
"El!!" Pekik Alexix, sebab lagi-lagi targetnya di tuju oleh Elouise.
KEduanya tengah bermain panah di belakang rumah Erlangga. Mereka tidak mau pulang, jadilah malam ini keduanya menginap. Mungkin, besok pagi baru Reagan akan mengantar keduanya.
"Targetnya El habis, kan adanya target Lexi. Jangan salahin El dong." Cicit Elouise, dengan eskpresi cemberut.
"Ck, sana! Kau ambil buahnya lagi! Malas kali jadi orang!" Omel Alexix.
Elouise pun berbalik, dia mengerucutkan bibirnya sembari mengomeli Alexix. Entah mengapa, kakaknya sangat galak. Membuat Elouise serasa ingin mengganti kembaran.
"Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah." Omel Elouise yang mampu di dengar oleh Alexix.
"Siapa yang dikit-dikit marah huh? Kembarannya modelan kamu yang ada bikin orang ngelus dada tiap hari." Sahut Alexix
Mendengar itu, seketika Elouise meliriknya sinis. Ingin dia membalas, tapi Alexix justru melotot ke arahnya.
"Sana! Dari pada kau melotot begitu," ujar Alexix.
Elouise pun kembali masuk untuk mengambil buah. Entah ide dari mama, keduanya mengambil buah yang ada di kulkas untuk target mereka. Jika Azalea mengetahui hal ini, dia mungkin tidak akan mengizinkan kedua putranya bermain panahan. Seperti seorang ibu pada umumnya, dia takut terjadi hal yang tidak baik pada kedua putranya.
Elouise pun kembali dengan buah semangka besar di pelukannya. Melihat itu, sontak Alexix pun menghela nafas kasar.
"Buah apeeell!! Jeruk kek, atau pir kek. Bukan semangkaaaa!!" Greget Alexix.
"Biar nda ganti buah mulu. Mahal itu, satu apel nya aja seratus ribu. Ini bukan jaman nya, pinjam dulu seratus." Sinis Elouise.
Alexix menghela nafas panjang, dia membiarkan adiknya itu melakukan hal yang dia inginkan. Sembari mengamati panahan Alexix yang selalu tepat sasaran.
"Kau kira kepala orang sebesar semangka huh?" Desis Alexix.
"Kau kira juga kepala orang sebesar apel? Masih masukan semangka." Pekik Elouise dengan kesal.
Sementara tak jauh dari mereka, berdiri seorang maid. Raut wajahnya terlihat takut, tangannya memegang pel-an dengan erat.
"Serem banget, kepala orang. Ihh, masih kecil udah targetin kepala orang." Ringis maid itu. Dia pun buru pergi dari sana.
Keduanya pun kembali lanjut latihan, sampai seseorang datang mengagetkan keduanya.
"Belum selesai juga belajarnya." Ujar Reagan yang mengejutkan keduanya. Dia datang sembari membawa apel di tangannya.
Alexix yang terkejut pun reflek memanah ke arah Reagan. Namun, dengan gesit, Reagan mengarahkan panah itu pada apelnya.
"Jangan sembarangan memanah, kalian akan melukai orang." Tegur Reagan.
"Reflek om, untung juga bukan adeknya om yang kena." Jawab Alexix dengan santai.
Mendengar itu, reflek Reagan menatap tajam keponakannya. Bisa-bisanya keponakannya berpikiran seperti itu.
"Awas kamu yah! Om aduin mama kalian." Ancam Reagan.
__ADS_1
"Nah. .. nah. ... mainnya aduin lagi. Udah yuk Lexi, istirahat capek kali loh." Ajak Elouise
Alexix menurut, dia ikut dengan saudara kembarnya pergi beristirahat di sebuah meja yang terdapat tiga kursi. Sementara Reagan, dia tertawa hambar. Lalu, mengigit Apelnya dengan tatapan tak percaya. Reagan pun menghampiri kedua anak itu yang tengah memeriksa panahan mereka.
"Eh, om mau tanya." Ujar Reagan setelah duduk di kursi tengah mereka
"Tanya aja," ujar Elouise dengan santai.
"Menurut kalian, kalau orang tua gak izinin om nikah sama wanita yang om suka. Om harus apa?" Tanya Reagan, dan kembali menggigit apelnya.
Mendengar itu, sontak Alexix melirik Reagan. Lalu, dia berpikir.
"Kenapa oma sama opa nda suka? Kalau wanita nya istri orang yah tamat om. Nda bakalan dapat restu. Jangankan orang tua, bahkan Alam pun tak merestui." ujar Elouise dengan santai.
"Itu mah jelas." Decak Reagan.
Lalu, tatapan Reagan beralih pada Alexix yang kembali mengecek keadaan panahnya.
"Kalau menurutmu?" Tanya Reagan.
"Ganti orang tua, gitu aja repot." ujar Alexix, membuat Elouise dan Reagan melot0tkan matanya.
"HEH!!"
"Kenapa? Om Reagan ganti orang tua, biar Alexix jadi pewaris utama. Sama-sama menguntungkan bukan?" Ujar Alexix dengan raut wajah datarnya.
"Dasar! Ponakan pungut!"
.
.
.
Sementara itu, Airin tengah menatap langit malam. Angin meniup kencang ke arahnya, membuat rambut cantiknya terkipas. Air matanya mengalir, sembari mengingat tentang rumah tangganya yang hancur.
Airin menyambut kepulangan suaminya yang baru saja habis daei luar kota. Tampak, raut wajah Airin sangat ketara sekali. Dia segera menyiapkan keperluan suaminya.
Saat sedang mengemasi pakaian kotor Farel, suaminya itu memanggil nya.
"Airin, aku mau menikah dengan sindi." Ujar Farel, membuat kegiatan Airin terhenti sejenak.
Airin pun membalikkan tubuhnya, dia menatap Farel dengan mata berkaca-kaca. Namun, senyumnya masih terukir indah di bibirnya.
"Apa mas?" Tanya Airin, berpura-pura tidak dengar.
"Aku mau me. ..,"
"Mas! Sepertinya aku lupa mematikan kompor!" Pekik Airin, dia seperti tak ingin mendengar perkataan Farel.
__ADS_1
Farel menghela nafas panjang, dia bergegas menahan Airin yang akan keluar kamar Sontak, keduanya saling menatap dengan mata berkaca-kaca.
Brugh!!
Farel berlutut, dia meraih tangan Airin dan menciuminya. Hal itu, tentu membuat Airin tak kuasa menahan tangisnya. Dia merasakan tangannya yang basah karena Air mata Farel.
"Maafkan mas, tolong maafkan mas. Mas akan jujur. Mas dan Sindi, sebenarnya sudah menikah tanpa sepengetahuan kamu."
Airin menahan nafasnya, dia hanya menangis dalam diam Air matanya terus keluar, tapi tanpa suara. Tak ada isakan apapun, membuat Farel segera mengangkat kepalanya.
"Sayang, katakan sesuatu. Jangan diam saja, sungguh .... aku tidak kuat melihatmu yang hanya diam saja seperti ini." Lirih Farel.
"Aku sudah tahu." Jawab Airin tanpa ekspresi.
Mendengar itu, Farel seketika terkejut. Dia langsung berdiri, dan menatap sang istri yang menatapnya dengan datar.
"Kamu tahu?" Tanya FArel.
Airin menghela nafas pelan, dia melepaskan tangannya dari tangan Farel.
"Tiga bulan yang lalu, kamu menikah dengan Sindi. Aku ada di sana, dan kamu tidak melihatnya."
Deghh!!
"Aku diam selama ini, karena aku pikir. Kamu menikahi dia hanya karena anak. Setelah itu, kamu akan memperbaiki rumah tangga kita dengan anak itu. Aku sadar kekuranganku, tapi jika kamu mau mensahkan pernikahanku dengan dia. ...,"
Airin menatap suaminya sejenak, sebelum kembali melanjutkan perkataannya. D4danya terasa sangat sesak, sulit sekali dia akan melanjutkan kata setelahnya.
"Lebih baik, kita berpisah."
Jderr!!
Dughh!!
Farel kembali berlutut, dia memegang kaki Airin dan menggeleng brutal. Isakan tangis terdengar, Airin pun kembali menangis.
"Jangan sayang. Aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu. Jangan minta bercerai, aku tidak mau. Aku mencintaimu, tapi aku sayang Sindi. Karena saat ini, dia tengah hamil anakku. Aku mohon, anak itu nantinya juga akan menjadi anakmu." Seru Farel.
Airin memundurkan langkahnya, dia menarik paksa Farel yang memeluk kakinya. Raut wajahnya terlihat sangat marah.
"Kau ingin memiliki anak, tapi kau juga ingin ibunya. bukankah begitu mas?"
Puk!!
Airin tersadar, dia menoleh dan mendapatkan Priska yang tengah berdiri di sampingnya. Raut wajah adiknya itu terlihat sendu, seakan memahami perasaan sang kaka.
"He, Priska. Duduklah, kau tidak membuat coklat panas?" Tanya Airin, sembari mengusap air matanya.
"Jangan terus sembunyikan perasaan kakak, Priska ada disini. Priska selalu ada buat kakak. Menangis, tidak akan membuat kakak lemah." Ujar Priska, sembari mendudukkan dirinya di samping Airin.
__ADS_1
Mendengar itu, Airin pun memeluk Priska. Dia menumpahkan segala keindahannya di bahu adiknya itu. Priska, hanya diam sembari mengusap bahu sang kaka.
"Farel, semoga kau mendapatkan karma atas semua perbuatanmu. Ku nantikan penyesalanmu karena sudah menyia-nyiakan kakakku."