
Alexix dan Elouise menuruni mobil, keduanya telah sampai di rumah. Saat memasuki teras, keduanya menghentikan langkahnya saat melihat sosok mungil yang tengah duduk di ambang pintu utama sembari memainkan sebuah boneka.
"Caramel!" Pekik Elouise.
Caramel tersentak kaget, dia langsung menoleh. Menatap Elouise yang datang menghampirinya dengan senyum mengembang.
"Kakak!" Pekik Caramel.
Elouise meraih adiknya, dia menggendong si gembul Caramel dan membawanya masuk. Sedangkan Alexix, dia hanya mengikuti kedua adiknya dari belakang.
"Loh, Caramel ada sama kamu ternyata." Azalea datang dari arah dapur, celemek nya belum terlepas. Wajahnya kotor karena tepung, jelas sekali jika wanita itu sehabis membuat kue.
"Adek main di luar." Terang Elouise.
"Oh ya?!" Pekik Azalea dengan mata membulat. Bergegas, dia menghampiri putrinya yang ada di gendongan Elouise.
"Maaf sayang, tadi mama sibuk di dapur. Tapi, paman penjaga ada di depan kan tadi?" Tanya Azalea pada Elouise.
"Ada kok, ya kan Lexi?" Sahut Elouise menatap Alexix yang berada di sebelahnya.
"Kau nda lihat tadi penjaganya badannya besar-besar begitu? Kenapa tanya lagi?" Kesal Alexix.
"Heh! Sensi kali kau! Cuman di tanya juga." Elouise pun ikut kesal dengan jawaban Alexix.
Azalea turun tangan, dia tak ingin lagi kedua bocah itu bertengkar. "Sudahlah, mama buatkan kue untuk kalian. Ayo, kita ke dapur."
Mendengar hal itu, Elouise dan Alexix tersenyum lebar. Keduanya bergegas menuju dapur, meninggalkan Azalea yang heran dengan tingkah keduanya.
"Kalau soal makanan, pasti gak ada yang mau kalah." Gumam Azalea.
"Ma!! Nen!" Seru Caramel menepuk d4da sang mama.
"Jangan sekarang nak, mama belum selesai beres-beres." Ujar Azalea sembari melangkah menuju dapur.
Azalea memotongkan kue buatannya, kue itu baru saja keluar dari oven. Jadi, mungkin sedikit panas. Namun, hal itu tak membuat Alexix dan Elouise menunda acara makan mereka.
"Ma, nanti sore kita mau kerja kelompok di rumah temen." Izin Elouise.
"Dimana rumahnya?" Tanya Azalea dengan kening mengerut.
"Di perumahan baru dekat mall kota." Jawab Alexix.
Azalea mengangguk mengerti, tak jauh dari mansion. Memang, kerap kali putranya kerja kelompok. Namun, selalu di mansion ini. Baru kali ini mereka kerja kelompok di rumah teman mereka.
__ADS_1
"Kita mau ke rumah temen yang orang tuanya polisi loh ma." Celoteh Elouise, mulutnya penuh dengan kue yang Azalea buat.
"Telan dulu, baru ngomong." Tegur Alexix, menepuk pelan tangan adiknya.
Caramel menatap kue buatan Azalea, tatapannya pun kini beralih lada Elouise. Melihat kakaknya itu makan, membuat li*ur Caramel menetes.
"Adek mau? Sampe ng3nces gitu." Ledek Alexix sembari menyodorkan kuenya.
Saat tangan gembul Caramel akan mengambil kue itu, tangan Azalea meraih tangannya.
"Jangan sayang, adek gak boleh makan yang manis." Tegur Azalea dengan halus.
Mulut Alexix membulat, "Oh ya, Lexi lupa. Maaf mama," ujar Alexix.
"It's okay sayang." Sambut Azalea dengan tersenyum.
Karena tak dapat aap yang dia mau, Caramel pun merengek. "EKHEEE!! ELIT!! ELIT!! EKHEE!!"
"Heh, udah ngerti bahasa pelit kamu yah. Di ajarin siapa sih, hm?" Azalea menc1um pipi putrinya yang berada di pangkuannya, membuat putrinya itu akhirnya menangis.
"HIKS ... HUAAA!!!"
"Ayo, ayo nen yok." Ajak Azalea.
"Sehabis ini ganti pakaian dan tidur siang. Nanti sore, mama bangunkan. Jangan main game oke,"
"Oke mama." Sahut keduanya.
Azalea percaya pada keduanya, selama ini dia mendidik keduanya dengan baik. Alexix dan Elouise, tak pernah mencuri waktu bermain game. Di saat jam nya tidur, mereka akan tidur, di saat belajar mereka akan belajar. Alan sudah memberikan waktu bermain game untuk keduanya yang hanya ada di saat jam tujuh malam hingga jam makan malam. Kecuali hari libur, Alan membebaskan keduanya itu bermain.
Azalea memasuki kamarnya, dia merebahkan dirinya di ranjang. Bersamaan dengan Caramel. Bayi itu, merengek tidak sabaran.
"Sabar, ini juga baru mau di buka." Ujar Azalea sembari menarik bajunya.
Setelah melihat nutrisinya, Caramel langsung melahapnya. Tanpa memperdulikan posisinya yang kini menungg1ng. melihat posisi putrinya, Azalea tertawa. Sudah biasa Caramel menyusu padanya dengan banyak gaya. Bahkan, terkadang bayi itu menduduki wajah sang mama.
"Anak papa, dasar."
.
.
.
__ADS_1
Di kantor, Alan di sibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Niat, siang ini dia kembali ke rumah untuk makan siang. Terpaksa, dia harus membatalkannya karena ada rapat dadakan.
"Kendrick, jelaskan tentang perusahaan ini. Kenapa dia ingin bergabung dengan perusahaan kita. Ku rasa, perusahaan itu bergerak mencari investor luar. Bukan lokal." Ujar Alan sembari memberikan sebuah dokumen.
Kendrick mengambil dokumen itu, dia membawanya dengan teliti. Lalu, keningnya mengerut dalam.
"Tuan, perusahaan ini pusatnya sangat besar di Amerika. Kenapa bisa dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita?" Heran Kendrick.
Sepertinya, keduanya lupa jika perusaahan yang Alan bangun kini sudah termasuk perusahaan terbesar se-asia.
"Entahlah, kurang kerjaan sekali mereka." Jawab Alan dengan lesu.
"Jadi, batalkan saja tuan?" Tanya Kendrick.
"Tapi, coba sini. aku ingin lihat berkasnya. Siapa tahu, mereka menawarkan keuntungan yang besar. Aku juga berniat ingin membangun perusahaan di sana."
Kendrick melongo, kertas itu di ambil begitu saja dari tangannya. Sejenak, Kendrick berpikir. Beberapa kekayaan yang tuannya punya saat ini.
"Tuan, apa anda tidak lelah menjadi orang kaya?" Tanya Kendrick.
Sontak, tatapan Alan mengarah padanya. "Siapa yang lelah jadi orang kaya?" Bingungnya.
"Hais, enak sekali jadi tuan. Punya perusahaan banyak, mau apa tinggal nunjuk. Gak mikirin bayar uang kontrakan seperti saya." Ujar Kendrick mendramatisir.
Alan melempar pena yang ia pegang sejak tadi pada asistennya itu. "Gak usah berlagak seperti gajimu di bawah lima juta aja Kendrick! Aku memberimu gaji lima puluh juta sebulan, belum uang makan dan bonus lainnya. Kalau kau lelah bekerja, aku akan memberikan pekerjaan ini bagi yang lain." Ancam Alan.
"Eh, jangan tuan! Nanti saya jadi pengangguran, terus nikahnya kapan kalau modalnya gak terkumpul?!" Pekik Kendrick.
Alan mendelik sinis, bukan urusannya kalau soal itu. Lagian, dia juga tidak melarang Kendrick untuk menikah.
"Menurutmu, kalau menikah yang penting uang atau calon dulu?" Tanya Alan dengan satu sudut bibirnya yang terangkat.
Kendrick berpikir sejenak, matanya menatap langit-langit kantor. "Ehm ... kalau calonnya dulu, nikah kan butuh uang. Kalau uangnya dulu, masa nikah kagak ada calonnya. Ya butuh dua-duanya lah!" Seru Kendrick.
Mendengar jawaban Kendrick, senyuman Alan mengembang.
"Menurutku, kau hanya butuh duit untuk menikah," ujar Alan membuat Kendrick terlihat bingung.
"Kenapa bisa gitu?" Tanya Kendrick dengan penasaran.
"Soalnya, tidak ada yang mau denganmu. Hahahaha!!"
Raut wajah Kendrick berubah datar, matanya menatap kesal bos nya yang tertawa lepas di atas penderitaannya. Padahal, jika di ingat. Dia memiliki jasa dalam menyatukan cinta tuannya dengan istrinya.
__ADS_1
"Ganti bos bisa gak sih." Batin Kendrick.