
PRANG!!
Airin memegangi d4danya yang terasa sesak, dia yang tadinya ingin meminum. Tiba-tiba saja menjatuhkan gelasnya, lalu tangannya memegangi d4danya yang berdenyut sakit. Diandra yang menjaga Airin pun menjadi panik, bergegas dia mendekati Airin untuk menanyakan tentang kondisinya.
"Kenapa? Sesak d4danya?" Tanya Diandra dengan khawatir.
Airin meraih tangan Diandra, matanya langsung menatap Diandra dengan tatapan berkaca-kaca.
"Mom, kok aku jadi keinget Cala yah. Dia bener ada di mansion Alan kan? Coba hubungi Mas Reagan mom, seharusnya sidangnya sudah selesai dari siang tadi. Ini sudah malam, kenapa mas Reagan belum kembali juga." Ujar Airin dengan siara bergetar.
Airin belum tahu menahu tentang masalah ini, reagan sengaja meminta sang mommy untuk merahasiakan tentang hal ini pada istrinya.
"Ehm nanti mommy hubungi Reagan yah, mungkin Calandra juga sudah tidur. Kamu tenangkan diri kamu, bisa jadi itu hanya perasaan sesaat saja." Bujuk Diandra.
Diandra juga merasa ada yang tidak beres, dia khawatir dengan cucunya. Hatinya terus memikirkan keadaan Calandra yang entah bagaimana keadaannya.
"Telpon Reagan sekarang mom." Pinta Airin.
"Nanti saja yah, mungkin Reagan sedang ada pekerjaan." Bujuk Diandra.
"Biar aku sendiri saja." Airin meraih ponselnya, dia langsung menghubungi suaminya itu.
Namun, nomor ponsel Reagan berada di luar jangkauan. Hal itu, tentu membuat Airin bertanya-tanya. Dia beralih menatap Diandra yang sepertinya sedang mencemaskan sesuatu.
"Gak bisa di hubungi. Mom, apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Tanya Airin pada ibu mertuanya itu.
"Tidak Airin, lebih baik kamu istirahat saja. Biar nanti mommy yang ngomong sama Reagan setelah dia kembali," ujar Diandra.
Airin menggeleng, dia merasa ada yang tidak beres. Hatinya terus tertuju pada putranya. Dia pun berinisiatif untuk menelpon Azalea. Kali ini tersambung, dan tidak butuh waktu yang lama untuk sambungan itu terhubung.
"Halo Lea, Lea apakah putraku sudah tidur? Tolong berikan ponselnya, aku ingin menghubunginya." Seru Airin.
"Ai maaf, Lea sudah tidur."
"Daddy?!" Airin langsung menatap ke arah Diandra, dia semakin yakin jika ada yang tidak beres.
"Daddy, daddy sedang ada di mansion Alan? Daddy, berikan ponselnya pada Cala. Aku merindukannya," ujar Airin dengan mendesak.
"Lea, Cala sudah tidur. Besok lagi saja yah, daddy yang akan beritahukan hal ini pada Cala saat dia bangun."
"Daddy tapi ...."
Tuutt!!
__ADS_1
Airin menatap ke arah Diandra, dia meraih yanga ibu mertuanya dan menggenggamnya erat. Matanya menatap Diandra dengan tatapan berkaca-kaca.
"Mom tolong, perasaanku tidak enak. Kita sama-sama seorang ibu, aku terus memikirkan keadaan putraku." Bujuk Airin.
Diandra menatap sendu Airin, dia meraih tangan Airin dan juga menggenggamnya.
"Ai, jangan terlalu berpikiran lebih. Jika kamu terus stres, kamu akan pulang lebih lama. Tenangkan diri kamu, yakinlah jika Calandra baik-baik saja." Jawaban Diandra, tak membuat Airin puas. Airin yakin, jika ada masalah yang terjadi saat ini.
Sementara di mansion Alan, terlihat Erlangga tengah menatap ke arah putrinya yang sedang tertidur. Selang oksigen terpasang apik di hidungnya. Kondisi Azalea drop, bahkan dia kesulitan bernafas. Erlangga meminta Azalea untuk di rawat di rumah saja, sebab kondisinya tak terlalu mengkhawatirkan. Putrinya hanya syok dengan apa yang terjadi, apalagi Azalea tengah hamil.
"Opa." Tatapan Erlangga beralih ke arah pintu, dimana dia melihat cucu kembarnya sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Opa, apa kita tidak perlu bawa mama ke rumah sakit? Bagaimana dengan kandungannya?" Tanya Alexix dengan penasaran.
"Tidak apa-apa, mama hanya syok saja. Besok dia akan kembali pulih, kalian jangan khawatir." Jawab Erlangga.
Tatapan Alexix mengarah pada sang mama, matanya menyorot sendu tubuh sang mama yang kini terlihat lebih kurus.
"Oh ya, mana Caramel?" Tanya Erlangga ketika tak menyadari kehadiran cucu bungsunya.
"Astaga! Pasti anak itu sedang bermain di luar!" Pekik Elouise, Elouise segera berlari keluar menyusul adiknya.
benar saja, Caramel tengah bermain di halaman depan dengan kucing kesayangannya. Terlihat, Caramel duduk sembari menatap ke arah langit. Entah apa yang Caramel renungi, hal itu membuat Elouise menggelengkan kepalanya.
"Dasar, Cala di culik dia yang galau habis-habisan." Gumam Elouise.
Caramel menoleh, dia melambaikan tangannya pada Elouise agar abangnya itu mendekat. Lalu, Caramel menunjuk sesuatu dari atas.
"Apa!" Tanya Elouise.
"Abang liat, di cana bintangnya kedip telus. Kata Cala, kalau bintangna kedip telus. Cala lagi teluka. Cala bilang gitu cama Calamel. Bintangna Cala kedip telus dali tadi." Lirih Caramel dengan suara bergetar.
"Ha?" Elouise mencoba menelaah apa yang adiknya itu maksudkan.
"Abang, Cala nda papa kan? Cala baik-baik aja kan?" Tanya Caramel dengan suara bergetar.
Elouise meraih tubuh gembul adiknya, dia memeluk Caramel yang kini meangis di bahunya. Dia tahu, bagaimana sayangnya Caramel pada Cala. Hati adiknya kini tengah terluka atas hilangnya Caka.
"Sabar yah, papa sedang mengusahakan agar Cala selamat. Sudah, ayo tidur." Ajak Elouise.
"Mau tidur cama mama hiks ..." Isak Caramel.
"Ayo, kita tidur sama mama." Ajak Elouise.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, jika sedari tadi ada seorang pria yang mengamati mereka dari sebuah gedung yang tak jauh dari mansion. Pria itu mengamati mereka dengan teleskopnya.
"Dia ... anak genius itu kan? Si pengembang game yang saat ini menjadi trending nomor satu?" Gumam pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah paman dari Jessica yang bernama Jhon Costello, dia adalah seorang Yakuza.
"Benar tuan, dia putra tuan Alan. Kata masyarakat sini, semua anak tuan Alan sangat genius. Tapi, kita hanya tidak tahu kemampuan apa yang di miliki oleh putra pertama Tuan Alan yang bernama Alexix. Dia sangat tertutup, bahkan dirinya seakan menyembunyikan keahliannya." Terang anak buah Jhon.
"Begitu kah? Aku semakin penasaran dengan semua anak-anak Alan. Mereka begitu membuatku tertarik." Gumam Jhon.
"Tuan, bagaimana dengan Nona Jessica? Apa kita harus mengirim pasukan?" Tanya anak buahnya itu.
"Kau tidak dengar apa tadi katanya? Dia membatalkan perjanjian itu. Untuk apa lagi aku menolongnya? Sekarang, targetku adalah putri Alan. AKu menginginkan dia." Gumam Jhon dengan seringai di bibirnya.
.
.
"LEPAS!"
Sherly menarik kuat tangan Jessica dari leher Calandra, wajah anak itu sudah sangat pucat. Sherly mendorong kuat tubuh Jessica hingga terjatuh. Keduanya saling berkel4hi hingga c4kar menc4kar. Calandra ketakutan, dia yang melihat pagar terbuka pun segera berlari keluar. Namun, sayangnya Jessica menyadarinya. Dia menend4ng tubuh Sherly dan segera mengejar Calandra yang sudah berlari keluar.
"BERHENTI KAMUU!!" Sentak Jessica.
DOR!! DORR!!
Jessica mendengar suara tembakan, yangs sudah pasti Lucian dan yang lain sudah mengepung tempat ini. Anak buah yang Jessica punya hanyalah sedikit, sebab Pamannya tak lagi membantunya. Jessica bingung harus apa, dia memilih untuk mengejar Calandra.
"BANGUNAN INI SUDAH DI KEPUNG! DI HARAPKAN NYONYA JESSICA MENYERAHKAN DIRI SEKARANG JUGA!"
Jessica berhasil menangkap Calandra, dia menahan anak itu yang hampir memulai pintu utama. Tiba-tiba , pintu terbuka keras. Jessica yang terkejut akan segera berlari membawa Calandra. Namun, sebuah panggilan yang sangat familiar membuat Jessica menghentikan langkahnya.
"JESSICA!!"
Deghh!!
"Arley." Lirih Jessica.
Jessica berbalik, matanya membulat sempurna saat mendapati banyak orang yang telah berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Salah satu orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Arley.
"Jessica, lepas kan putraku." Ujar Arley dengan suara bergetar. Matanya menatap penuh ke arah mata Jessica yang memerah menahan tangis.
"Dari mana kamu tahu jika dia adalah putramu?!" Sentak Jessica.
"Jadi benar, Calandra adalah putraku? Kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu ingin membunuh keturunanku."
__ADS_1
Deghh!!
___