
Selamat membaca......🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Usai sholat subuh, Reza berniat untuk berolahraga di sekitaran kompleks perumahannya sebelum nantinya ia berangkat ke kantor. Reza telah siap dengan setelah olahraganya. Kaos putih berkerah dan celana training berwarna hitam yang panjangnya hingga betis dengan merek ternama, menjadi pilihannya. Tak lupa sneakers berwarna hitam, semakin menambah ketampanan seorang ayah beranak satu itu.
Reza menuju tempat tidur di mana istrinya masih bergelayut manja di balik selimut tebalnya. Sudah beberapa hari ini, Reza merasa ada yang aneh dengan tingkah istrinya.
Jika biasanya usai sholat subuh Lira akan melakukan aktifitasnya mengurus putrinya, tapi beberapa hari ini Lira seolah merasa malas. Usai sholat subuh, Lira memilih untuk tidur kembali. Apalagi, Inas sudah lebih sering tidur di kamar neneknya sejak beberapa hari yang lalu. Jadi, Lira merasa lebih bebas untuk tidur lagi usai sholat subuh.
"Gak kayak biasanya dia kayak gini." Gumam Reza.
Reza meletakan punggung tangannya di dahi Lira untuk memastikan suhu tubuhnya. Gak panas. Pikir Reza.
"Sayang, bangun."
Reza mengelus kepala Lira lengan Lira dengan lembut. Beberapa kali Reza mencoba untuk membangunkan Lira, tapi tetap saja gagal. Lira enggan membuka matanya yang terasa berat.
Melihat Lira yang enggan bangun, Reza memilih membiarkannya tidur. Reza mengecup pelipis Lira dengan mesra, setelah itu ia keluar kamar untuk lari pagi, mumpung udara masih segar.
Saat Reza menuruni tangga, ia berpapasan dengan Mirna yang sedang membersihkan rumah. Pagi ini suasana rumah masih sepi karena kedua orang tua Reza, memilih tetap di dalam kamar sambil menemani Inas yang masih tertidur nyenyak.
"Selamat pagi, den." Sapa Mirna sopan.
"Pagi, bi. Inas belum bangun ya?"
"Belum, den."
"Ya udah. Nanti kalo istri saya bangun terus nyariin saya, bilang aja saya lari pagi ya, bi."
"Siap, den."
"Oh iya, sekalian bibi tolong masakin bubur seperti biasa untuk anak saya." Titah Reza.
"Tapi den, biasanya yang masak itu Non Lira." Jawab Mirna sambil tertunduk takut.
Memang selama ini Lira yang membuat bubur untuk Inas. Ia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk menyiapkan makanan untuk Inas karena Lira ingin putrinya terbiasa dengan masakan ibunya.
"Gak papa, bi. Istri saya lagi gak bisa masak. Jadi tolong bibi siapin ya. Biar nanti pas Inas bangun, makanannya udah siap."
"Baik, den."
"Terima kasih, bi. Saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Iya den, wa'alaikumussalam Warahmatullah."
Mirna melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Setelah itu ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk majikannya.
Sementara, Reza menuju taman yang cukup luas dan tertata rapi berada lingkungan perumahannya, tak jauh dari rumahnya. Reza mulai pemanasan lalu berlari mengelilingi taman hingga beberapa kali putaran. Karena hari ini bukan hari libur, jadi suasana taman terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berolahraga di taman itu. Reza sangat menikmatinya karena ia termasuk orang yang tak suka keramaian.
Keringat sudah mulai bercucuran membasahi tubuh Reza. Matahari juga sudah mulai memancarkan sinarnya yang begitu hangat. Reza mengakhiri lari paginya sambil berjalan santai, pulang ke rumahnya.
Saat tiba di depan rumah, Reza melihat ayahnya sedang melakukan olahraga ringan di halaman rumah.
"Papa, sendiri aja di sini?"
Reza bergabung bersama ayahnya di halaman rumah sambil menghilangkan keringatnya yang masih bercucuran di sekitar dahinya.
"Iya. Mama kamu lagi jagain Inas tidur." Jawab Martin. "Kamu dari mana, Za?"
"Jogging di taman depan sana, pa."
"Kamu jogging, kok gak ngajak papa sih!" Ucap Martin sedikit kesal.
"Gimana mau ngajak papa, orang tadi pas Reza pergi, papa masih di kamar. Mau ngajak juga takut nanti Inas denger suara Reza, terus dia nangis lagi."
__ADS_1
"Ya udah. Tapi lain kali kalo kamu mau jogging, jangan lupa ajak papa."
"Iya, pa. Reza masuk dulu ya, pa. Mau mandi terus ke kantor."
"Hmm."
Reza masuk ke dalam rumah langsung menuju kamarnya. Ia melihat istrinya masih tertidur pulas. Reza menghampiri Lira, lalu mengusap wajah polosnya menggunakan ibu jarinya.
"Sayang, ayo bangun. Ini udah pagi."
Reza mengecup seluruh wajah Lira hingga membuat Lira menggeliat sambil memicingkan matanya, menyesuaikan dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamarnya.
"Mas, dari mana? Kok wangi, sih!" Tanya Lira dengan suara seraknya.
"Mas habis lari pagi, sayang." Reza kembali menghujani wajah Lira dengan ciuman karena merasa gemas melihat wajah polos Lira.
"Mas, geli." Pekik Lira lalu menutup wajahnya dengan selimut.
"Makanya, sayang bangun."
"Gak mau, mas." Jawab Lira dari balik selimut.
"Ya udah, kalo sayang gak mau bangun."
Dengan gerakan pelan, Reza naik ke tempat tidur lalu mulai menggelitik perut Lira hingga wanita itu menjerit lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Aaaakkkkhhhhh....Hahaaahahha. Mas, udah. Ampun mas, geli. Hahahaha."
"Gak ada ampun sebelum sayang mau bangun." Jawab Reza tanpa menghentikan gelitikkannya di perut Lira.
"Iya mas, Lira bangun. Hahahaha..."
Terpaksa Lira bangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Lira bersandar di kepala ranjang sambil mengatur nafasnya. Reza pun melakukan hal yang sama, bersandar pada kepala ranjang, namun matanya tak lepas dari wajah istrinya.
"Mas, kok wangi banget sih?"
Lira mengadahkan wajahnya ke atas menghadap Reza sambil memicingkan matanya. Sementara Reza mengerutkan dahinya, merasa heran dengan ucapan istrinya.
"Wangi gimana, sayang? Yang ada tuh, mas bau keringat."
"Gak, pokoknya mas wangi. Lira suka."
Lira mulai menyusupkan wajahnya ke leher Reza sambil menghirup sisa bau keringat Reza yang bercampur parfum mahal kesukaannya.
Reza mulai curiga dengan tingkah aneh Lira yang dianggapnya tak biasa. Sebagai seorang dokter, tentu Reza tahu gejala-gejala wanita hamil seperti apa.
"Sayang, mas mau tanya."
"Hmmmm, tanya apa mas?" Jawabnya tanpa melepaskan pelukannya.
"Sayang kapan terakhir datang bulan?"
Lira menarik diri dari pelukannya yang menenangkan. Ia mulai berfikir, lalu menatap wajah Reza dengan bingung.
"Hmmm, kapan ya. Lira lupa mas."
"Sayang merasa ada yang aneh gak sama tubuh sayang atau mungkin, sayang pengen sesuatu?"
"Gak ada, mas. Lira cuma pengen tiduran terus. Lira juga gak tahu kenapa bawaannya ngantuk terus, mas. Lira juga suka sama bau keringat mas, wangi." Jawabnya polos. "Ada apa sih?" Tanya Lira dengan raut wajah bingungnya sejak tadi.
Reza langsung tersenyum senang karena merasa dugaanya benar. Reza sangat yakin jika saat ini, istrinya sedang mengandung hasil dari benihnya.
"Kita ke dokter ya, sayang." Ucap Reza dengan wajah bahagia yang tak dapat lagi ia sembunyikan.
"Ngapain ke dokter, mas? Lira kan lagi gak sakit."
__ADS_1
"Bukan itu sayang, kita ke dokter kandungan. Mas rasa, sekarang di perut sayang lagi ada baby." Jawab Reza sambil mengusap perut Lira yang masih rata.
Lira langsung membulatkan matanya. Rasanya, ia tak percaya dengan ucapan suaminya.
"Mas, gimana Lira bisa hamil? Kita aja jarang buatnya. Masak baru buat kemarin langsung jadi hari ini, sih!" Ucap Lira menggelengkan kepala sambil terkekeh geli.
"Bisa aja, sayang. Lagian kan bisa aja kita buatnya pas sayang lagi subur. Pokoknya mas gak mau tahu, hari ini kita ke rumah sakit. Gak boleh bantah." Titah Reza tak ingin dibantah.
Lira hanya bisa menghela nafasnya pelan. Jika sudah begini, ia tak bisa membantah. Toh, juga tidak salah ia memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Bisa saja di perutnya telah hadir benih cintanya bersama suaminya yang mereka buat sebulan yang lalu.
🌸🌸🌸🌸
Usai mandi, Lira bersiap-siap ke rumah sakit bersama Reza. Rencana Reza ke kantor terpaksa ia tunda sampai ia selesai menemani istri ke dokter kandungan.
Reza menggandeng erat tangan Lira saat menuruni tangga. Ia ingin menjaga istrinya dari hal-hal yang tak diinginkan. Padahal belum bisa dipastikan jika Lira sedang mengandung atau tidak. Ia hanya mengandalkan instingnya sebagai seorang dokter.
Tiba di ruang makan, Reza menarik kursi untuk Lira duduk. Kemudian ia mengambil Inas yang sejak tadi sudah merentangkan tangannya meminta untuk segera digendong oleh ibunya.
Inas menjerit kencang saat Reza menggendongnya. Ia terus merentangkan tangannya ke arah Lira.
"Huuaaawaaaa...huuaaawaaaa....huaaawaaaa."
"Gendongannya sama papa aja ya, dek."
Inas menolak sambil terus meronta ingin melepaskan diri dari gendongan ayahnya. Merasa tak tega melihat anaknya terus menangis, Lira langsung mengambil Inas dari suaminya.
"Siniin dedek, mas."
"Gak boleh sayang. Nanti kalo dedek tiba-tiba nendang perut sayang, gimana?" Tolak Reza.
"Gak papa, mas. Lira gak gendong, kok. Cuma mau pangku aja, biar dedeknya tenang." Jawab Lira meyakinkan.
Sebenarnya, Reza sangat takut jika nanti Inas menindih perut Lira. Tapi karena Inas terus saja menangis, dengan terpaksa Reza menaruhnya ke pangkuan Lira.
"Cup, cup. Sayangnya bunda, jangan nangis."
Lira mulai mengusap kepala Inas dengan penuh kasih sayang. Inas masih menangis saja menangis sesegukan dipangkuan Lira. Entah kenapa, hari ini ia merasa sangat manja dan tak mau jauh dari ibunya. Bahkan untuk makan saja, jika biasanya Inas selalu ingin disuapi ayahnya, kali ini ia ingin ibunya yang menyuapinya. Meski Reza telah menawarkan diri dengan menyodorkan sendok berisi bubur kesukaannya, tapi Inas tetap saja menolak. Inas menggelengkan kepala sambil menutup rapat mulut kecilnya.
"Tumben banget hari ini si dedek rewel. Biasanya juga dia merengek, mau papanya yang suapin." Celetuk Irma bingung.
"Gak tahu nih, ma. Lira juga bingung. Biasanya juga dedek gak mau jauh dari papanya." Timpal Lira.
"Dedek cemburu kali, ma. Bentar lagi mau punya adik." Ucap Reza penuh harap.
"Yang bener, Za?" Tanya Irma dengan wajah berbinar.
" Insya Allah, ma. Doain aja, semoga dugaan Reza bener."
"Aamiin. Semoga aja bener, biar rumah kita tambah rame." Harap Irma.
Sementara Martin hanya diam sambil tersenyum bahagia. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Martin juga berharap, semoga kali ini ia diberikan cucu laki-laki yang akan menjadi penerus dalam bisnisnya.
"Jadi, kapan kalian mau ke dokter?" Tanya Martin.
"Rencananya hari ini, pa. Pulang dari rumah sakit, baru Reza ke kantor." Jawab Reza sambil mengunyah makannya.
Martin hanya mengangguk paham. Ia masih tak percaya jika ia akan segera mendapat cucu lagi.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung......
jangan lupa dukungannya ya...
like, komen, dan vote seikhlasnya.
__ADS_1