
Alan mengajak Azalea untuk naik roller coster, dia mempunyai ide licik di kepalanya. Berdasarkan pengetahuannya, wanita akan memeluk pria jika dia tengah ketakutan.
"Azalea pasti akan memelukku nantinya." Gumam Alan.
"Mas, kita yakin naik ini?" Tanya Azalea menatap ngeri wahana tersebut.
Alan mengangguk mantap, "Iya lah, yakin. Udah, ada aku, tenang aja." Yakin Alan.
Azalea terpaksa menaiki wahana itu, Alan pun duduk di sebelah Azalea. Peng4man mereka sudah di pasangkan, wajah Azalea berubah pucat saat kereta mereka mulai berjalan.
"Mas, ini sangat menakutkan. AKu gak berani." Cicit Azalea.
"Tidak, kereta ini tak begitu cepat seperti yang di sana. Kamu tenang saja." Ujar Alan sembari mengencangkan sabut pengamannya.
"Benarkah?" Azalea masih khawatir, dia meremas kuat tangannya kala kecepatan kereta itu mulai kencang.
Melihat ketakutan Azalea, Alan meraih tangan Azalea. Dia tak membiarkan wanita itu menguatkan dirinya sendiri. Kali ini, Alan ingin ketika wanita itu takut, dia yang menggenggam tangannya dengan erat.
Kereta mereka melaju sangat cepat, Azalea masih memejamkan matanya. Dirinya tak sadar jika dia mencengkram kuat tangan Alan hingga membuat pria itu meringis karena kuku Azalea yang menancap di tangannya.
"Aww!! Sakit Lea!!" Pekik Alan.
"SALAH KAMU!! POKOKNYA SALAH KAMU!! AKU GAK MAU NAIK GINIAN LAGIII!! AAAA!!!"
Alan hanya bisa merasakan kulitnya perih, dia juga tak bisa berbuat apapun. Berteriak untuk menghentikan wahana yang mereka naiki juga tidak mungkin.
"Sepertinya ide ini sangat buruk." Ringis Alan dalam hatinya.
Sedangkan Elouise dan Alexix, keduanya sudah bosan bermain wahana komidi itu. Lalu, mereka mencari-cari keberadaan Alan dan Azalea tak ada di dekat mereka.
"Mama cama papa mana?" Tanya Elouise, tangannya menggenggam baju belakang Alexix dengan tatapan takut.
"Kita di tindal, nanti di culik gimana? Hiks ... Lekci, tepon polici. Gini-gini ada halgana kita," ujar Elouise membuat Alexix geram.
"Diamlah! Nda liat paman penjaga sebanyak itu!" Pekik Alexix menunjuk para bodyguard yang berjumlah lebih dari seluruh orang tengah memantau mereka.
Tangisan Elouise terhenti, dia kembali menarik tangannya dan kembali menormalkan ekspresinya.
"O-oh tadi cuman ekting na aja kok ya!" Ketus Elouise.
Alexix mendelik sinis, kembarannya begitu manja. Tapi tidak mau mengakuinya.
"Mama cama papa mana." Ujar Elouise kembali.
__ADS_1
"Diamlah! El ingin mama papa lomantis lagi kan? Makana janan mama mama telus! Bialin papa cama mama, bial kita cepet punya adekna." Cetus Alexix membuat Elouise terlihat kebingungan.
"Memangna adekna di ambil dali cini yah?" Tanya Elouise dengan bingung.
"Bukan, kata papa kalau mama cama papa baleng-baleng nanti kita dapet adek."
"Ooo, gitu. Yacudah, bialkan caja. Bial nda malahan telus, El nda mau picah-picah tinggalna." Sahut Elouise.
"Betul!" Seru Alexix.
Selang beberapa lama, Alexix dan Elouise sudah lelah bermain. Keduanya sudah mengantuk, tapi mama dan papa nya belum juga kunjung kembali.
"Lekci, El ngantuk kali." CIcit Elouise.
"Cama, mana lagian ini olang tua. Anakna nda di cali dali tadi. Lelah kali caya."
Di saat keduanya tengah kesal, tiba-tiba mereka mendengar suara yang tak asing. Tatapan mereka teralihkan pada semak-semak. Terlihat, seseorang berjongkok sembari memuntahkan isi perutnya.
"HWEEKK!! HWEEKK!!
"Masih mual mas?"
Alexix dan Elouise saling tatap, mereka berdua bingung melihat Alan yang sedang mual-mual itu.
"Calah makan kali yah." Gumam Elouise.
"Enggak mau lagi aku naik kapal terbang itu! Bukannya untung malah buntung!" Pekik Alan dengan lemas.
.
.
Tengah malam, Azalea terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba, dia merasakan haus yang sangat. Dia pun memutuskan untuk meminum air sejenak, tetapi rupanya gelas di kamar kosong.
"Ke dapur aja deh." Gumam Azalea dengan mata mengantuk.
Saat Azalea akan beranjak, dia baru menyadari jika Alan tak ada di sebelahnya. Keningnya mengerut, laku tatapannya beralih menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua malam.
"Jam segini mas Alan belum tidur juga?" Batin Azalea.
Azalea memutuskan untuk ke dapur, mungkin dia pikir suaminya juga tengah mengambil air. Saat sampai di dapur, Azalea tak mendapati keberadaan Alan.
"Disini juga gak ada, apa di kamar si kembar yah?" Gumam Azalea.
__ADS_1
"Nanti deh, minum dulu." Putus Azalea. Lalu, dia pun menuangkan air ke dalam gelasnya. Kemudian meminumnya.
Setelah mendapatkan keinginannya, Azalea memutuskan untuk mencari Alan. Di saat dirinya ingin menginjak tangga, sudut matanya malah menangkap pintu taman samping yang terbuka. Karena penasaran, Azalea pun berjalan mendatanginya.
Belum juga sampai ke arah pintu, Azalea sudah menghentikan langkahnya. Lantaran, indra penciumannya menghirup asap rok0k yang menurutnya sangat mengganggu.
"Siapa yang ngerok0k yah?" Batin Azalea.
Karena penasaran, Azalea pun memasuki taman yang berada di samping mansion. Sebenarnya, baru kali ini Azalea ke taman samping. Karena biasanya, dia menemani putranya bermain di taman belakang.
"Mas Alan." Langkah Azalea terhenti saat melihat sosok suaminya tengah duduk dengan batang rok0k yang di apit di bibirnya.
Mendengar ada yang memanggilnya, Alan menoleh. Seketika, matanya membola kala melihat sang istri yang datang menyusulnya.
"Lea?!" Pekik Alan.
Azalea menghampiri Alan dengan tatapan rumit, matanya menatap r0kok yang sudah berpindah ke tangan suaminya itu
"Sejak kapan kamu ngerok0k?" Tanya Azalea dengan kening mengerut.
"O-oh ehm ..." Alan membuang rok0knya. Dia berusaha bersikap biasa saja di depan wanita itu.
Azalea duduk di samping Alan, tatapannya tak lepas dari suaminya. "Kamu belum tidur dari tadi?" Tanya Azalea.
Alan mengangguk, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari bersedekap dada. Lalu, wajahnya mendongak Menatap langit-langit malam yang bertabur bintang.
"Aku gak bisa tidur," ujar Alan.
"Apa selama ini kamu seperti ini mas? Tidur larut malam, mer0kok. Apa kamu minum-minum juga?"
Alan tak menjawab, membuat Azalea membenarkan tuduhannya sendiri pada suaminya itu.
"Semua hal itu gak baik buat kesehatan kamu Mas." Tegur Azalea.
"Aku gak minum-minum, aku selalu menghindari soal yang satu itu. Sebanyak apapun masalahku, aku tak pernah menyentuh barang jahat itu." Sahut Alan dengan cepat.
Azalea menghela nafas pelan, "Mer0kok? Begadang? Kamu akan merusak tubuh kamu sendiri. Berhentilah mer0kok, tidurlah yang cukup. Kamu harus bekerja dan ...,"
Perkataan Azalea terhenti kala tatapan Alan beralih menatapnya. Mata pria itu sekaan memberi sihir pada matanya, hingga Azalea tak mampu berkata apapun saat ini.
"Jika berhenti, mulutku akan terasa pahit nantinya. Apa ... kamu mau mengganti rok0kku dengan ...."
Tatapan Alan turun pada bibir cherry milik Azalea. Membuat jakun pria itu bergerak naik-turun. Azalea, dia bisa menatap tatapan Alan yang berbeda padanya.
__ADS_1
"Bibirmu?"
Deghh!!