
"mom?"
Reagan memanggil sang mommy kala sang mommy tak kunjung membalas perkataannya lagi setelah keterkejutannya tadi.
"Reagan, apa kamu mencintainya?"
Reagan dengan yakin berkata, "Aku mencintainya mom!" Seru Reagan.
"Mommy berharap, kamu menikah dengan seorang gadis. Tapi, jika cintamu untuknya. Mommy hanya bisa mendukungmu saja sayang,"
Dukungan sang mommy, membuat senyum Reagan mengembang. "Terima kasih mommy! aku sayang mommy! Udah dulu yah, aku mau kembali menghubungi pujaan hatiku! Bye mommy!
Tuutt!!
Reagan memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Mommy Reagan, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum tertahan. Bisa-bisanya putranya sebucin ini pada seorang wanita.
"Reagan ... Reagan, ada-ada saja anak ini." Gumamnya.
"Sayang, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?!"
Wanita paruh baya itu terlonjak kaget saat lengan kekar suaminya memeluk perutnya. Di umur mereka yang yang sudah memasuki usia lima puluh tahun tak membuat cinta mereka berkurang. Justru, suaminya semakin mencintainya.
Mommy Reagan bernama Diandra, dia hanyalah wanita sederhana yang bisa menikah dengan Erlangga Xaver, ayah Reagan. Pria itu benar-benar mengubah drastis kehidupannya, kini Diandra selalu di hormati setiap orang yang mengenalnya tanpa berani merendahkannya.
"Reagan, dia mencintai wanita yang dia bawa saat di pesta tuan Brown. Kau ingat? Azalea, kita sempat mengajaknya makan malam." Jawab Diandra sembari mengusap pipi suaminya.
"Oh, wanita itu. Ya, dia sangat cocok dengan putra kita. Kelihatannya juga, wanita itu masih muda," ujar Erlangga.
"Iya, tapi dia seorang janda." Lirih Diandra.
"Lalu, apa masalahnya? Yang penting, dia sudah berpisah dari suaminya kan?" Seru Erlangga.
"Aku takut, Reagan tak bisa menerima anak wanita itu dengan baik. Khawatir, dia lebih menyayangi anak kandungnya dari pada anak tirinya." Lirih Diandra.
Erlangga tersenyum tipis, dia membalikkan tubuh istrinya. Lalu, menatapnya dalam. Wajah istrinya sudah mulai muncul keriput, tetapi istrinya itu tetap cantik di matanya.
"Dengar, jika Reagan mencintai wanita itu. Dia harus siap mencintai anak-anaknya. Jika dia tidak siap, jangan menikahinya. Cukup simple, tinggal Reagannya mau menerima atau tidak," ujar Erlangga.
"Kau benar." Sahut Diandra.
Erlangga mengusap sisi kepala istrinya, "Yasudah, tolong buatkan suamimu ini kopi." Pinta Erlangga.
Diandra tersenyum dan mengangguk. Dia bergegas pergi untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Sementara Erlangga, dia duduk di tepi kasur sembari memainkan ponselnya.
"Astaga, aku lupa! Aku ada pertemuan dengan klien sore ini!" Pekik Erlangga.
Saat Erlangga akan beranjak, tangannya tak sengaja menyenggol bantal hingga bantal itu sedikit tergeser. Erlangga yang orangnya perfeksionis kembali membenarkan letaknya. Namun, sebelum itu terjadi. Matanya justru menangkap selembar koran yang ada di bawah bantal.
__ADS_1
"Koran apa ini?" Gumam Erlangga.
Erlangga menarik nya, dia membuka lipatan koran itu. Setelah melihat isinya, mata Erlangga berkaca-kaca.
"Sudah cukup lama, kenapa Diandra masih menyimpannya. Apa dia merindukan bayi kecil kami? Ini sudah puluhan tahun, bayi kami sudah pasti tidak selamat. Kenapa dia masih menyimpan koran berita ini." Gumam Erlangga.
Koran itu berisikan pengumuman hilangnya seorang bayi yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu. Erlangga kembali menaruh koran itu di bawah bantal seperti semula.
"Mas, ini kopinya." Seru Diandra yang membawa secangkir kopi untuk suaminya.
Erlangga memaksa senyumnya saat menerima kopi itu. Diandra duduk di samping suaminya, melihat sang suami meminum kopinya sedikit demi sedikit.
"Diandra, boleh mas bertanya?" Tanya Erlangga.
"Boleh, memangnya mas ingin tanya apa?" Tanya Diandra.
"Apa kamu masih memikirkan tentang bayi kita?"
Deghh!!
Diandra menatap suaminya dengan tatapan terkejut, wajahnya mendadak menjadi pucat karena pertanyaan suaminya itu.
"Mas kamu ..."
"Sudah hentikan semuanya Diandra, dia sudah tiada. Arus itu membawanya pergi, bayi kita pasti tidak selamat," ujar Erlangga dengan lirih.
Diandra sontak berdiri, dia menatap tajam suaminya. "Selama aku belum menggendong jasad bayiku, aku tidak akan pernah menganggapnya tiada!" Sentak Diandra dengan sorot mata kecewa.
Malam hari, mereka bertiga baru saja kembali mansion. Alan berbelanja banyak untuk kebutuhan Azalea, dari pakaian sampai aksesoris lainnya.
Alan menatap ke samping, dimana putranya sudah tidur di pangkuan Azalea. Sudah malam, dan waktu putranya tidur. Wajar jika bocah itu ketiduran saat ini.
"Kamu masuk bawa Alexix, biar barang-barang aku bawa ke kamar." Titah Alan.
Azalea hanya menurut saja, dia keluar setelah bodyguard membukakan pintu padanya. Selepas Azalea pergi, Alan membuka bagasi mobil. Dia menurunkan beberapa paperbag milik Azalea.
Bruk!
Gerakan Alan terhenti saat dia tak sengaja menjatuhkan paperbag. Hingga, isi yang ada di dalam paperbag itu keluar semua.
"Ini ...." Alan tertegun saat melihat isi dari paperbag itu. Dirinya benar-benar syok dengan barang-barang yang keluar.
"Dalaman wanita." Gumam Alan
Di sana juga terdapat BH yang Alexix ambil tadi, dengan tangan bergetar Alan pun mengambilnya. Dia melihat-lihat benda itu, hingga tatapannya terhenti di sebuah label ukuran.
"Tiga puluh delapan, besar juga." Gumam Alan.
__ADS_1
"Apanya yang besar Lan?"
Alan mengangkat wajahnya, sontak dia melototkan matanya saat melihat Brandon ada di hadapannya. Tatapan Brandon mengarah pada barang yang Alan pegang. Tersadar, Alan bergegas kembali memasukkan benda itu ke dalam paper bag nya kembali.
"Pengen ketawa, boleh gak?" Seru Brandon sembari menahan tawa.
"Ngapain sih disini?! ganggu aja!" Kesal Alan.
"Tadi kita bertemu di mall, mungkin kamu tidak menyadarinya Lan. Dan ... aku melihat wanita yang gak asing ada di dekatmu. Apa ... kalian rujuk kembali?" Brandon meledek Alan dengan menaik turunkan alisnya.
Alan menghiraukannya, dia memanggil bodyguard untuk membawa semua barang-barang milik Azalea ke kamar putranya.
"Sampai kaca mata nya pun kau beli, kapan nikahnya? Undanglah, nanti amplopnya aku kasih lagi kok." Ledek Brandon.
"Nikah ... nikah. Memangnya, aku dan dia sudah cerai?!" Seru Alan dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Brandon yang terbengong di tempat.
"Eh, belum cerai kah?!" Kaget Brandon.
Sementara di kamar, Azalea tengah mengganti baju Alexix dengan baju tidur agar putranya itu tertidur dengan nyeyak nantinya. Dia juga membersihkan wajah putranya dengan kain basah.
Tok
Tok!
Azalea menghentikan kegiatannya sejenak, dia bergegas keluar untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya.
Cklek!
"Nyonya, kami di minta tuan untuk membawa barang anda." Ujar salah seorang bodyguard yang membawa belanjaan milik Azalea.
"Oh ya, terima kasih." Azalea mengambil semua barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam kamar.
Dia sedikit demi sedikit mengeluarkan bajunya. Hingga, tatapannya terhenti pada sebuah baju dinas yamg biasa di kenakan para istri. Azalea mengangkat baju itu, seketika keningnya mengerut.
"Emangnya aku beli yah baju ini? Perasaan enggak deh?" Gumam Azalea.
"Sudah buka belan ...." Ucapan Alan terhenti kala dirinya melihat pakaian kurang bahan di tangan Azalea.
Srett!!
Azalea bergegas menyembunyikan baju itu, pipinya bersemu merah. Dia malu karena Alan melihat baju yang tak pantas untuk pria itu lihat.
"Kamu mau mencoba menggodaku dengan baju itu hm?" Seringai Alan membuat Azalea merinding seketika.
____
LIKE DAN KOMENNYA JANGAN LUPAAAA🥳🥳🥳
__ADS_1