Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Surat pengadilan


__ADS_3

Caramel tampak lesu di kelas, sebab Calandra tak lagi masuk sekolah. Caramel kesal, pulang sekolah dia akan menghampiri anak itu.


"Calamel, ayo main." Ajak teman perempuannya.


Caramel melirik temannya yang sedang bermain masak-masakan yang memang di sediakan di kelas untuk anak perempuan.


"Nda lah, Calamel mau bobo aja." Ujar Caramel sembari menidurkan kepalanya.


"Calamel cedih yah Cala nda macuk?" Tanya temannya itu.


"Nda." Jawab Caramel dengan lirih.


"Telus, kenapa Calamel nda mau main?"


Caramel yang moodnya sedang buruk itu bergegas menegakkan tubuhnya. Matanya menatap kesal ke arah anak perempuan berambut panjang itu.


"Nda ucah celewet bica nda? Hali hali celewet telus. Bibilna udah doel, macih aja celewet. Diam! Bial bibilnya nyucut!" Lekik CAramel dengan kesal.


"Kok Calamel body cheming cih!!" Lekik anak itu tak terima.


"Bialin! Coba citu nda celwet!" Kesal Caramel.


Anak perempuan itu tentu kesal, dia mengepalkan tangannya dengan d4da yang bergerak naik turun. Matanya menatap tajam Caramel yang juga menatap tajam padanya.


"Kamu juga gigina picah-picah!!" Pekik anak itu.


Gigi Caramel bukan pisah, hanya saja gigi taring Caramel baru saja copot sebulan lalu. Saat ini, gigi itu baru tumbuh kecil.


"BIALIN AJA!! DALI PADA CITU OLANG TUA NA YANG PICAH!!" Pekik Caramel dengan kesal.


"HIKS ... HUAAAA!!!"


Caramel memutar bola matanya malas saat melihat anak itu menangis karena ulahnya. Dia kembali menidurkan kepalanya di atas meja. Lalu, memejamkan matanya.


"Apa calahku lupana." Gumam CAramel.


TRINGG!!


Bel pulang sekolah berbunyi, Caramel segera bersiap untuk pulang sekolah. Raut wajahnya masih terlihat kesal, bahkan dia tak bersemangat saat pulang sekolah.


Di kala moodnya kurang baik, di tambah Alan belum menjemputnya. Caramel bertambah kesal, ingin sekali dia mencak-mencak saat itu juga.


"Papa kemana cih! Lupa apa punya anak belum di jemput! Keljaan telus di pikilanna! Nanti Calamel minta papa balu cama mama balu tau laca!" Kesal Caramel dengan bibir yang mengerucut.


Tak lama, terlihat mobil Alan mendekatinya. Setelah mobil itu terhenti di depan Caramel, bergegas anak itu memutari mobil sang papa menuju pintu sebelah kiri.


Ckelk!


"PAPA!! KOK LAMA JEMPUT CALA ... HEEEE!!! CIAPA INI HAH?!" Mata Caramel terbelalak lebar saat kursinya di duduki oleh seorang wanita muda dan cantik. Matanya langsung menghunus tajam ke arah sang papa yang sedang sibuk menelpon.

__ADS_1


"PAPA!!" Pekik Caramel.


"Caramel duduk di belakang dulu yah sayang." Bujuk Alan dan kembali sibuk menelpon.


D4da Caramel naik turun, hidungnya kembang kempis. Baru kali ini kursinya di ambil oleh wanita selain ibunya. Caramel tak terima, dia menutup kembali pintu mobil dengan cukup kencang.


"Enak aja culuh ambil kulci Calamel! Nda akan pelnah Calamel bialkan!!" Pekik Caramel.


Caramel berjalan ke arah tangga, dia duduk di sana karena enggan pulang bersama Alan. Setelah Alan selesai bertelepon, dia pun baru menyadari jika putrinya belum masuk ke dalam mobil


"Loh, belum masuk dia." Gumam Alan.


"Putri bapak kayaknya ngambek karena kursinya saya duduki. Gimana kalau saya pindah ke belakang?" Saran wanita itu.


"Duduk disitu aja, sebentar lagi kita akan bertemu dengan klien." Pinta Alan.


Wanita itu sengaja Alan bawa untuk menemaninya bertemu klien. Tak ada hubungan di antara keduanya, hanya murni sebagai rekan kerja. Bahkan, wanita itu memakai pakaian yang sopan. Tapi tetap saja, Caramel merasa kesal.


"Sebentar, saya liat dulu." Alan bergegas keluar dari dalam mobilnya. Saat dia melihat Caramel yang duduk di tangga sekolah, seketika dia menghela nafas pelan


"Caramel, ayo pulang. Kita harus jemput mama." Ajak Alan.


Alan mendekati putrinya, dia berusaha memegang tangan putrinya. Namun, Caramel terus menepisnya.


"Ucil dulu pilusna! Calamel nda cuka!" Kesal anak itu.


Alan baru mengerti mengapa putrinya marah seperti ini. "Princess, itu adalah teman appa. Dia juga sudah menikah. Papa hanya meminta bantuannya saja. Nanti kita turunkan dia di kafe, sebelum menjemput mama." Bujuk ALan.


Alan menghela nafas kasar, "Reagan lagi, Reagan lagi. Habislah sudah otak Caramel di cucinya." Gerutu Alan dalam hatinya.


Akhirnya, Alan kembali memasuki mobilnya. Dia meminta wanita itu untuk menaiki taksi saja. Demi suasana hati sang putri agar tak semakin memburuk.


"Sudah, ayo. Dia sudah naik taksi." Ajak Alan.


Alan pikir, masalah sudah selesai. Nyatanya belum. Caramel kembali berulah, dia mengambil semprotan hand sanitizer dan menyemprotkannya ke tempat duduk wanita tadi.


"Cemplot dulu, nanti campe lumah di cuci." Ujar Caramel.


"Kenapa di cuci? Kan gak kotor." Protes ALan


Mendengar itu, Caramel mendelikkkan matanya. "Mau mobilna di buang apa di cuci?" Ancam Caramel.


"Lah, kok gitu?" Pekik Alan dengan bingung.


.


.


.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Calandra benar-benar tak berangkat ke sekolah. Anak itu tak tahu apa alasan Reagan melarangnya sekolah. Selama tiga hari itu juga, dia tak bertemu dengan Caramel. Jujur saja, dia rindu dengan anak itu. Namun, Reagan melarangnya keluar rumah untuk sementara.


"Cala, nih tadi Mama Lea bawakan jus apel untuk Cala." Seru Airin yang datang dengan segelas jus di tangannya.


Calandra yang sedang menggambar menghentikan kegiatannya. Dia berbalik dan menanti sang bunda datang menghampirinya.


"Mama cudah pulang?" Tanya Calandra.


"Sudah, mama buru-buru mau ke sekolah abang kembar. Di minum yah." Terang Airin, sembari menyerahkan gelas itu pada putranya.


Calandra menerimanya, dia meminum jus itu sedikit demi sedikit. Seketika, dia teringat dengan Caramel.


"Bunda, kok Calamel nda sampelin Cala?" Tanya Calandra.


Airin terdiam, "Bunda kurang tahu, nanti malam bunda minta Caramel datang yah. Mungkin sekarang dia masih ada di sekolah," ujar Airin.


Calandra mengangguk lesu, dia kembali meminum jusnya. Airin melihat gambaran putranya, memang anak itu sangat berbakat menggambar. Mungkin besar nanti, Calandra akan menjadi arsitek.


TING TONG!


Calandra dan Airin mengalihkan fokus mereka pada suara bell rumah. "Cala, sebentar yah. Bunda lihat siapa yang datang." Ujar Airin.


Calandra mengangguk singkat, dia kembali melanjutkan gambarnya. Airin memutuskan untuk melihat siapa yang datang, jalannya sedikit tertatih karna perutnya yang sudah sangat besar.


Cklek!


Airin membuka pintu utama, keningnya mengerut saat melihat seorang pria menyodorkan sebuah map coklat padanya.


"Maaf, siapa yah?" Tanya Airin.


"Saya pengantar surat nona, apa disini rumah Tuan Reagan Xaver?" Tanya oria itu.


Airin mengangguk pelan, "Iya benar, dari siapa yah?" Tanya Airin sembari mengambil map itu.


"Disitu ada nama pengirimnya nona, kalau gitu saya permisi dulu."


Airin mengangguk saja, dia penasaran dengan isi map itu. Tanpa pikir panjang, Airin memutuskan untuk membukanya.


Srett!!


"Dengan ini, kami mengundang tuan Reagan Xaver untuk datang ke pengadilan. Atas permintaan Tuan Lucian yang ingin kembali mengajukan banding keputusan tentang hak asuh anak atas nama Calandra Abrisham Xaver."


Deghh!!


Tubuh Airin melemas, jantungnya berdegup sangat kencang. Telinganya langsung berdenging, pandangan matanya berubah gelap.


BRUGH!!


Calandra yang menyadari sang bunda tak kunjung kembali. Akhirnya, memutuskan untuk menyusulnya ke pintu utama. Betapa terkejutnya dia saat melihat Airin yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Bunda hiks ... BUNDAA!!"


__ADS_2