangis.
"Mama belum sanggup untuk bertemu denganmu Alan. Berbahagialah dengan keluarga kecilmu, mama tidak ingin merusak kebahagiaanmu." Lirihnya.
.
.
.
__ADS_1
Azalea merebahkan putrinya di ranjang sang putri yang memang terletak di dekat ranjangnya. Dia menyelimuti tubuh Caramel dengan selimut bayi kesayangannya.
Grepp!!
Azalea tertegun saat ada tangan kekar yang memeluk dirinya. Sudah Azalea tebak, jika tangan itu adalah milik suaminya. Bisa ia rasakan, nafas Alan yang berada di lehernya membuat dirinya merasa aneh.
"Mas, geser ih!"
"Sayang, kangen." Bisik Alan.
"Astaga maaass, masih sore ini. Bentar lagi si kembar pulang." Kesal Azalea.
"Udah, lepas!" Azalea menepuk tangan Alan, berharap pria itu melepasnya.
bukannya melepas, Alan justru membalikkan tubuh istrinya. Dia meraih leher istrinya agar kedua wajah mereka mendekat.
"Mas, aku mau kasih tau sesuatu." Bisik Azalea.
"Apa?" Tanya Alan, matanya masih menatap lekat istrinya. Dia mengelus pipi istrinya dengan jari jempolnya.
"Aku telat datang bulan." Bisik Azalea, membuat Alan seketika melebarkan matanya.
"Serius?!" Pekik Alan tak percaya.
Azalea mengangguk, dia menatap raut wajah cemas suaminya. Alan seakan tak percaya dengan apa yang istrinya katakan.
"Jangan bercanda sayang, aku masih trauma melihat kamu melahirkan." Ringis Alan.
Bagaimana tidak? Saat melahirkan Caramel, Alan melihat sendiri perjuangan istrinya. Bahkan, setelah Caramel lahir. Azalea sempat di nyatakan koma beberapa hari karena kehabisan darah. Sungguh, jika Alan mengingatnya. Pria itu tak akan sanggup kehilangan istrinya.
"Serius mas!" Seru Azalea dengan senyum mengembang.
"Enggak sayang, mas gak mau." Seru Alan sembari menggelengkan kepalanya.
"Loh, gak mau gimana? Kalau udah jadi gimana? Kan gak bisa di cancel?!" Pekik Azalea dengan mata melotot tajam.
.
.
.
Sementara itu, di bandara. Terlihat, seorang pria tengah berjalan sembari menarik kopernya. Kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya, pakaiannya terlihat sangat kasual. Dimana ia memakai celana hitam, kaos putih yang di lengkapi dengan jaket kulit hitam.
Pria itu menghentikan langkahnya di pemberhentian penjemputan, dia melihat sejenak jam tangan yang melingkar.
Dertt!!
Derttt!!
Pria itu mengangkat ponselnya yang berdering. "Ya, dengan pengacara Xaver disini."
"...,"
"Hem, baik. Atur jadwalnya, pengacara untuk perceraian ... aku menerimanya." Ujar pria itu dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
___
Tadinya mau di tamatin, tapi ganti haluan kayaknya. Maaf yah, tadinya mau up 3 sekalian tamatin tapi gak jadiðŸ˜ðŸ˜ kudu ganti konsep. karena malah pada gak mau tamatðŸ˜ðŸ˜ ini gimana urusannyaðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Yaudah, aku juga lupa si soal ibu Alan. Nanti di bahas yah, dan juga Reagan. Kira kira ... jodohnya siapa nih? Ada yang bisa tebak?😆
Kemaleman yah up nya, aku ada jadwal ngajar juga sehabis maghrib. Padet banget jadwal author hari seninðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜