
Dengan gugup, Azalea menutup pintu itu kembali. Dan barulah ia beranjak mendekati Alan. Tangannya pun meremas sisi bajunya, menyalurkan rasa gugup yang menyerang dirinya.
"Ada apa?" Tanya Alan sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
"Mas, anak-anak ingin puding. Aku izin keluar untuk membeli bahan-bahannya, boleh?" Izin Azalea.
Kening Alan mengerut, dia menatap lekat mata Azalea yang bergerak gelisah.
"Minta maid belikan, kamu di mansion saja." Tolak Alan, Azalea pun tak menyerah. Dia kembali memberikan alasan.
"Ada bahan-bahan yang aku lupa namanya, biar aku saja. Hanya sebentar," ujar Azalea dengan kekeuh.
Alan menghela nafas pelan, dia kembali menatap laptopnya. Pekerjaannya masih banyak dan harus ia selesai kan sore ini juga. Dia ingin mengikuti Azalea, tetapi pekerjaan nya membuat dia harus menetap disini.
"Baiklah, minta bodyguard menemanimu," ujar Alan.
"Eh gak usah! Cuman sebentar aja kok, lagian gak jauh." Seru Azalea membuat kecurigaan Alan bertambah.
Mata Alan menyipit, dia kerasa jika tujuan Azalea bukan hanya membeli bahan-bahan puding saja.
"Baiklah." Sahut Alan.
Senyum Azalea mengembang, tak menyangka jika mendapat izin pria itu sangat lah muda. Jika dulu saat hamil si kembar, jangankan keluar untuk belanja. Berada di depan gerbang mansion saja tidak di izinkan.
"Terima kasih!" Seru Azalea dan bergegas berbalik.
Baru saja dua langkah dia berjalan, tiba-tiba Alan kembali memanggilnya. Senyum Azalea menjadi luntur, dia berpikir jika Alan membatalkan izinnya.
"Tunggu!"
Di liat dugaan, Akan menyodorkan kartu hitam padanya. Seketika, kening Azalea pun mengerut bingung.
"Pakai ini, selama kau di rumahku. Kau sudah menjadi tanggung jawabku, apalagi membelikan sesuatu untuk kedua putraku." Terang Alan.
Azalea membulatkan mulutnya, kebetulan uangnya juga menipis. Sehingga, tanpa pikir panjang Azalea pun mengambil kartu itu.
"Pin nya?" Tanya Azalea.
Alan terdiam sejenak, "Ehm ... hari lahir si kembar." Jawab Alan dan kembali fokus pada laptop nya.
Dengan senyum mengembang, Azalea keluar dari ruangan suaminya.
__ADS_1
Cklek!
Rait wajah Alan berubah dingin setelah Azalea menutup pintunya. Tangannya langsung meraih ponselnya untuk menghubungi salah seorang bodyguard nya.
"Halo tuan?"
"Ikuti istri saya, sebentar lagi dia akan pergi. Jangan sampai kalian ketahuan, mengerti?" Titah Alan.
"Istri tuan tu ... nona Azalea?"
"Ya, setelah dia lewat depan kalian. Segera ikuti dia!"
"Baik!"
Tutt!!
Alan memutuskan sambungan telpon, lalu menaruh kembali ponsel itu ke tempat awal ia mengambilnya. Tangannya mengetik salah satu keyboard laptopnya hingga muncullah semua rekaman CCTV mansion nya
Alan bisa melihat Azalea yang berjalan menuju gerbang mansion, wanita itu terlihat sibuk menelpon seseorang. Tak lama, taksi datang. Azalea langsung menaikinya. Tanpa Wanita itu sadari, jika taksinya di ikuti oleh sebuah motor sport yang di kendarai oleh salah satu bodyguard Alan.
"Kemana pun kamu akan pergi, kamu tidak akan pernah lepas dari pengawasan ku Azalea. Kamu yang meminta untuk bertahan, jangan harap aku akan membebaskanmu dengan mudah. Apalagi, jika bertemu dengan pria itu itu." Gumam Alan dengan penuh penekanan.
.
.
.
Setelah memasuki Resto, Azalea menelpon seseorang sembari matanya memantau ke sekeliling. Mencari sosok yang ia akan temui.
Belum juga telponnya terjawab, mata Azalea menangkap sosok yang ingin ia temui. Tanpa berlama-lama lagi, Azalea pun menghampiri orang itu.
"Nyonya Diandra?"
Diandra menoleh, dia menatap Azalea dengan tersenyum tipis. "Silahkan duduk." Titah Diandra.
Azalea menurutinya, dia duduk di hadapan Diandra. Sebenarnya, Azalea mengagumi kecantikan Diandra. Wanita itu tetap terlihat cantik walau di umurnya yang sudah beranjak 50 tahun.
"To the poin aja, kenapa kamu menolak anak saya? Apa kurang nya dia? Bahkan, dia tak masalah dengan status mu yang maaf ... seorang janda dan juga, bahkan menerima anakmu. Dia menolak banyak perempuan yang belum pernah menikah, hanya demi janda seperti mu. Bukankah kamu perlu bersyukur atas itu?"
Deghh!!
__ADS_1
Raut wajah Azalea berubah kaget, dia tak pernah mengira jika Reagan akan secepat ini mengatakan tentang statusnya yang sebenarnya. Dan kini, raut wajah ibu Reagan terlihat marah. Terakhir kali saat mereka bertemu, Diandra berkata sangat lembut pada nya. Bahkan, wanita itu memperlakukannya selayaknya putrinya sendiri.
"Nyonya, maafkan saya. Sejak awal, saya sudah berkata pada Reagan jika saya menolaknya. Namun, Reagan tetap kekeuh mendekati saya. Saya sangat berterima kasih atas niat tulus Reagan, tapi hati tidak bisa di paksa," ujar Azalea memberi pengertian.
"Apa kurangnya putra saya sehingga kamu menolaknya?" Tanya Diandra sembari melipat tangannya di depan d4da.
Azalea tersenyum tipis, "Tidak, Reagan terlalu sempurna. Dia pria yang baik dan penuh kasih sayang. Bahkan, saya merasa tidak bisa pantas bersanding dengannya." Ujar Azalea.
"Lalu, kenapa kamu memberi kan ia kesempatan jika kamu tahu akan menolaknya? Kamu sadar dirimu siapa, kenapa kamu beri harapan pada putra saya?" Seru Diandra sembari beranjak dari duduknya. Matanya memerah menahan tangis, dia kecewa dengan Azalea yang mempermainkan perasaan putranya.
Azalea turut berdiri, dia juga kerasa bersalah. Namun, kondisi mengharuskan dia melakukan hal tersebut.
"Nyonya, jika anda di pisahkan dari anak anda. Bagaimana perasaan anda?" Tanya Azalea dengan tatapan yang rumit.
"Apa maksudmu?" Ujar Diandra dengan menatap tajam Azalea.
Azalea menghela nafas pelan, dia menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat wajahnya. Matanya menatap tepat ke arah mata Diandra.
"Jika saya menerima Reagan, saya tidak akan bertemu dengan putra saya lagi. Sama seperti nyonya, nyonya berdiri di hadapan saya. Untuk memperjuangkan kebahagiaan putra anda, begitu pun dengan saya. Sekeras apapun tuduhan orang-orang terhadap saya, saya lebih memilih mempertahankan anak saya."
"Kalau begitu, jauhi putra saya!! Janda seperti anda tak pantas bersanding dengan putra saya!!"
"SIAPA YANG BILANG DIA JANDA?!"
Deghh!!
Diandra dan Azalea sontak menoleh ke samping, mata Azalea membulat saat melihat siapa yang tengah mendekat pada mereka.
"Mas Alan." Lirih Azalea.
Ya, terlihat Alan berjalan mendekat. Ketiga bodyguard nya mengikutinya dari belakang. Aura pria itu sangat dingin, tatapannya pun sangat tajam. Dengan satu tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya, membuat kesan cool pada pria itu.
Alan menghentikan langkahnya tepat di dekat Diandra, dia menatap wanita paruh baya itu dengan dingin.
"Maaf sekali Nyonya, perkataan anda sungguh merendahkan istri saya. Bukankah wanita berhak menolak?"
"Istri?" Tatapan Diandra beralih lada Azalea, dia berpikir jika Azalea kembali rujuk dengan suaminya.
"Oh, bahkan kalian sudah rujuk. Hebat sekali! Putra saya berjuang untuk mendapatkan hatinya, kalian malah kembali menikah. Apa salah putra saya sama kalian hah?!" Sentak Diandra dengan tatapan emosi.
Alan menaikkan satu alisnya, "Kembali menikah? Bahkan kami belum bercerai nyonya."
__ADS_1
"Apa?!"
Perkataan Alan, sontak membuat Diandra terkejut. Bukan hanya dia, bahkan Azalea pun langsung lemas seketika.