Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kamu putriku!


__ADS_3

Alexix dan Elouise sudah berangkat ke sekolah mereka dengan di antar oleh Alan, sekalian pria itu berangkat ke kantor nya. Sementara Azalea tetap ada di mansion. Kini, wanita itu tengah merenung di halaman belakang, sembari melihat burung yang mampir di halaman mansion Alan.


"Benarkah keputusan yang ku ambil sudah benar?" Gumam Azalea.


Wanita itu menghela nafas pelan, lalu dia menyandarkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki. Matanya menatap langit biru yang begitu indah.


"Aku tidak bisa tetap bertahan dengan pria yang masih terjebak dengan masa lalunya. Alan, dia memang membenci mantannya. Tapi bukan berati, cinta itu sudah hilang dari dalam hatinya." Lirih Azalea.


Saat dirinya sibuk merenungi keputusannya, tiba-tiba Bi Sari datang dengan raut wajah panik.


"Nyonya! Di depan ada kaki-laki yang cari nyonya. Dia maksa masuk, padahal bodyguard sudah menahannya." Seru Bi Sari membuat kening Azalea mengerut.


"Siapa Bi?" Tanya Azalea.


"Enggak tau nya, dari tadi manggilin nyonya terus." Jawab Bi Sari membuat Azalea bertambah bingung.


Laki-laki yang menjadi kenalannya hanya Reagan saja, untuk apa pria itu dengan berani datang ke mansion suaminya?


"Ayo kita lihat bi." Ajak Azalea dan berlalu pergi.


"Nya! Nanti tuan marah gimana? Kan Tuan ngelarang Nyonya bawa tamu laki-laki ke mansion!" Pekik Bi Sari.


Seketika, Azalea menghentikan langkahnya. Benar, dia hampir melupakan hal itu.


"Kita lihat dulu saja Bi." Putus Azalea dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Di luar, Reagan berusaha untuk masuk. Kedua bodyguard itu bukannya memanggil Azalea malah mengusirnya. Jelas saja, Reagan tak terima. Dia beradu mulut dengan bodyguard Alan, dan tangannya pun di letakkan di pinggangnya. Hingga sebuah suara membuatnya menoleh.


"Reagan?"


Reagan mengalihkan tatapannya, dia menurunkan tangannya dari pinggang nya. Tatapannya menatap wanita cantik yang tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Kamu ngapain kesini?" Tegur Azalea.


Buru-buru Reagan mendekati Azalea, kedua bodyguard itu tak sempat mencegahnya. Karena Reagan, keburu berdiri di hadapan wanita itu.


"Azalea, ikutlah denganku." Ajak Reagan, membuat kening Azalea mengerut.


"Ikut? Ikut kemana?" Bingung Azalea.


"Pokoknya, kamu harus ikut ke rumah sakit! Aku tidak bisa menjelaskannya disini," ujar Reagan dan segera menarik tangan Azalea.


Kedua bodyguard itu tentu tak tinggal diam, mereka menahan Reagan yang akan membawa istri menemui mereka.


"Eeehh!! Maaf tuan, anda mau bawa istri majikan saya kemana? Anda tidak bisa seenaknya!" Bentak bodyguard itu.


Azalea melihat raut wajah Reagan, mata pria itu terlihat sembab. Hati Azalea mengatakan, jika ada hal yang telah terjadi pada pria itu. Pikirannya langsung tertuju pada Erlangga, rasa khawatir tiba-tiba menyerang hatinya.


"Pak, saya akan ikut bersamanya." Putus Azalea.

__ADS_1


"Tapi nyonya, nanti tuan marah pada kami." Ujar salah satu dari keduanya.


"Kalian tenang saja, tak lama lagi saya juga akan pergi dari rumah ini." Tetang Azalea membuat Reagan langsung menatap wanita itu dengan tatapan lekat.


Kedua bodyguard itu saling menatap dengan tatapan bingung, mereka ragu untuk membiarkan Azalea pergi dengan Reagan.


Setelah itu, tatapan Azalea beralih pada Gegana yang masih menatap lekat padanya.


"Ayo, tunggu apalagi?" Ajak Azalea.


Reagan mengangguk, dia membawa Azalea masuk ke mobilnya. Sedangkan kedua bodyguard tadi, hanya melihat kepergian mobil Reagan dengan raut wajah yang cemas.


"Hubungi Tuan Alan, kalau sampe tuan marah. Kita yang kena imbasnya!" Seru bodyguard itu pada temannya.


Bodyguard tersebut berusaha menghubungi Alan. Namun, sayangnya. Ponsel pria itu sedang tidak aktif.


"Gak aktif, gimana dong?" Pekiknya.


"Haissh .... ck!" Seru rekannya dengan kesal.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, Reagan membawa Azalea masuk menuju kamar rawat sang daddy. Di kepala Azalea, wanita itu sudah menerka-nerka apa yang terjadi.


Tak sadar, mereka sudah sampai di depan pintu ruang rawat daddy Reagan. Keduanya sontak menghentikan langkahnya, menatap pintu yang kini di buka dari dalam oleh seseorang.


Cklek!


Mata Azalea membulat saat melihat Diandra muncul dari balik pintu. Keduanya saling menatap dengan tatapan berbeda. Tubuh Azalea bergetar, dia takut Diandra akan kembali memarahinya. Sementara Diandra, dia menatap wanita yang pernah dia hina sebelumnya yang tenyata adalah putri kecilnya.


"Lea ...."


"Nyonya, maaf. Reagan membawa saya dengan paksa, saya tidak tahu apa yang terjadi. Maaf kalau semisal kedatangan saya membuat Nyonya tidak su ..."


"Putriku ...." Perkataan Azalea terpotong, matanya melebar dengan tatapan tak percaya.


Azalea melihat ke arah kanan dan kirinya, apakah ada seorang wanita selainnya. Namun, di sana hanya ada dirinya saja. Tidak mungkin bukan, jika Reagan di panggil putri?


"Nyonya saya. ..."


"Kamu putriku Lea, kamu putri mommy." Isak Diandra. Tanpa aba-aba, wanita itu memeluk Azalea.


Seketika, Azalea mematung. Pelukan hangat Diandra membuat hatinya berdesir. Sedangkan Reagan, dia mengalihkan tatapannya. Air matanya pun luruh, melihat sang mommy memeluk wanita yang bergelar sebagai adiknya itu.


"Kamu putri mommy yang hilang nak, kamu putri mommy." Diandra melepas pelukannya, dia mengeluarkan sebuah kertas yang sedari tadi dia pegang. Lalu, dia memberikannya pada Azalea.

__ADS_1


Azalea bergegas membuka lipatan kertas itu, dia membaca dengan teliti isi di dalamnya. Seketika, mata Azalea semakin terbelalak lebar. Seakan, bola matanya hendak keluar.


"Eng-enggak, Lea punya orang tua. Ayah dan bunda Lea sudah meninggal, mungkin ini hasilnya salah." Ujar Azalea dengan suara bergetar.


"Kalau kamu tidak percaya, ayo kita lakukan tes DNA ulang." Ajak Diandra.


Azalea menjauhkan dirinya, sungguh kenyataan ini membuatnya terkejut. Melihat Azalea yang seperti itu, membuat Reagan mendekat.


"Benar kata mommy, ayo kita tes DNA." Ajak Reagan.


Setelah menenangkan diri, dan lebih kuat. Akhirnya Azalea mau melaukan tes DNA ulang dan hasilnya akan keluar malam hari. Sehingga siang ini, wanita itu terus berada di rumah sakit hingga malam menjelang.


Selama menunggu hasil tes, Azalea berada di ruang rawat Erlangga. Sedari tadi, pria setengah baya itu tak berhenti tersenyum pada Azalea. Dan menanyakan banyak hal tentang kehidupannya.


"Jadi kamu memiliki putra kembar?" Tanya Erlangga.


Azalea mengangguk, dia memainkan jari-jarinya untuk menetralkan rasa gugup yang menderanya. Sedangkan Reagan dan Diandra, keduanya memilih duduk di sofa. Membiarkan Azalea duduk di kursi yang ada di samping brankar, agar lebih dekat dengan Erlangga.


"Saya yakin, kamu putri saya. Sebab, saya juga dulunya punya saudara kembar. Tapi sudah meninggal saat umurnya masih lima tahun. Kamu memiliki gen kembar dari daddy mu ini." Seru Erlangga.


Azalea hany menanggapinya dengan tersenyum tipis.


"Bagaimana suamimu? Kata Reagan, kamu kembali dengan suamiku?"


Deghh!!


Azalea tak berani menjelaskan apapun. Masalah rumah tangganya, tak berani dia ceritakan pada orang lain. Apalagi, dia belum tahu apakah benar Erlangga ini adalah ayah kandungnya apa bukan.


Cklek!


Seorang suster masuk dengan membawa selembar kertas.


"Maaf permisi, ini hasik tes DNA nya sudah keluar. Kalian bisa melihat nya sendiri."


Buru-buru, Reagan meraih kertas itu. Kemudian, dia membukanya dan membacanya dengan teliti.


"Bagaimana hasilnya Reagan?" Tanya Diandra dengan penasaran.


Tatapan Reagan beralih pada Azalea, terlihat jelas pria itu meneteskan air matanya. Secara mengejutkan, pria itu bergerak memeluk Azalea dengan erat.


"Mom, Lea adikku! Dia adikku!" Seru Reagan, membuat tangis Diandra dan Erlangga pun seketika pecah.


Azalea masih loading, dia belum bisa mencerna dengan apa yang terjadi saat ini. Hingga, bibir Reagan mendarat di keningnya membuatnya tersadar. Reagan, pria itu menc1um keningnya dengan penuh perasaan.


Di saat keduanya merasakan tangis penuh haru, ada seseorang berdiri di ambang pintu dengan ponsel yang mengarah pada mereka.


Ckrek!


'Kirim'

__ADS_1


Pria itu, menatap Azalea dengan tatapan lekat. Setelah mengirim gambar itu pada seseorang, pria tersebut pergi.


__ADS_2