Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Saya ibu kandungnya


__ADS_3

Alan tengah berjalan di lobi kantornya, dia nampak sibuk dengan berkas dan juga ponsel yang dia jepit antara telinga dan bahunya.


"Kendrick, berkasnya tertukar. Kau dimana sekarang?" Tanya Alan sembari memperhatikan kertas di tangannya.


"Oke, diam di sana. Aku akan menyusul. Bisa-bisanya kau teledor seperti ini."


Alan terus menelpon, dia berniat ke kafe depan dimana asistennya akan bertemu dengan klien. Alan pun mulai menyebrang, tetapi dirinya tetap fokus pada berkas karena mengira jalanan sedang sepi.


TIN!!


TINN!!!


Alan menoleh, netranya terbelalak saat melihat sebuah mobil yang hampir mendekat ke arahnya. Tubuhnya tiba-tiba nge-freez, tak bisa ia gerakkan.


"AWASS!!"


Sett!!


Alan tak sadar, seseorang menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh ke aspal. Kepala Alan terbentur, begitu pun dengan seorang yang menolongnya.


"Kamu gak papa?"


Alan meringis, dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sepertinya jahitan di kepalanya kembali terbuka karena sebuah benturan. Hingga, menyebabkan perban itu kembali berdarah.


"Tuan!!" Kendrick datang, dia segera membantu tuannya itu.


"Lukamu kembali terbuka, sebentar. Saya ambil mobil untuk membawa anda ke rumah sakit!!"


Kendrick berlari meninggalkan Alan yang nasih meringis kesakitan, tampak orang yang menolong Alan terus menemaninya.


Alan melihat siapa yang menolongnya di tengah kesakitan yang ia rasakan. Ternyata dia adalah wanita paruh baya yang ia lihat di restoran dua hari yang lalu.


"Ibu ini. ...,"


"TUAN!! AYO!" Kendrick kembali, dia membantu memapah Alan masuk ke dalam mobil.


"Kendrick! Sepertinya ibu itu juga terluka, ajak dia sekalian ke rumah sakit." Titah Alan dengan mata terpejam menahan sakit.


Tatapan Kendrick beralih pada wanita paruh baya itu, benar kata tuannya. Wanita itu kesulitan untuk berdiri karena merasakan sakit di kakinya.


"Nyonya, ayo. Biar kita ke rumah sakit sekalian!" Pinta Kendrick.


Wanita yang tak lain adalah Arumi itu pun di bantu berdiri oleh Kendrick. Sepertinya kakinya terkilir, hingga menyebabkan dia sulit berdiri.


Setelah Arumi masuk, Kendrick langsung membawa mereka ke rumah sakit. Selama perjalanan menuju rumah sakit, terlihat jelas sekali rasa khawatir Arumi pada Alan.


"Tolong lebih cepat." Pinta Arumi saat melihat Alan yang sudah tak berdaya lagi.


"Aoa tuan Alan sudah tidak sadarkan diri?" Tanya Kendrick.


"Iya! Darahnya terus keluar! Cepatlah!!" Sentak Arumi.


Kendrick mengangguk panik, sejenak dia melirik ke arah spion tengah. Terlihat raut wajah kekhawatiran Arumi. Namun, Kendrick merasa itu adalah hal yang wajar.


Dertt!!

__ADS_1


Dertt!!


Ponsel Kendrick yang ada di pangkuannya berdering, dia melirik sebentar ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


"Aduh! Noja telpon lagi!" Ringis Kendrick.


"Apa Azalea yang menelpon?" Tanya Arumi dengan penasaran.


Kendrick tertegun, dia heran mengapa Arumi bisa tahu.


"Saya mengenal bos mu, biar saya yang angkat panggilannya."


Dengan ragu, Kendrick menyerahkan ponselnya. Lalu, dia kembali fokus mengemudi, sembari memperhatikan gerak-gerik Arumi yang terlihat mencurigakan di matanya.


"Halo, Lea ini mama Arum. Tolong, kamu ke rumah sakit X sekarang. Rumah sakit yang dekat dari kantor suamimu. Dia baru saja hampir tertabrak mobil. Luka di keningnya kembali terbuka," ujar Arumi dengan suara bergetar.


.


.


.


Azalea berlari di lorong rumah sakit sembari menggendong putrinya, raut wajahnya sudah tak bisa dia ekspresikan lagi. Betapa resahnya dia saat ini, memikirkan bagaimana kondisi sang suami.


"Kendrick!!" Teriak Azalea saat melihat Kendrick yang berdiri di depan ruang UGD.


"Nona." Sahut Kendrick.


"Bagaimana keadaan suamiku? Kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya Azalea dengan siara bergetar.


"Terus orang yang hampir nabraknya bagaimana? Dia juga harus tanggung jawab kan?" Tanya Azalea.


"Dari pengamatan orang-orang sekitar, tuan yang salah. Dia menyebrang tidak hati-hati, karena mobil tidak bisa mengerem secara mendadak. Jika mobil melakukan rem dadakan, dia akan membahayakan pengendara di belakangnya. Tapi untunglah, nyonya tadi menolong tuan."


Mata Azalea mengerjap pelan, dia baru ingat dengan Arumi. Seketika, dia langsung menanyakan kabar Arumi pada Kendrick.


"Beliau juga sedang di tangani oleh dokter di ruangan lain." Tetang Kendrick.


Azalea menghela nafas pelan, dia mengusap dadanya. Jantungnya berdebar tak karuan, berita ini membuatnya merasa campur aduk.


Cklek!


"Keluarga ibu Arumi?"


Azalea langsung berdiri, dia menghampiri dokter yang baru saja keluar itu.


"Dia ibu saya, bagaimana keadaannya dok?" Tanya Azalea mewakili.


"Kakinya terkilir, sehingga kami melalukan gips pada kakinya. Pasien sudah bisa pulang hari ini juga." Terang dokter otu.


"Lalu, suami saya?" Tanya Azalea dengan raut wajah kekhawatiran nya.


"Suami ibu masih dalam penanganan, harap bersabar. Anda bisa masuk untuk melihat kondisi Ibu Arumi, kalau gitu saya permisi dulu."


Setelah kepergian dokter tersebut, Azalea pun masuk ke dalam ruangan Arumi. Matanya menangkap Arumi yang tengah duduk bersandar sembari menatap kedatangannya.

__ADS_1


"Bagaimana suamimu, Lea?" Tanya Arumi dengan penasaran.


"Masih di tangani." Jawab Azalea.


Azalea kemudian duduk di kursi sebelah brankar, dia. meremas kedua tangannya karena merasa canggung.


"Maaf, saya gagal menyelamatkan suami kamu," ujar Arumi memecahkan keheningan.


Azalea mengangkat wajahnya, dia menatap Arumi dengan tatapan lekat.


"Tidak nyonya, seharusnya saya yang berterima kasih. Jika tidak, bisa saja kondisi suami saya semakin parah," ujar Azalea.


"Sebelumnya, ada apa dengan kening suamimu?" Tanya Arumi dengan penasaran.


"Dia kecelakaan saat pulang dari kantor, beruntungnya saat itu ada seseorang menolongnya." Terang Azalea.


Arumi mengangguk, dia khawatir dengan keadaan Alan. Melihat ekspresi Arumi, membuat Azalea bertambah penasaran.


"Nyonya, saya boleh bertanya?" Tanya Azalea dengan nada pelan.


"Tanya saja." Sahut Arumi sembari menatapnya.


"Apakah anda sengaja berada di sekitar kami?" Tanya Azalea dengan tatapan serius.


"Maksudnya?" Sahut Arumi dengan kening mengerut.


Azalea menegakkan tubuhnya, dia mengingat kembali tentang pertemuannya dengan Arumi.


"Pertemuan kita terlalu sering, dan itu aneh. Jika sesekali kita tak sengaja bertemu, tak ada yang salah dengan itu. Tapi, jika sering. Saya merasa, anda memang memantau kami."


"Apa?" Arumi mengerjapkan matanya, seakan tidak tahu aoa yang sedang Azalea katakan.


"Anda seperti membuntuti kami, setiap kami di luar. Kami selalu bertemu dengan anda. Bukan sekali dua kali, bahkan pertemuan kita sudah lebih dari tiga kali."


Arumi terdiam, dia mengalihkan pandangannya dari Azalea. Hal itu, membuat Azalea menyeringai samar.


"Bukankah tebakan saya benar? Jika anda adalah ibu kandung mas Alan? Saya sebagai istrinya, tak banyak tahu tentang apa saja yang suami saya sukai. Termasuk anggur, buah kesukaannya. Karena setelah menikah, yang saya tahu ... anggur adalah buah yang paling dia benci."


Mendengar hal itu, sontak Arumi menatap Azalea dengan tatapan terkejut.


"Bagaimana bisa?! Dia paling menyukai anggur dan ...,"


"Karena anda berjanji untuk membelikannya anggur, tapi anda malah membawanya ke panti asuhan!!"


"Apa?"


Azalea dan Arumi sama-sama terkejut dengan pandangan yang berbeda. Azalea terkejut karena Arumi yang baru mengetahuinya, sementara Azalea bingung dengan jawaban Arumi.


"Nyonya, tolong. Jangan buat drama yang membingungkan saya." Mohon Azalea.


"Saya memang ibu kandungnya, tapi saya bukan orang yang merawatnya sedari bayi."


"Hah?!"


____

__ADS_1


😭😭😭 maaf kawan, niat tiduran bentar karena hp di cas jadi kebablasan😭😭


__ADS_2